Sabtu, 14 November 2015

Kisah Yang Dihentikan


AL-KAHFI III

***

Bismilillahirrahmanirrahim
Jika tidak karena kekhawatiranku
Maka tak akan kuhentikan tulis kagumku





Kutinggalkan ia ke beberapa pulau untuk memenuhi hasrat petualanganku. Berada di sebuah kapal penumpang, moda transportasi darat hingga pesawat udara. Keindahaan negeri yang terpisah oleh lautan ini sungguh seperti lukisan yang tak dipajang. Indah, namun hanya sebagian yang menikmatinya. Sesekali aku melewati jemuran cengkeh di badan-badan jalan beraspal, ataupun berada di sebuah jalan tikungan menanjak nan sepi sementara sinar matahari harus terhalang perkebunan lada. Batu-batu cadas, ikan-ikan kecil yang terlihat jelas dari atas, atau aktivitas pasar yang hanya diramaikan di satu hari di setiap pekannya.


Aku kembali ke Kota Manado. Kutinggalkan sejenak hikmat petualanganku selama di Kepulauan Talaud. Aku menjejakkan kaki lagi di penginapanku di sebuah perkampungan muslim.


Entah.... 
apa yang membawaku ingin segera ke tempat ini
Dirimukah
Ceritamukah
Atau kelemahanku


Selama di Talaud, aku masih berhubungan via telpon dengannya. Dalam satu kesempatan akupun telah berbagi cerita dengannya tentang pertemuanku dengan seorang teman lama di satu kota. Madiun, nama kota itu. Kota yang aku singgahi ketika akan mendaki Gunung Merapi beberapa tahun lalu. Seorang teman yang biasa bertemu di sebuah masjid, kukenal cukup dekat. Lalu ia kemudian berhenti bekerja dan pindah ke kota itu. Pertemuan kami memang terhenti, tetapi silaturahmi tetap terjaga. Kegiatanku yang sering beranjangsana kusempatkan juga untuk mengunjungi sahabat-sahabat lama yang telah terpisah oleh jarak karenanya.


Ia menjemputku dengan sepeda motornya. Sepeda motor tua, lebih tepatnya. Di sepanjang jalan ia terus menanyakanku apakah aku tidak malu dibonceng dengan motor tua seperti ini. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. Entah berapa kali harus kuyakinkan bahwa aku tidak permasalahkan akan hal itu.


Aku tiba di kediamannya. Rumahnya terlihat megah, namun seperti tak terurus. Aku hanya dipersilakan masuk dari pintu samping, pintu yang langsung menuju dapur. Aku disambut oleh isterinya, yang juga sudah lama kukenal selama di kalimantan. Ia senang mendapati rumahnya didatangi oleh tamu. Isterinya menyuguhi segelas es sirup pandan buatan sendiri, dan sepiring ubi goreng yang sudah kering. Aku diam sesaat. Rumah yang dulunya lengkap dengan perabot mahal, kini hanya tinggal dinding tanpa cahaya yang terang. Rumah ini sudah seperti goa. Hanya ada meja makan dan kursi kayunya. Semua perabot rumah sudah habis terjual untuk melunasi utang.


Yap. Di sini lah kisahnya. Jika seorang Al-Kahfi harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sang Ayah memiliki tabiat yang akhirnya menguras harta kekayaan keluarga. Aku turut pula menceritakaan kisah sahabatku lainnya yang harus menghadapi kenyataan melunasi hutang dari perbuatan isterinya. Dua rumah kontrakan yang dimilikinya sudah dijual, namun itu belum cukup untuk melunasi semua hutang. Sepeda motor yang ia pakai menjemputku di stasiun pun adalah pinjaman dari teman kerjanya. Bahkan semua perabot rumah telah habis dijual. Hutang tetap saja tak berada di nominal nihil.


Bukan hanya persoalan uang, tetapi keutuhan rumah tangga. Bagaimana ia sebagai kepala keluarga harus bisa menyelesaikan semua permasalahan dengan bijak dan tepat. Isteri yang sudah mengakui kekeliruannya, harus dengan ikhlas dimaafkan. Gerbang perceraian seakan melambai menjadi pilihan, tetapi dua buah hati yang telah remaja seolah menjadi alasan untuk tidak memilihnya.


Ia juga harus merasakan bagaimana puteri-puterinya yang telah dewasa harus tumbuh dengan lingkungan yang mempertanyaan permasalah keluarganya. Tak akan semudah kita manusia dewasa, remaja tentu harus banyak diberi perhatian.


Begitulah roman kehidupan. Tak seperti yang kita lihat dari luaran. Aku meneguk habis suguhan yang diberikan. Mempelajari ketegaran seorang ayah dalam mempertahankan apa yang telah ia satukan kini diambang cerai berai, keluarga.


Kisah itu aku ceritakan pada Al-Kahfi agar ia bisa merasakan bahwa setiap manusia akan diuji dengan hal yang tak terlintas oleh pikiran, tak tersirat sedikitpun di keinginan dan tak terbetik sekalipun di lubuk terdalam. Namun ujian, tetaplah ujian. Setiap orang pasti akan menghadapinya, tinggal level ujian lah yang membedakan tingkat dan kemampuan  kita untuk menyelesaikannya. Berhasil atau gagal. Berhasil, maka ujian selanjutnya telah menanti dengan soal ujian yang lebih tinggi, sementara jika gagal ujian serupa tetap dihadapi.


***


Kembali aku menemuinya di barisah jamaah Ashar. Hingga sang imam ucapkan salam, aku menantinya dari belakang. Aku kira ia akan berjalan keluar setelah berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Namun kali ini aku keliru, ia beranjak ke meja mimbar untuk mengambil sebuah kitab. Ia duduk kembali lalu membaca yang tertulis di setiap lembarannya.


Belakangan aku tau bahwa saat ini ia sedang bersemangat untuk mendapatkan satu juz quran untuk setiap harinya. Ceritaku tentang One Day One Juz, sedikitnya menjadi bagian dari inspirasinya. Begitupun dengan buku Self Management karya Ariwibowo Prijosaksono setidaknya memberikannya pola baru bagaimana mendesign hidup agar lebih sehat dan terarah, dan tentu saja dalam naungan islami.


Aku mengangguk
Dan berpikir cukup lama, lalu berazam
 Akupun akan ikuti jejakmu kawan
Dua lembar di setiap akhir fardhunya


***


Kami duduk berdekatan. Sebuah bangku dari papan selebar dua bahu orang dewasa. Kami bercerita tentang apa yang bisa menyehatkan telinga. Tak hanya tentang kisah perjalananku, atau kisah perjalanan hidupnya, tapi terkadang tentang hobby hingga cabang olahraga yang kami tekuni. Kami pun membahas judul film yang menarik untuk dibicarakan, tentu tak sebatas kemahiran aktornya atau meledaknya jumlah penonton, tapi lebih pada dari sudut mana kami menikmatinya. Seperti film Leonardo D’Caprio dalam Inception, kami bicangkan pada begitu tingginya imajinasi si pembuat film dalam mengkalkukasi waktu antara alam nyata dan alam mimpi, alam sadar hingga alam di bawah kesadaran manusia. Perbedaan waktu di film tersebut kami bincangkan dari sisi ilmiah (science), hingga pada referensi agama. Atau seperti film ‘ringan’ Save Haven yang dibintangi Julianne Hough, dimana di suatu adegan adalah Josh seorang bocah laki-laki yang tidak senang dengan kebiasaan ayahnya yang selalu mendokumentasikan kenangan ke dalam sebentuk gambar atau kamera. Menurutnya, kita tak harus membutuhkan alat bantu untuk mengenang masa lalu.


Ya! Kita memang tak harus menggunakan alat bantu untuk mengenang sesuatu. Kalimat itu justeru menjadi alat bantu untukku mengenang seorang ibu. Kuceritakan padanya bahwa kerinduanku kepada ibu bisa aku wujudkan di sebentuk tulisan. Aku hanya terkadang membayangkan seandainya ibu masih ada akan kubawa serta ia bertualang bersamaku. Mengunjungi desa-desa di kaki gunung dengan hamparan perkebunan, atau pun perkampungan nelayan di pantai-pantai indah bergelombang. Ibuku seorang yang cerdas, kuat dan penyayang. Pernah aku diajaknya ke sebuah perkampungan nelayan dan tak jauh juga dari persawahan. Ia paling suka memetik kacang panjang atau membuatkanku sate dari ikan. Sebagian hidupnya yang bekerja sebagai buruh pabrik membuatnya harus menggadaikan kesehatannya. Ibu pergi ketika aku belum mengerti arti kepergiannya, untuk selama-lamanya.


Bukan tentang itu yang ingin kubagikan dengannya. Al-Kahfi sesekali tersenyum mendengar bersemangatku aku bercerita tentang figure seorang ibu. Kegemaranku berjalan hingga ke beberapa pelosok negeri, sering membuatku rindu bila saja ibu bisa kuajak serta menemani. Ah, sudahlah. Tak boleh berandai-andai, karena tipu daya setan akan mudah masuk dari pintu andai-andai. Aku kembali tersenyum, menghentikan kisahku. Aku hanya ingin mengajaknya bercerita tentang sosok ibu yang selalu disembunyikannya. Kutatap sekilas hitam bola matanya, lalu kutanya ia bagaimana dengan ibunya.


Dia kembali mematung.

Lalu berucap pelan

“Ibu menderita gangguan jiwa”.

#deg.

***


Ia diam sejenak tak melanjutkan. Aku diam membiarkannya menyusun kembali yang berserakkan karena ayahnya. Karena ayahnya (?). Mungkin, meski aku tak selalu setuju jika takdir dinisbatkan pada akibat ulah seseorang. Aku, selalu meyakini bahwa takdir adalah mata ujian yang diberikan kepada orang-orang yang dipercaya sudah saatnya mendapatkan ujiannya masing-masing, terlepas berhasil atau tidaknya mereka menyelesaikan ujiannya tersebut.


Ibunya mulai terlihat depresi ketika kepergian adiknya yang terbilang tiba-tiba. Meninggal disaat keluarga tengah menyiapkan pesta untuk kepergian suami tercintanya. Menu makanan yang sedianya untuk sang suami, harus berubah agenda acara menjadi acara tahlil melepas kepergian si bungsu. Sementara di saat itu pula, ibu tengah mengandung anak ke empat.


Sang suami tetap pergi esoknya, hingga bertahun-tahun lamanya.


Al-kahfi, terlihat belum siap menceritakan detail kondisi ibunya. Akupun tak berkata sepatahpun untuk mendesaknya. Ia lalu menuturkan, di satu waktu ibunya sering berdiri melihat tanaman di tepi watas tanah yang dimilikinya, ia tak pernah tau bahwa tanah itu sudah bukan lagi menjadi miliknya, karena telah dijual suaminya.


Aku diam sesaat. Berusaha menyusun kalimat yang tepat. Inikah yang selalu ia tutupi ketika aku berusaha tau tentang kondisi ibunya. Ia beberapa kali menghindar dan mengatakan ‘aib’.


“Tapi itu bukan aib”, aku memecah kebuntuan.


“Apa yang dialami ibumu, bukan aib. Sama sekali bukan”, aku berusaha menguatkan.


“Ada begitu banyak manusia yang memamerkan keluarganya dengan perasaan bangga. Lucunya, mereka terkadang tidak bisa membedakan apa yang mereka banggakan sebetulnya aib yang harus mereka tutupi. Sementara ibumu, tentu saja bukan aib yang harus selalu kau tutupi, meski memang tak perlu dipublikasi”.


“Kamu masih punya ibu. Syukurilah hal itu. Berceritalah tentang banyak hal kepadanya, meski ia tak terlihat merespon ceritamu, atau seperti biasa ia hanya diam atau menjawab tak bersesuaian. Akan tetapi, bagaimanapun kondisinya, ia ibumu dan ia masih ada.”


“Tak ada yang keliru dengan takdir yang menimpanya. Berdoalah sekuatnya, untuk kesembuhan ibu, juga untuk kebaikan akhlak ayahmu”.


Entahlah, apakah kalimatku baik untuknya ataukah malah memperburuk kondisinya. Ia terlihat menengadah sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya. Ia berusaha agar airmatanya tak tumpah, meski itu percuma. Karena airmata, bukan menunjukkan kelemahan, tapi bukti kelemahlembutan sebuah perasaan.


Aku hanya bisa menyentuh bahunya, membiarkannya menyelesaikan konflik di batinnya. Aku memang tak perlu menangis di hadapannya untuk menunjukkan empati, tak perlu. Aku hanya perlu berjanji sendiri, janji tak perlu ia ketahui.


 
Photo : Dok Pribadi


***


Al-Kahfi, tentu saja bukan itu namanya. Al-Kahfi adalah sebuat surat suci di kitab suci yang kami sama-sama cintai. Pernah satu waktu kami berada di kran air wudhu, kami mendengar tilawah sebuah surah. Surah itu adalah Al-Kahfi, ia katakana bahwa ia mencintai surah itu dan senang mengulang-ulang membacanya. Ya, tak kuragukan hal itu karena akupun pernah mendengar ia membaca surah tersebut. Akupun demikian halnya, surah yang berisi kisah pemuda beriman Al-Kahfi tersebut aku kenal dan cintai semenjak kecil. Kisah Khidir dan Dzulqarnain di dalam seratus sepuluh ayatnya itu pun membuat surah itu menjadi semakin berbeda. Penuh dengan hikmah dan keimanan mendalam.


Seperti kisahnya, kuinginkan ia pun seperti apa yang disiratkan pada salah satu ayatnya :

“… Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS. Al-Kahfi 013)


***

Jika tidak karena kekhawatiranku
Maka tak akan kuhentikan tulis kagumku

***



Selesai
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar