Selasa, 27 Oktober 2015

Kisah Yang Hilang


AL-KAHFI

  Bagian Kedua


Ia menolak untuk bertutur seakan ada hal yang tabu untuk diceritakannya. Seakan ada sesuatu yang sulit dikatakannya. Seakan ada bagian yang dibuang dari keseluruhan ceritanya. Seakan kisah itu adalah aib yang tak pantas dipentaskan.


Photo Dok Pribadi | Lok. Sulawesi Utara



Kami janji bertemu di depan Mega Mall selepas Ashar. Aku lebih dulu tiba. Sesekali kuliat angkot dari arah Terminal Malalayang yang memberhentikan kendaraannya menurunkan penumpang. Kutunggu pemuda itu sambil melihat wanita-wanita muda Minahasa dengan fashion kekiniannya. Tak hanya kaum hawa, para pria Kota Manado pun tak luput sentuhan trendy dan tampil  percaya diri. Dari semua manusia yang dengan aktivitasnya menghalangi pandangan, aku sekarang tertuju pada satu sosok tubuh proporsional yang sedang menghadapku dari kejauhan. Ia tak terlalu tinggi untuk ukuran negeri ini, tapi rekam jejaknya sebagai anggota paskib cukuplah mengatakan ia memiliki postur ideal. Ah, tapi bukan itu caraku menilai. Bukan pada tampilan. Bukan pada yang terlihat oleh mata. Tapi bagaimana ia bertutur kata, lalu membuatku bagai menerima sihir lalu mengiyakan tak berdaya. Kekuatan bahasanya yang membuatku harus menarik napas sejenak, kemudian mengangguk membenarkannya.


Ia sudah tiba. Aku melambaikan tangan sebagai pertanda. Kuliat ia berjalan ke arahku sambil melemparkan senyum khasnya. Ia terlihat lebih casual dengan hanya menggunakan kaos Natgeo abu misty dan celana jeans hitam semata kaki. Yak! semata kaki, sebagian paham di negeri ini melarang menjulurkan kain hingga di bawah mata kaki. Isbal istilahnya.


“Sudah dari tadi mas?”

“Nggak, barusan”, jawabku tegas.

“Kita kemana?”, giliranku bertanya padanya.

“Sebelah sini mas”, jawabnya seraya meninggalkanku lalu menuju ke arah utara.


Aku mengikutinya dari belakang. Mempercepat langkah agar sejajar dengannya. Kami sedang menuju ke arah lautan luas dengan bebatuan cadas di tepinya. Komplek perbelanjaan modern ini memang berada di sepanjang pantai kota. Tertata rapi karena merupakan areal reklamasi. Mall bertingkat ini kabarnya milik keluarga presiden wanita kita, entahlah apakah karena nama mall ini serupa atau memang demikian adanya. Tak terlalu penting buatku untuk tau detail informasinya.


Di bagian belakang masih terdapat beberapa ruko dan wahana hiburan keluarga. Inul Vizta salah satunya. Kami tentu saja tak menuju gedung olahsuara berbayar yang sedang digandrungi masyarakat saat ini, tapi terus menuju ke arah laut sembil melihat Pulau Manado Tua dari tempat kami berdiri.


Restaurant Cepat Saji dengan beberapa mejanya terhampar di tempat terbuka menjadi pilihan kami. Cuaca cerah, angin laut menyapa cukuplah menjadi instrument persahabatan kami untuk saling berbagi cerita.


“Keberangkatan ke Ternate hanya ada di hari kamis. Sepertinya aku harus mereschedule itineraryku”.


Aku membuka perbincangan setelah membawa dua gelas Fresh Drewed Coffe dan dua menu Burger Deluxe.


“Bukannya malah dianjurkan mas perjalanan di hari kamis?”
“Iya, aku setuju. Hanya saja aku tak punya waktu selama itu. Kalau bisa cuma dua malam di sana, aku bisa”, aku beralasan.

Aku membuka sachet saos cabai lalu mengeluarkan isinya ke dalam ‘roti gendut’ di hadapanku.

“Mungkin aku akan ke Melonguane. Jadwal kapalnya ada setiap hari, dengan waktu tempuh dua belas jam”, aku memaparkan ideku setelah mempelajari rute keberangkatan dan kedatangan di beberapa Travel Agent yang berada di Pelabuhan Kota Manado siang tadi.

“Luar biasa, aku malah banyak tidak tau nama-nama pulau di propinsi ini”, ia berkata dengan nada merendah.

Selanjutnya ia menceritakan tentang adat kebiasaan warga di beberapa kepulauan yang tersebar di utara kota. Ada berbagai suku dan kepercayaan di propinsi ini. Pulau atau kabupaten yang akan aku tuju juga didiami oleh Orang Talaud, berbeda dengan Orang Manado pada umumnya. Mereka dikenal sebagai pelaut ulung. Ombak laut yang melingkari pulau mereka dikenal ganas hingga di bulan-bulan tertentu, banyak para pelaut yang mengistirahatkan aktivitas melautnya. Ia juga menceritakan tentang temuan adanya gunung api yang berada di dasar laut. Besarnya gunung tersebut diperkirakan sebesar Gunung Semeru di Jawa Timur.

“Kalau mendaki gunung, bagaimana ibadah shalatnya ?”, Ia bertanya menutup paparannya mengenai kepulauan di Sulawesi Utara ini.

“Seperti biasa, tidak ada yang berbeda”, aku menjelaskan.

Selanjutnya aku menceritakan pengalaman backpacking atau mendaki gunung sebagai aktivitasku. Kali ini dari sisi implementasinya pada hal ibadah. Tak ada yang berbeda secara umum dengan hal itu. Tetap saja ibadah ditunaikan. Hanya saja memang disesuaikan kondisinya. Jika lagi dalam kondisi safar, tentu saja aku mengambil ruksyah jama’ atau qashar. Pemahaman Ahlussunnah memang mengajarkan hal demikian, berbeda dengan pemahaman Syiah yang aku ketahui. Di Syiah, ruksyah jama’ bisa dilakukan meski tanpa sedang dalam kondisi diperjalanan.

Aku juga menceritakan detail bahwa aku kadang menerapkan keringanan mengusap alas kaki saat berwudhu, bertayamum saat di Bus AKAP, atau shalat berjamaah di alam terbuka saat pendakian Gunung Argopura. Bagaimana dinginnya menyentuh air wudhu saat di ketinggian Ranu Kumbolo, salah menentukan arah kiblat karena tak membawa kompas, hingga bagaimana tetap shalat di dalam tenda karena tak sanggup berdiri di luar tenda disebabkan udara malam yang dingin menusuk tulang.

“Aku juga pernah lalai menunaikan kewajiban”. Aku katakan dengan sedikit sungkan.

Aku harus jujur katakan, gunung memang telah mengajarkan aku banyak hal. Bukan dari alamnya saja, tetapi teman perjalanannya juga. Aku masih ingat hingga sekarang, teman pendakianku menanyakan ulang tentang shalat subuh yang aku tinggalkan.

Yak, itu shalat subuh saat summit ke Puncak Mahameru. Itu pendakian pertamaku. Kami berjalan dari jam dua pagi, lereng yang begitu curam hingga berdiri saja rasanya mustahil. Aku melepaskan begitu saja kewajiban itu. Dan itu masih terngiang hingga kini.

Aku juga menceritakan bahwa teman perjalanan yang baik akan selalu memberikan ilmu yang belum kita temui dari ratusan kitab yang terbaca. Sentilan pendaki wanita sahabatku itu tentang shalat subuh di Semeru tersebut menjadi cambuk yang masih berbekas. Dan entahlah dengan apa aku bisa membayar dari waktu yang telah berlalu sia-sia tersebut.

Aku juga kutipkan padanya tentang teman pendaki yang memberhentikan perjalanan saat shalat subuh tiba ketika kami summit ke Puncak Sejati Gunung Raung, Banyuwangi. Aku masih ingat kata-katanya seperti ini ;

‘Malaikat ngga akan nanya kamu ke Gunung Raung nyampe puncak atau nggak. Malaikat cuman nanya, kamu ke Raung shalat subuh apa nggak!’.
Just it. Just do it.

Photo : Dok Pribadi | Lok : Gunung Raung

Ia tersenyum mendengar ceritaku. Kami sama-sama tersenyum sambil meneguk lagi segelas Fresh Drewed Coffe di hadapan kami.

“Dan ada juga yang tetap membawa mushaf lalu membacanya di dalam tenda”. Lanjutku bercerita.

Ia diam mencerna.

“Sepertinya ia seorang anak kajian One Day One Juz”, aku berusaha menyimpulkan.

“One Day One Juz?”, Ia bertanya kembali.
“Ia. Baru dengar?”
“Aku sih tidak tau persis. Hanya lihat dari brosur-brosur, plakat, atau banner di beberapa masjid. Sepertinya itu program agar kita terus bisa membaca Al Kalam tidak hanya di Bulan Ramadhan. Ada juga program One Day One Ayat, sepertinya itu program untuk menghafal Al-Quran”, aku menjelaskan sekenanya.

Ia terdiam mencermati. Entah apa yang ada di kepalanya saat itu. Aku beranjak meninggalkannya menuju washbowl di bagian depan.

Aku kambali menghampirinya. Duduk dengan meletakkan French Fries Large di meja kami berdua. Kuteguk lagi air segar berasa pahit manis ini sekali lagi. Iapun demikian. Sesekali kami lepaskan pandangan kami melihat satu keluarga kecil yang baru saja keluar dari mini van nya tepat di tepi laut. Dengan camera DSLR di tangan kanannya, kulihat pria berjaket tanpa lengan itu mengatur tripot di salah satu spot hingga menggerakkan bahasa tubuhnya. Sepertinya mereka akan mengabadikan tenggelamnya sang matahari ke peraduan dari lokasi itu. Matahari yang telah seharian menghangati, sesaat lagi akan pergi tanpa pernah berjanji esok pagi ia harus datang lagi menemui.

Seperti dirimu saat ini
Tak perlu berjanji
Akankah tetap seperti ini
Di kemudian hari


How about you, buddy”, tanyaku sok british.

“Baik mas, berjalan sesuai rencana. Orang dinas di Balai membantu semua, laporanku sepertinya akan kaya dengan referensi menarik”, ia menceritakan kegiatannya hari ini.


“Ayahmu?”, tujuku tanpa mau kehilangan waktu.

Ia terdiam sesaat, seakan enggan untuk menjawab.

Sekali lagi, kisahmu lah yang jadi sebab kedekatanku. Ada tanggungjawab besar yang harus aku pikul bersamamu. Entah ini berlebihan atau tidak, aku ingin menjadi bagian dari apa yang kau rasakan sendirian.


“Ada. Paling SMS, minta duit”,
Aku tersenyum menatapnya.

Trus?”

“Paling buat judi lagi mas. Keluarga di sana juga udah wanti-wanti agar berkala kalau ngirim duit. Kuatir tidak digunakan semestinya”.

Meski sedang kuliah, ia juga seorang pekerja dengan salary bulanan. Sama sepertiku yang telah membiayai sendiri studyku dengan membagi waktu, tenaga dan juga biaya tanpa harus memamerkan sebentuk toga. Buatku ilmu bukan tentang apa yang mereka tuliskan, sertifikatkan atau mereka ijazahkan, tapi bagaimana orang dengan ikhlas mengatakan bahwa dengan ilmu yang disandang membuat kita memang pantas diperhitungkan.

“Ayah ke Riyadh saat aku berusia sembilan tahun”.
Ia mulai bercerita, setelah kudesak.

“Aku anak ke dua. Kakakku yang sulung berbeda satu tahun denganku, seorang wanita. Sementara adik kecil saat itu berusia dua tahunan, sedang lucu-lucunya.”

Dengan seksama aku mendengarnya. Sesekali kucoba diam menatap indah bola matanya, seketika aku tersentak saat iapun tau aku sedang memperhatikannya.

Ayahnya akan ke Riyadh untuk mencari nafkah keluarga. Untuk melepas kepergian sang kepala keluarga, dibuatlah pesta sederhana dengan mengundang kerabat dan tetangga.

“Di rumah sedang ramai menyiapkan makanannya. Begitupun aku di usia seperti itu. Sementara adikku si kecil entah bagaimana kisahnya terlepas dari pengawasan kami semua. Ia menghilang. Kami  mencarinya kemana-mana dan melibatan alim ulama desa. Singkat cerita, ditemukanlah sesosok anak kecil yang tak berdaya di sebuah parit belakang rumah. Parit, atau got biasa mereka menyebutnya, adalah tempat pembuangan air limbah rumah tangga yang biasa ada di belakang rumah-rumah di desa. Cukup dalam untuk anak balita, hingga sangat berbahaya kalau terperosok ke dalamnya.”

“Saat ditemukan, adikku masih bernyawa. Tapi tak berapa lama. “

“Aku masih ingat, si sulunglah yang jadi amuk kemarahan orang tua.”

“Makanan yang tadinya disiapkan untuk melepas kepergian Sang Ayah, kini harus berubah agenda menjadi menu doa buat melepas kepergian Sang Adik tercinta untuk selama-lamanya.”

“Ayah tetap pergi keesokan harinya”.

Aku terus merekam ceritanya. Menuliskannya tanpa menggunakan tinta.

***

Hari beranjak senja. Kami memutuskan untuk kembali ke kediaman. Aku ke penginapan, sementara ia ke kostan. Lokasi kami berdekatan, dan dipertemukan di sebuah ‘rumah’ Tuhan. Masih banyak yang ingin kudengar ceritanya. Sepanjang kisah terakhirnya, ia hanya selalu menceritakan tentang Ayahnya. Tabiat ayahnya saat ini. Seakan tak ada lagi celah untuknya merubah. Ia juga terkadang menceritakan kedekatannya dengan sang kakak yang memang menjadi orang satu-satunya tempat bercerita. Selisih usia mereka yang berdekatan menjadi alasan pertalian mereka yang demikian dekat. Saat inipun, sesekali ia berkomunikasi via telepon selular untuk berbagi cerita dengan sang kakak. Kakak sulungnya saat ini berada di Kota Jakarta dan memilih menikah muda.

Pernihkahan bukan tentang usia muda atau tua
Tapi tentang kesiapan mengemban amanahnya

Di beberapa kesempatan ia juga bercerita tentang masa kecilnya di sana. Bersama teman-temannya dengan kebiasaan bermalam di gedung sekolah. Menaiki sepeda untuk menuju satu tempat. Mengunjungi Masjid Menara Kudus Jawa Tengah. Mendapat kiriman makanan dari tetangga rumah. Ataupun saat mengejar layangan yang putus hingga  di seberang rel kereta nun jauh di sana. Ia mengejar layangan sampai ia terlupa telah meninggalkan adiknya di persawahan. Dan kadang akupun menggunakan imajinasiku untuk memvisualisasikan masa remajanya yang sedang membeli kebutuhan di warung depan, membeli tanpa uang tunai di tangan.

“Aku sungguh ingin melihat dimana kau beranjak dewasa”
Bukankah kalimat itu yang diucapkan Samantha
Untuk orang yang dikasihinya

Aku terus merekam kisah kasihnya. Tak banyak yang terucap tapi terasa penuh di telinga. Setiap kalimat yang diucapkannya seakan membutuhkan analisa dan sebuah empati yang dalam.

Dan diantara sebagian ceritanya, ia mengatakan ‘aneh’ untuk perbuatan seorang perempuan muda yang sejatinya menaruh hati padanya tetapi enggan mengungkapkanya.

Kau hanya belum tau
Ada banyak pecinta 
Seperti Al 
Dalam kisah Dee Lestari

Ia mencintai seseorang begitu kuatnya
Meski sebatas punggungnya saja


***

“Ibumu?”

Ia kembali terdiam.

Ia menolak untuk bertutur seakan ada hal yang tabu untuk diceritakannya. Seakan ada sesuatu yang sulit dikatakannya. Seakan ada bagian yang dibuang dari keseluruhan ceritanya. Seakan kisah itu adalah aib yang tak pantas dipentaskan.



***

Selanjutnya di Al Kahfi Bagian III






Artikel Terkait
Comments
4 Comments

4 komentar:

  1. Mas iman, bikin penasaran niih ceritanya, jangan lama2 yaah part3 nya...

    BalasHapus
  2. Mas iman, bikin penasaran niih ceritanya, jangan lama2 yaah part3 nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mba Irna, InsyaAllah akan diselesaikan Part 3, semoga kisahnya bisa menginspirasi yak.

      Hapus