Kamis, 04 April 2013

Upacara Kematian di Desa Tangap, Kalimantan


Lebih dari lima tahun saya tinggal di desa ini. Sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan persaingan memperebutkan materi. Di desa ini, berdiam majemuk suku pedalaman yang tetap mengedepankan toleransi dan juga kebersamaan. Tak ada gedung-gedung tinggi di tempat ini, hanya ada pohon-pohon menjulang tempat lebah membangun sarang. Tak ada wanita bersepatu hak tinggi di sini, hanya ada wanita bertelanjang kaki dan berjalan menunduk serta menggendong anjingnya, tetapi tahukah, sekalipun demikian mereka tak pernah menelanjangi harga dirinya. Tak ada suap dan sekongkol dalam menempuh suatu tujuan disini, yang ada hanyalah sebuah pukulan gong tanda mupakat telah didapat.

Tangap, nama desa itu. Berada dalam kecamatan Sekatak, kabupaten Bulungan, provinsi Kalimantan Timur. Ada sungai berbatu yang bila hujan datang airnya menjadi keruh. Namun akan menjadi sangat rupawan ketika musim panas tiba, karena airnya menjadi jernih berpadu dengan rimbun pepohonan serta batu-batu sungai yang bertaburan.
 
Berada di desa ini, terkadang membuat kita harus menarik sebuah pelajaran tentang pendidikan moral sebenarnya. Meski tak berpenduduk padat, desa ini berdampingan dan dihuni oleh lebih dari satu macam suku. Adat istiadat dan juga budaya, menjadi corak yang perlu kita lestarikan. Di desa ini selain rumah adat suku dayak yang bernama rumah panjang, juga berdiri sebuah gereja dan juga sebuah masjid. Saling berdampingan dan juga saling menorehkan kebijaksanaan untuk menghormati keyakinan masing-masing. Adakalanya perayaan keagamaan yang telah berpadu oleh unsur budaya menjadi kemeriahan bersama, seperti perayaan maulid hingga pelaksanaan perayaan pernikahan dengan budaya arab bercampur dengan budaya suku lokal setempat, hingga upacara kematian oleh suku dayak yang kadang digelar hingga satu pekan lamanya. Cerita saya kali ini, adalah untuk berbagi tentang upacara kematian tersebut karena lebih memperlihatkan khasanah budaya asli bangsa kita.


Di berbagai daerah, upacara kematian memiliki kekhasan masing-masing. Kita telah mengenal budaya Tana Toraja dengan kemasannya hingga mengundang daya tarik dan keingintahuan wisatawan untuk bisa hadir mencicipi keragaman budaya tersebut. Begitu juga dengan daerah lainnya, seperti Bali ataupun daerah Sumatera Utara. Nah, di daerah saya, upacara kematian juga menjadi agenda khusus. Upacara kematian melibatkan seluruh warga desa. Para pemuda atau pria dewasa bergotong royong mencari kayu bakar untuk bahan bakar memasak jamuan. Selainnya, mereka membuat sejenis peti mati yang disebut dengan nama Lungun, yang terbuat dari sebatang kayu Ulin atau jenis kayu keras lainnya, dibuat sedemikian rupa dengan melubangi bagian tengah kayu sehingga lubang tersebut akan berfunsi sebagai tempat persemayaman jenazah. Sementara para wanita dewasa, menyiapkan kuliner khas untuk menjamu para pelayat hingga tamu-tamu lainnya. Ada satu kuliner yang menjadi kekhasan pada upacara kematian tersebut. Adalah Pengasih, jenis minuman permentasi umbi-umbian, yang ditempatkan pada sebuah wadah khusus (tempayan). Minuman pengasih dapat dinikmati oleh siapa saja, dan tentu saja bisa menimbulkan efek memabukkan jika dikomsumsi berlebihan.

Upacara kematian dilaksanakan di rumah adat, berupa rumah panjang yang dapat menampung seluruh warga desa. Terdapat ornament berupa kain-kain berwarna merah dan kuning di beberapa tiang rumah. Terdapat property khas seperti mandau dan sumpit hingga perhiasan wanita berupa gelang dan rantai manik-manik. Upacara kematian juga diselingi dengan tari-tarian daerah yang diiringi dengan bunyi gong yang saling bersahutan. Gerak tarian yang mereka tarikan berbeda dengan gerak tari ketika menari pada acara pernikahan. Sepintas memang sama, tetapi ada beberapa gerak yang tidak boleh ditarikan jika tidak sesuai dengan acaranya. Tarian pada saat upacara kematian bisa ditarikan oleh wanita dan juga pria.

Tidak ada keharusan bagi warga desa akan pelaksanaan upacara kematian tersebut, bagi keluarga yang menginginkan penghormatan terakhirnya diwujudkan dalam bentuk upacara kematian, bisa menggelar acara tersebut dengan melibatkan seluruh warga desa, tetapi bagi keluarga yang ingin membuat upacara kematian dengan cara yang lebih sederhana, pun dipersilakan.

Jenazah yang diletakkan di dalam lungun, diangkat dan diusung menuju tempat pemakaman. Ada beberapa cara dalam hal perlakuan persemayaman terakhir. Ada yang menggunakan cara mengubur jenazah, ada juga yang hanya diletakkan di dalam lubang tanah tanpa ditimbun kembali. Para pengantar jenazah, ada yang membawa barang-barang kesayangan mendiang semasa hidupnya, untuk disemayamkan bersama jenazah. Sementara itu, bagi keluarga yang ditinggalkan akan mengenakan kalung yang terbuat dari bahan manik-manik sebagai tanda upacara kematian berakhir.

Kalimantan, tidak hanya tentang eksploitasi alamnya saja. Begitu banyak kekayaan budaya yang bisa ditampilkan. Sebuah peradaban khas Indonesia yang butuh racikan serius sehingga bisa ditampilkan menjadi sebuah acara budaya yang lebih mempesona. Keseriusan semua pihak, terutama pemerintah daerah sangat kita harapkan agar kiranya pagelaran budaya seperti upacara kematian ini, bisa terus kita lestarikan. Selain akan lebih meningkatkan kecintaan pada generasi baru akan warna budaya bangsa, pagelaran upacara kematian secara adat yang dikemas baik, bisa berdampak pada aspek ekonomi warga. Tulisan ini, media ini, adalah salah satu bentuk kepedulian anak bangsa untuk terus menulis indahnya budaya Indonesia dalam untaian kata.

ooOoo
Artikel Terkait
Comments
4 Comments

4 komentar:

  1. Hello to all, how is everything, I think every one is getting
    more from this website, and your views are pleasant in
    favor of new viewers.

    Here is my weblog ... ralph lauren polo sale

    BalasHapus
  2. budaya...budayaa.. dan budaya... gag ada lelahnya menikmati, membahas, merenungkan kata2 satu ini. dan budaya adalah jantung dr negara ini... great !! tulisan bagus bang bro.... jadi pengen ke kaltim :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. budaya, perlu kemasan lebih baik agar bisa "dijual" dan "menjual". mari ke kaltim...*kaltara bro

      Hapus
  3. wah, ulasan menarik
    biasanya yang terkenal adat kubur Toraja, ini adat dari daerah lain
    informative..

    BalasHapus