Rabu, 09 Mei 2012

Semarang

Kota Tua Semarang

Apa rasanya ketika berada sendiri di tengah jalan kota, diturunkan kernet karena tempat tujuan telah lewat, duduk di taman yang menjadi pembatas jalan raya, dan battery ponsel yang sudah sekarat? Itulah kondisiku saat berada di kota Semarang. Dari terminal Terboyo aku meneruskan perjalanan dengan menumpang bus kecil, tinggal teriak saja bertanya pada si kernet, “Lawang Sewu Pak?”,  si Kernet menjawab “Ya. Naik”. Aku memang tak merencanakan dengan matang perjalanan ke kota Semarang kali ini. karena masih ada sisa waktu sebelum keberangkatanku kembali ke Borneo, aku menyempatkan untuk berkeliling di kota Semarang, kota ini adalah satu-satunya kota besar di pulau Jawa yang belum belum aku singgahi.


Selama perjalanan menuju Semarang, aku memang berkomunikasi dengan beberapa teman untuk mendapatkan sedikit informasi, selain dengan mengandalkan internet via ponsel tentunya. Akhirnya ada teman yang bersedia menemaniku saat itu, namanya Bima, teman pendakian Semeru beberapa waktu silam.

Ternyata si kernet bus lupa menurunkanku di Lawang Sewu seperti yang aku pesan. Aku juga tidak tahu yang mana Lawang Sewu tersebut, aku diturunkan di tengah jalan raya setelah uang transport dikembalikan oleh si kernet tadi. Dengan daya hape yang dipaksakan, aku mengirim pesan ke Bima, bahwa aku berada di jalan, dekat jembatan, ada tulisan ‘Semarang Indah’. Beberapa saat, Bima datang tampak buram, maklum kacamata minusku sengaja ditinggal dengan maksud biar terlihat lebih muda tanpa kacamata, namun harus aku akui keputusan tersebut sangat keliru, karena akan mengganggu untuk hal-hal seperti ini.

Jalan raya Semarang padat dan ramai. Masih banyak bangunan megah dan berusia tua yang terlihat selama mengitari kota Lumpia ini. Simpang Lima, adalah persimpangan jalan yang populer tak luput dari lintasan city tour kali ini. Beberapa destinasi yang akan disambangi tentu saja yang menjadi icon kota ini, salah satunya adalah Lawang Sewu.

Lawang Sewu Semarang

Lawang Sewu berarti Pintu Seribu. Bangunan ini disebut Lawang Sewu, karena terlihat banyak sekali pintu dan jendela yang berukuran besar seperti pintu, meskipun jumlahnya tidaklah seribu pintu. Bangunan tua ini terlihat megah dan seram. Lawang Sewu sesungguhnya bangunan Belanda yang difungsikan sebagai kantor Kereta Api Belanda yang dibangun sejak tahun 1904.  Setelah kemerdekaan republik Indonesia, bangunan ini juga pernah difungsikan sebagai Kantor Badan Prasarana Kodam IV Diponegoro, hingga kini, bangunan tersebut kembali menjadi milik PT. Kereta Api Persero sebagai bangunan kuno atau bersejarah yang patut dilindungi.

Lawang Sewu Semarang

Untuk masuk ke bangunan ini, pengunjung diwajibkan membayar bea masuk sejumlah sepuluh ribu rupiah dan membayar biaya guide sejumlah tiga puluh ribu rupiah. Sebenarnya saya tipikal orang yang kurang senang menggunakan jasa pramuwisata seperti itu, bukan sekadar masalah duit, tapi terasa seperti turis jepang saja yang membutuhkan petunjuk perjalanan seperti itu. Namun, untuk bisa mengenal detail bangunan kuno ini, jasa guide memang bisa membantu, agar tidak tersesat selama berada di bangungan yang cukup membingunkan karena banyaknya lorong dan pintu.

Lawang Sewu
Bersama Bima, kita mengikuti terus langkah sang guide menjelaskan property yang tersisa, mulai dari fungsi setiap ruangan yang ada, hingga washtafel yang masih bertahan hingga kini. Salah satu yang unik dari bangunan ini adalah bangunan bawah tanah yang luas, pengap, gelap dan tergenang air. Untuk mengeksplore bangunan bawah tanah tersebut, pengunjung diharuskan menggunakan senter dan sepatu karet laras tinggi (boot). Selama di dalam ruang bawah tanah, kembali sang guide menjelaskan detail fungsi bangunan yang ada. Tampak bangunan persegi empat yang sangat kecil, konon digunakan sebagai penjara. Ada jenis penjara yang penghuninya hanya bisa berjongkok, hingga jenis penjara yang penghuninya hanya bisa berdiri. Di lain tempat, juga diterangkan bangunan yang diperkirakan sebagai tempat eksekusi tahanan hukuman mati. Begitu juga, sebuah tempat seperti kotak sampah, namun bagian atasnya terhubung dengan permukaan tanah, yang diperkiraan sebagai tempat pembuangan mayat. Beberapa penjelasan sang guide, selalu dipertegas bahwa pemaparannya hanya berdasarkan dugaan saja, karena belum adanya data sejarah yang valid tentang benar tidaknya bangunan bawah tanah ini sebagai penjara.

Gereje Blenduk Semarang

Hari mulai beranjak sore, sebelum menuju lokasi berikutnya, kita menyempatkan diri terlebih dahulu untuk menikmati kuliner semarang. Perjalanan dilanjutkan menuju Kota Tua Semarang, suatu lokasi perkotaan yang didominasi oleh bangungan-bangunan tua yang masih digunakan hingga sekarang. Salah satu bangunan yang menjadi sentral pengunjung adalah bangunan Gereja Blenduk. Rumah ibadah dengan gaya kontruksi heksagonal atau persegi delapan. Gereja ini dibangun tahun pemerintah Belanda di tahun 1753. Gereja ini menurut saya memiliki kontruksi bangunan yang berbeda dari bangunan gereja pada umumnya, gereja Blenduk, memiliki kubah besar yang dilapisi perunggu. Hingga kini gereja ini masih digunakan untuk beribadat. Nama blenduk (blendug / mblendug) sendiri berarti kubah menurut bahasa setempat. Untung tak dapat diraih, ketika saya bertandang ke lokasi ini di sore hari, karena waktu untuk berkunjung hingga ke bagian dalam gereja tersebut telah habis.

Kota Tua Semarang
Dari lokasi Kota Tua, saya melanjutkan perjalanan menuju Klenteng Sam Po Kong. Klenteng ini menjadi daya tarik wisata kota Semarang karena nilai history dan juga rancang bentuk bangunan yang menarik. Awalnya klenteng ini hanya sebuah lokasi persinggahan oleh seorang Laksamana Zhang He atau Sam Po Tay Djien, yang akhirnya menjadi sebuah tempat upacara sebagai ungkapan terimakasih kepada Sam Po yang hingga kini masih dirayakan (dalam bentuk pawai) dan menjadi kalender wisata kota Semarang.

Sam Po Kong - Semarang
Hari beranjak sore, sebenarnya aku masih ingin menyempatkan diri untuk berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah, namun karena keterbatasan waktu, aku melaju menuju terminal kota Semarang untuk selanjutnya menuju kota Surabaya. Namun Sebelum meninggalkan kota ini, mampir terlebih dahulu ke toko khusus oleh-oleh Semarang.

Selamat tinggal Semarang.










Artikel Terkait
Comments
6 Comments

6 komentar:

  1. Goshbum...pas baca line lawang sewu.
    fetri belum pernah masuk ke sana. paling cuma lewat.

    aku pikir guide-nya mahal. Kkkk~

    ah! ada yg bikin aku penasaran, mas. tadi aku baca ada penjara yang penghuninya hanya bisa jongkok (kalo ini aku masih bisa bayangin, tapi yang penghuninya cuma bisa berdiri itu loh, maksudnya gimana ya? lantainya dikasih bambu2 runcing gitu? *pertanyaan ngaco

    ah...akhirnya sempet mampir juga ke blog ini...*koneksi modem payah -___-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangunan penjara dimana penghuninya hanya bisa berdiri bisa Fetri bayangkan seperti Kamar Bicara Umum (KBU) pada wartel (wartel? udah mendiang kale...), yah, bangunan persegi yang sangat kecil, dimana jika diisi oleh empat orang dengan posisi berdiri, ruang tersebut udah penuh sesak, udah ngga ada space lagi untuk bergerak.
      Film2 action Holly biasa tervisual koq ruangan seperti dimaksud.

      Makasih kunjungannya Fetri.

      Iman rabinata

      Hapus
  2. Wahhhhhhhhhhhh,,mas Iman ke semarang???!!! alhamdulillah,, wowww hebat dah k Sam Po Kong,, ak ja blm prnah hehehe,,, maklum lah,,
    kpn mas Iman k Smrg nya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ќε Semarang, masih satu trip ќε Merapi kemarin mba novi.

      Iman rabinata

      Hapus
  3. Muantap Banget....... Tingkatkan....


    Heheheheheeeeeeee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owh... Rizal ternyata, apa kareba ces?

      Hapus