Tampilkan postingan dengan label Wisata Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Kota. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2015

Bersedekap Di Al Irsyad




Pendakian Gunung Slamet (Part II)



Dalam gelap dan dingin kami meninggalkan mobil di halaman gedung basecamp, lalu mendekati gerbang Selamat Datang. Kami penasaran dengan banner yang tertulis di bawahnya.

“MAAF!!!, PENDAKIAN DITUTUP”
#deg


***

Senin, 15 Juni 2015

Semalam Dulu Di Bandung

Pendakian Gunung Slamet (Part I)



Desa Bambangan, Purbalingga. Sabtu, 06 Juni 2015 Jam 3 pagi.
“Benar, ini dia gerbang pendakiannya”
“Sudah sampai”
“Kita istirahat sejenak”
Suhu udara cukup membuat kupluk harus segera dipakai. Perjalanan hampir 8 jam berakhir dengan bertemunya kami dengan gerbang pendakian seperti yang kami lihat di blog-blog perjalanan. Kami berempat memang belum ada yang pernah ke tempat ini. Bermodal GPS di mobil, google map di handphone dan juga tanya orang di pinggir jalan, akhirnya menuntaskan perjalanan kami menuju Gunung Slamet.

Dalam gelap dan dingin kami meninggalkan mobil di halaman gedung basecamp, lalu mendekati gerbang Selamat Datang. Kami penasaran dengan banner yang tertulis di bawahnya.

“Maaf!!!, pendakian ditutup”
#deg


***

Minggu, 24 Agustus 2014

Jakarta


Pertamax, wiskul Soto Betawi dengan stiker Samarinda Backpacker


Kali ini penyanyi bis kota itu tidak aku berikan receh, aku masih ingat benar wajah dan suaranya. Penyanyi ini, adalah penyanyi yang sama ketika aku menumpang di bis kota menuju Blok M Jakarta. Temanku tertawa kecil saja mengiyakan ceritaku saat aku bercerita di dalam tenda pada pendakian sebuah gunung di Jawa Timur. Dua temanku itu, memang berasal dari ibukota, mereka sesekali tertawa geli mendengar ceritaku tentang kehidupan ibukota saat aku memampiri kota tersebut dalam backpackeranku selama tiga puluh hari di awal tahun ini. Tigapuluh hari aku meninggalkan kediamanku di kalimantan untuk mendaki gunung dan menuju beberapa spot keindahan yang ada di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, dan diantara perjalanan itu, aku menyinggahi Kota Jakarta beberapa kali untuk beristirahat dan menjalani kehidupan ‘normal’ untuk mempersiapkan rute selanjutnya. Beruntung, aku telah mengenal seorang teman yang terhubung dari komunitas backpacker regional samarinda, yang menyediakan kediamannya selama aku berada di Jakarta.

Senin, 08 Juli 2013

Keraton Gunung Tabur, Berau

Kalau lagi napsu nulis, maka nulislah selebay-lebaynya. Nah, kalo lagi males, ya, gini, seadanya saja. Kalo ngga diposting, sayang photo-photonya ga ada yang liat, kali aja bermanfaat. Keraton Gunung Tabur, Berau, berada tak jauh dari pusat keramaian, saran saya, jangan berjalan kaki, kenapa? capek soalnya. Udah gitu, jalanan di Berau penuh debu dari kendaraan besar perusahaan batubara yang sering hilir mudik. Jadi, sebaiknya gunakan kendaraan. *halah

Keraton Sambaliung Berau

Sedang berada di Berau, Kalimantan Timur, tentu saja tujuan selanjutnya adalah kepulauan Derawan untuk berwisata bahari. Selain Derawan, pilihan lainnya yang sekarang ini sedang ramai menjadi perbincangan adalah desa pesisir Biduk-Biduk dengan Danau Labuan Cermin-nya yang khas dan memiliki keunikan. Dan, ketika anda masih memiliki waktu luang di kota kabupaten Berau, yaitu Tanjung Redeb, pilihannya anda bisa mengunjungi dua keraton yang berada tak jauh dari pusat keramaian. Saya bersama seorang teman perjalanan, menggunakan kendaraan roda dua untuk menjangkau ke-dua objek peninggalan sejarah tersebut, yaitu Keraton Sambaliung dan Keraton Gunung Tabur.

Jumat, 24 Mei 2013

Nongkrong di Taman Ismail Marzuki

Photo-photo ini diambil saat nongkrong bersama di halaman Taman Ismail Marzuki Jakarta beberapa hari silam, bukan acara ngetrip seperti biasa, tetapi acara ngumpul kangen mumpung ane lagi mampir di kota ini karena sedang mengikuti pendidikan pelatihan di sini. Karena dalam rangka bertugas, waktu yang ada tidak dimanfaatkan untuk ngelayap kemana-mana, itung-itung jaga stamina supaya keesokan harinya tetap fresh saat menerima materi pendidikan. Taman Ismail Marzuki dipilih semata-mata karena lokasi ini berada tak jauh dari hotel tempat ane menginap, jadinya cukup berjalan kaki dan bertemu dengan teman-teman yang berdomisili di tempat ini. Hari pertama nongkrongnya bareng mas Fakhrudin, Fara, Dui, dan Nuansa Bening (panggilnya Nubi), hari setelahnya ditambah lagi dengan Anink dan Fitra Raditya.

Senin, 13 Mei 2013

Gedung Sate dan Cerita Keberagaman

Hari masih sore, masih ada waktu untuk menikmati kota kembang terlebih dahulu sebelum menuju bandar udara internasional Soekarno Hatta di Tangerang. Kisah ini adalah salah satu episode perjalanan setelah mendaki gunung Cikuray yang berada di kabupaten Garut, Jawa Barat, bulan maret 2013 silam. Aku dan rekan mendaki saat itu, mas Rudy (Bandung), meninggalkan desa Dayeuhmanggung, Cilawu yang menjadi desa awal pendakian kami. Perjalanan menuju kota Bandung ternyata harus berjibaku dengan kemacetan. Maklum saja, saat itu adalah libur akhir pekan dan juga berada di jam-jam non produktif sehingga arus lalu lintas menjadi padat.

Gedung Sate, Bandung - Jawa Barat

Rabu, 30 Mei 2012

Tideng Pale, si Bukit Hambar


Tideng Pale (baca ; Tidung Pala), adalah kota kabupaten termuda di propinsi Kalimantan Timur, kabupaten Tana Tidung atau lebih akrab disebut dengan KTT. Artikel saya kali ini memang tidak sedang mempublish potret daerah dengan keunggulan wisata, karena memang daerah ini belum bisa menjual daerah wisata meski sebenarnya dapat dikembangkan. Kabupaten ini dibentuk tanggal 17 Juli 2007 dengan pelantikan pejabat bupati pertamanya di tanggal 18 Januari 2010. (source : Wikipedia)

Kabupaten ini memiliki luas 4.828,58 km2, tersebar di tiga kecamatan. Sementara kota kabupaten Tideng Pale sendiri, adalah ‘kota’ kecil yang cukup berjalan kaki saja anda dapat mengitari setiap sudutnya. Menyusuri setiap sudutnya, anda akan disuguhi potret daerah yang tengah berbenah. Terlihat beberapa kontruksi bangunan yang sedang dikerjakan, terlihat alat berat yang sedang membangun jalan dan terpampang beberapa papan plakat untuk menerangkan akan dibangunnya bangunan mewah di areal yang masih kosong.


Senin, 03 Oktober 2011

Menjumpai Bekantan di Kota Tarakan

Bekantan (Nasalis larvatus)
Sebagai salah satu kepedulian pemerintah Kota Tarakan untuk perlindungan satwa khas Kalimantan, adalah dengan menyediakan kawasan konservasi mangrove dan spesies bekantan, si kera berhidung panjang. Sebuah areal yang berada di tengah Kota Tarakan ini, menjadi ikon kota karena lokasi ini sangat mudah dijangkau dan sangat tepat untuk dijadikan lokasi bersantai warga kota. Aku sendiri *yang kelahiran kota ini- baru saja menyempatkan diri melihat kawasan konservasi tersebut. Bukan kenapa-kenapa, secara hutan bakau dan spesies bekantan bukanlah hal yang ‘baru’ buatku, karena lokasi kerjaku saat ini selalu melewati hutan demikian dan tak jarang bertemu dengan spesies lainnya. Namun, seiring dengan banyaknya sahabat yang mencari informasi tentang lokasi wisata *kawasan mangrove- tersebut, aku sisihkan waktu yang ada untuk berkunjung dan menuliskan cerita perjalanan tersebut lewat media ini. Yuk, simak…..

Lokasi Hutan Mangrove di tengah Kota Tarakan
Di sela aktivitas rutin, aku berusaha menyisihkan waktu untuk melihat Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan yang berada di Jalan Gajahmada dan berlokasi tepat di sebelah pusat perbelanjaan Gusher *Ramayana Dept Store-. Sahabat yang didaulat untuk menemani aktivitas kali ini adalah seorang sahabat lama yang bekerja di pusat perbelanjaan Gusher Tarakan. Lima belas menit sebelum Doski pulang, aku sudah stand by di halaman parkir komplek perbelanjaan yang tampak ramai. Tak terlalu jenuh menunggu, karena tepat di tengah komplek tengah berlangsung pagelaran musik dangdut sebagai media promosi menarik minat konsumen.

Selamat Datang di KKMB Tarakan
Tepat pukul lima sore hari, kami bersegera menuju Kawasan Konservasi yang tak jauh tersebut. Di halaman parkir lokasi wisata telah terlihat deretan kendaraan roda dua dan juga empat berbaris rapi, menandakan lokasi wisata yang akan kita kunjungi ramai pengunjung. Dari pintu masuk, telah terlihat ornamen-ornamen yang mengisyaratkan tentang ikon kawasan ini. Harga tiket masuk untuk dewasa senilai 3.000,- rupiah. Di bagian pintu masuk, juga terdapat barang-barang cindera mata yang berupa t-shirt, gantungan kunci dan barang-barang lainnya.

Rindangnya Hutan Bakau (Rhizophora sp)
Kesan pertama saat berada di kawasan ini adalah asri…teduh dan cukup baik untuk lokasi beristirahat. Jembatan sebagai sarana penghubung terlihat masih baik dan kokoh. Space jalan yang cukup luas, tong sampah berukuran besar hingga papan keterangan jenis pohon masih terlihat terawat. Kawasan yang tak terlalu luas ini juga dilengkapi dengan perpustakaan yang diberi title Taman Bacaan. Meski pada saat saya berkunjung, ruang tersebut dalam keadaan terkunci. Selain itu, terdapat juga dua kamar kecil permanen yang masih terawat.

Salah satu spot yang menjadi favorit pengunjung untuk narsis, adalah patung bekantan yang tak terlalu besar. Sama seperti di beberapa lokasi wisata lain, statue ikon tersebut selalu menjadi incaran wisatawan sebagai latar yang dapat menjelaskan tentang keberadaan pengunjung berpose. Akan lebih baik *saran ya- di balik statue tersebut dibuatkan tulisan besar yang menunjukkan lokasi tersebut. Lihatlah tulisan Pantai Losari yang terkenal itu, Jalan Merdeka di Medan dan lain sebagainya.


Untuk dapat menemukan spesies bekantan, pengunjung sebaiknya terus berjalan menyusuri jembatan penghubung hingga bagian barat kawasan. Jembatan penghubung bagian belakang areal memang tak sebaik jembatan penghubung yang berada di bagian depan kawasan, dan tampak beberapa papan jembatan telah lapuk. Namun, di lokasi ini, Anda akan bisa menemukan beberapa ekor Bekantan yang sedang bermain di antara dahan Bakau yang rindang. Kera ini memang lebih lucu dari familynya yang lain, warna bulunya berwarna ke-orange-an, hidungnya terlihat besar memanjang serta ekornya yang lurus bergoyang-goyang. 


Beberapa kawanan bekantan terlihat sedang asyik mengunyah daun-daun bakau. Kera khas pulau Kalimantan ini tidak terlihat ‘jinak’ seperti yang ada di Uluwatu Bali. Jadi jangan harap pengunjung dapat melihat atau memegang langsung kawanan bekantan tersebut. Kawanan bekantan hanya dapat kita *saya- nikmati secara alami di dahan-dahan pepohonan. Butuh lensa dengan resolusi tinggi untuk mengabadikan pose bekantan untuk mendapatkan hasil yang baik, karena yang saya gunakan hanya kamera saku, hasilnya tak terlalu baik terlihat.

Mari jaga habitatnya....
Hari semakin sore, kawasan wisata di tutup tiga puluh menit dari angka lima sore, tapi karena hari ini terlihat banyak pengunjung, pengelola sepertinya memberikan toleran waktu beberapa menit. Di lokasi ini, banyak terdapat bangku-bangku di sisi jembatan. Tampak rombongan keluarga dan juga sepasang anak manusia yang mendiami bangku-bangku tersebut. Terlihat juga rumah penjaja makanan kecil di sudut lainnya. Karena mentari beranjak ke peraduan, kita menyudahi kunjungan kali ini.


Untuk melengkapi jalan-jalan kali ini, kami mampir sejenak untuk menikmati sajian kuliner di salah satu pojok kota. Menu bebek goreng dan segelas es jeruk menjadi pilihan pelepas lapar dan dahaga. Salah satu makanan khas di kota ini *kuliner daerah- adalah Kapah, sejenis kerang yang diracik dengan rempah hingga menciptakan sajian menu menggugah selera. Makanan ini mudah ditemukan di lokasi Pantai Amal Tarakan. Suatu saat saya akan berkunjung dan menuliskan cerita tersebut ke media ini. Untuk di jalan kota, makanan yang mudah ditemukan adalah Sea Food khas kota ini. Karena mayoritas penduduk kota ini adalah pendatang, jadinya tak perlu kuatir jika lidah anda kategori sulit beradaptasi, ragam makanan dari daereh lain di Indonesia, ada di kota ini.

Hari semakin gelap, saatnya bergegas kembali pulang…….

Sore Kota Tarakan

ooOoo

Selasa, 06 September 2011

Tanjung Selor - Bulungan

Sharing cerita perjalanan kali akan mengangkat wajah Kota Tanjung Selor sebagai Ibukota Kabupaten Bulungan Propinsi Kalimantan Timur. Jarak dari Desa Sekatak Buji Kecamatan Sekatak hunian saya saat ini adalah sejauh +120 km. Tulisan cerita perjalanan kali ini adalah perjalanan yang saya lalui pada hari minggu silam atau H-2 hari raya idul fitri 1432 hijriah. Tujuan ke kota kabupaten kali ini adalah untuk berbelanja kebutuhan lebaran, sebagai tradisi semua umat muslim untuk merayakan hari kemenangan.

Sinar mentari belum menyengat, bahkan belum mampu mengusir kabut pagi diantara pepohonan di kiri kanan jalan poros trans Kalimantan, ketika saya dan bersama beberapa orang teman menerobos keheningan pagi menuju kota Tanjung Selor. Kondisi jalan masih mengharuskan pengemudi ekstra waspada, karena di beberapa titik terdapat longsoran yang membuat badan jalan menjadi berkurang lebarnya. Juga beberapa lokasi yang terdapat kondisi jalan telah rusak berat dan akan semakin parah jika di musim hujan, kemudian kondisi aspal yang telah tergerus dan berlubang.


Sepanjang perjalanan hanya tampak lahan kosong yang tak terlihat lagi pohon-pohon dengan tampuk besar, areal sepanjang perjalanan adalah bekas tebangan yang kini telah berubah menjadi lahan kosong dan juga lahan tidur. Hanya ada beberapa lokasi, lahan-lahan tersebut berfungsi sebagai kebun warga sekitar, meski luasnya tak seberapa. Di beberapa lokasi juga tampak hamparan kebun kelapa sawit yang masih berusia muda. Selain itu, tentu saja pemandangan perkampungan di pedalaman Kalimantan dapat menjadi alternatif pandangan anda selama perjalanan. Di antara perkampungan yang dilalui diantaranya Desa Mentadau, Sekatak Bengara dan Pimping. Ketika akan memasuki Kota Tanjung Selor tepatnya dekat jembatan teras terdapat aliran air gunung yang dialirkan dari sebilah bambu. Para pengendara yang melewati jalan ini biasanya berhenti sejenak untuk sekedar beristirahat atau membersihkan wajah dengan air yang sejuk dan bening ini.


Memasuki Kota Tanjung Selor dimulai dengan melewati jembatan sungai Kayan yang menghubungkan Kecamatan Tanjung Palas dan Kota Tanjung Selor. Tanjung Palas merupakan kecamatan dimana Kesultanan Bulungan dulunya mengelola kerajaannya. Di lokasi ini juga terdapat museum untuk menyimpan benda-benda peninggalan Kerajaan Bulungan.


Kota Tanjung Selor adalah kota yang tenang dan nyaman. Kota dengan penduduk kisaran 20.000 jiwa ini sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pegawai negeri sipil. Belum terlihat bangunan-bangunan tinggi di kota ini, namun jalan-jalan yang lebar dan bersih tampak asri karena volume kendaraan yang melintas tak terlalu ramai di kota ini.


Salah satu pusat keramaian di kota ini adalah pasar induk. Disinilah aktivitas masyarakat terkonsentrasi. Walau hanya sebuah pasar tradisional dengan jumlah kios yang tak terlalu banyak tetapi berbelanja di pasar ini terasa nyaman. Lantai bangunan pasar yang berkeramik, area parkir kendaraan yang luas dan taman kecil di bagian depan pasar dapat menciptakan kondisi pasar menjadi terlihat asri dan teduh.


Beberapa alternatif lokasi wisata di kota ini adalah tepian kota, karena Kota Tanjung Selor merupakan kebudayaan sungai, tentu saja kita dapat berkeliling kota di jalan ini dengan view landscape bantaran sungai yang membentang. Warga kota juga biasa berlibur ke Batu Putih Tanjung Palas, sebuah bukit batu kapur berwarna putih dengan paduan relief-relief yang indah. Terdapat anak tangga menuju puncak bukit yang terjal. Dari puncak akan terlihat hamparan Kota Tanjung Selor dan sungai Kayan tentunya. Batu Putih atau Gunung Putih dipercaya masyarakat sebagai tempat bertafakkurnya Sultan Bulungan di masa lalu.


Selain Gunung Putih, terdapat lokasi wisata air terjun Long Pin dan air terjun Idaman di Km 18, sumber air panas Sajau dan juga sungai-sungai khas pedalaman yang bisa anda jadikan lokasi untuk berarung jeram, salah satunya adalah sungai Giram di Kecamatan Peso.

ooOoo



Legenda Puteri dalam Telur


Jika anda menyusuri jalan utama kota ini di salah satu pertigaan ada sebuah tugu dimana diatas tugu  tersebut dibentuk sebuah patung telur pecah dan di dalamnya berdiri seorang puteri. Konon, puteri tersebut adalah mitologi warga yang merupakan cikal bakal berdirinya Kesultanan Bulungan.


Tersebutlah legenda kepala adat suku Dayak Kayan yang tinggal di hilir Sungai Kayan. Hingga usianya telah lanjut sang kepala desa belum juga dikaruniai keturunan. Pada suatu hari sang kepala adat pergi berburu ke hutan. Di dalam hutan sang kepala adat tersebut menemukan sebutir telur dan sebilah bambu, yang kemudian dibawanya pulang dan diletakkan di dekat perapian dapur rumahnya. Keesokan harinya kedua benda tersebut berubah manjadi dua sosok bayi mungil. Bayi laki-laki dan bayi perempuan. Kejadian ini disebut sebagai bulongan yang berarti bambo dan telur, yang pada akhirnya menjadi nama Bulungan. Kedua bayi mungil tersebut dipelihara hingga dewasa dan dinikahkan. Keturunan dari pasangan inilah yang kelak menjadi Sultan Bulungan.


Legenda, tetaplah menjadi cerita. Tak perlu mencari kesahihan dan maraji’nya. Legenda, biarlah menjadi kekayaan budaya yang hampir punah meski di tanah asal muasal lahirnya kebudayaan itu sendiri. Tulisan yang saya tulis bersumber dari cerita seorang teman yang berasal dari Kecaamatan Tanjung Palas, yang bertutur selama perjalanan menyusuri jalan di Kabupaten Bulungan. Tentu saja saya tambal sulam dengan referensi cerita dari sumber lainnya. Kepada teman-teman yang memahami cerita dibalik tugu dengan bantuk patung telur dan puteri yang terdapat di perempatan jalan di Kota Tanjung Selor, saya persilakan untuk merevisi jika cerita yang saya tulis ini masih terdapat kekeliruan.


ooOoo


Hari telah sore, saya dan bersama teman-teman bergegas kembali ke desa tercinta, Sekatak Buji. Satu hal yang dapat saya simpulkan, bahwa peradaban di daerah ini telah ada begitu tuanya. Namun tak terlihat ada pembangunan yang selaras dengan kekayaan budaya apalagi kekayaan alam daerahnya. Entahlah.


 ooOoo

Album Tanjung Selor :
Tanjung Selor....Kota yang nyaman
Pasar Induk Tanjung Selor
Tugu Puteri Dalam Telur
Crown Palace Square
Jalan Raya Kota Tanjung Selor
ooOoo

Jumat, 29 Juli 2011

Pulau Siau, Sitaro Sulawesi Utara

Hampir semua pemukiman yang tersebar di setiap pulau-pulau kecil di utara Pulau Sulawesi ini berada di lingkungan yang menyejukkan mata. Dari beberapa pulau yang saya singgahi dan juga yang terlihat dari udara, semua pulau memiliki garis pantai dan air laut yang jernih. Hal inipun dibuktikan dengan terpilihnya desa Makalehi di Kabupten Sitaro sebagai desa terbaik se-Indonesia tahun 2010 silam. Semua pemukiman disini berorientasi pada kebudayaan laut. Rasanya, semua rumah penduduk seolah berada di lokasi wisata. Begitu juga dengan pulau yang saya kunjungi kali ini. Pulau Siau Kabupaten Sitaro propinsi Sulawesi Utara.

Pulau Siau adalah pulau kecil tempat berdiri kokoh gunung api Karangetang. Pulau ini seperti gunung Krakatau di Selat Sunda, hanya saja lebih luas dan di tepi pulau ini dihuni beberapa rumah penduduk. Dan dilereng gunung tersebar hamparan kebun pala dan kelapa. Sebagian besar struktur tanah pulau ini berbatu. Bahkan di beberapa titik tepi pantainya berpasir hitam dan berbatu gunung yang besar. Ketika menyusuri setiap sudut pulau ini hingga ke bagian-bagian berbukit, selalu dijumpai batu-batuan berukuran besar di tepi jalan. Berada di ketinggian di pulau ini terasa sangat sejuk karena dikelilingi kebun yang rindang dan matapun dimanjakan dengan hamparan laut yang terlihat hijau karena terumbu karang yang menghiasi dasarnya. Begitu juga gugusan-gugusan pulau lain di sekelilingnya. Ada tiga kabupaten yang tersebar di utara pulau Sulawesi ini, yaitu kabupaten sangihe sebagai kabupaten tertua kemudian dua kabupaten pemekaran yaitu Kabupaten Talaud dan Kabupaten Sitaro yang baru berusia empat tahun.

Menyaksikan kegagahan gunung api Karangetang dari tepi pantai pulau Siau yang berselimut hamparan hijau perkebunan, membuat takjub dan berdecak kagum. Namun perasaan berbeda ketika saya berkesempatan melihat sebuah perkampungan yang dilanda bencana erupsi gunung berapi beberapa bulan silam. Terdapat dua parit besar yang dalam membelah bumi memisahkan beberapa desa dengan desa lainnya. Parit besar yang merupakan lintasan lava gunung berapi yang masih aktif. Hingga saat saya berkunjung beberapa hari lalu, tidak ada tanda-tanda akan pembangunan kembali jalan yang terputus. Begitu juga rumah yang hangus terbakar akibat muntahan gunung api tersebut. Menurut Rei, guide yang menemani saya menjelaskan bahwa pada saat kejadian berlangsung para penduduk terisolir dan sebagian menyelamatkan diri dengan menyeberangi laut dengan berenang dengan bantuan batang pohon pisang. Kini, untuk melanjutkan akitivitas warga desa, beberapa kendaraan dibiarkan diparkir diseberang desa, dan mereka melanjutkan dengan berjalan kaki menyeberangi parit besar bekas lintasan lava gunung api tersebut.

Bagaimana?, baru dengar berita ini? Ya, media kita memang hanya fokus meliput berita korupsi saja, itu juga karena pemerintah dan anggota dewan kita lebih concern dengan isi perutnya saja, bencana alam seperti ini, apalagi terjadi di daerah-daerah terpencil luput dari kamera mereka. Tidak apalah, nanti kalau beberapa pulau yang berbatasan dengan negara tetangga ini dicaplok barulah demonstran berteriak-teriak di bundaran HI meski tak mengerti. Apa yang saya utarakan bukan karena saya tak memiliki rasa nasionalisme, justru kegiatan backpacking ini adalah bukti nyata kecintaan anak negeri ‘menjaga’ wilayah negerinya. Namun sebagai anak daerah perbatasan, tentu sangat terasa perbedaannya dengan mereka yang tinggal dekat dinding istana negara. Berkunjunglah ke pulau dimana pal batas dua negara berdiri lemas disana, semisal pulau sebatik yang berada di utara Kalimantan Timur, terasa sangat perbedaan belaian ibu pertiwi dengan belaian ‘ibu tetangga ‘disana……. Cukuplah, tak pernah habis kata mendeskripsikan wajah pengelola negeri kita.

Meski hanya daerah kecil, pulau Siau terutama di daerah hulu Siau terdapat beberapa penginapan. Salah satunya adalah hotel Jakarta yang bertarif Rp. 300.000,- per malam. Di hotel ini, saya banyak mendapat informasi dari receiptionist hotel yang pernah menjadi guide saat menemani beberapa tamu dari Eropa yang mendaki gunung api Karangetang. Beberapa kali menjadi guide beliau hanya menyebut tamunya dari luar negeri. Belum pernah ada yang dari lokalan. Selain itu saya juga bertanya tentang temuan ilmuan kita yang bekerja sama dengan ilmuan luar tentang gunung berapi yang aktif yang berada di dalam laut. Receiptionist tersebut menjelaskan bahwa beliau juga pernah melakukan diving mengantarkan beberapa peneliti ke puncak gunung yang berada di perairan kebupaten Sangihe tersebut, meski harus mendapatkan perijinan yang ketat karena suhu air laut disana sering berubah-ubah akibat aktivitas sang gunung. Menurut beliau, terdapat beberapa benda-benda antik di atas gunung di dalam laut tersebut, berupa piring-piringan dan benda antik lainnya, namun para penyelam dilarang mengambil barang-barang tersebut.

Kabupaten Sitaro menyimpan beberapa pilihan diving point seperti perairan pulau Biaro, pulau Ruang dan pulau Mahoro. Terdapat juga pantai Tanganga Siau, Bulangan Tagulandang, Pantai pahepa, pantai tumora biaro. Dangkalan nyare dengan hamparan terumbu karang dan biota laut yang memukau dapat ditemukan di pulau Munumpitaeng, pantai Kalihiang, dan pantai Balirangeng. Pantai Lehi dengan sumber air panas alamnya, dan danau Makalehi di desa terbaik tingkat nasional tahun 2010. Selain panorama alam tersebut tentu saja adat istiadat setempat layak untuk disaksikan. Meski sarana transportasi antar pulau telah terhubung, namun keberangakatannya tidak terjadwal setiap hari. Walau demikian, menikmati keindahaan alam dengan kearifan lokal yang menyertai di pulau Siau adalah damai yang meresapi hingga ke relung terdalam, meski kuyakin banyak pengelola negeri ini yang tak mengenal bahwa Siau adalah pulau yang indah dan mengagumkan. Tetaplah damai nusantaraku, meski ibu pertiwimu sedang berselingkuh….

ooOoo

Galleria Sitaro
Gereja Siau Timur
Gunung Api Karangetang Siau
Siau Sitaro
Pasar Hulu Siau
Pantai Lehi dengan sumber air panas alam
Pantai Siau - Sitaro
Tepi Kota Siau
Parit Lintasan Lava Karangetang
View Pelabuhan Siau
Landscape Siau
ooOoo

Kamis, 28 Juli 2011

Sentuhan Banci Jombang

Kota kabupaten Jombang Jawa Timur mungkin luput dari incaran wisatawan, tapi tidak denganku. Meski tak memiliki objek wisata tenar, nama kabupaten ini cukup familiar di telinga kita. Jombang, bukan hanya dikenal sebagai base kiayi kenamaan Abdurrahman Wahid (alm) atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Dur, tetapi juga tempat si penjagal Very Idham Heniansyah dan  si dukun cilik Ponari. Kota Jombang memang kerap mengisi pemberitaan nasional kita, terutama di berita kriminal. Dengan nama besar tersebut, Jombang layak disambangi untuk melihat lebih dekat kabupaten yang lebih didominasi dengan hamparan sawah yang luas ini.

Setelah beberapa hari mengunjungi beberapa desa dan juga pusat kota kabupaten Jombang, lelah tentu saja. Apalagi ini adalah kabupaten rangkaian backpackeranku mengitari pulau Jawa. Masih terdapat beberapa daerah lain lagi yang tersisa. Dengan rangkaian demikian, tak ada salahnya memanjakan diri sejanak dengan menikmati layanan di sebuah salon di daerah pasar menganto Jombang. Awalnya hanya ingin mencari warung internet dan tepat di depan warnet terdapat sebuah salon. Karena rambut udah mulai panjang sayapun berniat merapikan rambut ke salon tersebut.

Salon yang terletak di pinggir jalan tersebut, tampak bersih dan sepi. Tak ada pelanggan yang sedang menikmati jasa salon di tempat itu. Saya masuk dan disambut dengan senyum menggoda si pekerja salon. Rambutnya ikal berwarna kemerahan, wajahnya putih berminyak, bajunya berbahan kaos yang minim, dandanannya menyeramkan dan tubuhnya kekar. Tidak ada pilihan, udah terlanjur. Sang pekerja salon (atau juga pemiliknya) menyapa dengan lembut meski suaranya terdengar bariton.

Aktivitas potong rambut dimulai. Terasa ada yang aneh selama si ‘tante’ bekerja. Saya memang terbiasa memangkas rambut di salon-salon kecantikan, namun baru kali ini dilayani pekerja salon dengan ekspresif. Terasa tubuhnya di sentuhkan ke bagian belakang tubuh saya. Saya berusaha berpikir positif saja. Sambil menata rambut, si pekerja salon menyelingi dengan berbincang menanyakan identitas saya. Awalnya si ‘tante’ berbicara dengan bahasa jawa, setelah saya jelaskan bahwa saya bukan penduduk setempat ia mengubah bahasanya dengan bahasa indonesia.

Setelah pangkas rambut, selanjutnya, saya di bawa masuk ke ruang dalam untuk cuci rambut. Rada ngeri juga karena tidak ada orang selain kita berdua. Sekali lagi saya berusaha untuk tidak berpikiran yang tidak-tidak. Saya merebahkan diri di tempat pencucian rambut. Sang ‘tante’ mulai mencuci rambut saya. Tepat di depan saya, sebuah televisi lengkap dengan DVD Playernya. Sang ‘tante’ mengatakan sesuatu dengan berbisik, namun aku tak tahu persis apa yang ia bicarakan. Tiba-tiba, ia mengambil remote tv dan menekan tombolnya. Layar kaca berubah, kali ini ada sebuah audio visual yang dapat saya tebak ceritanya. Tampak dua orang bule dalam adegan film tersebut. Paham dengan film tersebut, saya langsung meminta si ‘tante’ untuk mematikan televisi tersebut. Huh, salon apakah ini……

Setelah rambut selesai dicuci, kembali ke ruangan depan. Kali ini rambut saya diberi cream dan dipijit hingga ke bagian belakang badan saya. Enak sih, karena memang badan sedang pegal. Namun tetap khawatir si ‘tante’ memanfaatkan yang tidak-tidak. Kelar dari perawatan rambut. Saya membayar semua perawatan tersebut. Si ‘tante’ menerima uang dan tersenyum mengucapkan terimakasih dan meminta kepada saya untuk datang lagi……….. 
"Oh, iya. Terimakasih….. ", Jawabku sambil tersenyum ketir dan segera ngacir.
Dalam hati saya hanya berucap ‘ngga akan pernah!’.


ooOoo

Rabu, 27 Juli 2011

Sepenggal Kisah di Surabaya


Surabaya, baru kali ini menuliskan cerita tentang perjalanan ke kota ini. Bukan karena tak ada kisah dan tempat menarik di kota ini, hanya saja aku kehilangan kata-kata untuk merangkainya. Kota ini adalah kota terakhir rangkaian backpackeranku di bulan Februari lalu. Tak ada kisah selain perjumpaan dengan sahabat baru yang mematahkan cerita buruk tentang kota ini yang kudengar penuh dengan orang-orang yang suka memanfaatkan pendatang. Kekhawatiranku sesungguhnya beralasan, karena ketika dalam perjalanan menuju kota ini dari terminal ubung Denpasar, seorang sahabat yang kukenal dari jejaring social ternyata tidak menunjukkan itikad baiknya saat tahu aku akan sampai di kotanya. Tetapi, biarlah itu menjadi cerita dan sebaiknya berpikiran positif saja tentangnya. Kalau bukan Kota Surabaya mungkin aku tak terlalu khawatir, wejangan teman-teman tentang kota ini menyiratkan kepadaku bahwa harus waspada ketika berada di kota ini.


Kecewa dengan sahabat online tersebut, aku terhubung dengan sahabat lain yang kuperoleh contact personnya di situs yang sama. basa-basipun dimulai via sms. Hingga akhirnya sahabat ini menawarkan jasanya untuk menjemputku di terminal Purabaya Surabaya.


Gerimis menyertai kedatanganku di terminal ketika kumandang adzan Isya terdengar lantang. Hampir lima belas menit aku dan sahabat baru itu saling mencari, karena memang belum pernah bertemu muka. Mulai panik kembali ketika rinai hujan mulai membasahi. Hingga akhirnya kita bertemu di halaman masjid terminal. Aku menarik nafas dalam, seolah bala bantuan telah datang menjemput. Sesosok pria muda, mengulurkan tanganya dan menyebut namanya, “Rezy”.

Aku dan Rezy tak pernah berkomunikasi sebelumnya, jadi tak saling kenal sama sekali. Namun aku berterimakasih ketika ia bersedia mengantarkanku ke hotel yang berada pusat kota tersebut. Dalam perjalanan menuju hotel sahabat mudaku ini berkali-kali menawarkan untuk bermalam di kediamannya saja. Hitung-hitung menghemat pengeluaran. Namun aku masih belum bisa menerima tawaran tersebut. Sepanjang perjalanan, Rezy mengenalkan lokasi-lokasi yang memang tak asing lagi karena objek tersebut sering menghias layar kaca. Naluri ‘pedalamanku’ mulai bermain, dongak kiri dongak kanan, melihat gedung dengan lampu-lampu kota yang gemerlap. Setelah cek in di hotel Olympic Surabaya, sisa malam aku kembali menikmati udara malam Kota Surabaya yang selalu ramai. Beberapa lokasi-lokasi yang telah kudengar sebelumnya, dikenalkan kepadaku, termasuk lokalisasi (yang katanya) terbesar se asia tenggara, Gang Doli. Selain lokasi tersebut, aku juga dikenalkan ‘budaya’ makan ala warga Kota Surabaya, sego sambel……..nasi, tempe dan sambel. Plus, penyanyi pria dengan sandal jepit, gitar dan suara baritonnya.


Setelah kembali ke hotel, sahabat baruku kembali menawarkan jasanya agar besok sebaiknya menginap di rumahnya saja, dan bersedia mengantarkanku keliling kota (lagi). Sekali lagi aku hanya bisa mengucapkan terimakasih atas niat baiknya. Karena tidak mau terlalu merepotkan, aku lebih memilih untuk tetap menginap di penginapan saja. Keesokan malam, Rezy kembali menjemput kali ini bersama dua orang temannya untuk melihat dan menyeberangi Jembatan Suramadu. Jembatan fenomenal yang kini menjadi ikon tambahan Kota Surabaya. Jalanan Kota Surabaya sangat padat, dan pengendara kendaraan terutama roda dua terlihat tidak tertib jika berada di lampu merah. Saling berlomba untuk mendahului dan melewati garis batas yang seharusnya.


Hingga kepergianku meninggalkan kota ini di keesokan siangnya, aku hanya bisa mengucapkan terimakasih, terimakasih dan terimakasih. Karena telah menghapus sedikit kekhawatiranku tentang ‘panasnya’ kota ini setelah bertemu dengan sahabat-sahabat baru dengan dedikasinya yang begitu diluar dugaan. Sebelum meninggalkan kota ini, mampir sejenak di tugu pahlawan yang ternyata pada saat itu tidak dibuka karena sedang hari libur. (ngga apa lah, intip aja dari sela-sela terali……)

Halaman Tugu Pahlawan Surabaya

Selamat tinggal Surabaya, sepenggal kisah tentang pertemuan, persahabatan, persaudaraan sesama manusia pecinta negeri ini. 

ooOoo

Talaud Archipelago – North Sulawesi


Petualangan sesungguhnya dimulai. Kapal ferry rute Manado – Melonguane Talaud mulai berlayar meninggalkan kota Manado yang tampak sibuk terutama di daerah pelabuhan. Senja di perairan Manado, mempertontonkan pulau Manado Tua di seberang sana diantara goresan sinar memerah di langitan. Hanya selang beberapa saat setelah meninggalkan kota Manado, angin laut berhembus kencang, langit mulai gelap, laut semakin tak ramah dan hujan turun dengan derasnya.

Aku hanya memiliki tiket kelas ‘alas’. Sebutan untuk kelas ekonomi atau sekedar numpang. Karena di tiket tidak dijelaskan penumpang harus berada di dek berapa apalagi ruangan berapa. Artinya mencari sendiri ruang kosong. Entah itu di lorong-lorong atau di teras dek atas yang sempit dan terbuka.

Laut bergelombang. Kapal terguncang. Hujan membasahi kapal hingga masuk ke dalam kamar-kamar di dek atas. Barang-barang penumpang yang diletakkan begitu saja di sisi kamar menjadi basah. Begitupun backpack merahku. Para penumpang berusaha menepi untuk menghindar derasnya hujan, meski percuma karena ruangan dalam telah penuh sesak. Para penumpang pria dewasa bersama memperbaiki tirai di dinding teras kapal agar air hujan tak terlalu masuk. Sementara penumpang wanita dan anak-anak hanya duduk dengan memeluk lututnya karena kedinginan. Begitupun denganku, bersama dengan penumpang lain berusaha menahan tirai agar tidak terlepas tertiup angin kencang, meski seluruh badan telah basah. Hujan semakin deras, ombak semakin besar. Semua penumpang tetap bertahan. Mereka terlihat tenang, mungkin telah terbiasa.

Satu jam kemudian, langit mulai bersahabat, meski ombak tetap mengguncang. Aku hanya bisa mengganti pakaian basah di tempat umum ini. tak ada pilihan. Tidur, tentu saja di tempat terbuka ini.

ooOoo

Aku hanya bisa berucap syukur, meski dalam kondisi tidur di tempat terbuka, tanpa alas dan jaket karena telah terguyur hujan semalam. Aku masih bisa menghirup udara pagi dengan badan yang fit dan segar. Menjadi seorang backpacker memang dituntut memiliki daya tahan tubuh yang prima. Karena perjalanan yang dilalui tak jarang berhadapan dengan cuaca yang tak menentu.

Pagi ini sangat cerah, laut tak lagi bergelombang. Tampak pulau-pulau indah dengan hamparan kebun kelapa dengan luasnya. Garis pantai putih bersih bersinar. Air laut yang membiru. Sungguh hamparan kepulauan yang sangat mempesona. Pukul 09.00 pagi, kapal merapat di pelabuhan Lirung untuk menurunkan penumpang. Tentu saja tak kulewatkan untuk menikmati sejenak wajah kota kecil di pinggir pantai nan damai ini. hampir Sembilan puluh menit lamanya proses menurunkan penumpang dan barang, kapal kembali berlayar mengantarkanku ke ibukota Kabupaten Talaud Sulawesi Utara.

ooOoo

Talaud adalah Kabupaten kepulauan yang terdiri dari sembilan belas kecamatan yaitu Kecamatan Miangas, Nanusa, Essang, Gemeh, Tampanamma, Rainis, Pulutan, Melonguane Timur, Melonguane, Beo Selatan, Beo, Beo Utara, Essang Selatan, Lirung, Kalongan, Lirung Selatan, Moronge, Kabaruan dan Damau. Kabupaten yang di bagian utaranya berbatasan dengan negara Philipina. Kabupaten Kapulauan Talaud terdapat Tiga pulau utama yaitu pulau Karakelang, pulau Salibabu dan pulau Kabaruan.

Dengan luas dan topografi demikian, kepulauan Talaud menyimpan begitu banyak potensi wisata yang layak dijual. Ketika saya berkunjung ke kabupaten ini dan menginap di penginapan yang berada di kota Melonguane, di lobi hotel telah terdapat prasasti kunjungan dari kru acara televisi swasta Trans TV yaitu Mancing Mania dan Bocah Petualang. Diantara lokasi wisata yang dapat dijadikan alternatif di kabupaten ini antara lain ;
  • Pulau Sara, pulau yang berada di kecamatan Lirung adalah pulau yang dikelilingi oleh hamparan pasir putih dan ditutupi oleh tumbuhan hijau dan masih alami. Pulau Sara merupakan habitat burung Male, burung Nuri dan Ketang Kenari.
  • Danau Sarro, terletak di bagian utara pulau Karakelang. Kawasan ini menyatu dengan kawasan konservasi alam hutan tropis kampung Tuabatu dengan endemic yang hidup di kawasan ini seperti babi rusa. 
  • Pulau Nusa, pulau Malo, pulau Garat merupakan diving point yang masih virgin. Silakan menikmati keindahan biota laut dengan dinding karang yang memukau. ·    
  • Pantai Mangaran, pantai Tabang, pantai Melonguane, pantai Tiwuda.
  • ·         Gunung Piapi, air terjun Ampapitu, goa Totombatu, gua Arandangan, gua Wetta, gua Massare, gua Mane’e dan Batu Ular.
    
Akses transportasi di kota dapat ditempuh di dua jalur. Dari jalur udara terdapat maskapai penerbangan wings air, express air dan merpati air. Sementara kapal ferry yang melayani ke daerah ini adalah KM. Vallerine dan KM. Ratu Maria.

Daftar Home Stay
·         Tepi Pantai ; jalan tepi pantai Melonguane telp. 081340764463
·         Mutiara ; jalan raya Lirung telp. 081340499439
·         Syariah ; jalan raya Melonguane telp. 081340570620

rate kapal ferry manado – melonguane talaud Rp. 160.000,- waktu tempuh + 15 jam, berlayar setiap hari kecuali hari minggu
rate pesawat udara melonguane – manado berkisar Rp. 600.000,- waktu tempu + 60 menit
penginapan dengan fasilitas AC, TV, Bathroom IDR Rp. 200.000,-

ooOoo

Pelabuhan Melonguane - Talaud
Melonguane - Talaud

Kota tepi pantai, Melonguane
Stand pameran HUT Kab. Talaud
Melonguane - Talaud
1. suasana kapal 2. tempat tidurku 3. kapal ferry Vellerine
Landscape Talaud
ooOoo