Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2018

Saatnya Pulang


Saatnya Pulang
-Pendakian Gunung Ceremai V Habis-



Beberapa saat di puncak Gunung Ceremai. Angin bertiup kencang. Beberapa pendaki mulai berdatangan. Matahari bersinar tanpa terhalang. Kami masih berjalan santai mengitari bibir kawah. Puncak ini luas, jadi meskipun banyak pendaki yang berdatangan tidak terlalu merepotkan. Kami beberapa saat kembali bersiap untuk kembali turun dan menuju tenda. Puji syukur kehadirat Tuhan, kami bisa di tanah tertinggi dengan selamat. Selanjutnya, kami masih harus tetap berkonsentrasi agar tetap selamat hingga di gerbang pendakian.


Rabu, 08 Agustus 2018

Menuju Puncak Gunung Ceremai


Menuju Puncak Gunung Ceremai
-Pendakian Gunung Ceremai IV_




Pagi di Desa Argalingga. Di lereng Gunung Ceremai. Kami di rumah Kang Didik, driver yang akan mengantar kami hingga ke pintu pendakian jalur Apuy. Saat subuh tadi aku dan Bang Togi sudah meramaikan rumah ini. Hanya Vicky yang saat itu menyambut. Selainnya masih meneruskan istirahat mereka. Hingga pagi menjelang, satu persatu kami saling mengenalkan diri.

Selasa, 07 Agustus 2018

Empal Gentong


Empal Gentong
-Pendakian Gunung Ceremai III-

Berangkat dari rest area. Perjalanan menuju Kabupaten Cirebon dilanjutkan. Kali ini Bang Togi yang menyetir. Sepanjang jalan kami bercerita, bernostalgia. Tiga tahun lalu, saat perjalanan dari Bandung menuju Desa Bambangan, desa di kaki Gunung Slamet – Jawa Tengah, hanya mas Rudy yang menyetir kendaraan, pergi pulang. Namun kali ini, Bang Togi sudah bisa nyetir sendiri, bahkan beberapa waktu lalu sudah menjajal tanah Sumatera hingga ke Sumatera Utara.

Jumat, 27 Juli 2018

CAWANG


Cawang
-Pendakian Gunung Ceremai II-

Hari ke-dua di Cileungsi. Aku berpamitan kepada tuan rumah. Seperti biasa, menit-menit terakhir aku masih saja merepotkan. Diantar sampai terminal bayangan. Jadwal yang tadinya akan ketemuan di jam 15.00, diubah menjadi satu jam lebih awal. Itu artinya sebelum Dzuhur aku sudah harus mulai menuju terminal. Terminal bayangan adalah istilah terminal kendaraan yang bukan resmi, di situ sudah ada elf, atau jenis minibus untuk rute tertentu. Terminal bayangan tempat ngetemnya elf  jurusan Cawang UKI di Cileungsi itu ada di pasar tradisional.  Pasar-pasarnya juga sebetulnya berada di bawah jembatan tol –sepertinya-, maklum aku masih sulit membedakan mana yang mereka sebut dengan underpass, fly over, atau jembatan layang. Yang aku tau, dimana ada jembatan disitu ada air sungai yang mengalir. Begitulah yang ada di tempatku.

Jumat, 25 Mei 2018

Sehari di Cileungsi


Sehari di Cileungsi
-pendakian gunung ceremai bagian 1-



“Mas Iman, ayok ke Binaiya, buka WA ya”. Begitulah SMS yang tertulis di hapeku.
Aku membalas pesan singkat itu dengan singkat, ‘siap mas’. Lalu mengaktifkan kembali aplikasi whatsapp-ku. Butuh sedikit perjuangan untuk mengkonekkan ke jaringan internet, namun tak menjadi masalah. Setelah wasap aktif, barulah pesan dari mas Rudy yang berisi itinerary pendakian aku terima.



Jumat, 06 Oktober 2017

SESAT



Pendakian Gunung Slamet (Part 6)
 



Di puncak.
Puncak Gunung Slamet.
Apa rasanya?
Strawberry, Green Tea, Vanilla, atau rasa rindu?
Hah. Mulai lagih.

Jumat, 22 September 2017

Bala-bala



Pendakian Gunung Slamet (Part 5)






Janji adalah utang.


Kalimat ini sering aku dengar.  Tapi secara khusus ditujukan ke aku adalah hal yang menohok, menikam dan menghujam. Kalimat itu diucapkan kakak perempuanku untukku karena batal menghadiri pernihakan puterinya beberapa waktu lalu. Sulit menjelaskan alasannya, selain menerima saja kekecewaannya. Di hari yang sama, sahabat dekatku semasa SMA menghembuskan napas terakhirnya setelah insiden lakalantas beberapa jam sebelumnya. Dan akupun tak bisa menghadiri pemakamannya.




Seperti halnya hujan

Akupun basah berurai




Aku buka kembali catatan blogku. Bukan di web, tapi di win explorer. Karena maklum saja, net benar-benar limitted edition di sini. Dan tak ingin terulang lagi bahwa janji adalah utang, maka aku berniat tuntaskan cerita Pendakian Gunung Slamet ini, right now.



Rabu, 21 Oktober 2015

Hap Hap Hap

Pendakian Gunung Slamet (Part 4)

 
Mas Rudy San beraksi sebelum mendaki

Kami tiba di gerbang pendakian, meminggirkan kendaraan di halaman basecamp. Masih pukul tiga dini hari. Kami beristirahat sejenak di dalam gedung basecamp. Bangunan ini seluas lapangan basketball, lantainya berkeramik dan bagian belakang terdapat toilet yang tak terurus. Aku mengambil matras dan sleepingbag. Masing-masing kami mencari tempat beristirahat hingga terdengarlah suara-suara tenggorokan bagaikan sebuah tangga nada yang rusak.

#Rrroookkkk…ngggroookkkk……

My Sleep My Adventure!


***

Minggu, 11 Oktober 2015

ON THE WAY



Pendakian Gunung Slamet (Part 3)

Puncak Slamet dari Desa Bambangan

Actually, bukan ga mau lanjutin kisah terdahulu, cuman seperti biasa mood bisa menjadi ga support begitu. Entah karena kesibukan (halah…), atau memang ngga punya ide. Tapi sebetulnya yang bikin badmood kalo mau lanjutin tulisan itu ya karena minim fasilitas itu tadi. Posisi ane yang di pedaleman dengan BTS EDGE yang kadang hilang kadang kenceng dan terkadang samar-samar kurasakan itu bikin semua draft nulis menjadi tersimpan rapi saja di folder explorer. Contohnya, ada dua tulisan ane nih gan yang mau diikutin blog competition trus ga jadi dipublish gegara ga ada net. Tapi ane biasa aja koq, keep calm and keep writing. #menghiburdiri

Well, jadi sebetulnya mood bisa jadi baik itu karena ada yang memang nungguin kisah kelanjutan dari story ane sebelumnya. Ternyata ada juga yang nungguin cerita ane, dan itu bikin semangat nulis muncul lagi. Dan ane janji akan buatin kisah selanjutnya. Ini ane nulisnya masih di camp tempat ane kerja gan, hari minggu, abis nyuci, abis olahraga pagi juga, dan ditemani secangkir kopi manis semanis wajah ane, kita mulai lah tulisan ini tentang Pendakian Gunung Slamet Bagian 3.


***

Selasa, 23 Juni 2015

Bersedekap Di Al Irsyad




Pendakian Gunung Slamet (Part II)



Dalam gelap dan dingin kami meninggalkan mobil di halaman gedung basecamp, lalu mendekati gerbang Selamat Datang. Kami penasaran dengan banner yang tertulis di bawahnya.

“MAAF!!!, PENDAKIAN DITUTUP”
#deg


***

Senin, 15 Juni 2015

Semalam Dulu Di Bandung

Pendakian Gunung Slamet (Part I)



Desa Bambangan, Purbalingga. Sabtu, 06 Juni 2015 Jam 3 pagi.
“Benar, ini dia gerbang pendakiannya”
“Sudah sampai”
“Kita istirahat sejenak”
Suhu udara cukup membuat kupluk harus segera dipakai. Perjalanan hampir 8 jam berakhir dengan bertemunya kami dengan gerbang pendakian seperti yang kami lihat di blog-blog perjalanan. Kami berempat memang belum ada yang pernah ke tempat ini. Bermodal GPS di mobil, google map di handphone dan juga tanya orang di pinggir jalan, akhirnya menuntaskan perjalanan kami menuju Gunung Slamet.

Dalam gelap dan dingin kami meninggalkan mobil di halaman gedung basecamp, lalu mendekati gerbang Selamat Datang. Kami penasaran dengan banner yang tertulis di bawahnya.

“Maaf!!!, pendakian ditutup”
#deg


***

Minggu, 21 September 2014

Dua Lawu Satu Rasa

Dua memang bukan berarti satu, bukan berarti tak bisa tiga, delapan atau dua belas. Dua adalah angka dimana aku dan dia seperti satu, seperti tiga atau dua belas. 

Dua itu bilangan yang berjanji di depan altar nan suci, bilangan yang mendiami atala pertama kali, bilangan yang akan mempertahankan eksistensi. 

Dua itu adalah kami saat melangkah pelan dan tertatih, saat diam menikmati air langit membaca tasbih, saat dua iftirosy bergantian menyimpuh bumi. 

Kami hanya berdua saat menjenguk lawu. Meski berdua tapi kami hanya memiliki satu rasa. Meski tak ada orang ketiga tapi kami mampu memutuskan perbedaan menjadi sama. Meski hanya berdua pendakian ini sama serunya saat aku mendaki bersama delapan atau dua belas kepala.


 ***

Rabu, 10 September 2014

Senyum Indah Sindara




Senyum itu

Begitu indah

Mengalahkan indahnya 
Bunga-bunga di Puncak Sindara





Dari bumi kalimantan pendakian ini aku mulai. Menuju Kota Purwakarta terlebih dahulu untuk bertemu seorang teman yang selanjutnya menggunakan kereta api jurusan Kota Purwakerto – Jawa Tengah. Pendakian kali ini, aku bergabung dengan Komunitas Narkopian, satu komunitas dengan ciri khas ritual ngopi untuk merekatkan pertemanan.

Minggu, 24 Agustus 2014

Jakarta


Pertamax, wiskul Soto Betawi dengan stiker Samarinda Backpacker


Kali ini penyanyi bis kota itu tidak aku berikan receh, aku masih ingat benar wajah dan suaranya. Penyanyi ini, adalah penyanyi yang sama ketika aku menumpang di bis kota menuju Blok M Jakarta. Temanku tertawa kecil saja mengiyakan ceritaku saat aku bercerita di dalam tenda pada pendakian sebuah gunung di Jawa Timur. Dua temanku itu, memang berasal dari ibukota, mereka sesekali tertawa geli mendengar ceritaku tentang kehidupan ibukota saat aku memampiri kota tersebut dalam backpackeranku selama tiga puluh hari di awal tahun ini. Tigapuluh hari aku meninggalkan kediamanku di kalimantan untuk mendaki gunung dan menuju beberapa spot keindahan yang ada di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, dan diantara perjalanan itu, aku menyinggahi Kota Jakarta beberapa kali untuk beristirahat dan menjalani kehidupan ‘normal’ untuk mempersiapkan rute selanjutnya. Beruntung, aku telah mengenal seorang teman yang terhubung dari komunitas backpacker regional samarinda, yang menyediakan kediamannya selama aku berada di Jakarta.

Jumat, 18 April 2014

Meminjam Catatan Ilalang

Hanya atas Kasih-Nya
Hanya atas kehendak-Nya
Kita masih bertemu matahari

Kepada rumpun ilalang
Kepada bintang gemintang
Kita dapat mencoba
Meminjam catatannya





Syair-syair lawas Ebit G. Ade, seakan terus mempertanyakan arti perjalanan yang saat itu aku tempuh. Di beberapa kesempatan, dalam sebuah moda perjalanan, tembang-tembang balada tersebut aku jadikan teman setia sambil menyusun rangkai narasi yang nantinya aku tuliskan. Dulu, aku tak terlalu tertarik dengan lagu-lagu penyanyi asal Banjarnegara tersebut, namun belakangan, kata demi kata yang ia nyanyikan, seakan menanti terjemahan yang tak akan pernah ada habis kata mengulasnya.

Jumat, 17 Januari 2014

Checklist Perlengkapan Pendakian



Kali ini saya berbagi tulisan tentang checklist Perlengkapan Peralatan dan Logistik Pendakian. Tentu saja tulisan ini tidak mewakili standart yang diharuskan, karena checklist ini adalah pengalaman saya saja, yang saya peroleh dari teman-teman pendaki yang lebih banyak pengalaman dan pengetahuannya. Saya selalu membuat catatan ini, agar tidak ada barang-barang yang tertinggal.

Checklist perlengkapan pendakian sangat penting, apalagi jika teman-teman yang akan mendaki berbeda tempat tinggal di beda daerah. Yang paling penting adalah komunikasi, dan tidak meremehkan kondisi gunung yang akan dituju. Buatlah estimasi cuaca buruk sekalipun, sehingga jika di lapangan bertemu dengan hal tersebut, sudah bisa diantisipasi.
  
Checklist ini hanya untuk barang pribadi saya saja, atau dari pengalaman saya. Agar tidak lupa dan siapa tahu ada manfaatnya. Postingan ini boleh dikritisi siapa saja.

Berikut Checklist Perlengkapan Pendakian :

Rabu, 29 Mei 2013

Lawang Sewu, Seribu Pintu (?)

Buat penggemar film-film indonesia bergenre horror, mungkin tak asing dengan Lawang Sewu. Bentuk bangunan klasik yang unik biasa dijadikan setting untuk film-film nasional atau juga pemotretan. Acara televisi swasta yang bertema serupa juga tak ketinggalan mengekspos bangunan bersejarah ini. Lawang Sewu, bangunan tua yang berada di pusat kota Semarang dulunya merupakan kantor pada masa pemerintahan Belanda. Setelahnya digunakan pemerintah indonesia sebagai kantor Jawatan Kereta Api atau yang sekarang dikenal PT. KAI. Anda yang ingin melihat langsung detail bangunan bersejarah tersebut harus menggunakan jasa guide yang telah disiapkan untuk para pengunjung.

Lawang Sewu atau yang berarti Pintu Seribu, bukanlah berarti bahwa bangunan tersebut memiliki pintu sejumlah seribu, tetapi banyaknya pintu dan jendela berukuran besar layaknya pintu membuat bangunan panjang dan bertingkat tersebut seperti memiliki seribu pintu. Anda tertarik menghitungnya? silakan saja.






Sam Poo Kong


Sedang berada di China? ahaa bukan, ini Semarang - Jawa Tengah. Sam Poo Kong adalah nama sebuah Klenteng. Dulunya tempat ini merupakan lokasi persinggahan seorang laksamana Tiongkok yang beragama islam yang bernama Cheng Ho.

Selasa, 28 Mei 2013

Candi Arjuna - Jawa Tengah


Candi Arjuna masih dalam satu kawasan Dieng Plateu - Jawa Tengah. Dan masih dalam satu komplek percandian Arjuna. Disebut komplek karena di sekitarnya masih terdapat candi-candi lain seperti Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Candi Arjuna memang tak sebesar candi Prambanan ataupun si tenar Borobudur. Tetapi jujur saja, saya lebih jatuh cinta dengan candi ini karena bentuknya yang imut dan berada di hamparan perkebunan dataran tinggi yang membuat penampilan candi ini menjadi lebih indah. Ditemani kentang goreng tradisional, menikmati setiap detail taman Candi Arjuna membuat saya ingin terus membanggakan kekayaan budaya bangsa ini.

Telaga Warna Dieng


Kalau ke tempat seperti ini, siapkan sapu tangan. Loh... Iya, soalnya tempat yang indah seperti Telaga Warna yang berada di Dataran Tinggi Dieng Jawa Tengah ini, biasa dijadikan latar pemotretan. Nah, jika pemotreannya jenis photo keluarga mungkin saputangan anda tidak akan berfungsi. Tetapi bagaimana jika Telaga dengan warna air Hijau ini menjadi latar pemotretan dua insan yang tengah dilanda cinta *ada love love di atas kepala. Yup. ini pengalaman saya bersama travelmate saya ketika berputar mengitari Telaga ini. Ada sepasang manusia yang sedang berpose mesra *pake banget, di hampir setiap sudut telaga. Kita memang tidak sedang memperhatikan mereka, tetapi keramahan mereka membuat kita membalasnya dengan senyuman ramah juga. Sempat berbincang sedikit, sekadar basa-basi karena mereka yang mengenalkan diri. Saya bertanya, apakah mereka akan melangsungkan pernikahan, mengingat di era belakangan ini, pasangan yang akan menikah biasanya membuat photo mesra terlebih dahulu untuk dipajang di surat undangan pernikahan. Tetapi, tebakan saya keliru, mereka menjawab bahwa mereka berphoto untuk bersenang-senang saja. Saya tersenyum dan pamit meninggalkan mereka melanjutkan kemesraannya. Lantas, apa hubungannya dengan saputangan seperti yang saya tuliskan di awal tulisan? hem... barangkali saja, anda yang bersendiri ke tempat ini, ketika melihat sepasang belilbis sedang bermesraan anda teringat akan masa silam anda yang penuh dengan kesedihan, maka saputangan tersebut setidaknya bisa membantu mengeringkan wajah anda dari tetesan air mata anda. Hehe, rada ngawur yak, tetapi mungkin bermanfaat juga, karena Telaga ini sungguh tepat untuk anda yang sedang memadu cinta setelah pernihakan. Jika anda memadunya sebelum pernikahan, maka keindahan itu bukanlah keindahan yang dibenarkan.