Jumat, 19 Agustus 2011

Nasionalisme di Sekatak Buji

Desa Sekatak Buji, Bulungan - Kalimantan Timur
Anda mungkin akan berdecak kagum jika melihat atau mengikuti upacara peringatan proklamasi negara kita di istana negara. Suasana tampak khidmat, teratur dan bernuansa militer. Begitu juga suasana upacara di daerah-daerah tingkat satu atau tingkat dua.

Kondisi berbeda ketika anda berada di daerah terisolir atau daerah terpencil yang cukup jauh dari kota kabupaten. Kecamatan Sekatak kabupaten Bulungan misalnya, upacara bendera rutin dilaksanakan setiap tahunnya di desa Sekatak Buji. Namun apakah yang berbeda dari daerah lain, tentu saja tidak ada yang berbeda secara prinsip. Acara protokoler tetap diberlakukan, hanya saja peserta upacara yang membuat saya haru berbalut geli karena menahan tawa melihat tingkah para peserta upacara.

Meski hanya sebuah desa kecil dengan ragam suku asli pedalaman Kalimantan, desa Sekatak Buji seolah menjadi sentra semua aktivitas di kecamatan Sekatak. Desa di tepi sungai Sekatak yang bermuara ke perairan laut Tarakan ini, tetap memperlihatkan nasionalismenya dengan tetap rutin menyelenggarakan upacara penaikan bendera peringatan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Meski upacara kali ini dalam suasana bulan ramadhan, tidak menyurutkan antusias masyarakat  dan perangkat desa untuk tetap bersemangat mengikuti rangkaian acara. Pun begitu juga dengan saya dan teman-teman dari perusahaan yang berada di lingkungan ini.

Pasukan pengibar bendera adalah adik-adik dari SMA negeri sekatak yang memang hanya satu-satunya sekolah menengah di desa ini. Sementara kelompok paduan suara diisi oleh adik-adik dari SMP negeri yang juga memang satu-satunya di desa ini. Sementara peserta upacara adalah anak-anak sekolah dasar, ibu-ibu PKK dari tiap-tiap desa, para perangkat desa, baik itu kepala desa hingga staffnya, dan juga dari perusahaan-perusahaan yang berlokasi di desa ini. Sementara komandan pleton diemban oleh bapak-bapak dari Polsek Sekatak.

Sebelum upacara dilangsungkan, sang kapolsek dengan sabar memberikan pelajaran instant tentang baris-berbaris kepada peserta upacara. Bapak Kapolsek memperlihatkan teladan yang baik, dengan terjun langsung mengatur barisan sebelum upacara dimulai. Kalau teman-teman dari perusahaan tidak terlalu sulit mengaturnya, karena telah diatur oleh security perusahaan masing-masing. Tetapi mengatur barisan peserta dari desa yang dibutuhkan kesabaran ekstra. Dan dua jempol untuk dedikasi sang Kapolsek kali ini.
Upacara kali ini berjalan dengan baik. Meski para pengambil gambar dengan kamera saku masih terlihat di tengah lapangan upacara. Saya tidak tahu apakah mereka adalah jurnalis atau bukan, tetapi dari kostumnya, sepertinya mereka adalah para pegawai negeri. Para pengambil gambar ini, sangat ‘kreatif’, karena selalu mengabadikan momen begitu detailnya. Lapangan upacara terlihat tidak rapi dengan kehadiran pengambil gambar ini, karena mereka berada di tengah-tengah lapangan, meskipun ketika pasukan pengibar bendera mulai menjalankan tugasnya.
 
Suasana Upacara 17 Agustus 2011 Sekatak
Sementara dari peserta upacara masih ada yang online menerima panggilan telepon meski sang merah putih sedang diperjalanan menuju puncak tiang bendera. Dari kelompok ibu-ibu, masih terdengar suara-suara rumpian, meski tidak terlalu mengganggu. Kenapa saya katakan tidak terlalu mengganggu, karena pengalaman dari tahun sebelumnya, kondisi keramaian ibu-ibu ini terbilang membaik karena tidak seramai di tahun-tahun sebelumnya.
Seperti yang saya tulis diatas, ada perasaan haru dan bangga ketika saya berada di barisan ini, bersama-sama dengan peserta upacara lainnya. Peserta dari desa, berpakaian seragam dengan rapinya. Terutama kelompok ibu-ibu PKK. Ada menggunakan high heels hingga sandal karet. Dan ada yang hanya bertelanjang kaki (kaki ayam) ketika di barisan, mungkin kakinya sudah lecet. Pakaian seragampun tampak ada yang kedodoran. Meski demikian mereka tetap berdiri dengan tegap. Memberikan penghormatan kepada para leluhur bangsa ini. Mereka tetap bersemangat mengikuti rangkaian upacara hingga akhir acara.

Keriuhan sesekali terjadi di bagian peserta upacara, ketika beberapa ibu-ibu ikut mengangkat tangan kanannya untuk melakukan gerakan hormat, meskipun perintah tersebut hanya diperuntukkan bagi komandan pleton. Atau ketika diperintahkan untuk melakukan gerakan setengah lengan kanan ketika pengaturan baris berbaris, maka masih ada dari peserta yang belum bisa membedakan mana tangan kanan dan mana tangan yang kiri. Alhasil, terjadilah benturan antar lengan dengan peserta disampingnya.

Ini adalah sedikit share saya yang sungguh memberikan sebuah nilai tentang nasionalisme, meski saya tak yakin mereka -para peserta upacara- di daerah pedalamanan ini paham benar tentang pengelolaan dan pengelola negeri ini. Nasionalisme, yang hanya didengunkan tanpa memberikan dampak nyata bagi pembangunan di daerah-daerah terpencil. Jika kemerdekaan itu adalah ketika bangsa ini bebas dari penjajahan bangsa asing, maka terminology tersebut belum bisa berlaku di beberapa daerah pedalaman, karena ‘penjajahan’ pusat masih terjadi atas kekayaan alam daerah.

Karena bertepatan dengan bulan suci ramadhan, kegiatan keramaian yang lebih dikenal dengan sebutan agustusan dilaksanakan lebih awal. Yaitu di pertengah bulan juli hingga akhir juli silam. Berbagai macam event dipertandingkan, dari bidang olahraga, cabang yang dipertandingkan adalah sepak bola, bola voli dan bulutangkis. Sementara dari bidang kesenian, dipertandingkan lomba karaoke, tari daerah dan tari modern.
Tim Volley Ball Putera Intraca VS Bukit Jaya
Saya dan lebih umumnya teman-teman yang mengatasnamakan perusahaan Divisi Forestry unit Sekatak, juga berpartisipasi aktif dalam kemeriahan tersebut. Semua cabang olahraga yang dipertandingkan diikuti. Meski hasilnya masih tergolong sebagai klub olahraga penggembira saja. Bagaimana tidak, dari semua laga tanding, tim kita dengan nama besarnya hanya memetik satu kali kemenangan dalam kualifikasi grup di cabang bola voli. Kalaupun ada kemenangan itu adalah menang karena lawan tak hadir.

Dari cabang bola voli, tim PT. Intraca meraih peringkat lebih baik dari tim bulutangkis dan sepakbola. Karena menduduki posisi ke-empat, setelah menjadi runner-up group karena lawan tak datang. Sementara dari tim bulutangkis, yang menurunkan dua tim sekaligus tak bisa berbicara banyak, karena tak memetik satupun kemenangan. Dan nasib tragis harus diterima tim sepakbola kita, karena hanya satu kali memasukkan bola ke gawang lawan setelah menerima tamu si kulit bundar sebanyak tiga belas kali dari tendangan lawan. Kondisi tim olahraga kita sepertinya mengikuti jejak timnas PSSI, ramai di pengurus, mobilisasi supporter besar-besaran tapi minim prestasi. Over all, keep spirit… terima dengan lapang dada, kita balas tahun depan…!!! (sambil ngumpulin duit buat transfer pemain luar…hohoho). Dari hasil pertandingan tersebut, maka dibentuklah kepengurusan olah raga dengan harapan bisa mengangkat tim olahraga kita dari zona bulan-bulanan lawan.
 
Pertandingan Sepak Bola HUT RI ke 66 di Sekatak
Secara keseluruhan rangkaian kegiatan event olahraga dan kesenian di desa Sekatak Buji terbilang sukses. Meski sempat terjadi insiden kecil pada saat pertandingan sepak bola. Kegiatan ini diikuti tidak hanya dari warga sekitar tetapi dari desa-desa yang membutuhkan waktu dan tenaga untuk mencapai lokasi pertandingan, hal tersebut dikarenakan memang jalur transportasi antar daerah yang masih terbatas. Ada yang menggunakan perahu, ada yang menggunakan kendaraan roda dua dan juga dengan kendaraan dump truck. Pertandingan menarik terjadi di final bulutangkis, karena dua klub yang berhadapan berasal dari kabupaten Tana Tidung dengan klub Santy Cell dan kota Tanjung Selor atas nama klub BPP. Begitu juga pada laga final sepakbola yang berakhir dengan adu finalty dan menempatkan klub sepakbola yang merupakan para motoris speed boat Sekatak sebagai pemenangnya. Sementara pada cabang bola voli terjadi anti klimak karena klub yang berhadapan di final antara klub bukit jaya trans sekatak yang notabene pemainnya dari kota malinau menang mudah setelah menaklukkan klub desa turung karena pemain transferan klub tidak hadir. Dan klub terbaik dan terfavorite versi banyak kicauan dijatuhkan pada klub bola voli wanita Dahlia, kenapa? Karena klub ini selain mempertontonkan pertandingan dengan teknik bermain yang baik, klub inipun laksana pencuci mata karena semua anggota tim tampil sexy, modis dan fashionable (sayang, tidak sempat ambil gambarnya…….karena terperanjat dengan pesonanya…wkwkwk)

Sementara dari cabang kesenian, pertandingan karaoke dangdut memberikan warna tersendiri di malam hari. Seorang peserta wanita yang masih berusia sekolah menengah, membuat panggung menjadi ‘panas’ setelah mengatraksikan gerakan dangdut khas penyanyi dangdut professional, semua gerakan seperti goyang ngebor ala Inul Daratista, goyang patah-patah ala Annisa Bahar, goyang gergaji ala Dewi Perssik, goyang blender ala Jupe, kaki ngangkang ala Nita Thalia hingga kepala muter ala Trio Macan semua dilakoni. Sementara dari seni tari daerah, disinilah saya bisa menyaksikan tari dengan seni  musik khas dari berbagai suku di pedalaman Kalimantan Timur, baik itu dari suku Tidung Bulungan hingga dari Dayak Brusu.

Puncak penyerahan penghargaan tidak dapat saya saksikan bukan karena acara tersebut tidak penting atau tidak menarik, tetapi pada saat tersebut sedang berlangsung pertandingan sepakbola pra piala dunia antara tim nas Indonesia melawan timnas dari Turkmeinistan……(selain karena tim kita ngga bakalan dipanggil menerima hadiah karena ngga juara…)

Sekian dulu laporannya, semoga teman-teman yang berada di kantor Tarakan, Samarinda hingga Jakarta bisa mengerti tentang kontribusi aktif kita di lingkungan sekitar serta seperti apakah kekuatan tim olahraga kita di Divisi Forestry unit sekatak ini. Kami berjanji (janjinya jurkam), akan menjadi tim yang hebat dan kuat kedepannya. Tentu setelah ada infuse  dana dari teman-teman semua. Salam.

ooOoo

Penulis adalah karyawan PT. Intracawood Manufacturing, divisi forestry unit sekatak.
Artikel Terkait
Comments
14 Comments

14 komentar:

  1. nice post mas..
    ane jg punya blog..tp masih newbie..
    jd harap maklum pengunjungnya masih sedikit..he
    salam kenal..
    Teguh

    langkahborneo.blogspot.com
    visit my blog,

    BalasHapus
  2. terimakasih teguh, salam kenal kembali, blog ini juga masih terbilang baru dan masih banyak kekurangan.
    segera berkunjung ke blognya gan....

    BalasHapus
  3. sayang g pernah ngrasain agustusan d sana,, nampaknya lebih rame d banding d sini heu

    BalasHapus
  4. kalau rame mungkin tetap lebih rame di ibukota, cuman disini pasti punya kesan lebih, belum pernah kan upacara di lapangan berumput berhiaskan kotoran sapi....meski begitu, tetap semangat...!

    BalasHapus
  5. halo Iman,

    blognya sudah OK kok bahasanya, tapi ada sedikit catatan yang bisa kamu perhatikan supaya blognya lebih OK lagi.

    1. Soal tata bahasa. Tidak bosan-bosan saya katakan ke blogger yang saya kenal untuk belajar Bahasa Indonesia. Ini bahasa kita, jadi gak ada salahnya untuk mencoba belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ejaan, tanda baca, penggunaan huruf kapital, dll, kalau tidak tepat akan terasa mengganggu saat dibaca. Kalau tidak punya Kamus Besar Bahasa Indonesia, beli aja buku Ejaan Yang Disempurnakan. Cukup kok untuk sekadar tulis menulis di blog.

    2. Tampilan. Sebagaimana surat yang punya kepala surat, akan lebih baik jika foto yang ada di bagian bawah blog ini (yg ada keterangan tempatnya itu) dipindah ke bagian atas.

    3. Tidak semua bagian blog itu (mungkin) menarik bagi pembaca. jadi, kalau bisa dibuat saja poin-poin atau menu seperti "Beranda", "Tentang Saya", "Jalan-jalan", "Artikel", dll sesuai keinginan. Intinya sih biar blog lebih ringkas dan enak dilihat.

    Keep on blogging ;=)

    BalasHapus
  6. Terimakasih karena telah memenuhi undangan saya untuk berkunjung dan memberikan saran dan kritik atas blog saya. Untuk tata bahasa akan terus disempurnakan sesuai EYD, untuk tampilan akan dibenahi lagi agar lebih menarik dan fitur-fitur blog juga akan diperbaiki, sekali lagi terimakasih banyak.

    BalasHapus
  7. btw kameranya apaan sih? bagus banget foto2nya ;=)

    BalasHapus
  8. hehe, pake kamera saku aja koq gan, merk sony seri DSC-W190, sebagian menggunakan kamera ponsel soner seri walkman. terimakasih...

    BalasHapus
  9. mas Iman,, seBlmnya minal aidin aidin wal faidzin ya,mhn maaf lahir dan batin..
    ougth ya, terima ksh mas,akhirnya mas Iman menulis ttg ini,, hiks..3x jd pingin k Sekatak,, kpn ya bs maen k sana lg,,
    Lebaran kmrn gMna mas?? d tls jg dunkzzzz,,, he..3x bnyk bgt ya prMintaanku he..3x tolongggggggg...

    BalasHapus
  10. maaf lahir batin juga mba nov....terimakasih ngga bosen2 berkunjung dimari. aku malah senang koq ada yang request postingan selanjutnya, artinya ada juga yang sudi nengok blog ini, hehe. untuk lebaran sepertinya tidak ada cerita spesial kali ini, karena lebarannya dua versi. jadi konsentrasi ikut terpecah. teman2 camp juga banyak yang mudik, tinggal yang non muslim saja yang mendominaasi. tetapi aku akan postingkan wajah kota tanjung selor, ketika kita berbelanja untuk lebaran kemarin. juga weekend libur lebaran ke air terjun rian kab tana tidung. tunggu saja postingan selanjutnya ya....

    BalasHapus
  11. Saya asal nya dari sana...sekatak buji

    BalasHapus
  12. mas iman apa kabar?? Hafidz herbowo

    BalasHapus
  13. Terimakasih kunjungannya yang berasal dari Sekatak Buji.....kenal dekat yuk....add akun FBku : iman_rabinata80@yahoo.co.id atau twitter @imanrabinata

    Hafidz Herbowo : kabar baik.....terimakasih.

    BalasHapus
  14. hemmm nice post... ceritanya apa adanya.. lucu :)

    BalasHapus