Selasa, 30 Januari 2018

Happy Birthday





“Udah, nurut aja”.
“Ah, ini mau diapain….”.
“Udah, lewat sini teh”.
“Pelan-pelan teh, ngikut aja”.


Perempuan berkerudung putih itu dituntun oleh tiga orang temannya. Bukan karena ia buta, tapi karena kedua matanya ditutup selembar kain. Seperti biasa, suara mereka mendominasi tempat ini. Tempat yang mayoritas penghuninya adalah laki-laki. Tanpa sungkan mereka tertawa lepas. Dengan atau tanpa sengaja memperlihatkan perbuatannya.

Selasa, 23 Januari 2018

Sembalun

Laki-laki muda itu datang. Tubuh tinggi atletis, dengan balutan jaket outdoor berwarna hijau ia menghampiriku seraya menghempaskan keril besar di punggungnya. Saat itu memang hanya ada tenda kami saja di tempat tinggi itu. Ia duduk kelelahan. Rambutnya tak beraturan. Celananya berdebu. Kulit putih bersihnya sekarang ternoda. Tanpa salam pembuka, ia meminta air minum dengan santainya.




Selasa, 31 Oktober 2017

Ikrimah, Awan dan Kulit Kacang



Ikrimah, Awan dan Kulit Kacang


Tak harus menjadi kacang untuk sekadar lupa pada kulitnya. Tak harus juga menjadi musang untuk bisa berbulu domba. Kau memang hitam, tapi bukan kambing. Jadi jangan menyalahkan sesiapa atas apa yang menimpamu, apalagi masalalu.
 

Minggu, 29 Oktober 2017

Dua Cerita Dua Doa




Danau Gunung Tujuh - Jambi


Kebun teh Kayu Aro. Pagi. Aku berdiri diantara pagar tanaman sejajar, dan bunga merah merekah yang terlihat sangat padu. Rangkai pegunungan di sisi timur, letak danau indah yang akan aku tuju hari ini. Danau  di ketinggian 1.950 mdpl ini, bukan danau yang mudah dijumpai. Ia berdiam cantik di sana, jarang ada yang menyentuh sendirinya. Danau yang berdiam di dalam hutan, dan membutuhkan tenaga untuk mencapainya. Ia bukan Toba dengan segala keramaiannya, iapun bukan Batur yang dapat kau saksikan dari kursi mobil yang kau parkirkan. Ia menantangmu mendaki untuk buktikan kesungguhanmu menyentuh sejuk bening airnya.


Sabtu, 21 Oktober 2017

Kehilangan



Kehilangan



Aku mendapatkan kabar itu saat bangun pagi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Bergeming sesaat. Mengingat kembali garis usia di setiap lekuk wajahnya. Aku beranjak ke kamar mandi, lalu bersiap untuk satu qunut di dua rakaat menjelang pagi.

Kamis, 19 Oktober 2017

Brugia Malayi



Brugia Malayi

Bpk. Tulus

Brugia Malayi, baru dengar? Iya, sama. Bagus yak, jadi kepikiran nanti kalau anakku yang ke dua lahir, nama ini bisa dijadikan kandidat. Nicknamenya bisa Brug, atau Brugi. Tapi kalau Brug, kayak suara nangka jatuh dari pohon. Ngga bagus. Kalau Brugi, kayaknya susah ejaannya, ujung-ujungnya malah dipanggil rugi. Apalagi kalau panggilannya Malay, bisa dideportasi akhirnya, hehe. Ya udah, ga jadi aja ah. Ganti yang lain aja.
*intermeso

Rabu, 11 Oktober 2017

Aaasin



Empat orang anak saling berhadapan. Laki-laki dan perempuan. Empat anak berjaga di garisnya masing-masing. Empat anak lainnya berusaha untuk menerobos tanpa harus tersentuh oleh penjaga. Ini kerja tim, bukan individu. Jadi kemenangan menerobos pertahanan tak dinilai berdasarkan keberhasilan perorangan. Jika tiga anak saja yang berhasil menerobos tapi satu anak tertahan makan permainan tidak dianggap sukses, tidak disebut sebagai pemenang.


Garis dibuat di tanah berpasir. Masih berair bekas hujan semalam. Anak-anak tak memakai sandal, orang tua yang melihat tak melarang mereka bercampur dengan ‘kotoran’. Sesekali mereka bersorak. Sesekali mereka saling memberi semangat. Sesekali mereka tertawa, terjatuh kemudian bangkit kembali. Mereka berlari, mereka tertangkap. Mereka terus mengatur strategi agar bisa menembus garis akhir. Mereka selalu memulainya dengan meneriakkan satu kata.

‘Aaasin!.’

Senin, 09 Oktober 2017

Pesan Moral Sebungkus Sate Ayam



Pampers baby dry, HP titut under 300K, pasta gigi khusus yang sering ngilu, aki motor, wortel 2 Kg, Sosis kiloan, sirup obat batuk untuk anak yang 200ml rasa anggur, grip raket, terakhir powerbank yang murah tapi bagus yang tahan lama yang minimalis bentuknya. Done. Semuanya udah aku belikan. Tinggal pesanan sate ayam aja yang belinya pas nungguin speedboat mau berangkat saja. Jangan lupa, lontongnya dipisah trus jangan terlalu pedas.




Jumat, 06 Oktober 2017

SESAT



Pendakian Gunung Slamet (Part 6)
 



Di puncak.
Puncak Gunung Slamet.
Apa rasanya?
Strawberry, Green Tea, Vanilla, atau rasa rindu?
Hah. Mulai lagih.

Jumat, 22 September 2017

Bala-bala



Pendakian Gunung Slamet (Part 5)






Janji adalah utang.


Kalimat ini sering aku dengar.  Tapi secara khusus ditujukan ke aku adalah hal yang menohok, menikam dan menghujam. Kalimat itu diucapkan kakak perempuanku untukku karena batal menghadiri pernihakan puterinya beberapa waktu lalu. Sulit menjelaskan alasannya, selain menerima saja kekecewaannya. Di hari yang sama, sahabat dekatku semasa SMA menghembuskan napas terakhirnya setelah insiden lakalantas beberapa jam sebelumnya. Dan akupun tak bisa menghadiri pemakamannya.




Seperti halnya hujan

Akupun basah berurai




Aku buka kembali catatan blogku. Bukan di web, tapi di win explorer. Karena maklum saja, net benar-benar limitted edition di sini. Dan tak ingin terulang lagi bahwa janji adalah utang, maka aku berniat tuntaskan cerita Pendakian Gunung Slamet ini, right now.



Senin, 05 Desember 2016

Pesan Untuk Secangkir Kopi




2016 segera berlalu. Di tahun ini tak ada agenda mendaki gunung, tepatnya lebih satu setengah tahun. Tapi tahun ini menjadi ‘pendakian’ yang melelahkan sepanjang karirku sebagai seorang pendaki. Mendaki takdir Tuhan yang entah apakah aku mampu meraih puncaknya atau hanya terkapar di lereng hukuman kelemahanku.

Rabu, 02 November 2016

Episode Kematian


Entah wajar atau tidak, banyak yang tak mengenalnya. Ada yang mengenalnya tapi tak tau siapa namanya. Aku tak yakin mereka tak melihat rumahnya, melihat tapi enggan mencari tau siapa penghuninya. Kabar kepergiannnya, berita duka meninggalnya, barulah sebagian mereka mulai mengerti, ternyata mereka punyai tetangga yang terbaring tak berdaya bertahun-tahun lamanya.

Kamis, 29 September 2016

JATUH


Yang aku ingat, ia seorang kepala keluarga yang sukses. Sukses mengumpulkan materi berlimpah. Jika perempuan pun dikategorikan materi, maka itupun ikut berlimpah. Kesuksesannya kini tak tersisa di penghujung akhir usianya.


Ia kini terbaring lemah tak berdaya. Di rumah dinas. Bukan lagi di rumah-rumah pribadinya yang bertingkat dan berjumlah banyak. Ia direbahkan di ruang tamu, berselimut kain panjang. Berteman minyak angin dan balsam. Sebuah ember dari bekas cat air. Dan sebotol air minum di bekas botol air mineral.


Hilang sudah kemewahan
Hilang sudah kegagahan
Hilang sudah pongah
Hilang sudah kesombongan


***

Jumat, 19 Februari 2016

Pulang





Sepuluh tahun yang lalu, tepat berada di depanku tinggal saat itu adalah air terjun setinggi puluhan meter. Debitnya tak terlalu banyak, namun tekstur bebatuan di belakangnya dan juga rindang pepohonan kerdil membuatnya tetap terlihat indah dan megah. Terlebih lagi jika habis hujan semalam, air terjun yang tak dikenal itupun menjadi sahabat setiap pagiku saat menyapu halaman luas ini ataupun mengepel lantai papannya.

Senin, 15 Februari 2016

Sebiji Dzarrah




Sebiji dzarrah, sepuluh imbalan ataukah tujuh naungan seakan kembali menohok dan menikam mempertanyakan. Sekali lagi, ini bukan tentang seberapa kuat melalap tumpukkan kitab atau tegaknya rakaat, tetapi ini tentang sebuah aksi nyata tanpa tanya yang akan bersaing dengan kebaikan seorang pelacur yang memberikan minum pada seekor anjing yang kehausan lalu mendapatkan syurga.