Jumat, 29 Juli 2011

Pulau Siau, Sitaro Sulawesi Utara

Hampir semua pemukiman yang tersebar di setiap pulau-pulau kecil di utara Pulau Sulawesi ini berada di lingkungan yang menyejukkan mata. Dari beberapa pulau yang saya singgahi dan juga yang terlihat dari udara, semua pulau memiliki garis pantai dan air laut yang jernih. Hal inipun dibuktikan dengan terpilihnya desa Makalehi di Kabupten Sitaro sebagai desa terbaik se-Indonesia tahun 2010 silam. Semua pemukiman disini berorientasi pada kebudayaan laut. Rasanya, semua rumah penduduk seolah berada di lokasi wisata. Begitu juga dengan pulau yang saya kunjungi kali ini. Pulau Siau Kabupaten Sitaro propinsi Sulawesi Utara.

Pulau Siau adalah pulau kecil tempat berdiri kokoh gunung api Karangetang. Pulau ini seperti gunung Krakatau di Selat Sunda, hanya saja lebih luas dan di tepi pulau ini dihuni beberapa rumah penduduk. Dan dilereng gunung tersebar hamparan kebun pala dan kelapa. Sebagian besar struktur tanah pulau ini berbatu. Bahkan di beberapa titik tepi pantainya berpasir hitam dan berbatu gunung yang besar. Ketika menyusuri setiap sudut pulau ini hingga ke bagian-bagian berbukit, selalu dijumpai batu-batuan berukuran besar di tepi jalan. Berada di ketinggian di pulau ini terasa sangat sejuk karena dikelilingi kebun yang rindang dan matapun dimanjakan dengan hamparan laut yang terlihat hijau karena terumbu karang yang menghiasi dasarnya. Begitu juga gugusan-gugusan pulau lain di sekelilingnya. Ada tiga kabupaten yang tersebar di utara pulau Sulawesi ini, yaitu kabupaten sangihe sebagai kabupaten tertua kemudian dua kabupaten pemekaran yaitu Kabupaten Talaud dan Kabupaten Sitaro yang baru berusia empat tahun.

Menyaksikan kegagahan gunung api Karangetang dari tepi pantai pulau Siau yang berselimut hamparan hijau perkebunan, membuat takjub dan berdecak kagum. Namun perasaan berbeda ketika saya berkesempatan melihat sebuah perkampungan yang dilanda bencana erupsi gunung berapi beberapa bulan silam. Terdapat dua parit besar yang dalam membelah bumi memisahkan beberapa desa dengan desa lainnya. Parit besar yang merupakan lintasan lava gunung berapi yang masih aktif. Hingga saat saya berkunjung beberapa hari lalu, tidak ada tanda-tanda akan pembangunan kembali jalan yang terputus. Begitu juga rumah yang hangus terbakar akibat muntahan gunung api tersebut. Menurut Rei, guide yang menemani saya menjelaskan bahwa pada saat kejadian berlangsung para penduduk terisolir dan sebagian menyelamatkan diri dengan menyeberangi laut dengan berenang dengan bantuan batang pohon pisang. Kini, untuk melanjutkan akitivitas warga desa, beberapa kendaraan dibiarkan diparkir diseberang desa, dan mereka melanjutkan dengan berjalan kaki menyeberangi parit besar bekas lintasan lava gunung api tersebut.

Bagaimana?, baru dengar berita ini? Ya, media kita memang hanya fokus meliput berita korupsi saja, itu juga karena pemerintah dan anggota dewan kita lebih concern dengan isi perutnya saja, bencana alam seperti ini, apalagi terjadi di daerah-daerah terpencil luput dari kamera mereka. Tidak apalah, nanti kalau beberapa pulau yang berbatasan dengan negara tetangga ini dicaplok barulah demonstran berteriak-teriak di bundaran HI meski tak mengerti. Apa yang saya utarakan bukan karena saya tak memiliki rasa nasionalisme, justru kegiatan backpacking ini adalah bukti nyata kecintaan anak negeri ‘menjaga’ wilayah negerinya. Namun sebagai anak daerah perbatasan, tentu sangat terasa perbedaannya dengan mereka yang tinggal dekat dinding istana negara. Berkunjunglah ke pulau dimana pal batas dua negara berdiri lemas disana, semisal pulau sebatik yang berada di utara Kalimantan Timur, terasa sangat perbedaan belaian ibu pertiwi dengan belaian ‘ibu tetangga ‘disana……. Cukuplah, tak pernah habis kata mendeskripsikan wajah pengelola negeri kita.

Meski hanya daerah kecil, pulau Siau terutama di daerah hulu Siau terdapat beberapa penginapan. Salah satunya adalah hotel Jakarta yang bertarif Rp. 300.000,- per malam. Di hotel ini, saya banyak mendapat informasi dari receiptionist hotel yang pernah menjadi guide saat menemani beberapa tamu dari Eropa yang mendaki gunung api Karangetang. Beberapa kali menjadi guide beliau hanya menyebut tamunya dari luar negeri. Belum pernah ada yang dari lokalan. Selain itu saya juga bertanya tentang temuan ilmuan kita yang bekerja sama dengan ilmuan luar tentang gunung berapi yang aktif yang berada di dalam laut. Receiptionist tersebut menjelaskan bahwa beliau juga pernah melakukan diving mengantarkan beberapa peneliti ke puncak gunung yang berada di perairan kebupaten Sangihe tersebut, meski harus mendapatkan perijinan yang ketat karena suhu air laut disana sering berubah-ubah akibat aktivitas sang gunung. Menurut beliau, terdapat beberapa benda-benda antik di atas gunung di dalam laut tersebut, berupa piring-piringan dan benda antik lainnya, namun para penyelam dilarang mengambil barang-barang tersebut.

Kabupaten Sitaro menyimpan beberapa pilihan diving point seperti perairan pulau Biaro, pulau Ruang dan pulau Mahoro. Terdapat juga pantai Tanganga Siau, Bulangan Tagulandang, Pantai pahepa, pantai tumora biaro. Dangkalan nyare dengan hamparan terumbu karang dan biota laut yang memukau dapat ditemukan di pulau Munumpitaeng, pantai Kalihiang, dan pantai Balirangeng. Pantai Lehi dengan sumber air panas alamnya, dan danau Makalehi di desa terbaik tingkat nasional tahun 2010. Selain panorama alam tersebut tentu saja adat istiadat setempat layak untuk disaksikan. Meski sarana transportasi antar pulau telah terhubung, namun keberangakatannya tidak terjadwal setiap hari. Walau demikian, menikmati keindahaan alam dengan kearifan lokal yang menyertai di pulau Siau adalah damai yang meresapi hingga ke relung terdalam, meski kuyakin banyak pengelola negeri ini yang tak mengenal bahwa Siau adalah pulau yang indah dan mengagumkan. Tetaplah damai nusantaraku, meski ibu pertiwimu sedang berselingkuh….

ooOoo

Galleria Sitaro
Gereja Siau Timur
Gunung Api Karangetang Siau
Siau Sitaro
Pasar Hulu Siau
Pantai Lehi dengan sumber air panas alam
Pantai Siau - Sitaro
Tepi Kota Siau
Parit Lintasan Lava Karangetang
View Pelabuhan Siau
Landscape Siau
ooOoo
Artikel Terkait
Comments
3 Comments

3 komentar:

  1. jauh gak bro dr Manado nya.??? nice review and nice photos...

    BalasHapus
  2. menggunakan kapal cepat waktu tempuh kurang lebih 5 jam gan...

    BalasHapus
  3. ooooowwww kalau ke sini habis berapa budgetkah/???/ untuk informasi komodasi sana dari manado.... :)

    BalasHapus