Tampilkan postingan dengan label Cerita Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2018

KOMANG


 
Komang

Ini salah satu tulisan yang paling lama selesainya. Komang, Senandung Batur adalah dua judul yang sudah aku tuliskan, sudah hampir rampung tapi selalu menemui kebuntuan. Apa aku yang tidak konsen menuliskannya, atau memang kisah ini terlalu picisan. Sampai akhirnya, ini adalah draft ke tiga dengan kisah yang sama.


Komang adalah teman perjalanan saat trip di Bali beberapa tahun silam. Batur adalah danau indah di kawasan Kintamani sebagai latar cerita. Sudah bertahun-tahun lewat, namun kisah ini tak pernah selesai. Bahkan ketika aku kembali ke tanah dewata itu beberapa bulan silam, kisah Komang tetap saja menjadi rahasia yang belum selesai.

Jumat, 27 Juli 2018

CAWANG


Cawang
-Pendakian Gunung Ceremai II-

Hari ke-dua di Cileungsi. Aku berpamitan kepada tuan rumah. Seperti biasa, menit-menit terakhir aku masih saja merepotkan. Diantar sampai terminal bayangan. Jadwal yang tadinya akan ketemuan di jam 15.00, diubah menjadi satu jam lebih awal. Itu artinya sebelum Dzuhur aku sudah harus mulai menuju terminal. Terminal bayangan adalah istilah terminal kendaraan yang bukan resmi, di situ sudah ada elf, atau jenis minibus untuk rute tertentu. Terminal bayangan tempat ngetemnya elf  jurusan Cawang UKI di Cileungsi itu ada di pasar tradisional.  Pasar-pasarnya juga sebetulnya berada di bawah jembatan tol –sepertinya-, maklum aku masih sulit membedakan mana yang mereka sebut dengan underpass, fly over, atau jembatan layang. Yang aku tau, dimana ada jembatan disitu ada air sungai yang mengalir. Begitulah yang ada di tempatku.

Kamis, 07 Juni 2018

Jalan


J a l a n


Yang terlihat di sosial media memang pose-pose photo ketika sedang berada di puncak. Dengan balutan jaket outdoor ‘mahal’, rangkulan teman dari berbagai kalangan, latar belakang barisan awan hingga banner seakan bertanya ‘kamu kapan?’. Kelihatan bahagia, sumringah, ceria dan sedikit rasa bangga. Yang terlihat di sosial media memang seakan hidup hanya tentang jalan-jalan, tentang menghabiskan uang, tentang aneka kulineran. Dari satu tempat berpindah ke tempat lain, dari satu bandara hingga ke terminal keberangkatan yang lain. Yang kalian lihat di sosial media seperti parade hobi yang butuh modal, tak perlu pikir masa depan, yang penting hepi, upload photo lalu caption penuh kebanggaan.

Rabu, 02 Mei 2018

Penjahit dan Legian Street


Penjahit dan Legian Street



Penjahit tanpa nama. Mungkin tak terlalu berlebihan aku katakan demikian, karena tidak ada plang nama dan lokasi jasa jahitnya terpisah dari komplek perbelanjaan umumnya. Lebih tepatnya, dari jalan menuju komplek perbelanjaan Gusher, yang searah juga dengan lokasi wisata Hutan Mangrove Tarakan, ada satu jalan sebelah kiri tepat sebelum pintu masuk komplek Gusher, sekitar seratus meter ke dalam. Ada sebuah bangunan yang dindingnya terbuat dari susunan seng, luasnya kutaksir dua kali tiga meter saja. Disitulah penjahit itu berada.

Selasa, 30 Januari 2018

Happy Birthday





“Udah, nurut aja”.
“Ah, ini mau diapain….”.
“Udah, lewat sini teh”.
“Pelan-pelan teh, ngikut aja”.


Perempuan berkerudung putih itu dituntun oleh tiga orang temannya. Bukan karena ia buta, tapi karena kedua matanya ditutup selembar kain. Seperti biasa, suara mereka mendominasi tempat ini. Tempat yang mayoritas penghuninya adalah laki-laki. Tanpa sungkan mereka tertawa lepas. Dengan atau tanpa sengaja memperlihatkan perbuatannya.

Selasa, 23 Januari 2018

Sembalun

Laki-laki muda itu datang. Tubuh tinggi atletis, dengan balutan jaket outdoor berwarna hijau ia menghampiriku seraya menghempaskan keril besar di punggungnya. Saat itu memang hanya ada tenda kami saja di tempat tinggi itu. Ia duduk kelelahan. Rambutnya tak beraturan. Celananya berdebu. Kulit putih bersihnya sekarang ternoda. Tanpa salam pembuka, ia meminta air minum dengan santainya.




Selasa, 31 Oktober 2017

Ikrimah, Awan dan Kulit Kacang



Ikrimah, Awan dan Kulit Kacang


Tak harus menjadi kacang untuk sekadar lupa pada kulitnya. Tak harus juga menjadi musang untuk bisa berbulu domba. Kau memang hitam, tapi bukan kambing. Jadi jangan menyalahkan sesiapa atas apa yang menimpamu, apalagi masalalu.
 

Minggu, 29 Oktober 2017

Dua Cerita Dua Doa




Danau Gunung Tujuh - Jambi


Kebun teh Kayu Aro. Pagi. Aku berdiri diantara pagar tanaman sejajar, dan bunga merah merekah yang terlihat sangat padu. Rangkai pegunungan di sisi timur, letak danau indah yang akan aku tuju hari ini. Danau  di ketinggian 1.950 mdpl ini, bukan danau yang mudah dijumpai. Ia berdiam cantik di sana, jarang ada yang menyentuh sendirinya. Danau yang berdiam di dalam hutan, dan membutuhkan tenaga untuk mencapainya. Ia bukan Toba dengan segala keramaiannya, iapun bukan Batur yang dapat kau saksikan dari kursi mobil yang kau parkirkan. Ia menantangmu mendaki untuk buktikan kesungguhanmu menyentuh sejuk bening airnya.


Sabtu, 21 Oktober 2017

Kehilangan



Kehilangan



Aku mendapatkan kabar itu saat bangun pagi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Bergeming sesaat. Mengingat kembali garis usia di setiap lekuk wajahnya. Aku beranjak ke kamar mandi, lalu bersiap untuk satu qunut di dua rakaat menjelang pagi.

Kamis, 19 Oktober 2017

Brugia Malayi



Brugia Malayi

Bpk. Tulus

Brugia Malayi, baru dengar? Iya, sama. Bagus yak, jadi kepikiran nanti kalau anakku yang ke dua lahir, nama ini bisa dijadikan kandidat. Nicknamenya bisa Brug, atau Brugi. Tapi kalau Brug, kayak suara nangka jatuh dari pohon. Ngga bagus. Kalau Brugi, kayaknya susah ejaannya, ujung-ujungnya malah dipanggil rugi. Apalagi kalau panggilannya Malay, bisa dideportasi akhirnya, hehe. Ya udah, ga jadi aja ah. Ganti yang lain aja.
*intermeso

Rabu, 11 Oktober 2017

Aaasin



Empat orang anak saling berhadapan. Laki-laki dan perempuan. Empat anak berjaga di garisnya masing-masing. Empat anak lainnya berusaha untuk menerobos tanpa harus tersentuh oleh penjaga. Ini kerja tim, bukan individu. Jadi kemenangan menerobos pertahanan tak dinilai berdasarkan keberhasilan perorangan. Jika tiga anak saja yang berhasil menerobos tapi satu anak tertahan makan permainan tidak dianggap sukses, tidak disebut sebagai pemenang.


Garis dibuat di tanah berpasir. Masih berair bekas hujan semalam. Anak-anak tak memakai sandal, orang tua yang melihat tak melarang mereka bercampur dengan ‘kotoran’. Sesekali mereka bersorak. Sesekali mereka saling memberi semangat. Sesekali mereka tertawa, terjatuh kemudian bangkit kembali. Mereka berlari, mereka tertangkap. Mereka terus mengatur strategi agar bisa menembus garis akhir. Mereka selalu memulainya dengan meneriakkan satu kata.

‘Aaasin!.’

Senin, 09 Oktober 2017

Pesan Moral Sebungkus Sate Ayam



Pampers baby dry, HP titut under 300K, pasta gigi khusus yang sering ngilu, aki motor, wortel 2 Kg, Sosis kiloan, sirup obat batuk untuk anak yang 200ml rasa anggur, grip raket, terakhir powerbank yang murah tapi bagus yang tahan lama yang minimalis bentuknya. Done. Semuanya udah aku belikan. Tinggal pesanan sate ayam aja yang belinya pas nungguin speedboat mau berangkat saja. Jangan lupa, lontongnya dipisah trus jangan terlalu pedas.




Jumat, 06 Oktober 2017

SESAT



Pendakian Gunung Slamet (Part 6)
 



Di puncak.
Puncak Gunung Slamet.
Apa rasanya?
Strawberry, Green Tea, Vanilla, atau rasa rindu?
Hah. Mulai lagih.

Jumat, 22 September 2017

Bala-bala



Pendakian Gunung Slamet (Part 5)






Janji adalah utang.


Kalimat ini sering aku dengar.  Tapi secara khusus ditujukan ke aku adalah hal yang menohok, menikam dan menghujam. Kalimat itu diucapkan kakak perempuanku untukku karena batal menghadiri pernihakan puterinya beberapa waktu lalu. Sulit menjelaskan alasannya, selain menerima saja kekecewaannya. Di hari yang sama, sahabat dekatku semasa SMA menghembuskan napas terakhirnya setelah insiden lakalantas beberapa jam sebelumnya. Dan akupun tak bisa menghadiri pemakamannya.




Seperti halnya hujan

Akupun basah berurai




Aku buka kembali catatan blogku. Bukan di web, tapi di win explorer. Karena maklum saja, net benar-benar limitted edition di sini. Dan tak ingin terulang lagi bahwa janji adalah utang, maka aku berniat tuntaskan cerita Pendakian Gunung Slamet ini, right now.



Senin, 05 Desember 2016

Pesan Untuk Secangkir Kopi




2016 segera berlalu. Di tahun ini tak ada agenda mendaki gunung, tepatnya lebih satu setengah tahun. Tapi tahun ini menjadi ‘pendakian’ yang melelahkan sepanjang karirku sebagai seorang pendaki. Mendaki takdir Tuhan yang entah apakah aku mampu meraih puncaknya atau hanya terkapar di lereng hukuman kelemahanku.

Rabu, 02 November 2016

Episode Kematian


Entah wajar atau tidak, banyak yang tak mengenalnya. Ada yang mengenalnya tapi tak tau siapa namanya. Aku tak yakin mereka tak melihat rumahnya, melihat tapi enggan mencari tau siapa penghuninya. Kabar kepergiannnya, berita duka meninggalnya, barulah sebagian mereka mulai mengerti, ternyata mereka punyai tetangga yang terbaring tak berdaya bertahun-tahun lamanya.

Jumat, 19 Februari 2016

Pulang





Sepuluh tahun yang lalu, tepat berada di depanku tinggal saat itu adalah air terjun setinggi puluhan meter. Debitnya tak terlalu banyak, namun tekstur bebatuan di belakangnya dan juga rindang pepohonan kerdil membuatnya tetap terlihat indah dan megah. Terlebih lagi jika habis hujan semalam, air terjun yang tak dikenal itupun menjadi sahabat setiap pagiku saat menyapu halaman luas ini ataupun mengepel lantai papannya.

Senin, 15 Februari 2016

Sebiji Dzarrah




Sebiji dzarrah, sepuluh imbalan ataukah tujuh naungan seakan kembali menohok dan menikam mempertanyakan. Sekali lagi, ini bukan tentang seberapa kuat melalap tumpukkan kitab atau tegaknya rakaat, tetapi ini tentang sebuah aksi nyata tanpa tanya yang akan bersaing dengan kebaikan seorang pelacur yang memberikan minum pada seekor anjing yang kehausan lalu mendapatkan syurga.
 





Kamis, 17 Desember 2015

Jangan Datang Januari



Aku berdua dengannya. Berdiri tepat di tepi sungai yang tampak tenang membentang. Di seberangnya masih terjaga hutan yang sesekali terlihat anak-anak kera bermain di dahan lalu jatuh tercebur ke air sungai. Kabut tipis masih menutupi sebagian daun meranti dan tengkawang. Sebagiannya lagi menutup telinga manusia yang terbuai kelelahan berpesta pora satu malam.


Photo Pribadi | Lokasi Forestry Tarakan

Selasa, 28 Oktober 2014

Holiday is Lombok Sumbawa


Apakah saya menyesal, jera atau kapok untuk ke Pulau Lombok?



Jawabannya tentu saja, “Tidak!”.

Mengapa? Karena Holiday is Lombok Sumbawa