Kamis, 22 Oktober 2015

AL KAHFI



AL-KAHFI

(Bagian Pertama)

 
Photo : Dok Pribadi

Darinya aku tau kalau ia memiliki ayah dengan kebiasaan buruknya.
Berjudi
Bukan judi kecil-kecilan, juga bukan judi karbitan
Judi yang sudah meluluhlantakkan hati dan perasaan
Judi yang sudah memisahkan semua yang harusnya berdekatan
Judi yang memberikan rasa sakit yang belum juga berkesudahan
Judi yang menguras seluruh harta kekayaan

Dibalik itu semua
Judi itulah mungkin yang “membuat” ia menjadi seorang
 Yang para penghuni syurga merindukan
(insyaAllah)


***


Aku menuruni anak tangga ini setengah berlari. Senang saja rasanya mendengar suara sandalku memecah kebekuan di dalam gedung sempit ini. Penghuni gedung masih tertidur pulas. Aku terus menuruni anak tangga. Berharap ada penghuni lain yang terjaga lalu bersama-sama menuju-Nya.


Masjid itu tak begitu jauh. Tepat di belakang hotel yang aku inap. Suasanya juga seperti kebanyakan kota besar lainnya. Meski di pemukiman yang padat, jamaah subuh tetap saja tak banyak. Di masjid inilah aku mengenal seorang pemuda dari tanah jawa yang sedang lakukan tugas kuliah di kota utara pulau yang berbentuk huruf ‘K’.


Bertemu orang baru di tempat baru memang sungguh mengasyikan. Ada pelajaran yang bisa kita ambil darinya. Ragam budaya, adat kebiasaan, bahkan tak jarang ilmu yang dalam, dapat diperoleh dari sebuah pertemanan.


Setidaknya ada tempatku bertanya selama berada di propinsi ini. Aku memang menjadwalkan mengunjungi beberapa pulau yang terpisah-pisah dari pulau besarnya. Terhitung ada tiga pulau yang aku sambangi dan diantara itu semua, Manado menjadi kota tempatku mengatur jadwal selanjutnya. Di kota itu juga kutemukan sebuah kisah yang sungguh bermakna.


***

Kapal cepat bersandar di pelabuhan lebih lambat dari jadwal seharusnya. Rute Pulau Siau – Kota Manado yang kulalui itu harus berjibaku dengan ombak lautan yang ganas. Kami tiba dengan selamat. Segera kugendong backpackku menuju penginapan murah di Kampung Arab.


Aku merebahkan diri di kamar hotel melati yang tampak lusuh ini. Aku menempati kamar di lantai paling atas dengan berjalan menaiki anak tangga menuju lantai enam. Ruang kamar seadanya, dengan penerangan yang tak begitu bercahaya, cukuplah dengan harga yang pemilikinya pinta.


Perjalananku selama di Siau sedikit menguras energiku. Aku merebahkan badan berharap semuanya menjadi bugar kembali ketika aku terjaga esok hari.


***

Kutulis ia dengan Al-Kahfi. Nama inilah yang pantas untuknya. Ia masih saja tertunduk khidmat sementara jamaah subuh lainnya telah berlalu cukup lama. Aku sengaja menunggunya. Tak hanya menunggu, tapi memperhatikan khusyuknya. Tak hanya memperhatikan, tapi mencuri ilmu dari caranya berkomunikasi dengan Tuhan.


Ini terlalu lama pikirku. Apa saja yang ia baca. Apa saja yang ia pinta. Kadang kefakiran pengetahuan sering membatasi caraku mencerna sesuatu. Kita memang membutuhkan banyak ilmu agar semua yang terlihat dan tampak tak disimpulkan dengan dangkal.




Ia telah selesai. Kuhampiri ia penuh kerinduan. Ia ulurkan sejabat tangan, tak kusangka ia merangkulku dengan satu ucapan salam.


“Assalamualaikum”

Kujawab perlahan sembari ketepuk pundaknya sebelah kanan. Senang juga berjumpa kembali denganmu kawan. Semoga kita senantiasa dikumpulkan dalam satu tempat dimana orang-orang beriman dikumpulkan.


“Bagaimana petualangannya?”

“Nanti aku tulis semua di blog perjalananku. Baca disitu aja”, jawabku.

Kami berjalan ke luar masjid. Berdua kami menuju kawasan pelabuhan kota. Melihat keramaian kota dan juga mencari kedai untuk sekadar sarapan. Warung makan tak mewah ini kami singgahi. Berada tak jauh dari Pasar Bersehati, terlihat juga aktivitas perahu bottomglass yang sedang dipersiapkan mengantar para tamunya. Kami duduk memesan dua porsi nasi kuning dengan ikan tongkol sebagai lauknya.


Aku bersemangat bercerita perjalananku saat di Siau. Melihat kemegahan Gunung Karangetang, Pantai Air Panas, ataupun Gereja Tatahadeng yang begitu megah di tepi lautan yang gagah. Iapun tak kalah antuasiasnya mendengarkan. Caranya mendengarkan, membuatku harus memperbaiki bagaimana caranya menyampaikan dengan mudah.


Kadang
Maksud hati tak sampai
Dari cara kita membahasakan


“Dan, kamu? Bagaimana dengan tugas-tugasmu?”. Tanyaku padanya.

Aku memang sudah mengetahui bahwa ia sedang lakukan tugas penelitian tumbuh kembang beberapa jenis kerang yang berada di perairan Bunaken. Bagaimana seharusnya para pengunjung bisa menjaga keragaman bioversity laut dengan memperhatikan cara mereka berenang, menyelam ataupun bersenang-senang. Jangan hanya mengandalkan camera underwater dan mengabadikan setiap keceriaan, tetapi lebih dari itu butuh waktu yang lama ketika kaki katakmu menginjak-injak terumbu hingga patah dan rusak.


Cerita tentang tugas liputannya hanya sebagai prolog dari kisah yang ingin aku kuliti semuanya. Ketekunanannya beribadah, nada suaranya yang merendah, hingga pertanyaan-pertanyaan sederhananya yang membuatku menaikan alis terlebih dahulu sebelum menjawabnya.


Ceritamulah yang seharusnya
Kudengar
Lalu diperdengarkan



Kami sama-sama pecinta buku bacaan ternyata. Kitab-kitab klasik terjemahan beraliran Salafi menjadi tema pembahasan kami. Fatwa-fatwa ulama kontemporer, Gazwul Fikr diantara para pemuja firqah, peradaban islam dalam sebuah sirah, hingga buku saku bertema akidah menjadi bahasan menarik kami berdua. Lucunya kami juga pembaca novel karya Asma Nadia, buku-buku Chickep Soup dari penulis barat hingga journal harian dari Grup Whatsapp.


Tak ada yang menjadi debat. Kami bertutur dan berpendapat. Ia berkata aku mendengar dengan seksama. Tiba giliranku menyela ia mencerna penuh makna.


‘Tradisi’ berjabat dari jamaah shalat tak luput dari bahan yang kami cerita. Sekali lagi tak ada debat diantara kami berdua. Kami hanya mengkalimatkan apa-apa yang kami lihat dan terjadi sehari-hari. Membiarkan setiap yang ummat kerjakan kemudian mencari semua dalil yang mereka perlukan. Bukankah itu lebih adil daripada hanya menghujat berbekal seratus judul kitab.


***

“Ayah kerja di Riyadh”.

Ia memulai cerita tentang Ayahnya karena tanyaku.

“Seperti kebanyakkan TKI lainnya, bekerja di tanah arab tentu saja menghasilkan materi berlipat. Di saat keluarga lain belum memiliki tabung gas untuk memasak, keluarga kami mungkin satu-satunya yang menggunakannya di desa. Tentu saja bukan hanya rumah dan isinya yang kami punya, tapi tanah yang luas di beberapa titik desa”.


Ia diam sejenak. Membuang pandangan jauh ke depan. Akupun berusaha melihat apa yang ia lihat. Apakah ia juga memperhatikan para tourguide memeragakan cara menggunakan fin pada tamunya di kejauhan sana?.


“Tapi itu dulu. Saat aku berusia seragam putih merah”, ia melanjutkan.
“Semua hasil yang Ayah peroleh, sudah seperti abu. Ayah sudah tak lagi bekerja. Dan giliranku yang harus melunasi semua tanggungannya”.

Aku  menatap lekat
Ingin kupeluk ia dengan erat
Kubiarkan ucapku hanya menjadi sirat
Hingga satu saat akan berubah menjadi kafarat


“Hanya hutang yang tersisa”.

“Dan entah sampai kapan harus melunasinya”.


Ia bercerita seakan berharap semua bisa kembali seperti semula. Menjadi keluarga bahagia seperti selainnya. Tak ada yang dikuatirkan ketika harus menghutang ke warung tetangga, atau tak perlu menurunkan dagu saat bertatap muka.


“Ayahku penjudi, mas”, ucapnya getir
“Saya selalu berdoa, semoga Ayah tak lagi berjudi”.


***


Bahkan saat aku harus mengulang kisah ini, aku harus kembali berhenti menekan tuts kibor Acerku ini. Subhanallah, disaat pemuda selainnya tengah merengek pada Ayahnya untuk sebuah R25, atau disaat anak muda selainnya meminta untuk mendapatkan sepeda gunung seharga dua puluh juta, atau disaat tren mendaki gunung dengan perlengkapan yang tak murah dan brand import menjadi hadiah orang tua kepada anak seusia dia, dia malah menjadi seorang peminta yang tak berujud materi, dia hanya menjadi peminta pada yang seharusnya ia pinta. Ia meminta pada Yang Maha Kaya, Maha Pemurah. Ia meminta semoga Ayahnya tak lagi ulangi perbuatannya.

Photo : Dok Pribadi

***


Dhuha semakin menyapa. Kami meninggalkan warung makan setelah memberikan beberapa lembar rupiah. Kami harus kembali melanjutkan aktivitas kami sendiri-sendiri. Aku membiarkan ia membawa dulu kisahnya untuk kujadikan harta yang berharga. Ia berpamitan untuk kembali ke Balai Konservasi untuk mencari bahan penulisan laporannya. Sementara aku, berencana untuk mengunjungi Klenteng Kwan Kong, dan juga tempat ibadat Ban Hing Kiong sesuai dengan daftar kunjunganku ke kota tepi lautan indah ini. Kami berpisah sementara, sedangkan saling sapa tetap kami lakukan lewat aplikasi media sosial yang kami punya.


***


Darinya aku tau kalau ia memiliki ayah dengan kebiasaan buruknya.
Berjudi.
Bukan judi kecil-kecilan, juga bukan judi karbitan.
Judi yang sudah meluluhlantakkan hati dan perasaan.
Judi yang sudah memisahkan semua yang harusnya berdekatan.
Judi yang memberikan rasa sakit yang belum juga berkesudahan.
Judi yang menguras seluruh harta kekayaan.

Dibalik itu semua
Judi itulah mungkin yang “membuat” ia menjadi seorang
 Yang para penghuni syurga merindukan
(insyaAllah)



***





Pesta makanan yang seharusnya disiapkan sebagai jamuan tamu untuk keberangkatan Ayah ke Riyadh, berubah menjadi menu tahlilan atas meninggalkan adik kecilku di hari yang sama. Sedihnya, Ayah tetap (harus) meninggalkan kami semua sekeluarga.

Selanjutnya di Al Kahfi (Bagian Kedua)
















Artikel Terkait
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. halo ketemu lagi dengan saya, seorg pembaca yang hanya bisa mencela ups menganalisa tulisan anda hehe (tapi tidak bisa menulis)
    Setelah selesai membaca tulisan tema yang diangkat sebenarnya biasa saja, khas sinetron religi di indosiar yang menceritakan ketegaran seorang pemuda agamis dalam mengarungi hidup ditengah latar belakang "warisan" keluarganya yang amburadul, namun ditangan seorang penulis Iman Rabinata, kisah yang biasa saja itu bisa menjadi suatu tulisan yang misterius, dan berkarakter seperti menjadi ciri khas dari tulisan anda sebelumnya, yang mungkin bisa saya uraikan sbb (mohon dikoreksi jika salah) :
    1. Majas personifikasi kembali digunakan, kalau biasanya sampean menganalogikan Gn Sindara yang bisa tersenyum , ilalang yang bisa mencatat, dsb sbg obyek mati yang seolah2 hidup, kali ini giliran kahfi yang kebagian jatah Dari judulnya saja pembaca akan penasaran kenapa harus kahfi (gua) apa hubungannya dengan tema cerita dsb, Saya rasa kahfi judul yang tepat untuk menjadi keterwakilan keseluruhan cerita, mengingat gua sebagai sosok lubang gelap di alam/ gunung yang menyimpan misteri yang namun bisa dinikmati jika kita menelusuri dalamnya, sama dengan kisah ini, berusaha menganalogikan cerita seseorang pemuda pendiam yang sekilas dingin & tertutup namun bisa cair dan terbuka menceritakan kisah dan mengambil poin dalam likaliku kehidupannya jika kita bisa mendalami karakternya misalnya ikut beribadah bersama, berbicara tentang hobi yang sama dsb
    2. Style karangannya kembali lagi merupakan perpaduan semi deskripsi-narasi. dikatakan deskripsi karena sangat detail menceritakan sebuah kisah perjalanan yang betul2 dialami si penulis seolah2 pembaca mengalaminya langsung termasuk pendeskripsian anak tangga, sudut hotel, lokasi masjid dsb yang tetap dibumbui style narasi / cerita yang sedikit bias dan mendayu-dayu. Kosakata konotasi tetap dikeluarkan untuk memperindah tulisan agar tidak terkesan serius dan membuat imajinasi pembaca menjadi liar
    3. Berkarakter dan ciri khas, sebagai seorang blog traveller tulisan ini tetap bersumber dari cerita perjalanan si penulis namun diakali dengan lihainya agar kisahnya tidak sesederhana seperti kita menulis diary, ada sisi melankolis (dan kadang-kadang sedikit romantis), kutipan2 kata mutiara yang tidak lupa selalu disematkan baik itu sebait puisi, dalil agama, statement tokoh2 terkenal dsb. Sisi humanis selalu dimunculkan agar pembaca trenyuh, melo dan menimbulkan simpati terhadap tokoh yang diangkat, sekaligus ditutup dengan nuansa islami yang intinya agar pembaca tidak lupa bersyukur dan masih mengingat Tuhan dalam segala kesusahan yang melanda *fakh

    BalasHapus
  2. Baru ngeeh kalo mas iman sdh nulis lagi, akhirnya rindu terobati ma tulisan abang satu niih. *penggemar hehhee

    BalasHapus
  3. Baru ngeeh kalo mas iman sdh nulis lagi, akhirnya rindu terobati ma tulisan abang satu niih. *penggemar hehhee

    BalasHapus
  4. Terima kasih mas Fakh, mba Irna.

    BalasHapus
  5. Thanks yah untuk infonya, sangat bermanfaat dan juga berguna. Jangan lupa kunjungi balik blog aku yah.
    SUPLEMEN MATA GLAUKOMA
    SUPLEMEN HERBAL MATA SILINDER
    MENGOBATI GAGAL GINJAL TANPA CUCI DARAH

    BalasHapus