Tampilkan postingan dengan label Sungai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sungai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Desember 2015

Jangan Datang Januari



Aku berdua dengannya. Berdiri tepat di tepi sungai yang tampak tenang membentang. Di seberangnya masih terjaga hutan yang sesekali terlihat anak-anak kera bermain di dahan lalu jatuh tercebur ke air sungai. Kabut tipis masih menutupi sebagian daun meranti dan tengkawang. Sebagiannya lagi menutup telinga manusia yang terbuai kelelahan berpesta pora satu malam.


Photo Pribadi | Lokasi Forestry Tarakan

Jumat, 18 April 2014

Meminjam Catatan Ilalang

Hanya atas Kasih-Nya
Hanya atas kehendak-Nya
Kita masih bertemu matahari

Kepada rumpun ilalang
Kepada bintang gemintang
Kita dapat mencoba
Meminjam catatannya





Syair-syair lawas Ebit G. Ade, seakan terus mempertanyakan arti perjalanan yang saat itu aku tempuh. Di beberapa kesempatan, dalam sebuah moda perjalanan, tembang-tembang balada tersebut aku jadikan teman setia sambil menyusun rangkai narasi yang nantinya aku tuliskan. Dulu, aku tak terlalu tertarik dengan lagu-lagu penyanyi asal Banjarnegara tersebut, namun belakangan, kata demi kata yang ia nyanyikan, seakan menanti terjemahan yang tak akan pernah ada habis kata mengulasnya.

Kamis, 27 Maret 2014

Surat Untuk Kalet

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan yang berjudul Namaku Kalet sebagai Pemenang Ke-2 Lomba Penulisan Blog Hutan oleh Greenpeace Indonesia.


Dear Kalet.

Apa kabar di sana? Semoga bumi kalimantan masih hijau dan bertajuk tinggi. Yak, bukan sekadar hijau, seperti tanah Riau, tetapi juga harus memiliki batang pohon yang tinggi, ranting yang lebar serta ragam tanaman yang berbeda. Bumi Riau memang masih hijau, hanya saja Om Nugie jadi kuatir, dimanakah kawanan Owa yang terbiasa bermain di dahan berada, begitu juga dengan Rangkong yang lebih senang berada di pucuk-pucuk tertinggi.

Di satu kesempatan, Om Nugie berbicara banyak dengan Pak Dahlan warga Desa Dosan Kabupaten Siak, Riau. Di tengah hamparan kebun sawit ramah lingkungan yang luas, Pak Dahlan perlihatkan sebuah hutan kecil dimana ada danau di tengahnya. Nama danau ini Naga Sakti, lucu ya… mirip nama tokoh kartun yang biasa Kalet tonton. Nanti kalau Om Nugie sudah sampai di Borneo, akan Om ceritakan kenapa namanya Naga Sakti. Saat ini yang ingin Om katakan, bahwa kita di Borneo harus banyak-banyak bersyukur karena masih bisa melihat keindahan pohon yang tinggi dan banyak di sekitar tinggal kita. Sungguh, apa yang diperlihatkan Pak Dahlan saat itu membuat Om Nugie merasa sangat prihatin dengan kondisi di sana. Bagaimana tidak, hutan kecil dengan danau kecil*) menjadi satu-satunya lokasi ‘penghibur’ diantara bergantinya hutan dengan kebun-kebun sawit yang luas.

Danau Naga Sakti

Sabtu, 15 Februari 2014

Namaku Kalet



Kalet (kiri)
Namaku Kalet. Sekarang aku sudah bersekolah. Kelas 1 di  SD Negeri Tangap - Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Diantara teman-teman di hulu (sebutan nama desaku yang jauh disana), hanya aku dan Tius saja yang bersekolah. Selainnya, belum dibolehkan oleh orangtuanya. Aku dan Tius beruntung, karena Ayah kami bekerja di Perusahaan HPH di hilir (sebutan lokasi perusahaan yang ramai). Di tempat kerja itu, kami diberi rumah tinggal oleh perusahaan yang kegiatannya menebang kayu. Dari mess itu lah, kami bisa bersekolah ke SD yang tak jauh dari mess perusahaan. Sedangkan di hulu, tidak ada sekolah.

Rabu, 30 Mei 2012

Tideng Pale, si Bukit Hambar


Tideng Pale (baca ; Tidung Pala), adalah kota kabupaten termuda di propinsi Kalimantan Timur, kabupaten Tana Tidung atau lebih akrab disebut dengan KTT. Artikel saya kali ini memang tidak sedang mempublish potret daerah dengan keunggulan wisata, karena memang daerah ini belum bisa menjual daerah wisata meski sebenarnya dapat dikembangkan. Kabupaten ini dibentuk tanggal 17 Juli 2007 dengan pelantikan pejabat bupati pertamanya di tanggal 18 Januari 2010. (source : Wikipedia)

Kabupaten ini memiliki luas 4.828,58 km2, tersebar di tiga kecamatan. Sementara kota kabupaten Tideng Pale sendiri, adalah ‘kota’ kecil yang cukup berjalan kaki saja anda dapat mengitari setiap sudutnya. Menyusuri setiap sudutnya, anda akan disuguhi potret daerah yang tengah berbenah. Terlihat beberapa kontruksi bangunan yang sedang dikerjakan, terlihat alat berat yang sedang membangun jalan dan terpampang beberapa papan plakat untuk menerangkan akan dibangunnya bangunan mewah di areal yang masih kosong.


Selasa, 06 September 2011

Tanjung Selor - Bulungan

Sharing cerita perjalanan kali akan mengangkat wajah Kota Tanjung Selor sebagai Ibukota Kabupaten Bulungan Propinsi Kalimantan Timur. Jarak dari Desa Sekatak Buji Kecamatan Sekatak hunian saya saat ini adalah sejauh +120 km. Tulisan cerita perjalanan kali ini adalah perjalanan yang saya lalui pada hari minggu silam atau H-2 hari raya idul fitri 1432 hijriah. Tujuan ke kota kabupaten kali ini adalah untuk berbelanja kebutuhan lebaran, sebagai tradisi semua umat muslim untuk merayakan hari kemenangan.

Sinar mentari belum menyengat, bahkan belum mampu mengusir kabut pagi diantara pepohonan di kiri kanan jalan poros trans Kalimantan, ketika saya dan bersama beberapa orang teman menerobos keheningan pagi menuju kota Tanjung Selor. Kondisi jalan masih mengharuskan pengemudi ekstra waspada, karena di beberapa titik terdapat longsoran yang membuat badan jalan menjadi berkurang lebarnya. Juga beberapa lokasi yang terdapat kondisi jalan telah rusak berat dan akan semakin parah jika di musim hujan, kemudian kondisi aspal yang telah tergerus dan berlubang.


Sepanjang perjalanan hanya tampak lahan kosong yang tak terlihat lagi pohon-pohon dengan tampuk besar, areal sepanjang perjalanan adalah bekas tebangan yang kini telah berubah menjadi lahan kosong dan juga lahan tidur. Hanya ada beberapa lokasi, lahan-lahan tersebut berfungsi sebagai kebun warga sekitar, meski luasnya tak seberapa. Di beberapa lokasi juga tampak hamparan kebun kelapa sawit yang masih berusia muda. Selain itu, tentu saja pemandangan perkampungan di pedalaman Kalimantan dapat menjadi alternatif pandangan anda selama perjalanan. Di antara perkampungan yang dilalui diantaranya Desa Mentadau, Sekatak Bengara dan Pimping. Ketika akan memasuki Kota Tanjung Selor tepatnya dekat jembatan teras terdapat aliran air gunung yang dialirkan dari sebilah bambu. Para pengendara yang melewati jalan ini biasanya berhenti sejenak untuk sekedar beristirahat atau membersihkan wajah dengan air yang sejuk dan bening ini.


Memasuki Kota Tanjung Selor dimulai dengan melewati jembatan sungai Kayan yang menghubungkan Kecamatan Tanjung Palas dan Kota Tanjung Selor. Tanjung Palas merupakan kecamatan dimana Kesultanan Bulungan dulunya mengelola kerajaannya. Di lokasi ini juga terdapat museum untuk menyimpan benda-benda peninggalan Kerajaan Bulungan.


Kota Tanjung Selor adalah kota yang tenang dan nyaman. Kota dengan penduduk kisaran 20.000 jiwa ini sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pegawai negeri sipil. Belum terlihat bangunan-bangunan tinggi di kota ini, namun jalan-jalan yang lebar dan bersih tampak asri karena volume kendaraan yang melintas tak terlalu ramai di kota ini.


Salah satu pusat keramaian di kota ini adalah pasar induk. Disinilah aktivitas masyarakat terkonsentrasi. Walau hanya sebuah pasar tradisional dengan jumlah kios yang tak terlalu banyak tetapi berbelanja di pasar ini terasa nyaman. Lantai bangunan pasar yang berkeramik, area parkir kendaraan yang luas dan taman kecil di bagian depan pasar dapat menciptakan kondisi pasar menjadi terlihat asri dan teduh.


Beberapa alternatif lokasi wisata di kota ini adalah tepian kota, karena Kota Tanjung Selor merupakan kebudayaan sungai, tentu saja kita dapat berkeliling kota di jalan ini dengan view landscape bantaran sungai yang membentang. Warga kota juga biasa berlibur ke Batu Putih Tanjung Palas, sebuah bukit batu kapur berwarna putih dengan paduan relief-relief yang indah. Terdapat anak tangga menuju puncak bukit yang terjal. Dari puncak akan terlihat hamparan Kota Tanjung Selor dan sungai Kayan tentunya. Batu Putih atau Gunung Putih dipercaya masyarakat sebagai tempat bertafakkurnya Sultan Bulungan di masa lalu.


Selain Gunung Putih, terdapat lokasi wisata air terjun Long Pin dan air terjun Idaman di Km 18, sumber air panas Sajau dan juga sungai-sungai khas pedalaman yang bisa anda jadikan lokasi untuk berarung jeram, salah satunya adalah sungai Giram di Kecamatan Peso.

ooOoo



Legenda Puteri dalam Telur


Jika anda menyusuri jalan utama kota ini di salah satu pertigaan ada sebuah tugu dimana diatas tugu  tersebut dibentuk sebuah patung telur pecah dan di dalamnya berdiri seorang puteri. Konon, puteri tersebut adalah mitologi warga yang merupakan cikal bakal berdirinya Kesultanan Bulungan.


Tersebutlah legenda kepala adat suku Dayak Kayan yang tinggal di hilir Sungai Kayan. Hingga usianya telah lanjut sang kepala desa belum juga dikaruniai keturunan. Pada suatu hari sang kepala adat pergi berburu ke hutan. Di dalam hutan sang kepala adat tersebut menemukan sebutir telur dan sebilah bambu, yang kemudian dibawanya pulang dan diletakkan di dekat perapian dapur rumahnya. Keesokan harinya kedua benda tersebut berubah manjadi dua sosok bayi mungil. Bayi laki-laki dan bayi perempuan. Kejadian ini disebut sebagai bulongan yang berarti bambo dan telur, yang pada akhirnya menjadi nama Bulungan. Kedua bayi mungil tersebut dipelihara hingga dewasa dan dinikahkan. Keturunan dari pasangan inilah yang kelak menjadi Sultan Bulungan.


Legenda, tetaplah menjadi cerita. Tak perlu mencari kesahihan dan maraji’nya. Legenda, biarlah menjadi kekayaan budaya yang hampir punah meski di tanah asal muasal lahirnya kebudayaan itu sendiri. Tulisan yang saya tulis bersumber dari cerita seorang teman yang berasal dari Kecaamatan Tanjung Palas, yang bertutur selama perjalanan menyusuri jalan di Kabupaten Bulungan. Tentu saja saya tambal sulam dengan referensi cerita dari sumber lainnya. Kepada teman-teman yang memahami cerita dibalik tugu dengan bantuk patung telur dan puteri yang terdapat di perempatan jalan di Kota Tanjung Selor, saya persilakan untuk merevisi jika cerita yang saya tulis ini masih terdapat kekeliruan.


ooOoo


Hari telah sore, saya dan bersama teman-teman bergegas kembali ke desa tercinta, Sekatak Buji. Satu hal yang dapat saya simpulkan, bahwa peradaban di daerah ini telah ada begitu tuanya. Namun tak terlihat ada pembangunan yang selaras dengan kekayaan budaya apalagi kekayaan alam daerahnya. Entahlah.


 ooOoo

Album Tanjung Selor :
Tanjung Selor....Kota yang nyaman
Pasar Induk Tanjung Selor
Tugu Puteri Dalam Telur
Crown Palace Square
Jalan Raya Kota Tanjung Selor
ooOoo

Senin, 27 Desember 2010

Natal di Desa Mentarang


Gerimis menyelimuti hamparan Desa Sekatak, mulai jam tiga pagi hingga kini ngga reda juga, padahal sudah jam 6.30 pagi. Hari libur ini sepertinya tidak bersahabat dengan meraka yang ingin merencanakan liburannya ke pantai atau gunung.
Jam segini Pak Rasid -teman kerja- ngajak ke Desa Mentarang menjemput keluarganya untuk di bawa serta ke Camp Sekatak. Padahal rencana libur ini maunya ke air terjun Rian yang ada di Kab. Tana Tidung, tapi melihat kondisi langit yang tak bersahabat, niat dibatalkan. So, ketimbang ngga ada acara, ikut saja ke kampung isterinya Pak Rasid and than, mandi ala tentara, berpakaian ala tentara, sarapan ala tentara, musti cepat karena dadakan…….ngga pake pasang bulumata, keburu ditinggal kereta !!!