Rabu, 23 November 2016

Atas Nama Pengalaman



ATAS NAMA PENGALAMAN

Buku : Atas Nama Pengalaman Beragama dan Berbangssa di Masa Transisi
Penulis : Nurcholis Madjid
Penerbit : Dian Rakyat
Cetakkan Kedua : 2009


Halaman 60 :

Kalau kita telusuri ke belakang, peringatan Maulid pernah menunjukkan kegunaannya yang luar biasa. Maulid itu ‘kan temuan Salahuddin Al Ayubi, orang barat menyebutnya Saladin, nama yang bagi orang barat sangat terkait dengan keperwiraan yang luar biasa-suatu lambang dari akhlak yang sangat tinggi. Ketika dia berhasil kudeta terhadap kekuasaan Fathimiyah lalu diganti dengan kekuasaan Ayubi (Ayubiyah) itu maka dia terpanggil untuk bertanggungjawab atau menangani persoalan penyelesaian Perang Salib. Ketika itu umat islam sedang kalah. Salahuddin berpikir mencari cara untuk membangkitkan semangat tentara Islam, dan ternyata dia mendapatkan inspirasi dari peringatan Natal. Jadi kaum nasrani itu rupanya membangkitkan tentaranya dengan semangat Natal. Kalau ada Natal Isa, pikir Salahuddin, kenapa tidak ada Natal Muhammad. Dan Natal dalam bahasa Arabnya milad atau mawlid yang berarti hari kelahiran. Maka Salahuddin lalu mengambil inisiatif merayakan Maulid Nabi Muhammad dengan berceramah mengenai maghazi (cerita-cerita perang Nabi).



Halaman 62 :
Dan masalah khilafiyah itu memang tidak bisa diselesaikan. Oleh karena itu diterima saja sebagai kenyataan.


Halaman 71 :

Ketika Umar mendengar ayat bahwa Islam sudah sempurna, yaitu ayat al-yawma akmaltu lakum dinakum (QS 5 : 3) Umar menangis. Peristiwa itu terjadi di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah sehabis Nabi pidato, yang disebut pidato perpisahan. Nabi bertanya kepada Umar, mengapa dia menangis? Kata Umar, sekarang agama kita sudah sempurna, sesuatu yang sempurna tidak bisa lagi ditambah, yang bisa dikurangi. Jadi setelah sempurna dengan sendirinya akan berkurang. Itu yang ditangisi Umar.


Halaman 81 :

Ada suatu peristiwa ketika orang yang tidak terima dengan pembagian harta rampasan perang yang dilakukan oleh Nabi, berteriak-teriak di hadapan Nabi menuntut keadilan. Nabi sendiri sebetulnya menerimanya (sikap orang itu-ed) biasa saja, tapi salah seorang sahabat, yaitu Khalid ibn Walid yang menyaksikan itu tidak terima. Ia menghunus pedang mau membunuh orang yang dianggapnya kurang ajar karena bersikap tidak sopan kepada Nabi, tapi dia justeru dicegah oleh Nabi, sambil mengatakan, “Jangan! Mudah-mudahan nanti di kalangan mereka ada yang sembahyang.” Lalu Khalid ibn Walid bilang bahwa sekarang ini banyak orang yang sembahyang, hanya pura-pura. Sekarang ganti yang dimarah oleh Nabi justeru Khalid ibn Walid, “kamu tau darimana? Saya ini diutus tidak untuk membelah dada manusia. Kalau orang sembahyang biar saja, tidak usah kita menilai, itu hak Tuhan.”


Halaman 83 :

Karena itu ketika kita berbuat baik ya alhamdulillah, jadi kita memuji Allah. Memang kalau kita berbuat baik dan hubungannya dilakukan antar manusia, orang yang menerima perbuatan baik itu wajib berterima kasih. Al Quran menyatakan begitu (Kami memberi makan kamu karena Allah semata, kami tidak mengharapkan balasan ataupun ucapan terima kasih – QS 76:9). Maksudnya kamu tidak berterima kasih juga tidak apa-apa, tetapi yang wajib berterima kasih kan yang menerima kepada yang memberi, karena Al Quran juga menegaskan yang artinya orang yang berterima kasih sebenarnya berterima kasih pada dirinya sendiri.


Halaman 103 :

Bang Imad (Dr. Imaduddin Abdulrahim) suka memberika contoh penangkal petir. Ada tempat maksiat dan ada masjid, tempat maksiat dipasangi penangkal petir dan masjid tidak, maka yang akan disambar petir itu masjidnya bukan tempat maksiat. Jadi petir itu tidak memilih, ini tempatnya orang sembahyang tidak boleh disambar. Tidak begitu. Karena itu jangan mengukur bencana alam dengan ukuran-ukuran seperti itu. Ka’bah itu beberapa kali hancur dan roboh oleh kebakaran, banjir dan sebagainya.


Halaman 104 :

Biarpun kita rajin sembahyang, puasa tiap hari, mengaji setiap saat, tapi kalau tidak adil pasti akan hancur. Karena itu ada ucapan dari Ali bin Abi Thalib yang sering dikutip, yang ibn Taimiyah juga mengutipnya, yaitu : “Allah akan menegakkan negara yang adil meskipun kafir dan tidak akan menegakkan negara yang lalim meskipun islam”, dan juga ucapan ; “Dunia ini akan bertahan dengan keadilan meskipun kafir dan tidak akan bertahan dengan kezaliman meskipun Islam.”


Halaman 139

Ada seorang antropolog Australia yang membagi orang Jawa kepada empat. Yang paling tertinggi kelasnya yaitu mereka yang namanya Sansekerta, yang panjang-panjang itu (seperti contoh diatas tadi : Prawoto Mangkusasmito, Kasman Singodimejo, Yusuf Wibisono, Soekiman Wiryosanjoyo, dsb), yang kedua ialah nama sansekerta, tapi hanya satu, mereka ini paling dinamis (mobilitas sosialnya), misalnya Soekarno, Sartono, Soeharto dll. Yang ketiga ialah golongan yang disebut santri yang namanya Abdurrahman Wahid, Muhammad Amien Rais, dsb. Yang keempat ialah yang namanya khas Jawa, seperti Paijo, Ponimin, Inem dan sebagainya, yang dulu di tahun 50-an sangat signifikan tetapi sekarang sudah tidak lagi.


Halaman 216

Semuanya masih soal halal haram, najis-suci, tapi kemudian lupa kepada esensinya. Maka ketika kita diajari agama, yang diajarkan adalah formalitas, seperti sembahyang itu bagaimana sahnya, batalnya, pakaiannnya bagaimana, menghadap ke mana dan seterusnya, tetapi maknanya sendiri tidak pernah diajarkan ; mengapa kita membaca Al Fatihah, mengapa kita membaca Allahu Akbar, mengapa kita membaca Assalamualaikum di akhir shalat dan seterusnya


Coba perhatikan, doa tahiyat itukan sebetulnya salam kepada Tuhan, karena Tuhan juga mengucapkan salam kepada kita. Di surga nanti kita disambut oleh Tuhan dengan salam : salam-un qawl-an min rabb abrahim (Salam sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Kasih). Maka kita juga mengucapkan salam, kemudian salam kita kepada Nabi ; lalu kepada diri kita sendiri. Itu adalah perkembangan rohani yang sangat penting yang tidak pernah diajarkan. Jadi pendidikan agama di sekolah menjadi gagal itu karena formalisme. Karena yang disebut tau agama itu misalnya rukun salat itu berapa, yang membatalkan puasa itu apa, kalau menyentuh perempuan itu batal apa tidak wudhunya, dan seterusnya.


Halaman 218

Makanya ayat “celakalah orang sembahyang” , itu sebenarnya untuk mengecek. Orang itu sembahyang. Karena sembahyang maka secara teoritis dia pasti baik. Tapi ternyata dia jahat itu ‘kan mengecoh. Dan itulah yang disebut munafik. Tapi ini persoalan kita semua. Tidak perlu menunjuk siapa-siapa. Kita harus introspeksi dan berusaha masing-masing untuk memperbarui diri sendiri, seperti pesan Nabi ibda’ bi nafsik mulailah dari dirimu sendiri.



ooOoo
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar