Rabu, 13 Juli 2011

Menuju Nusa Utara Indonesia


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala lindungan-Nya sehingga perjalanan ini dapat dilalui dengan selamat, meski harus berjibaku dengan ganasnya ombak di perairan utara pulau sulawasi yang juga merupakan bagian dari lautan pasifik. Terimakasih buat teman-teman yang telah memberikan bantuan informasi dan juga spiritnya sehingga perjalanan kali ini tidak menemui hambatan yang berarti.

Solo backpacker kali ini terasa lebih dewasa, lebih mengedepankan nilai sebuah perjalanan, kebersamaan dengan lapisan masyarakat daerah terpencil, menyelami aspek mikro dari sebuah daerah perbatasan, berbaur dengan kentalnya adat istiadat hingga nasionalisme yang bukan sebagai jargon para peneriak perangkul nusantara. Perjalanan kali ini, mencoba menemukan apa yang disebut sebagai petualangan, the adventure. Perjalanan kali ini tidak lagi mengunjungi lokasi lokasi wisata yang masyhur, tetapi bersilaturahmi ke pelosok negeri yang luput dari lensa kita. Namun, jangan ragukan potensi wisata di lokasi-lokasi yang penulis kunjungi. Menemukan keindahana alam dari suatu objek yang tak tenar adalah kepuasan tersendiri bukan hanya karena keindahan yang memukau tetapi perjuangan menuju lokasi yang tak mudah ditambah dengan hal-hal menyulitkan lainnya. Namun, apapun itu inilah yang disebut petualangan menuju persaudaraaan setanah air bangsa, Indonesia.

Perjalanan ini dimulai dengan melalui sungai sekatak di pedalaman Kalimantan timur, untuk menuju kotamadya Tarakan. perjalanan menyeberang lautan dengan derasnya hujan menyertai, menggunakan speed boat berkapasitas 8 (delapan) orang penumpang. Dari kota Tarakan, penulis menumpang kapal PT. Pelni untuk menuju pelabuhan Pantoloan, Palu Sulawesi Tengah, dengan transit terlebih dahulu di kota kabupaten Nunukan Kalimantan Timur. Perjalanan laut ditempuh dalam waktu + 30 jam. Dari pantoloan penulis menikmati sejenak keindahan kota Palu dan desa pesisir di Sulawesi Tengah selama 2 (dua) hari. Dari kota Palu, menuju desa pesisir di desa Palewa, Parigi Tengah, Sulawesi Tengah. Perjalanan darat harus ditempuh melalui jalan menanjak dan berliku dengan jarak yang cukup lama, jalanan berbukit yang disebut sebagai kebun kopi. Pemandangan indah dari ketinggian menjadi bagian tersendiri melengkapi perjalanan dengan menggunakan mini bus tersebut. Tiba di Parigi, penulis bermalam dan menikmati pagi di desa yang berada di tepi pantai tersebut. Siangnya, penulis menanjutkan perjalanan dengan menumpang bus trans Sulawesi jurusan kota Palu – Manado. Jarak tempuh sejauh 1.024 Km, dengan waktu tempuh 24 jam lamanya. Artinya penumpang diharuskan bermalam di perjalanan dan juga meninggalkan sejenak aktivitas mandi pagi dan mandi sore. Tepat pukul 02.00 siang keesokannya, penulis tiba di kota manado, di terminal Malalayang. Dari terminal yang ramai dan padat, penulis melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan manado untuk mencari tumpangan kapal menuju kota Melonguane, Kabupaten Talaud.

KM. Vallerine adalah kapal penyeberangan yang mengantarkan penulis untuk menyeberangi lautan manado menuju utara gugusan kepulauan yang tersebar indahnya. Kondisi kapal yang terlihat semeraut, volume penumpang yang terlihat melebihi kapasitas harus bercampur dengan aneka ragam barang-barang penumpang yang begitu banyaknya. Perjalanan di malam hari dengan waktu tempuh + 15 jam perjalanan adalah perjalanan laksana sebuah petualangan bahari, karena harus berhadapan dengan derasnya hujan, kencangnya angin dan laut yang bergelombang dengan ganasnya.

Dari Melonguane, penulis menikmati keindahan dan juga adat istiadat khas daerah setempat dan meninggalkan kabupaten paling utara tersebut dengan melalui jalur udara. Perjalanan  udara dari bandara melonguane menuju bandara Sam Ratulangi Manado menggunakan pesawat Wings Air, dengan ketinggian jelajah 1.000 kaki diatas permukaan laut. Waktu tempuh perjalanan selama 60 menit. Dari kaca jendela pesawat terlihat hamparan gugusan kepulauan diantara birunya lautan pasifik. Terlihat dengan jelas gradasi laut yang hijau dan biru, menunjukkan betapa beningnya air laut. Pulau-pulau terlihat sangat indah karena berbingkai garis putih bersinar, menandakan setiap pulau selalu dilingkari pantai yang bersih dan mempesona.

Target yang hendak dicapai sebenarnya adalah pulau Miangas yang berada di Kabupaten Talaud, pulau yang berada paling utara dari peta Indonesia, merupakan pulau perbatasan yang memiliki keunikan tersendiri, tidak dikenal sebagai pulau wisata tetapi tak perlu ragukan potensi wisata yang ada di pulau ini. Pulau kecil nan indah ini dikenal juga sebagai pulau menangis, hanya bisa ditempuh melalui jalur laut. Niat mengunjungi pulau ini harus dibatalkan karena kapal penumpang yang  melayani menuju pulau ini hanya ada setiap 14 hari sekali, artinya jika memaksakan diri untuk backpacking ke sana harus berada selama 14 hari tersebut. Ditambah lagi karena hanya sebuah pulau kecil fasilitas public belum memadai. Tidak ada penginapan dan juga mini market di sana, artinya jika ingin ke sana disarankan membawa logistic sendiri dan berbaur dengan masyarakat setempat karena harus menumpang di rumah warga setempat.

Dari kota manado, penulis kembali melanjutkan perjalanan menuju kabupaten Sitaro, atau kependekan dari Siau, Tagulandang dan Biaro, merupakan tiga pulau besar diantara pulau-pulau kecil lainnya sebagai kabupaten baru dari pemekaran kabupaten Sangihe. Pulau Siau, pulau indah dengan air laut yang jernih, merupakan pulau tempat berdiri kokoh gunung api yang masih aktif, yaitu gunung karangetang. Dari pulau Siau penulis kembali ke kota Manado untuk bersiap menuntaskan rangkaian solo backpacker kali ini dengan menumpang pesawat udara melalui kota Balikpapan menuju Tarakan dan dilanjutkan ke kampung halaman di kecamatan sekatak kabupaten bulungan kalimatan timur.

Mengunjungi pulau-pulau di daerah timur Indonesia memang tak mudah, karena sarana transportasi yang terbatas dengan harga yang melambung, ditambah dengan pengaturan penumpang yang semeraut memperjelas kekhasan wajah Indonesia dengan romansanya. Meski demikian, bisa berkunjung menjelajah dari satu pulau ke pulau lain dengan kondisi demikan adalah sebuah petualangan yang sangat bernilai, penulis seakan menyatu dengan romantika penduduk dengan segala keterbatasannya. Lelah, tentu saja ketika berada dalam armada apa saja, baik itu angkutan darat, maupun angkutan laut. Namun diantara penulis, masih terlihat banyak penumpang ibu-ibu dan juga anak-anak, mereka inilah yang memberikan kekuatan buat saya sehingga segala penat dan letih seolah terobati dengan ketegaran mereka ‘menikmati’ layanan angkutan.

Akhir kata saya haturkan terimakasih yang sebesarnya untuk keluarga Ami Dar di Palu Sulawesi Tengah, atas jamuan makannya serta keramahan semua keluarga, untuk Pak Jajuli Paputungan untuk informasi Gorontalo, Untuk Pak James Mandas di Tomohon, Untuk Hasbi Samad for guide Sangihe, untuk Lia di Kampung Arab Manado, untuk Albert dari BPI Manado, untuk Asria di Siau Sitaro Sulut, terimakasih atas bantuan informasi dan guidenya. Tak lupa juga buat teman-teman yang setia mengikuti cerita perjalanan saya, buat Idham Jufri di Makassar, Trias Eventi di Jakarta, Novia Tri Marfuah di Banjarbaru Kalsel, Rhiannov dan Rezy Aziz di Surabaya, Rika Ramlan, Wita dan Duwie di Tarakan, Adrian di Medan, Nova Triana di Balikpapan, Itong Ce’es di Bogor, Sarah di Aceh, Nanda Patria and the gank di Jogjakarta, teman-teman baru dari komunitas Ceker Petualang Kalimantan Selatan dan teman-teman lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Buat teman-teman kantor ; mas Ribut Hidayat, Tonglo Bulawan terimakasih sudah mengikuti cerita ini. Kemudian buat mas Bimo dari Langkah Koran Petualang Jakarta, tulisan ini buat anda, salam kenal semoga kita bisa satu langkah mengenalkan keindahan negeri ini untuk generasi muda kita.

Terimakasih, dan untuk catatan perjalanan setiap lokasi yang dikunjungi akan diposting tersendiri nantinya.

Semakin jauh kaki ini melangkah,
semakin dalam cintaku akan negeri ini
dan semakin besar benciku pada pengelola negeri ini

Gallery Journey ;

Landscape Palu Selatan, Sulawesi Tengah



Pantai Bamba Uwentaipa, Parigi Sul-Teng


Klenteng Kwan Kong Manado


Melonguane, Talaud Sulawesi Utara


Pulau Siau, Kab. Sitaro Sulawesi Utara

Artikel Terkait
Comments
10 Comments

10 komentar:

  1. subhanallah,, indah banget hasil jepretan qmu sob,,, seindah tulisan2 yg qmu buat sehingga aq selalu penasaran untk mengetahui, apa lg yg qmu tulis selnjutx? semoga TUHAN slalu menuntun qmu dlm setiap langkahmu...BACKPACKER......sukses slalu tuk mu.....sumpah,,,aq jd pengen ketemu qmu sob....N sebuah kebanggaan bgku,, namaq ada di dlm tulisanmu...thank u so much sob.....

    BalasHapus
  2. eh ada namaku d sini,,
    heu,, iri bgt m mas iman bs keliling2 ky gituh..huhuhu
    smoga bs mnjadi motivasi bwt ias,,
    dlm jangka wktu dekat ini k kalimantan dl aj kali y ias mah hehe,, k camp lagih heu

    BalasHapus
  3. Oughttt,,, saat mas Iman blg d Manado,ak jd inget gn Soputan yg lg meletus,, ku kira mas Iman brgkt dgn naik pesawat & ak brPikir kok bs mas Iman k Manado pdhal bndaranya d tu2p,,
    Ooooppssssttt, trNyata ak salah hehehe,, emang kLo dah niat mah psti ada jlnnya,, g pKe pesawat, naik kapal pun jd hihihi,,, salut dech mas ma Semangatnya,, ak jd ngiri, kpn ya ak bs jln2 kyk mas Iman,,
    d tgg tulisan2 berikutnya,,
    ought ya, request dech: tulis ttg pertandingan menyambut 17 Agustus d Camp ya?? kan biasanya seru tuch,,

    BalasHapus
  4. Nova Triana : makasih sobat, semoga kelak kita bisa berjumpa lagi
    Eventias : orang daerah yang ngiri tuh dengan orang pusat, karena sarana transportasi sangat memadai dan harga bersaing disana...semoga perjalanan ke kalimantan kelak menyenangkan...good luck sobat.
    Novia_3m : ia mba nov, sempat ditutup airportnya, karena saya juga melalui bandara tersebut saat dari melonguane Talaud dan juga ketika akan ke kalimantan, tapi alhamdulillah masih diberi kelancaran....untuk requestnya, boleh deh.....

    BalasHapus
  5. hore...namaku kesebut,makasih ya man_
    membaca tulisan kamu,membuat saya semakin salut atas tekad dan niat kuat kamu untuk menaklukkan Nusantara melalui 'solo Backpaker'
    salam juga bua teman2 intraca yang tersebar di Nusantara yang sempa kamu kunjungi ya MAn!

    BalasHapus
  6. nanda patria20 Juli 2011 11.51

    kereen banget mas tulisannya, bisa tergambarkan jelas, ditambah foto foto yang keren juga ( ada bakat jadi fotografer..haha )
    salut untuk backpackingnya,kliatanya puas banget udah menjejaki kaki di pualau sulawesi.jadi pngen jalan2 kaya mas iman nih, keliling indonesia sambil foto foto. .hehe
    eh, ada namaku juga diblog..haha makasi. .
    sukses ya mas untuk next trip. .

    BalasHapus
  7. Idham Jufri : terimakasih sobat, semoga terwujud menaklukkan nusantara dengan solo backpacker...
    Nanda Patria : thanks, ayo foto-foto keliling indonesia.....

    BalasHapus
  8. Luar biasa, mumpung masih bujang kesempatan u jalan2. Tulisannya Bagus. Dari tulisan ini bisa jadi menentukan langkah iman ke depan.. Amin... Sering2 nulis Man.. jangan kaya saya, pengen nulis tapi otak buntu.. hehe2.. Sukses ya...

    BalasHapus
  9. makasih Pak Teguh atas kunjungannya.....sukses juga untuk bapak.

    BalasHapus
  10. keren.... tulisanmu keren.. berbakat banget kamu bang menulissss

    BalasHapus