Jumat, 12 Oktober 2012

Melacak Jejak Gajah Borneo (?)

Gajah Borneo? Apa? Ada gajah di Borneo?
Ketika aku ketik keyword ‘desa Tau kabupaten Nunukan’ google menampilkan artikel tentang adanya gajah di pulau Kalimantan. Maka semakin bersemangatlah saya memburunya.

Gereja di Desa Tinampak II, Tulin Onsoi, Nunukan


Sabtu, 06 Oktober 2012, aktivitas rutin kantoran seperti biasa terkadang menjemukan. Belum ada jatah libur untuk refresh otak dan mata. Namun, itu tak membuat saya berhenti memutar otak. Dapat kabar kalau teman-teman surveyor akan melakukan survey potensi pohon di lokasi baru di kabupaten Nunukan, provinsi Kalimantan Timur, tentu saja naluri backpacker saya mendidih (masak air nek mendidih), bijimane caranya biar dapat ijin untuk bisa ndompleng kegiatan tersebut. Ijin lisan dikantongi, persiapkan kebutuhan standar untuk backpacking seperti isi full daya battery gadget, camdig, flashlighter hingga menyiapkan raincoat karena curah hujan sedang tinggi. Sabtu malam, aku sempatkan untuk mencari informasi ke wikipedia tentang desa yang bakalan aku sambangi. Sempat ragu apakah ada yang menuliskan tentang desa tersebut, tetapi setidaknya nama desa dan lokasi bisa diperoleh dari website resmi pemerintah daerah. Namun, betapa terkejutnya saya ketika keyword diketik munculah artikel-artikel terkait yang membahasa nama desa Tau sebagai lokasi gajah borneo berada. Gajah? Ada gajah di Borneo? Tentu saja saya bersemangat berselancar di dunia maya dengan waktu terbatas ini. setahu saya atau juga pengetahuan awam umumnya hanya mengetahui kalau gajah hanya ada di pulau Sumatera, belum pernah terdengar atau terekspose kalau pulau Borneo juga memiliki spesies mamalia berbelalai tersebut, kalaupun ada apakah sudah punah sekarang?

Beberapa artikel yang tidak banyak tersebut menjelaskan kalau desa Tau adalah desa yang berada di kecamatan Tulin Onsoi (pemekaran kecamatan Sebuku) kabupaten Nunukan provinsi Kalimantan Timur yang berbatasan dengan negara Malaysia. Lembaga asing WWF ternyata telah melakukan penelitian tentang kebenaran adanya hewan besar tersebut, beberapa blogger juga ada yang menuliskan artikel terkait meski dengan versi plagiat dan porsi yang sedikit. Yup, sedikit informasi membuat saya memiliki alasan untuk ‘mencapekan’ diri sejenak dengan ikut rombongan surveyor tersebut sementara saya berburu informasi kebenaran satwa gajah tersebut ke lokasi langsung. Shutdown computer, prepare untuk menikmati alam Kalimantan dengan ‘penyiksaan’ jalan lintas kabupaten yang bergelombang, berlobang dan berdendang (akronim maksa).

Minggu pagi, 07 Oktober 2012, gerimis menyertai perjalanan kami. Perjalanan ini akan melintas empat kabupaten di utara Kalimantan. Seperti biasa, pemandangan hanya didominasi oleh lahan kosong bekas eksploitasi hutan alam, beberapa bagian tampak areal Hutan Tanaman Industri, perkebunan kelapa sawit dan beberapa pemukiman warga dan juga perumahan transmigrasi. Jarak desa Tau (desa relokasi bernama Tau Baru) sekitar 110 kilmeter dari kota kabupaten Malinau. Akses jalan lebih mudah melalui jalan darat. Desa Tau berada di kecamatan Tulin Onsoi, dengan desa induknya berlabel desa Sekikilan. Pusat keramaian terdekat bisa dijumpai di daerah trans SP satu (sarana pemukiman). Kondisi jalan dari kota Malinau hingga lokasi transmigrasi sebuku masih terbilang baik, jalan beraspal dengan lobang di beberapa titiknya. Tetapi untuk menuju desa Tau (baca Taw), jalan mulai memperlihatkan ‘keramahannya’.  Desa Tau, berdampingan dengan desa Tinampak II, sementara desa Tinampak I berada sekitar 30 menit perjalanan darat via ranger atau 120 menit jogging.

Sore hari, perjalanan terhenti di desa Tinampak I untuk mengantarkan beberapa logistik tambahan untuk tim survey, kemudian dilanjutkan menuju desa Tau Baru untuk regu berikutnya. Sebelum memasuki desa Tau Baru, pemandangan disuguhkan dengan keberadaan Pos Satgas Libas Malindo Kompi Tempur 5 Yonif 413 Kostrad. Wudiiih, terasa adem makyus dah melihat pos ‘kecil’ tetapi terlihat sangar tersebut. Tentara asal kostrad Solo – Jateng (hadeh, bingung deh bahasanya apaan, markas, kompi atau apa, ada bedanya ga ya, maklum SMK Tata Boga jadi miskin istilah ketentaraan, wkwk), telah bertugas lebih dari enam bulan di lokasi ini. sebuah lokasi yang jika mereka melepaskan pandangan yang tampak hanya rimbun pepohonan di perbukitan. Tepat di depan Pos PAMTAS tersebut adalah bangunan sekolah dasar lengkap dengan halaman terbuka yang digunakan sebagai lapangan olahraga volley. Terlihat gadis-gadis desa yang berolahraga saat itu, namun saya tak sempat mengambil gambar karena berniat akan kembali ke lokasi tersebut setelah kendaraan kami sampai di tujuan. Apa lacur, ketika saya kembali ke lokasi lapangan olahraga tersebut, pemain volley ball telah berganti menjadi para prajurit kostrad *nyengir.

Rombongan kami sampai di desa Tau Baru sore hari, team leader melakukan perijinan dengan aparatur desa setempat, sementara saya, yang notabenenya hanya menyelinap saja, bersegera menyusuri desa yang benar-benar berada di pedalaman ini. lokasi desa yang daleeeeeemmmm banget, asli, pedaleman !. rombongan kami ditempatkan di posko tamu yang sudah mirip homestay di lokasi wisata terkenal. Bangunan permanen lengkap dengan keramik bersih, kamar mandi plus persediaan air membuat saya harus mengangkat jari jempol (dan berkata ‘wow’ gitu) untuk keberhasilan program PNPM yang tidak ditilep oleh segelintir orang. Saya menuju pemukiman yang letaknya berada di dataran lebih rendah dari pos tamu tempat kami menginap. Tak terlalu banyak penduduknya, karena memang seperti itu umumnya sebuah desa di Kalimantan. Warga desa ini adalah suku Dayak Agabak, mereka bermata pencarian sebagai PNS (pencari nafkah serabutan), nelayan ataupun berkebun. Desa Tau Baru tak terlalu rapi, jarak antara satu rumah dengan rumah yang lainnya tak diberi space yang luas. Terlihat gereja berdiri kokoh tepat di atas bukit. Tampak juga tempat pemandian atau penampungan air yang mengalir tanpa henti, karena merupakan air dari pegunungan yang dialirkan melalui pipa besar.

Di beberapa kesempatan saya banyak berbincang dengan pendeta / gembala yang bertugas di desa tersebut, tak terkecuali dengan pak Dal, warga asli desa tersebut. Kesempatan tersebut tak saya sia-siakan untuk berburu informasi tentang kebenaran adanya satwa gajah yang saya baca di internet tersebut. Dari keterangan warga setempat, mereka membenarkan informasi yang saya bawa. Gajah, binatang bertubuh besar tersebut memang nyata, benar adanya di wilayah hutan mereka. Terutama di desa lama mereka yaitu desa yaitu desa Tau, sekitar satu jam perjalanan via darat. Bagi warga desa, gajah bukan binatang yang mereka buru untuk dikomsumsi, mereka juga berkeyakinan bahwa binatang tersebut akan melakukan perlawanan atau membalas jika keberadaaan mereka diusik. Alasan tersebut yang menjadikan binatang gajah masih bisa ditemukan meski sekarang sudah semakin sulit karena areal hutan banyak berubah fungsi menjadi areal perkebunan kelapa sawit yang luas dan luas dan luas.

Dalam keseharian mereka untuk berburu binatang hutan semisal babi, atau mencari kayu, mereka masih bisa menemukan satwa tersebut. Satu waktu si gajah juga pernah terjerat oleh perangkap yang dibuat oleh warga, walau sebenarnya perangkap tersebut diperuntukkan untuk menjerat binatang Babi atau Rusa. Kotoran gajah yang katanya berduri masih sering mereka temukan. Bahkan di areal perkebunan kelapa sawit, binatang ini pun terkadang ditemukan.

Saya memang hanya bisa berburu informasinya saja saat itu, untuk berburu binatangnya, tentu memerlukan waktu lebih banyak. Namun setidaknya, pertanyaan besar saya sedikit terpuaskan, bahwa di pulau ini terdapat satwa yang hanya kita kenal keberadaaanya di pulau Sumatera. Begitu banyak yang tidak percaya kalau di pulau ini terdapat juga satwa yang mungkin tersisa segelintir saja. Saya tidak (pernah) tahu, apakah tulisan saya, ada manfaatnya untuk kelangsungan habitat mereka ataukah tidak. Sungguh suatu perasaan merindu ingin melihat populasi binatang tersebut di alamnya sendiri. Namun, apa daya, negeri ini hanya memang bisa tersenyum karena kesenangan kita mengusik ketenangan makhluk lain. Begitu banyak satwa yang dipahami dan diketahui adalah satwa yang dilindungi, tetapi masih tetap saja diburu dan diperjualbelikan.

Hujan deras, malam yang pekat di desa Tau Baru, membuat aku menekuk lutut melewati malam tanpa alas dan bantal. Terdengar suara music tradisional dari kampung sebelah karena ada acara pernikahan. Tak terlalu sulit buatku untuk bisa memejamkan mata, karena seorang backpacker memang dituntut untuk bisa tidur dan tak tertidur di kondisi apapun juga.

Aku menatap rinai di seberang kaca
Ada belalai bermain di pelupuk mata
Si gajah kedinginan entah dimana
Masihkah ia ada
Atau terus berlari mencari belantara

Keesokan pagi, aku dan seorang teman memilih untuk ke sungai daripada bergantian di kamar mandi. Sungai berbatu dan masih berkabut ini, memberikan kesejukan tersendiri. Air sungai yang tak jernih, mungkin karena hujan semalam (nyalahin hujan, padalahal eksplotasi hutan alam, ngeeekk), membuat ada yang tak padu di panorama pagi ini. Tampak sebuah gereja lagi di kampung Tinampak yang terlihat indah bersama sebatang pohon yang rindang di sisi kanannya.

Perjalanan pagi dilanjutkan untuk mengantar sebagian regu survey potensi menuju desa Tau. Jarak tempuh dari desa Tau Baru menuju desa Tau yang telah ditinggalkan tersebut, adalah lebih dari satu jam perjalanan. Jalan yang licin, berbukit dan berbadan jalan yang tak luas membuat pengemudi harus ekstra hati-hati dengan berkendara. Di sebagian perjalanan, kami kembali melewati areal perkebunan kelapa sawit yang sangat luas, seluas mata memandang. Sementara beberapa kilometer mendekat ke desa Tau, lokasi menjadi areal hutan yang tak lagi terlihat rindangnya pepohonan.

Kegiatan paripurna. Saya kembali bergegas pulang. Sepanjang perjalanan, saya hanya bisa memandangi bumi Kalimantan yang kini menjadi hutan bertajuk rendah. Hutan kelapa sawit. Bagaimanakah nasib satwa-satwa bertajuk tinggi. Dimanakah saudara-saudara Bona *gajah di komik anak Bobo*. Saya hanya bisa meluaskan imajinasi, bahwa satwa-satwa tersebut sama halnya dengan pedagang kaki lima di perkotaan yang dikejar dan dipukuli oleh satpol pamong praja dengan alasan keindahan kota.

I hope, one day I can meet those gentle giants (elephants) out there in the wild where they belong, not in the circus.

ooOoo

Gallery

Kantor Desa Sanur, Tulin Onsoi, Nunukan

POS PAMTAS MALINDO
Pagi di sungai desa Tinampak II
Desa Tau Baru
Jalan menuju desa Tau (lama)
Kondisi Jalan Menuju Desa Tau (lama)
Areal Perkebunan Kelapa Sawit Nunukan
Berjibaku dalam Hujan dan Pohon Tumbang
Warga Desa Tau
Menuju Desa Tau Baru
Desa Sekikilan, Tulin Onsoi
Desa Tinampak I, Tulin Onsoi
Maaf, Ga nemu gajahnya....

Artikel Terkait
Comments
8 Comments

8 komentar:

  1. d klsel juga ada dulu tpi udah matii..ihehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hm...sangat disayangkan. semoga satwa lain masih bisa kita pertahankan.

      Hapus
  2. salamku pasti gak tersampaikan u,u

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe...ia nih, musti ada tim ekspedisi khusus untuk menyampaikan salamnya.

      Hapus
  3. Ngiri nih dengan petualangan dan napas panjang menulisnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih, tulisan anda juga sangat menarik. Ingin juga menulis dalam bahasa internasional seperti tulisan anda.

      Salam kenal, terimakasih sekali atas kunjungannya.

      Hapus
  4. Man, yang ingin aku tanyakan, siapakah sopir yang mendapat tugas untuk perjalanan panjang melintasi 4 Kabupaten di Kaltara? MANSYUR?

    BalasHapus
  5. KISAH NYATA..............
    Ass.Saya ir Sutrisno.Dari Kota Jaya Pura Ingin Berbagi Cerita
    dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
    saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
    saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
    internet dan menemukan nomor Ki Kanjeng saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya di kasih solusi,
    awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Kanjeng alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
    sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki
    Kanjeng di nmr 085320279333 Kiyai Kanjeng,ini nyata demi Allah kalau saya tidak bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.

    KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA HUBUNGI TERNYATA BETUL,
    BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!

    ((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))

    Pesugihan Instant 10 MILYAR
    Mulai bulan ini (juli 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :

    Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
    Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
    dll

    Syarat :

    Usia Minimal 21 Tahun
    Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
    Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
    Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
    Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda

    Proses :

    Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
    Harus siap mental lahir dan batin
    Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
    Pada malam hari tidak boleh tidur

    Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :

    Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
    Ayam cemani : 2jt
    Minyak Songolangit : 2jt
    bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt

    Prosedur Daftar Ritual ini :

    Kirim Foto anda
    Kirim Data sesuai KTP

    Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR

    Kirim ke nomor ini : 085320279333
    SMS Anda akan Kami balas secepatnya

    Maaf Program ini TERBATAS .

    BalasHapus