Senin, 02 Januari 2012

Christmas Cup - Desa Turung

Desa Turung - Kalimantan Timur
Saya masih ingat sekali ketika seorang sahabat blogger menuliskan ceritanya tentang salah satu objek wisata di Puerto Riko (Persemakmuran Amerika Serikat) adalah melihat pohon pisang (Musaceae). Ya, Pohon pisang seperti yang tumbuh di belakang rumah anda atau buahnya yang berserak melunak di bawah meja penjual buah pisang karena tak terjual semua. Buat kita yang memang merupakan endemic vegetasi tersebut memang terkesan aneh, tetapi tidak buat mereka yang berada di wilayah non endemisme tersebut. Begitupun sebaliknya mungkin kita juga akan berlari-lari dan berguling-guling saat berada di sebuah taman yang diselimuti salju di saat musim dingin seperti ini, namun tidak buat mereka.
Ini adalah pembukaan tulisan tentang komitmen saya menuliskan lebih banyak hal yang terjadi di sekitar kita. Tak perlu membawa imajinasi ke luar terlalu jauh untuk mencari inspirasi atau bahan penulisan, cukup yang dekat-dekat saja. Karena pesona suatu lokasi ternyata lebih banyak dikarenakan promosi besar-besaran dan juga kesadaran warga setempat untuk mengangkatnya.
Ketika banyak para pelancong menuju kota ‘megalitikum’ Tana Toraja, yang mereka buru ‘hanya’ sebuah tempat perisitirahatan terakhir suku Tator. Sebenarnya di pedalaman Kalimantan juga memiliki tempat yang seperti demikian, hanya saja tidak terkonsentrasi dan tidak dipublish untuk lebih dilirik sebagai komoditi pariwisata. Kesadaran masyarakat lokal juga harus mulai diupgrade, ketika anda mengambil satu objek menarik (baca : bernilai budaya setempat) anda mungkin akan berhadapan dengan situasi yang kurang mengenakkan, kegiatan photography masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat, dengan alasan takut dipublikasi atau apalah. Pengalaman tersebut saya peroleh ketika saya dan teman-teman ingin mengambil gambar di suatu desa di Kabupaten Malinau – Kalimantan Timur, padahal desa tersebut masih masuk dalam lokasi Taman Nasional (Kayan Mentarang), yang sebenarnya merupakan projek pemerintah daerah sebagai salah satu daya tarik wisata. Jika saja masyarakat setempat welcome tentu akan memiliki point lebih.
Hal ini sangat berbeda dengan daerah yang memang telah sadar akan kunjungan wisata, seperti saat saya dan teman-teman berkunjung ke desa Tengger (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) dua nenek-nenek suku asli setempat begitu senangnya berpose dengan pengunjung, tentu dengan mendapat imbalan setelah dipotret.
Sudah selayaknya setiap daerah berbenah untuk mengangkat sekecil apapun potensi wisata yang ada di daerahnya. Tidak harus memiliki persona alam yang indah, karena hal tersebut adalah anugerah sang Pencipta, budaya setempat sebagai produk lokal juga bisa dijual. Asal daerah dapat memberikan kenyamanan akomodasi dan perilaku bersahabat dengan pendatang.
Journal saya kali ini memang bukan tentang daerah wisata, tetapi sebuah event rutin olahraga yang diselenggarakan oleh sebuah desa di pedalaman Kalimantan. Desa Turung, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Timur. Hanya sebuah pergelaran olahraga bola volley, namun cukup sebagai wahana hiburan masyarakat desa. Satu hal yang bisa diberikan apresiasi adalah event ini sudah cukup dikenal (dinantikan) karena kalender pertandingan yang memang rutin digelar di setiap akhir tahun. Event ini bertajuk “Piala Christmas – Turung” sebuah racikan Jemaat GKII (Gereja Kemah Injil Indonesia) desa Turung.
Layaknya sebuah event berskala besar, event kecil seperti di desa pedalaman inipun mau tidak mau tetap berdampak pada roda perekonomian daerah setempat, ini salah satu entry pointnya. Tentu saja rezeki akan mengalir deras bagi penjaja makanan ringan, premium eceran, penjual pulsa dan lain-lain. Desa yang mengadakan event pun akan memiliki point tersendiri dibanding desa-desa lainnya. Event yang diikuti belasan tim ini baik tim puteri maupun tim putera, menurut saya belum mampu menyihir masyarakat desa untuk rutin menyaksikannya. Kecuali jika tim dari perusahaan hilir desa (baca : PT. Intracawood Mfg) yang memang selalu menyertakan penonton fanatiknya di setiap laga tandingnya. Kurangnya antusias penonton dapat dimaklumi, karena setiap pertandingan di setiap tahunnya, sudah dapat ditebak siapa-siapa saja yang akan berlaga, yah maklum saja, penduduk di kecamatan ini memang tidak terlalu padat. Sebagian masyarakat, memang lebih banyak memilih berkebun atau menggesek kayu di dalam hutan. Tidak seperti karyawan-karyawan yang bekerja di areal desa seperti ini, ajang olahraga dapat dijadikan sebagai media sosialisasi diri tebar pesona.
Pergelaran olahraga akhir tahun 2011 ini kembali menelurkan tim dari PT. Intracawood Mfg sebagai pemenangnya, lenggang kangkung tangan melambai begitulah kira-kira angin segar yang dapat diberikan kepada tim ini karena terus berlaga tanpa mendapat perlawanan yang cukup sengit di setiap laga tandingnya. Sementara, tim dari SMU Negeri 1 Sekatak, hanya mampu berada di peringkat ke – II. Adik-adik atlet volley dari tim SMU ini sebenarnya memiliki bakat yang baik, hanya saja lokasi sekolah yang berada jauh dari perkotaan membuat keterampilan bermainnya akan berjalan merayap. Peran serta dari pemerintah daerah juga perusahaan swasta diharapkan dapat mengakomodir semangat muda seperti ini, hingga aktivitas olahraga seperti ini tidak hanya sebagai penjaga kebugaran tubuh semata, namun dapat sebagai ‘nilai jual’ person untuk masuk ke dunia kerja nantinya.
Segini dulu teman-teman pembaca setia blog Iman Rabinata postingannya, satu bulan terakhir memang tidak ada postingan artikel, karena beberapa artikel yang saya buat sedang saya ikutkan dalam beberapa perlombaan artikel di dua media on line dan telah dimuat kedua-duanya.

Sebagai penutup, saya kembali menagajak anda ke alinea awal postingan ini, jika di Puerto Riko negara tersebut 'berani' menjual tanaman Pisang sebagai salah satu tujuan pariwisatanya, mengapa kita (Kalimantan) tidak melakukan hal yang sama, bukankah di pulau ini juga terdapat tanaman endemik seperti Terap (Ortocarpus ordoratissimus) yang hanya ada di pulau Borneo bagian timur (Sabah, Serawak, Brunei, Kalimantan Timur), Philipina, Thailand dan Queensland Australia. Selain tanaman, daerah pedalaman juga dapat mengangkat budaya lokal sebagai daya tarik wisata lainnya. Kalau pesona alam, sudah disediakan oleh si Empunya, tinggal kita yang mengolahnya. Salam Lestari ::

Berikut gallery dari event Christmas Cup Turung 2011.
Tim Pemenang : PT. Intracawood Manufacturing Camp Sekatak
Ukiran Khas Dayak di Bagian Atas Kontruksi Balai Adat Desa
Penonton Yang Tersenyum Manis
Pemain Terbaik Versi http://imanrabinata.blogspot.com/
Yang Terjerat Kamera
Terap (Artocarpus odoratissimus) Khas Borneo Bagian Timur

Spanduk di Desa Turung

Yang Unik di Chritsmas Cup 2011
Finalis Chritsmas Cup 2011, SMU Negeri 1 Sekatak - Bulungan
Desa Turung Kecamatan Sekatak Kab Bulungan - Kalimantan Timur
Yang Menyejukkan di Chritsmas Cup 2011
Photografer Usil
Tim Puteri yang Memukau
ooOoo
Artikel Terkait
Comments
14 Comments

14 komentar:

  1. ha...xxxx dirimu sepertinya fotografer usil itu ya mas iman...dilanjut....

    BalasHapus
  2. iya Oom Imam, itu namanya benturan antara kepercayaan lokal dengan kesiapan masyarakat lokal untuk membuka diri terhadap pariwisata global. biasanya sih kita memang nggak aware dengan apa yang ada di lingkungan kita sendiri, harus disadarkan orang lain. kasihan yah?

    soal pemberian tips setelah berfoto, saya sih agak nggak terlalu setuju. saya lebih suka kalau foto digratiskan, namun kita sebaiknya memberi kontribusi dalam hal membeli cenderamata lokal. ini lebih mendidik saya rasa. Terus terang, saya agak sebel aja sih kalau warga lokal dikid-dikid minta uang. Bukan gimana-gimana sih, selain membuat turis nggak nyaman, maklum lah, saya backpacker yang harus berhemat uang perjalanan...hihihi... kalau mereka mau uang, ya sebaiknya lakukan langkah nyata, misalnya dengan membuat kerajinan lokal unik. ini jauh lebih fair. ini menurut saya lho :)

    BalasHapus
  3. Yah, begitulah Lomar, sebagai putera Kalimantan terkadang iri dengan geliat pariwisata ϑî daerah lain begitu gencarnya. Sarana jalan Ɣªn9 menjadi penhubung antar kabupaten masih menjadi kendala, jumlah penduduk dan karakter warga Ɣªn9 menjadi salah satu alasan mengapa Provinsi Terkaya ini masih tertidur lelap. Jangan sampai daerah ini hanya akan menjadi wisata bencana seperti Lumpur Lapindo, karena aktivitas terbesar ϑî daerah ini terpokus pada eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alamnya.
    Mengenai tip dari aktivitas photografy, sayapun tidak setuju. Malah membuat pengunjung menjadi tidak nyaman. Untuk cerita ϑî Tengger, sebenarnya warga Tengger tidaklah demikian, mereka welcome dan banyak merchandise Ɣªn9 dijajakan disana. Merekapun fine saja jika dipotret.

    BalasHapus
  4. ...Foto2 kali ini bener2 usil + lihai menangkap yg bening2...
    Man, Terap itu pernah aku cobain ga yah (lupa sdh ba),
    berbicara tentang pariwisata khusu Kaltim, menuruku dgn adanya pulau Derawan sebenarnya sdh cukup mendukung, sisa dkemas dgn baik, mgkn dengan paket wisata perjalanan Darat Bulungan-Berau...btw, kmrn waktu sy nonton Jejak Petualang Derawan di Trans7, spontan sy ngomong sama bini ku, 'suatu saat qlo qta ke Tarakan yank, qta mesti ke Berau (Pulau Derawan)", Insya Allah, cantik banget ternyata...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada Lomie...hihi....
      Jalan-jalan ke blog bung Iman, ternyata dapat foto-foto cewek-cewek unyu. Putih-putih, ya? Saya setuju bahwa penduduk lokal yang dikit-dikit minta duit memang nyebelin *berlagak bak backpacker padahal belum pernah sekalipun seumur hidup*. Bagusnya kalau dituker sama makanan daerah kita (eh, tapi bikin berat tas, ya?).

      Gitu aja deh, komentarnya. Oh ya, salam kenal dari Yuanita Maya.
      www.indonesiasaja.com.
      Tnks, Gbu.

      Hapus
    2. @idhamjufri : selama berdinas ke camp, sepertinya belum pernah bertemu dengan musim buah terap. Terimakasih sobat

      @Yuanita Maya : Terimakasih kunjungannya, temennya Lomi ya.....

      Hapus
  5. salam kenal ya mas, saya setuju dengan statement anda, seperti juga pengalaman saya di vietnam, paket wisata city tournya menurut saya juga biasa2 saja, hanya mengunjungi cathedral notredame, opera house, kantor pos, reunification palace dsb yang seharga 8 USD. Dalam hati saya berpikir mengapa jakarta tidak menjual paket serupa mengunjungi mesjid istiqlal, ketedral jakarta, monas, istana merdeka, kota tua dsb (yang menurut saya lebih indah). Bahkan di salah satu paket mekong delta tour kita hanya idusguhi sungai keruh (kurang lebih ceperti ciliwung), lengkap dengan mengunjungi home industri pembuatan permen kelapa, melihat kehidupan sehari-hari pertanian (sawah & kerbau), yang bisa membuat amazing turis bule. Padahal kalau kita bandingin sama negeri kita, suguhan wisata yang seperti itu di vietnam tidak ada apa2nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga sobat, benar, sepertinya ќiτά memang harus banyak belajar meniru geliat negara lain dalam mengembangkan pariwisatanya. Terimakasih telah berkunjung. Semoga dapat bertemu ϑî lain kesempatan.

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Weh.... DANGDU Lem, jadi kngen.......!!!!

    BalasHapus
  8. Wahh bgus ni.. trus cari info ttg sektak ya. Dan pada saat acara adat juga

    BalasHapus
  9. Wahh bgus ni.. trus cari info ttg sektak ya. Dan pada saat acara adat juga

    BalasHapus