Sharing cerita perjalanan kali akan mengangkat wajah Kota Tanjung Selor sebagai Ibukota Kabupaten Bulungan Propinsi Kalimantan Timur. Jarak dari Desa Sekatak Buji Kecamatan Sekatak hunian saya saat ini adalah sejauh +120 km. Tulisan cerita perjalanan kali ini adalah perjalanan yang saya lalui pada hari minggu silam atau H-2 hari raya idul fitri 1432 hijriah. Tujuan ke kota kabupaten kali ini adalah untuk berbelanja kebutuhan lebaran, sebagai tradisi semua umat muslim untuk merayakan hari kemenangan.
Sinar mentari belum menyengat, bahkan belum mampu mengusir kabut pagi diantara pepohonan di kiri kanan jalan poros trans Kalimantan, ketika saya dan bersama beberapa orang teman menerobos keheningan pagi menuju kota Tanjung Selor. Kondisi jalan masih mengharuskan pengemudi ekstra waspada, karena di beberapa titik terdapat longsoran yang membuat badan jalan menjadi berkurang lebarnya. Juga beberapa lokasi yang terdapat kondisi jalan telah rusak berat dan akan semakin parah jika di musim hujan, kemudian kondisi aspal yang telah tergerus dan berlubang.
Sepanjang perjalanan hanya tampak lahan kosong yang tak terlihat lagi pohon-pohon dengan tampuk besar, areal sepanjang perjalanan adalah bekas tebangan yang kini telah berubah menjadi lahan kosong dan juga lahan tidur. Hanya ada beberapa lokasi, lahan-lahan tersebut berfungsi sebagai kebun warga sekitar, meski luasnya tak seberapa. Di beberapa lokasi juga tampak hamparan kebun kelapa sawit yang masih berusia muda. Selain itu, tentu saja pemandangan perkampungan di pedalaman Kalimantan dapat menjadi alternatif pandangan anda selama perjalanan. Di antara perkampungan yang dilalui diantaranya Desa Mentadau, Sekatak Bengara dan Pimping. Ketika akan memasuki Kota Tanjung Selor tepatnya dekat jembatan teras terdapat aliran air gunung yang dialirkan dari sebilah bambu. Para pengendara yang melewati jalan ini biasanya berhenti sejenak untuk sekedar beristirahat atau membersihkan wajah dengan air yang sejuk dan bening ini.
Memasuki Kota Tanjung Selor dimulai dengan melewati jembatan sungai Kayan yang menghubungkan Kecamatan Tanjung Palas dan Kota Tanjung Selor. Tanjung Palas merupakan kecamatan dimana Kesultanan Bulungan dulunya mengelola kerajaannya. Di lokasi ini juga terdapat museum untuk menyimpan benda-benda peninggalan Kerajaan Bulungan.
Kota Tanjung Selor adalah kota yang tenang dan nyaman. Kota dengan penduduk kisaran 20.000 jiwa ini sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pegawai negeri sipil. Belum terlihat bangunan-bangunan tinggi di kota ini, namun jalan-jalan yang lebar dan bersih tampak asri karena volume kendaraan yang melintas tak terlalu ramai di kota ini.
Salah satu pusat keramaian di kota ini adalah pasar induk. Disinilah aktivitas masyarakat terkonsentrasi. Walau hanya sebuah pasar tradisional dengan jumlah kios yang tak terlalu banyak tetapi berbelanja di pasar ini terasa nyaman. Lantai bangunan pasar yang berkeramik, area parkir kendaraan yang luas dan taman kecil di bagian depan pasar dapat menciptakan kondisi pasar menjadi terlihat asri dan teduh.
Beberapa alternatif lokasi wisata di kota ini adalah tepian kota, karena Kota Tanjung Selor merupakan kebudayaan sungai, tentu saja kita dapat berkeliling kota di jalan ini dengan view landscape bantaran sungai yang membentang. Warga kota juga biasa berlibur ke Batu Putih Tanjung Palas, sebuah bukit batu kapur berwarna putih dengan paduan relief-relief yang indah. Terdapat anak tangga menuju puncak bukit yang terjal. Dari puncak akan terlihat hamparan Kota Tanjung Selor dan sungai Kayan tentunya. Batu Putih atau Gunung Putih dipercaya masyarakat sebagai tempat bertafakkurnya Sultan Bulungan di masa lalu.
Selain Gunung Putih, terdapat lokasi wisata air terjun Long Pin dan air terjun Idaman di Km 18, sumber air panas Sajau dan juga sungai-sungai khas pedalaman yang bisa anda jadikan lokasi untuk berarung jeram, salah satunya adalah sungai Giram di Kecamatan Peso.
ooOoo
Legenda Puteri dalam Telur
Jika anda menyusuri jalan utama kota ini di salah satu pertigaan ada sebuah tugu dimana diatas tugu tersebut dibentuk sebuah patung telur pecah dan di dalamnya berdiri seorang puteri. Konon, puteri tersebut adalah mitologi warga yang merupakan cikal bakal berdirinya Kesultanan Bulungan.
Tersebutlah legenda kepala adat suku Dayak Kayan yang tinggal di hilir Sungai Kayan. Hingga usianya telah lanjut sang kepala desa belum juga dikaruniai keturunan. Pada suatu hari sang kepala adat pergi berburu ke hutan. Di dalam hutan sang kepala adat tersebut menemukan sebutir telur dan sebilah bambu, yang kemudian dibawanya pulang dan diletakkan di dekat perapian dapur rumahnya. Keesokan harinya kedua benda tersebut berubah manjadi dua sosok bayi mungil. Bayi laki-laki dan bayi perempuan. Kejadian ini disebut sebagai bulongan yang berarti bambo dan telur, yang pada akhirnya menjadi nama Bulungan. Kedua bayi mungil tersebut dipelihara hingga dewasa dan dinikahkan. Keturunan dari pasangan inilah yang kelak menjadi Sultan Bulungan.
Legenda, tetaplah menjadi cerita. Tak perlu mencari kesahihan dan maraji’nya. Legenda, biarlah menjadi kekayaan budaya yang hampir punah meski di tanah asal muasal lahirnya kebudayaan itu sendiri. Tulisan yang saya tulis bersumber dari cerita seorang teman yang berasal dari Kecaamatan Tanjung Palas, yang bertutur selama perjalanan menyusuri jalan di Kabupaten Bulungan. Tentu saja saya tambal sulam dengan referensi cerita dari sumber lainnya. Kepada teman-teman yang memahami cerita dibalik tugu dengan bantuk patung telur dan puteri yang terdapat di perempatan jalan di Kota Tanjung Selor, saya persilakan untuk merevisi jika cerita yang saya tulis ini masih terdapat kekeliruan.
ooOoo
Hari telah sore, saya dan bersama teman-teman bergegas kembali ke desa tercinta, Sekatak Buji. Satu hal yang dapat saya simpulkan, bahwa peradaban di daerah ini telah ada begitu tuanya. Namun tak terlihat ada pembangunan yang selaras dengan kekayaan budaya apalagi kekayaan alam daerahnya. Entahlah.
ooOoo
Album Tanjung Selor :
 |
| Tanjung Selor....Kota yang nyaman |