Pantai ini sebenarnya bertajuk Pantai Air Manis, berada sekitar 15 kilometer dari pusa t kota padang, sumatera barat. Pasir pantai berwarna kecokelatan, meskipun menurut ibu penjaja makanan yang saya temui menjelaskan bahwa tadinya, sekitar tahun 70-an pasir di pantai ini bersih dan berwarna putih, kenapa sekarang berubah cokelat, yah mungkin karena berjemur setiap hari kali ya, jadi cokelat begitu, supaya lebih eksotis mungkin.
Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Januari 2013
Selasa, 01 Januari 2013
Pantai Batu Galau
![]() |
| Photo by : Fitra R |
Pantai Batu Galau? baru dengar?, haha, ini sih asal-asalan kita saja. Pantai itu sebenarnya dikenal sebagai pantai Padang, pantai yang berada di sisi barat laut kota Padang-Sumatera Barat tersebut kami sambangi setelah aktivitas mendaki gunung Kerinci di Jambi beberapa waktu lalu. Dari Kerinci kendaraan yang kami tumpangi mengantarkan kami ke kediaman mas Aryo yang berdomisili di kota Padang. Kita tiba ketika waktu shalat subuh akan tiba. Shalat berjamah terlebih dahulu, setelah itu menikmati matahari pagi (yang masih malu-malu), dari tepi pantai Padang yang memang tak jauh dari kediamanan mas Aryo.
Minggu, 29 Juli 2012
Labuan Cermin, Borneo Timur
Danau?, baru dengar saya kalau
ada danau di daerah itu. Ya, saya semakin penasaran tentang cerita danau yang
katanya sampai di telinga para petualang yang haus akan destinasi baru yang
belum terekspose. Danau Labuan Cermin, danau ini disebut juga danau dua rasa,
rasa air tawar dan rasa air asin (saya kira rasa strawberry dan rasa cokelat).
Begitulah cerita yang sampai di telinga saya juga. Mungkin terlalu berlebihan,
mungkin saja hanya sebuah sungai yang bercampur air asin, mungkin saja sebuah
cekungan air payau atau ah, mungkin
saja terlalu dibesar-besarkan.
Selasa, 10 Juli 2012
Biduk-Biduk, Pesisir Timur Borneo
Bukan hanya biaya transportasi
umum yang lebih mahal, tetapi kurangnya jumlah penumpang menyebabkan arus
transportasi tersebut tidak terjadwal pasti. Alasan itulah yang membuat saya
tak terlalu bersemangat menjadikan Borneo, tanah kelahiran saya sendiri sebagai
tujuan berpetualang. Saya memang lebih sering menjelajah tanah jawa, meski
terbilang berjarak lebih jauh, tetapi biaya perjalanan yang dikeluarkan bisa
terbilang lebih murah. Tetapi, kali ini ada satu destinasi yang mulai ramai
jadi bahan pergunjingan para petualang, tidak saja di media on line tetapi
beberapa televisi swasta nasional juga mulai memburunya. Labuan Cermin, sebuah
danau dua rasa, danau unik yang berada di kecamatan Biduk-Biduk kabupaten Berau
Kalimantan Timur. Sebagai ‘tuan rumah’, sudah semestinya saya harus merasakan
langsung sensasi danau tersebut yang juga berada di daerah pesisir pantai yang
panjang. Berikut liputannya.
Senin, 13 Februari 2012
Menuju Nusa Utara Indonesia
Petualangan Menuju Nusa Utara Indonesia
“Bismillah”. Itulah kata yang selalu aku patrikan di setiap memulai petualangan ini. Dengan kata itulah aku menyerahkan segala daya upaya, segenap cipta karsa dan seluruh rasa menghujam di sudut relung terdalam. Bahwasanya, aku hanya seorang pelaku dari sebuah skenario, dimana hanya menujuNya saja aku berada di akhir petualangan.
Bekerja di areal konsesi pengusahaan hutan alam di pedalaman Kalimantan tak menyurutkan agendaku menelusuri detail setiap pelosok negeri indah ini. Indonesia, tak bosan-bosannya aku memuji indahmu, tak kenal letih aku menyulam langkah menemui-Mu. Hingga kisah ini aku tuangkan semoga dapat menginspirasi generasi berjiwa tangguh untuk dapat merengkuh ibrahnya, sehingga semakin mempertebal rasa nasionalisme tanpa sekat teori semata.
Dimulai dari kediamanku di Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Timur, untuk memulai petualangan kali ini (Juli 2011) aku menuju Kota Tarakan sebagai kota dengan sarana publik yang memadai. Akses menuju Kota Tarakan melalui transportasi air menyusuri sungai Sekatak yang dikenal sebagai habitat Buaya Air Tawar (Crocodylus siamlisus) lalu perairan laut Tarakan yang dikenal sebagai habitat Perompak Petani Tambak. Perairan Tarakan bukanlah perairan dengan lalu lintas angkutan air yang aman. Hasil perbincanganku dengan seorang aparat kepolisian beberapa pekan silam yang khusus menangani kasus kejahatan di perairan laut Tarakan terbilang fantastis. Rata-rata kasus kejahatan hampir selalu dijumpai di setiap bulannya. Korban dari kejahatan tersebut tidak tanggung-tanggung. Tidak hanya harta benda yang menjadi sasaran, namun jiwa dapat melayang. Kasus seperti ini memang tak masyhur di media nasional kita, maklum saja daerah perbatasan, jauh dari kota yang lebih konsen dengan informasi seputar bundaran HI atau gedung parlemen. Waduh, malah jadi cerita politik. Bukan begitu sobat, informasi tersebut adalah prembule tentang pengalaman saya sendiri ketika dalam perjalanan di perairan tersebut. Saya bersama tiga penumpang lain harus menghentikan detak jantung beberapa saat ketika para perompak laut tersebut menyapa kami. Ya! Kejadian tersebut saya alami di bulan Februari 2011 silam. Saat saya memulai solo backpacker saya menuju beberapa kota wisata diantaranya Toraja, Lombok dan Bali. Detail kronologi kejadian tersebut sama persis seperti di film-film action. Perompak bertopeng hitam yang menutup seluruh kepalanya, menyisakan lubang di bagian matanya, berjumlah empat orang tersebut melengkapi aksinya dengan bersenjata api rakitan. Mereka berteriak. Mereka membentak. Mereka menggeledah. Sedang kami, penumpang yang baik hati, penurut dan tidak sombong ini hanya menuruti saja apa maunya. Ya, daripada bonyok atau dibuang ke laut, lebih baik duduk manis dan pasang wajah melas saja. Kita juga sudah sangat maklum bahwa dari beberapa kasus biasanya korban dibuang ke pulau terdekat, karena boat dan mesinnya ikut diborong oleh perompak.
Dimulai dari kediamanku di Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Timur, untuk memulai petualangan kali ini (Juli 2011) aku menuju Kota Tarakan sebagai kota dengan sarana publik yang memadai. Akses menuju Kota Tarakan melalui transportasi air menyusuri sungai Sekatak yang dikenal sebagai habitat Buaya Air Tawar (Crocodylus siamlisus) lalu perairan laut Tarakan yang dikenal sebagai habitat Perompak Petani Tambak. Perairan Tarakan bukanlah perairan dengan lalu lintas angkutan air yang aman. Hasil perbincanganku dengan seorang aparat kepolisian beberapa pekan silam yang khusus menangani kasus kejahatan di perairan laut Tarakan terbilang fantastis. Rata-rata kasus kejahatan hampir selalu dijumpai di setiap bulannya. Korban dari kejahatan tersebut tidak tanggung-tanggung. Tidak hanya harta benda yang menjadi sasaran, namun jiwa dapat melayang. Kasus seperti ini memang tak masyhur di media nasional kita, maklum saja daerah perbatasan, jauh dari kota yang lebih konsen dengan informasi seputar bundaran HI atau gedung parlemen. Waduh, malah jadi cerita politik. Bukan begitu sobat, informasi tersebut adalah prembule tentang pengalaman saya sendiri ketika dalam perjalanan di perairan tersebut. Saya bersama tiga penumpang lain harus menghentikan detak jantung beberapa saat ketika para perompak laut tersebut menyapa kami. Ya! Kejadian tersebut saya alami di bulan Februari 2011 silam. Saat saya memulai solo backpacker saya menuju beberapa kota wisata diantaranya Toraja, Lombok dan Bali. Detail kronologi kejadian tersebut sama persis seperti di film-film action. Perompak bertopeng hitam yang menutup seluruh kepalanya, menyisakan lubang di bagian matanya, berjumlah empat orang tersebut melengkapi aksinya dengan bersenjata api rakitan. Mereka berteriak. Mereka membentak. Mereka menggeledah. Sedang kami, penumpang yang baik hati, penurut dan tidak sombong ini hanya menuruti saja apa maunya. Ya, daripada bonyok atau dibuang ke laut, lebih baik duduk manis dan pasang wajah melas saja. Kita juga sudah sangat maklum bahwa dari beberapa kasus biasanya korban dibuang ke pulau terdekat, karena boat dan mesinnya ikut diborong oleh perompak.
Mungkin ada yang bertanya. “ngga ada polisinya ya?”. Ya ada bu…, tapi tidak di laut. Polisinya di darat. Hehe. Ya sudahlah. Ini kan lagi sharing cerita keindahan alam. Jadi cerita mencekam tersebut dicut sampai disini saja. Hanya sekadar berbagi, bahwasanya di setiap perjalanan, yang namanya kendala, masalah atau apapun itu biasanya ada saja. Namun buat saya itu bukan halangan untuk meneruskan petualangan saya. Malah semakin memperkaya pengalaman yang nantinya akan saya ceritakan kepada ke sebelas anak-anak saya.
Kita lanjut, dari desa pedalaman saya di Sekatak Buji, menuju Kota Tarakan diperlukan waktu 2 jam perjalanan dengan menggunakan speed boat bermesin 40 PK. Dari kota paguntaka (julukan kota Tarakan), saya mencari tiket kapal PT. Pelni (Pelayaran Nasional Indonesia) untuk menuju pelabuhan Pantoloan Provinsi Sulawesi Tengah. Kapal penumpang yang mengantarkan saya tersebut bernama KM. Tidar, kapal penumpang jalur tetap tersebut merapat di pelabuhan laut Malundung Tarakan pukul 18.00 wita. Dan mengantarkan saya ke tujuan 31 jam kemudian. Kapal merapat pukul 02.00 dini hari. Apakah yang saya perbuat di pelabuhan yang baru saya sambangi tersebut di jam-jam orang sedang tertidur lelap?. Jangan bingung dulu, meskipun saya selalu melakukan aktivitas ini seorang diri, bukanlah hal yang sulit buat saya untuk mencari kawan baru. Ya, selama di perjalanan di dalam kapal saya mencari teman baru, sahabat baru, saudara baru. Inilah sebenarnya esensi dunia backpacker. Menjaring sebanyak mungkin orang-orang yang bisa dimanfaatkan. Hehe, jangan negative dulu. Maksudnya orang-orang yang bermanfaat.
Di kapal saya bertemu dengan Koko Aming, seorang pengusaha yang sedang berlibur ke kota Palu. Aneh kan? Dimana-mana kita mendengar orang-orang berlibur ke Bali atau Pulau Tidung (T.T), namun Bapak muda ini malah menuju kota Palu. Penasaran? Googling deh, Kota Palu indah loh…..
Di kapal saya juga belajar banyak dengan Safa, seorang pemuda berusia kelas XII yang sangat bersahaja. Ia ke Pantoloan untuk selanjutnya menuju Kota Palu dalam rangka mengantar ibunda tercintanya untuk berobat. Sahabat saya ini sangat dewasa, meski seorang pria, ia dengan sangat telaten merawat ibunya yang di rawat inapkan di rumah sakit kapal selama di pelayaran. Saudara sulungnya, telah menikah dan berada di luar kota hingga tak bisa maksimal membantu perawatan sang ibu. Saudara yang ke dua menderita depresi saat masih kuliah di Jogjakarta sementara adiknya menderita autis sejak masih balita. Huah….. salut dengan perjuangan seorang Safa. Pemuda tampan, yang selalu saya temukan di lantai mushola kapal di deck 7 bersimpuh menghadap TuhanNya.
Terakhir, saya bertemu Ami Dar (Ami = Paman, bahasa arab), seorang pria berusia kepala empat yang akhirnya ‘memaksa’ saya untuk mampir ke kediamannya di Kota Palu. Disinilah petualang pertama saya dimulai. Yuk, ikuti…. Seru loh, buat yang ingin buang air kecil, tinggal saja dahulu artikel ini sejenak. Saya tunggu loh….hehe.
Pukul 02.00 dini hari waktu setempat, saya dan Ami Dar telah disambut tiga wanita muslimah berkerudung hijau nan santun. Telah siap mini bus Avanza di areal parkir di sana. Saya dikenalkan Ami Dar kepada keluarganya. Saya dikenalkan karena beliau merasa kasihan (Jiaah… kasihan ^_^) melihat saya sendiri melanglang buana tak jelas arah tujuannya. Akhirnya saya ‘digelandang’ ke kediaman beliau di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Dari pelabuhan Pantoloan menuju rumah Ami Dar menghabisan waktu perjalanan sekitar 30 menit. Tiba di rumah beliau, langsung disuguhi makanan dengan menu khas daerah setempat. Alhamdulillah, dapat santunan makan. Setelah makan malam (makan sahur lebih tepatnya), beranjaklah saya ke peristirahatan. Gelar kasur di ruang TV.
“Asholatu Khoirum Minan Nauum”
Sayup terdengar suara memanggilku. Aku segera bangkit, meski baru tertidur dua jam saja. Tak terlalu penting seberapa lama kita tertidur, tetapi seberapa berkualitas tidur yang kita lalui. Yang penting saat terbangun badan tetap sehat. Bersegeralah saya mengusir setan yang menempel dengan membasuh seluruh bagian tubuh yang wajib saya sucikan untuk menghadapNya. Saatnya buat laporan kepada sang Khaliq, kalau saya sekarang berada di rumah orang yang baru saya temukan. “Tolong, kirimkan rezeki berlebih wahai Tuhan untuk mengganti menu makan malam yang telah mereka berikan ke saya”. Itulah sepenggal doa buat keluarga ini.
Setelah tunai ibadah ini. Saya keluar rumah, yang ternyata berada di dalam sebuah komplek perumahan. Dan tradaaaaaaaaa…….. sebuah view indah ada di depan mata. Tampak gunung Gawalise yang terkenal sebagai gunung olahraga paralayang. Gunung berselimut rerumputan dengan pemandangan desa di bawahnya. Pagi itu sangat cerah, sehingga pemandangan menjadi sangat indah.
Saya menelusuri pemandangan tersebut hingga mentari mulai berada di waktu duha. Saya kembali ke rumah, dan menikmati sarapan pagi. Lagi-lagi ini bonus buat petualang baik seperti saya. Hehe. Setelah sarapan, saya diajak Ami Dar untuk bersilatuhmi ke keluarganya dan tentu saja melihat Kota Palu yang berada di tepi pantai Talise berpagarkan pegunungan nan indah permai. Pantas saja Koko Aming memilih liburan ke kota ini.
Karena Ami Dar telah mengetahui, bahwa agenda saya adalah berpetualang dan salah satu kota yang saya tuju adalah Kota Manado, Ami mengajak saya untuk berkunjung ke desa lahirnya. Karena yang berada di Kota Palu sebenarnya adalah kediaman saudaranya. Bersiaplah saya siang itu menuju desa Ami Dar di Kecamatan Parigi Tengah Kabupaten Parigi Moutong. Jarak Kota Palu menuju kabupaten Parigi Moutong sejauh 66 km. Rute Palu – Parigi melalui jalan berliku nan curam dengan ketingginan 600 mdpl. Jalur yang dikenal sebagai jalur Kebun Kopi ini adalah jalur menanjak dengan hamparan hutan yang masih rindang. Di jalur inilah bus antar provinsi Harvest (27 Nopember 2011) tergelincir ke jurang dengan merenggut korban jiwa sejumlah empat orang.
Tiba di kediaman Ami Dar, lagi-lagi saya disuguhi suasana pedesaan yang khas. Memang tidak terlihat hamparan sawah yang luas seperti halnya sawah-sawah di Kabupaten Jember – Jawa Timur, desa ini ternyata lebih memusatkan aktivitasnya pada sektor perkebunan kelapa dan cokelat. Namun bukan itu yang menjadi entry point desa ini. Melainkan, tepat di belakang rumah Ami Dar adalah hamparan Pantai Bamba Uwentaipa! Amazing. Huah……. Inilah nikmatnya berpetualang. Kalau menuju Pantai Parangteritis atau Losari yang terkenal itu, kita sudah biasa melihat visualnya. Jadinya, ketika kita menyaksikan langsung, reaksinya tak terlalu mengejutkan. Namun, sangat berbeda ketika kita melihat sehamparan pantai nan indah, namun kita belum mengenalnya. Ya, ini salah satunya. Terimakasih Ami Dar…… (berdoa lagi ah, buat Ami Dar. Semoga Amal baiknya diterima di sisi Alloh…amiin)
Keesokan harinya saya pamit kepada Ami Dar dengan melanjutkan perjalanan darat menggunakan Bus Harvest menuju Kota Manado. Jarak kota Palu – Manado sendiri sejauh 1.024 Km, kalau saya berada di Kabupaten Parigi saat ini berarti jarak yang saya tempuh adalah …. (berapa coba?. Tepat 958 Km, berasal dari 1.024 Km dikurang 66 Km. Backpacker juga musti pintar berhitung loh hehe)
Perjalanan menggunakan bus selama 24 jam tak membuatku berdiam diri. Pemandangan di provinsi yang dilintasi, yakni Sulawesi Tengah, Gorontalo hingga Sulawesi Utara membuat hati ingin meneriaki sang supir Bus. Ingin bilang “Pir, berhenti sejenak. Ingin photo-photo pemandangan indah ini”. Bagaimana tidak, sepanjang jalan mata dimanjakan dengan hamparan pantai di satu sisi dan sisi lainnya bukit-bukit menghijau. Persis seperti bukit-bukit yang berada di Ranu Kumbolo-Semeru yang pernah saya kunjungi bersama tim ekspedisi eLKaPe Indonesia Adventure.
Tiba di terminal Malalayang pukul 12.00 siang. Saya bersegera mencari angkutan menuju pelabuhan Manado. Di Terminal saya menggunakan jasa ojek untuk menuju lokasi tujuan. Bertemulah saya dengan pak Haji Ojek yang ramah dan baik hati. Ini dia kontak beliau, barangkali ada yang ingin berkunjung ke Manado, bisa minta jemput beliau (+6285298638588).
Meskipun seorang diri bukan berarti saya berpergian tanpa itinerary yang matang. Kontak teman-teman dunia maya, cukup membantu. Begitu juga blog dan artikel tentang daerah yang dituju. Salah satunya adalah saudari Lia yang membantu saya via sms tentang moda transportasi Kota Manado. Di pelabuhan Manado saya mencari tiket untuk perjalanan laut menuju Kota Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara. Didapatlah sebuah tiket kelas ekonomi (no room, no bed) seharga Rp. 160.000,-
Proses penumpang naik dan juga mengatur bagasi kapal sungguh menyita waktu dari jadwal yang tertera di buku tiket. Lantunan lagu-lagu pujian mengiringi waktu menanti dilepasnya tali jangkar kapal. Karena daerah yang akan saya tuju mayoritas penduduknya kaum kristiani, di dalam kapal selalu berkumandang lagu rohani. Yang akhirnya sayapun menghafalnya. Ini dia petikkan syairnya.
Walau Seribu Rebah Di Sisiku
Kau Tetaplah Allah Penolongku
Walau Sepuluh Ribu Rebah Di Kananku
Tak Kan Ku Goyah Sebab Yesus Sertaku
Penumpang kapal motor Vallerine, yang saya tumpangi, terlihat sangat religious dan toleran. Terbukti, ketika saya meminjam kamar penumpang VIP yang beragama nasrani untuk saya gunakan menunaikan ibadaha shalat Djuhur – Ashar yang saya qashar (dapat teman lagi, akhirnya. Hehe). Ketika menjelang waktu senja, kapal berlayar. Tampak kemerlap lampu Kota Manado yang berada di tepi pantai sepanjang 17,8 Kilometer ini membuat kota ini pantas dicanangkan sebagai kota tujuan pariwisata di tahun 2010 silam. Reklamasi pantai secara besar-besaran menyulap jalan Piere Tandean ini menjadi kawasan elite yang lebih dikenal dengan sebutan Manado Boulevard. Di sisi utara, tampak gugusan kepulauan Bunaken yang jaraknya hanya 8 Km saja dari pelabuhan Kota Manado. Yang terlihat jelas saat di perjalanan laut saat itu adalah Pulau Manado Tua, sebuah pulau gunung dengan ketinggian 750 mdpl.
Saya memang tidak menyempatkan diri menikmati bioversitas kelautan Bunaken ini. Bukan kenapa-kenapa, biota laut saya pikir tak terlalu berbeda jauh dengan kepulauan Derawan yang telah saya kunjungi tahun 2009 silam. Edisi kali ini memang untuk menelusuri, lokasi-lokasi yang tidak masuk jajaran teratas. Salah satunya adalah Kota Melonguane. Seperti apakah indahnya si Melong? …. Setelah jeda iklan berikut ini. Hehe.
Laut utara Pulau Sulawesi ini yang juga merupakan jalur sirkum pasifik, menjadikan laut ini maha dahsyat gelombangnya. Ditambah lagi hujan deras menghantam. Membuat semua penumpang pria bahu membahu memperbaiki tirai yang berfungsi sebagai dinding geladak kapal. Semua barang-barang penumpang yang diletakkan begitu saja karena telah penuh sesak, basah tak terkecuali. Sementara backpack merahku segera aku bungkus dengan rain cover sehingga aman sentosa, meskipun tubuhku basah kuyup bak Amir Khan dalam film Three Idiot. Satu jam kemudian alam mulai bersahabat. Hujan reda. Meski gelombang laut masih menggila. Kapal terombang ambing maha dahsyat. Saya hanya berkirim pesan singkat kepada keluarga di rumah tentang kondisi yang saya alami. Khawatir terjadi apa-apa, setidaknya saya telah memberi kabar. Kabar tentang kedahsyatan lautan pasifik ini sebenarnya telah saya ketahui sebelumnya dari beberapa teman yang berasal dari kepualaun ini. Tentu saja mencari informasinya mengandalkan bantuan tante google.
Bagaimana dengan tidur? Saya hanya tidur di selasar kapal. Di tempat terbuka, bersama penumpang pria yang lain. Hanya area seluas tubuh saya. Tanpa alas. Tanpa jaket. Karena jaket telah basah terkena hujan tadi. Saya tidur tepat di depan pintu kamar penumpang kelas VIP. Entah berapa kali dan berapa orang yang melangkahi kepala saya. What ever lah. Yang penting saya bisa tertidur dan mimpi indah. Gelombang? Masih . . . serasa tidur dalam kereta roller coaster hehe.
Esoknya. Pagi yang cerah di perairan Kepulauan Talaud, membuat saya kembali mengeluarkan kamera saku Sony DSC-W190 dari daypack imutku. Hamparan pasir putih dan laut nan membiru membuat segala penat dan lelah seolah terlupakan sejenak. Pukul 09.00 pagi kapal merapat di kota pelabuhan Lirung. Proses turun penumpang dan barang selama sembilan puluh menit, saya manfaatkan berkeliling memanjakan mata saya. Semua barang bawaan saya, saya angkut, agar kalau-kalau tertinggal kapal saya masih bisa berpetualang di kota ini. Dari Kota Lirung, saya meneruskan perjalanan menuju kota Melonguane.
Melonguane merupakan ibukota Kabupaten Talaud. Sebuah kabupaten dengan pulau terdepannya Miangas, adalah batas teritori negara yang bersebelahan langsung dengan Pulau Davao del sur, Philipina. Memasukan kota pesisir ini dalam agenda menjelajah negeri memang bukan pilihan yang keliru. Betapa tidak, pantai putih tanpa noda, terumbu karang yang masih terjaga serta air laut yang sangat menggoda saya untuk bermain bersamanya. Mengelilingi kota ini cukup dengan menyewa jasa becak motor saja. Selebihnya saya masih menggunakan kedua kaki saya untuk mencicipi setiap mili negeri ini. Beruntungnya saya, karena malam itu tepat di jantung kota kecil ini, tengah digelar pameran pembangunan. Al hasil dari stand Dinas Pariwisata, didapatlah informasi tambahan tentang potensi wisata di kabupaten ini. Diantaranya Danau Sarro, Goa Totombatu, Air Terjun Ampapitu hingga Pantai Mangaran. Buat saya, berada di pantai ini sudah cukup mewakili itu semua.
Keesokan harinya, perjalanan masih saya lanjutkan kembali ke Kota Manado. Kali ini menggunakan jasa angkutan pesawat udara Wings Air di harga Rp. 600.000,- dengan ketinggian jelajah 1.000 kaki di atas permukaan laut. Gradasi laut dan hamparan gugusan pulau berbingkai pasir putih terlihat indah dari balik kaca pesaawat. Selamat tinggal Melonguane, semoga kau tetap menjadi Indonesia. Amiin.
Landing dengan baik di Bandara Internasional dengan empat buah gardabarata, Sam Ratulangi Manado, saya kembali menghubungi pak Haji Ojek untuk mencarikan saya penginapan. Saya memilih penginapan Mini Mulia yang berada di kawasan wisata religi “Kampung Arab”. Sebuah lokasi yang tepat untuk berwisata belanja di Kota Manado. Karena lokasi penginapan berada di tengah keramaian. Dekat dengan pelabuhan laut Manado, dan tak jauh dari airport Sam Ratulangi Manado.
Sesampai di penginapan, saya hanya meletakkan backpack dan membersihkan badan. Setelah itu, ngeluyur lagi. Menuju keramaian Kota Manado dengan warga kota yang sangat fashionable. Mengunjungi pasar tradisional Sehati, Klenteng Ban Hin Kiong, sebuah klenteng yang dibangun di awal abad ke 19. Mega Mall Manado, mall pertama berskala internasional dengan gerai diantaranya Bellagio Shoes, Giordano, HiQ Billiard dan tak ketinggalan Matahari Dept. Store.
Dengan fasilitas yang kurang nyaman, saya tinggalkan penginapan Mini Mulia diharga Rp. 60.000,- per malam (fan, kasur busa, teh manis di pagi hari, kamar mandi luar), keesokannya, saya memboyong backpack saya untuk meniduri Emerald Hotel di lokasi yang sama, harta yang dirogoh sejumlah Rp. 200.000,- per malam dengan layanan memuaskan.
Dari Manado, saya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Siau, Kabupaten Sitaro. Sesampainya di Siau, kembali saya membelalakkan mata saya selebar-lebarnya. Pulau yang sangat indah.dah.dah.dah!
Untuk mengelilingi kota ini saya menggunakan jasa ojek dengan tarif Rp. 80.000,- tentu saja setelah saya meletakkan semua perlengkapan saya di Hotel Jakarta bertarif Rp. 350.000,- per malam. Mahal? Ya, karena hotel yang saya tempati sudah sangat mewah. Bukan masalah mewahnya yang ingin saya tonjolkan, tetapi sebab apa yang membuat kota yang mungkin baru anda dengar ini, terdapat sebuah hotel mewah. Alasannya, karena hotel ini biasa dikunjungi turis-turis mancanegara yang hendak mendaki Gunung Karangetang di Pulau Siau. Yup! Gunung aktif yang meletus dan ‘menghilangkan’ empat korban jiwa ini menjadi objek penelitian beberapa peneliti dari Germany dan Franch karena intensitas aktivitas gunung terbilang tinggi. Letusan yang menghanguskan beberapa desa di pulau ini yang terjadi Agustus 2010 silam menyisakan lubang parit yang sangat dalam dan mengerikan. Ini bukan dongeng hadirin sekalian, karena saya menyaksikan sendiri desa-desa yang masih terisolir tersebut akibat parit yang memutus jalan akibat letusan gunung api Karangetang.
Pulau Siau merupakan pulau gunung, dimana dilerengnya dipenuhi perkebunan tanaman pala (Myristica fragrans). Masih ingat kan, alasan VOC datang ke Hindia Belanda dari pelajaran sejarah dulu. Nah, di Kepulauan Siau lah salah satu magnet pedagang asing saat itu untuk mengeruk hasil bumi nusantara ini. Di kabupaten ini juga terdapat diving point yang jelas masih virgin, seperti di perairan Pulau Biaro, Pulau Ruang dan Mahoro. Terdapat Danau Makalehi, Pantai Kalihiang dan pantai sumber air panas bernama Lehi. Saat saya mengunjungi Pantai Lehi, tampak beberapa warga pengunjung tengah menikmati sumber air panas ini yang telah dibangun semacam bendungan berbentuk lingkaran. Buat yang berkudis, kurap dan panu bagus loh katanya berendam di tempat ini, hehe.
Tepi Kota Siau sangat rapi. Jumlah kendaraan yang melintas masih bisa dihitung dengan jari membuat kota ini sejuk dan damai. Seperti tempat saya bersantai di sore hari, di halaman Gereja jemaat Ebenhaezer - Tatahadeng, saya menyaksikan keindahan pantai dan kegagahan gunung berkolaborasi dengan romantika penduduk dengan aktivitasnya. “Ah kau Pulau Siau…. menuliskan cerita ini membuatku ingin mengunjungimu kembali.”
Ada yang berpendapat, berjalan sendiri itu seperti Autis. Buat saya, tidak seluruhnya benar. Hal yang membuat saya memilih Solo Backpacker ini karena saya merasa bahwa saya sangat bandel dengan keinginan saya. Saya seolah tak memerlukan waktu untuk tidur saat saya berpetualang. Berjalan terus berjalan. Saya tak mau lelah. Saya tak mau capek. Nanti, kalau sudah kembali ke kampung halaman, barulah saya beristirahat. Kalau masih dalam petualangan seperti ini, saya sanggup jalan bermil-mil jaraknya untuk memanjakan hati saya.Total waktu yang saya habiskan untuk agenda ini adalah empat belas hari. Masih kalah dengan gembel-gembel lain. Yup, buat saya cukuplah karena jatah cuti memang hanya segitu saja.
Masih banyak sebenarnya kejadian dan lokasi yang ingin saya ceritakan disini, tetapi sampai disini saja dulu. Ini saja sudah seperti novel panjangnya.hehe. Yang jelas, akhir perjalanan saya bukan sampai Pulau Siau saja, tetapi saya lanjutkan ke Pulau Tagulandang lalu kembali ke Manado. Dari Manado saya terbang ke Balikpapan kemudian menuju Kota Tarakan dengan penerbangan yang sama.
Sekian dulu, semoga bermanfaat.
ooOoo
Kamis, 09 Februari 2012
Cerita Kuta
Siapa yang tak mengenal nama pantai yang satu ini. Pantai Kuta, seolah menjadi satu-satunya pantai yang paling populer. Bukan hanya populer di pulau Bali yang memiliki banyak jenis pantai dan memiliki garis pantai yang sangat panjang, tetapi juga populer di Indonesia, bahkan dunia internasional. Pantai adalah Kuta, dan Kuta adalah Pantai. Tak berlebihan memang, karena masyarakat luar hanya mengenal nama pantai ini. Nama pantai inipun menjadi semakin populer setelah penyanyi Andre Hehanusa dengan apik menyanyikan sebuah lagu bertema pantai ini. Belakangan pantai Kuta selalu hadir menghiasi layar kaca anda di beberapa tayangan sinema, dampaknya tentu saja membuat pemirsanya semakin mupeng (muka pengen ; istilah anak sekarang).
Memang di kalangan penggiat wisatawan sebentuk backpacker, pantai Kuta akan bersaing ketat dengan pantai lainnya yang sangat banyak di Indonesia. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Kuta tak hanya dimiliki para penggiat pecinta wisata tersebut tetapi khalayak luas. Awam tentu saja akan memilih Kuta sebagai tempat berlibur dikarenakan lokasi yang sangat mudah dicapai, sarana akomodasi dan juga moda transportasinya. Pantai Kuta selalu ramai, tidak hanya di musim liburan.
Selasa, 24 Januari 2012
Rute Pilihan Menuju Derawan
![]() |
| Photo : Rika Ramlan, Lokasi : Pulau Derawan |
Keindahan kepulauan Derawan kini semakin dikenal luas. Agen perjalanan yang memfasilitasi transportasi dan akomodasi ke kepulauan tersebut mulai bermunculan. Kepulauan yang menawarkan keindahan panorama pulau tropis, hamparan pasir putih yang bersih, air laut yang sangat jernih, bioversitas kelautan yang memukau, koral yang terjaga, spesies penyu hijau yang masih mudah dilihat hingga keindahan danau Kakaban yang berada di pulau Kakaban dengan spesies khasnya yaitu ubur-ubur yang tidak beracun.
Tulisan ini sengaja saya angkat kembali dikarenakan semakin banyaknya pengunjung yang mencari informasi rute perjalanan menuju pulau ini. Maklum saja, sarana transportasi di negara ini masih cukup sulit, menguras tenaga dan juga biaya perjalanan anda. Berikut saya sajikan beberapa alternative rute perjalanan yang dapat anda pilih. Kepulauan Derawan sendiri terletak di Kabupaten Berau provinsi Kalimantan Timur. Akes menuju pulau wisata kelas dunia tersebut dapat ditempuh melalui ibukota Kabupaten Berau yaitu Tanjung Redeb atau melalui kotamadya Tarakan. Untuk anda yang berada di luar pulau Kalimantan, pintu masuknya tentu saja melalui kotamadya Balikpapan terlebih dahulu.
Kamis, 20 Oktober 2011
Walau Seribu Rebah
Tiada Pernah Kuragukan
Kasih Setia-Mu ya Tuhan
Setiap Waktu Dalam Hidupku
Tak Pernah Kau Tinggalkan
Meski Langit Tampak Suram
Awan Gelap Pun Menghadang
Hadapi Badai Lewati Gelombang
Tak Pernah Kau Tinggalkan Diriku
Syair ini masih asing di telingaku, namun mengapa hampir semua penumpang dapat menghafalnya, menyanyikannya bersama-sama meski tanpa seorang konduktor. Disisi kiri dan kananku, dalam barisan bangku di teras kapal nan sesak ini, mereka menikmati alunan yang menenangkan ini. Ibu-ibu, bapak-bapak bahkan para penjaja makanan dapat melagukannya dengan baik. Lagu apakah ini?, mengapa aku tak mengenalnya. Kudengar lagi dengan seksama bait demi baitnya …..
Walau Seribu Rebah Di Sisiku
Kau Tetaplah Allah Penolongku
Walau Sepuluh Ribu Rebah Di Kananku
Tak Kan Ku Goyah Sebab Yesus Sertaku
Hingga satu kesatuan paduan syair dan melodi tersebut tuntas, aku menemukan jawabnya. Yang aku dengar ini adalah puji-pujian. Sebuah paduan syair dan melodi terkemas dalam sebuah karya apik, yang belakangan aku tahu ini adalah karya dari Welyar Kaunto dan dilantunkan dengan merdu dari suara penyanyi bernama Nikita.
![]() |
| Pelabuhan Manado |
Memoar ini terukir saat aku melakukan perjalanan menggunakan armada laut ke perairan di utara Sulawasi Utara. Beberapa daerah kabupaten yang aku sambangi adalah memang berpenduduk mayoritas umat nasrani, diantaranya adalah kabupaten Talaud. Adalah hal yang baru yaitu aku berbaur dengan ‘budaya’ agama lain. Lantunan puji-pujian tersebut terus saja berkumandang bergantian. Dan penumpang begitu menikmatinya. *baca ; khidmat.
![]() |
| Lirung - Talaud, Sulut |
Kapal perintis yang aku tumpangi untuk mengantarku ke kota Lirung – Talaud belum juga berangkat. Mentari mulai menuju ke peraduan. Aku belum menunaikan ibadah shalat dzuhur dan asharku. Dan, aku menunaikannya di dalam bilik sempit berukuran dua kali dua meter disela-sela kardus dan koper penumpang. Dalam kamar ini, aku meminta ijin kepada seorang Bapak yang menempati kamar ini untuk beribadah sejenak. Setelah mengucapkan terimakasih, aku mengenal Bapak ini adalah seorang nasrani. Sebuah sikap toleran ketika ia mempersilakan aku menggunakan kamarnya untuk beribadah.
Satu hal lain yang aku temui di kapal ini adalah ketika kapal akan berlayar, terdengar suara pria melantunkan doa dan diikuti sebagian besar penumpang. Ya, doa kaum nasrani, memohon keselamatan dalam perjalanan menuju kota yang dituju. Aku hanya memperhatikan mereka. Ini adalah hal baru buatku. Namun, kekhidmatan penumpang, membuatku takjub dan tentu saja memberikan pelajaran bahwa hanya Tuhan yang menjadi tumpuan segalanya.
![]() |
| Lirung dari Melonguane, Talaud |
Bahwa barangsiapa hendak diselamatkan, maka ia harus bertobat dari dosa-dosa mereka dan percaya pada Yesus Kristus. Ia harus mengakui dirinya sebagai orang berdosa, setuju dengan Allah tentang status dosa-dosanya, dan ia harus berseru pada Yesus untuk menyelamatkannya (Roma 10:13).
Jika ada orang yang melakukan hal ini, Yesus akan menyelamatkannya, dan pengorbanan Yesus di kayu salib akan dihitungkan bagi orang yang bertobat dan percaya tersebut. Kebenaran Yesus akan ditaruh pada dirinya, dan ia akan memiliki hidup yang kekal (Yoh. 3:16; 1 Yoh. 5:13).
Setelah doa penumpang kelar kembali lantunan puji-pujian diperdengarkan. Dan penumpang kembali ikut mendendangkan syair-syair indah tersebut. Suara yang kudengar kali ini tak asing lagi. Suara lembut milik Maria Shandy dengan tembang-tembang populernya yang kerap terdengar saat hari besar umat ini.
Perlahan kapal meninggalkan gemerlap kota Manado, terlihat kerlap lampu kota dan riak air laut menciptakan gerak kapal terhentak ke kiri dan ke kanan. Aku berucap lirih memulai perjalananku …
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al Baqarah 164)
Perjalanan, kemana dan menggunakan armada apa saja tetaplah senantiasa meluangkan waktu sejenak untuk menundukkan wajah memahami bahwa hanya atas kehendak Allah saja semua berlaku. Bismillah.
Senja di perairan Bunaken nan membiru
Terlihat Manado Tua di sisiku
Mentari menjingga lelap ke peraduan
Kembali syair itu mengiringi pergiku
Walau Seribu Rebah di Sisiku
*catatan perjalanan menuju Lirung, Juli 2011.
Jumat, 29 Juli 2011
Pulau Siau, Sitaro Sulawesi Utara
Hampir semua pemukiman yang tersebar di setiap pulau-pulau kecil di utara Pulau Sulawesi ini berada di lingkungan yang menyejukkan mata. Dari beberapa pulau yang saya singgahi dan juga yang terlihat dari udara, semua pulau memiliki garis pantai dan air laut yang jernih. Hal inipun dibuktikan dengan terpilihnya desa Makalehi di Kabupten Sitaro sebagai desa terbaik se-Indonesia tahun 2010 silam. Semua pemukiman disini berorientasi pada kebudayaan laut. Rasanya, semua rumah penduduk seolah berada di lokasi wisata. Begitu juga dengan pulau yang saya kunjungi kali ini. Pulau Siau Kabupaten Sitaro propinsi Sulawesi Utara.
Pulau Siau adalah pulau kecil tempat berdiri kokoh gunung api Karangetang. Pulau ini seperti gunung Krakatau di Selat Sunda, hanya saja lebih luas dan di tepi pulau ini dihuni beberapa rumah penduduk. Dan dilereng gunung tersebar hamparan kebun pala dan kelapa. Sebagian besar struktur tanah pulau ini berbatu. Bahkan di beberapa titik tepi pantainya berpasir hitam dan berbatu gunung yang besar. Ketika menyusuri setiap sudut pulau ini hingga ke bagian-bagian berbukit, selalu dijumpai batu-batuan berukuran besar di tepi jalan. Berada di ketinggian di pulau ini terasa sangat sejuk karena dikelilingi kebun yang rindang dan matapun dimanjakan dengan hamparan laut yang terlihat hijau karena terumbu karang yang menghiasi dasarnya. Begitu juga gugusan-gugusan pulau lain di sekelilingnya. Ada tiga kabupaten yang tersebar di utara pulau Sulawesi ini, yaitu kabupaten sangihe sebagai kabupaten tertua kemudian dua kabupaten pemekaran yaitu Kabupaten Talaud dan Kabupaten Sitaro yang baru berusia empat tahun.
Menyaksikan kegagahan gunung api Karangetang dari tepi pantai pulau Siau yang berselimut hamparan hijau perkebunan, membuat takjub dan berdecak kagum. Namun perasaan berbeda ketika saya berkesempatan melihat sebuah perkampungan yang dilanda bencana erupsi gunung berapi beberapa bulan silam. Terdapat dua parit besar yang dalam membelah bumi memisahkan beberapa desa dengan desa lainnya. Parit besar yang merupakan lintasan lava gunung berapi yang masih aktif. Hingga saat saya berkunjung beberapa hari lalu, tidak ada tanda-tanda akan pembangunan kembali jalan yang terputus. Begitu juga rumah yang hangus terbakar akibat muntahan gunung api tersebut. Menurut Rei, guide yang menemani saya menjelaskan bahwa pada saat kejadian berlangsung para penduduk terisolir dan sebagian menyelamatkan diri dengan menyeberangi laut dengan berenang dengan bantuan batang pohon pisang. Kini, untuk melanjutkan akitivitas warga desa, beberapa kendaraan dibiarkan diparkir diseberang desa, dan mereka melanjutkan dengan berjalan kaki menyeberangi parit besar bekas lintasan lava gunung api tersebut.
Bagaimana?, baru dengar berita ini? Ya, media kita memang hanya fokus meliput berita korupsi saja, itu juga karena pemerintah dan anggota dewan kita lebih concern dengan isi perutnya saja, bencana alam seperti ini, apalagi terjadi di daerah-daerah terpencil luput dari kamera mereka. Tidak apalah, nanti kalau beberapa pulau yang berbatasan dengan negara tetangga ini dicaplok barulah demonstran berteriak-teriak di bundaran HI meski tak mengerti. Apa yang saya utarakan bukan karena saya tak memiliki rasa nasionalisme, justru kegiatan backpacking ini adalah bukti nyata kecintaan anak negeri ‘menjaga’ wilayah negerinya. Namun sebagai anak daerah perbatasan, tentu sangat terasa perbedaannya dengan mereka yang tinggal dekat dinding istana negara. Berkunjunglah ke pulau dimana pal batas dua negara berdiri lemas disana, semisal pulau sebatik yang berada di utara Kalimantan Timur, terasa sangat perbedaan belaian ibu pertiwi dengan belaian ‘ibu tetangga ‘disana……. Cukuplah, tak pernah habis kata mendeskripsikan wajah pengelola negeri kita.
Meski hanya daerah kecil, pulau Siau terutama di daerah hulu Siau terdapat beberapa penginapan. Salah satunya adalah hotel Jakarta yang bertarif Rp. 300.000,- per malam. Di hotel ini, saya banyak mendapat informasi dari receiptionist hotel yang pernah menjadi guide saat menemani beberapa tamu dari Eropa yang mendaki gunung api Karangetang. Beberapa kali menjadi guide beliau hanya menyebut tamunya dari luar negeri. Belum pernah ada yang dari lokalan. Selain itu saya juga bertanya tentang temuan ilmuan kita yang bekerja sama dengan ilmuan luar tentang gunung berapi yang aktif yang berada di dalam laut. Receiptionist tersebut menjelaskan bahwa beliau juga pernah melakukan diving mengantarkan beberapa peneliti ke puncak gunung yang berada di perairan kebupaten Sangihe tersebut, meski harus mendapatkan perijinan yang ketat karena suhu air laut disana sering berubah-ubah akibat aktivitas sang gunung. Menurut beliau, terdapat beberapa benda-benda antik di atas gunung di dalam laut tersebut, berupa piring-piringan dan benda antik lainnya, namun para penyelam dilarang mengambil barang-barang tersebut.
Kabupaten Sitaro menyimpan beberapa pilihan diving point seperti perairan pulau Biaro, pulau Ruang dan pulau Mahoro. Terdapat juga pantai Tanganga Siau, Bulangan Tagulandang, Pantai pahepa, pantai tumora biaro. Dangkalan nyare dengan hamparan terumbu karang dan biota laut yang memukau dapat ditemukan di pulau Munumpitaeng, pantai Kalihiang, dan pantai Balirangeng. Pantai Lehi dengan sumber air panas alamnya, dan danau Makalehi di desa terbaik tingkat nasional tahun 2010. Selain panorama alam tersebut tentu saja adat istiadat setempat layak untuk disaksikan. Meski sarana transportasi antar pulau telah terhubung, namun keberangakatannya tidak terjadwal setiap hari. Walau demikian, menikmati keindahaan alam dengan kearifan lokal yang menyertai di pulau Siau adalah damai yang meresapi hingga ke relung terdalam, meski kuyakin banyak pengelola negeri ini yang tak mengenal bahwa Siau adalah pulau yang indah dan mengagumkan. Tetaplah damai nusantaraku, meski ibu pertiwimu sedang berselingkuh….
ooOoo
Galleria Sitaro
![]() |
| Gereja Siau Timur |
![]() |
| Gunung Api Karangetang Siau |
![]() |
| Siau Sitaro |
![]() |
| Pasar Hulu Siau |
![]() |
| Pantai Lehi dengan sumber air panas alam |
![]() |
| Pantai Siau - Sitaro |
![]() |
| Tepi Kota Siau |
![]() |
| Parit Lintasan Lava Karangetang |
![]() |
| View Pelabuhan Siau |
![]() |
| Landscape Siau |
ooOoo
Rabu, 27 Juli 2011
Talaud Archipelago – North Sulawesi
Petualangan sesungguhnya dimulai. Kapal ferry rute Manado – Melonguane Talaud mulai berlayar meninggalkan kota Manado yang tampak sibuk terutama di daerah pelabuhan. Senja di perairan Manado, mempertontonkan pulau Manado Tua di seberang sana diantara goresan sinar memerah di langitan. Hanya selang beberapa saat setelah meninggalkan kota Manado, angin laut berhembus kencang, langit mulai gelap, laut semakin tak ramah dan hujan turun dengan derasnya.
Aku hanya memiliki tiket kelas ‘alas’. Sebutan untuk kelas ekonomi atau sekedar numpang. Karena di tiket tidak dijelaskan penumpang harus berada di dek berapa apalagi ruangan berapa. Artinya mencari sendiri ruang kosong. Entah itu di lorong-lorong atau di teras dek atas yang sempit dan terbuka.
Laut bergelombang. Kapal terguncang. Hujan membasahi kapal hingga masuk ke dalam kamar-kamar di dek atas. Barang-barang penumpang yang diletakkan begitu saja di sisi kamar menjadi basah. Begitupun backpack merahku. Para penumpang berusaha menepi untuk menghindar derasnya hujan, meski percuma karena ruangan dalam telah penuh sesak. Para penumpang pria dewasa bersama memperbaiki tirai di dinding teras kapal agar air hujan tak terlalu masuk. Sementara penumpang wanita dan anak-anak hanya duduk dengan memeluk lututnya karena kedinginan. Begitupun denganku, bersama dengan penumpang lain berusaha menahan tirai agar tidak terlepas tertiup angin kencang, meski seluruh badan telah basah. Hujan semakin deras, ombak semakin besar. Semua penumpang tetap bertahan. Mereka terlihat tenang, mungkin telah terbiasa.
Satu jam kemudian, langit mulai bersahabat, meski ombak tetap mengguncang. Aku hanya bisa mengganti pakaian basah di tempat umum ini. tak ada pilihan. Tidur, tentu saja di tempat terbuka ini.
ooOoo
Aku hanya bisa berucap syukur, meski dalam kondisi tidur di tempat terbuka, tanpa alas dan jaket karena telah terguyur hujan semalam. Aku masih bisa menghirup udara pagi dengan badan yang fit dan segar. Menjadi seorang backpacker memang dituntut memiliki daya tahan tubuh yang prima. Karena perjalanan yang dilalui tak jarang berhadapan dengan cuaca yang tak menentu.
Pagi ini sangat cerah, laut tak lagi bergelombang. Tampak pulau-pulau indah dengan hamparan kebun kelapa dengan luasnya. Garis pantai putih bersih bersinar. Air laut yang membiru. Sungguh hamparan kepulauan yang sangat mempesona. Pukul 09.00 pagi, kapal merapat di pelabuhan Lirung untuk menurunkan penumpang. Tentu saja tak kulewatkan untuk menikmati sejenak wajah kota kecil di pinggir pantai nan damai ini. hampir Sembilan puluh menit lamanya proses menurunkan penumpang dan barang, kapal kembali berlayar mengantarkanku ke ibukota Kabupaten Talaud Sulawesi Utara.
ooOoo
Talaud adalah Kabupaten kepulauan yang terdiri dari sembilan belas kecamatan yaitu Kecamatan Miangas, Nanusa, Essang, Gemeh, Tampanamma, Rainis, Pulutan, Melonguane Timur, Melonguane, Beo Selatan, Beo, Beo Utara, Essang Selatan, Lirung, Kalongan, Lirung Selatan, Moronge, Kabaruan dan Damau. Kabupaten yang di bagian utaranya berbatasan dengan negara Philipina. Kabupaten Kapulauan Talaud terdapat Tiga pulau utama yaitu pulau Karakelang, pulau Salibabu dan pulau Kabaruan.
Dengan luas dan topografi demikian, kepulauan Talaud menyimpan begitu banyak potensi wisata yang layak dijual. Ketika saya berkunjung ke kabupaten ini dan menginap di penginapan yang berada di kota Melonguane, di lobi hotel telah terdapat prasasti kunjungan dari kru acara televisi swasta Trans TV yaitu Mancing Mania dan Bocah Petualang. Diantara lokasi wisata yang dapat dijadikan alternatif di kabupaten ini antara lain ;
- Pulau Sara, pulau yang berada di kecamatan Lirung adalah pulau yang dikelilingi oleh hamparan pasir putih dan ditutupi oleh tumbuhan hijau dan masih alami. Pulau Sara merupakan habitat burung Male, burung Nuri dan Ketang Kenari.
- Danau Sarro, terletak di bagian utara pulau Karakelang. Kawasan ini menyatu dengan kawasan konservasi alam hutan tropis kampung Tuabatu dengan endemic yang hidup di kawasan ini seperti babi rusa.
- Pulau Nusa, pulau Malo, pulau Garat merupakan diving point yang masih virgin. Silakan menikmati keindahan biota laut dengan dinding karang yang memukau. ·
- Pantai Mangaran, pantai Tabang, pantai Melonguane, pantai Tiwuda.
- · Gunung Piapi, air terjun Ampapitu, goa Totombatu, gua Arandangan, gua Wetta, gua Massare, gua Mane’e dan Batu Ular.
Akses transportasi di kota dapat ditempuh di dua jalur. Dari jalur udara terdapat maskapai penerbangan wings air, express air dan merpati air. Sementara kapal ferry yang melayani ke daerah ini adalah KM. Vallerine dan KM. Ratu Maria.
Daftar Home Stay
· Tepi Pantai ; jalan tepi pantai Melonguane telp. 081340764463
· Mutiara ; jalan raya Lirung telp. 081340499439
· Syariah ; jalan raya Melonguane telp. 081340570620
rate kapal ferry manado – melonguane talaud Rp. 160.000,- waktu tempuh + 15 jam, berlayar setiap hari kecuali hari minggu
rate pesawat udara melonguane – manado berkisar Rp. 600.000,- waktu tempu + 60 menit
penginapan dengan fasilitas AC, TV, Bathroom IDR Rp. 200.000,-
ooOoo
![]() |
| Pelabuhan Melonguane - Talaud |
![]() |
| Melonguane - Talaud |
Langganan:
Postingan (Atom)





























