Rabu, 13 Maret 2013

Surat Buat Cikuray


Dear Cikuray
Apa kabarmu sahabat, masihkah awan-awan kinton itu menemanimu di pagi cerah, masihkah cahaya ungu dan biru menjadi bingkai senjamu, masihkah kabut-kabut tipis menemani dingin pagimu, dan masihkah kau ingat saat keningku menyentuhmu?

Aku sudah sampai di kediamanku di tanah Borneo, malam di sisi hutan dan air sungai yang membasahi bakau, ada suara binatang keriang dan alunan ayat suci dari kecilnya surau. Ini janjiku untukmu, jika telah sampai, aku akan menuliskan surat untukmu, sehingga pertemanan kita akan terus terbaca dan terhubung selamanya. Aku dan engkau, seorang Borneo dan Cikuray.

Mas Rudy San di puncak Cikuray - Garut Jawa Barat

Cikuray yang tenang, pukul empat sore, aku baru sampai, setelah melewati laut Kalimantan dan juga anak sungai. Aku landing di kota Tarakan pukul setengah satu siang tadi, dengan menumpang pesawat Lion Air, transit di kota Balikpapan cukup lama dari waktu check in di kota Jakarta pukul tiga dini hari. Di kota Bandung, sempat menikmati makan malam dengan latar Gedung Sate yang bersejarah itu, setelah sebelumnya terjebak macet saat mulai meninggalkan desa Dayeuhmanggung, Cilawu Garut menuju kota Bandung. Itu cerita kepulanganku hingga aku bisa kembali dengan selamat, sementara cerita keberangkatanku juga dengan rute yang sama, aku berangkat hari jumat pagi, tanggal 08 Maret 2013, menuju Tarakan, dan tiba di ibukota pukul sepuluh malam, setelah itu aku lanjutkan menuju Bandung dengan menumpang bus Primajasa hingga sampai di kawasan perumahan Batununggal. Di seberang jalan sudah ada travelmateku untuk mendakimu, namanya mas Rudy San, warga bandung yang sangat saya hormati. Dini hari, aku dan mas Rudy memulai perjalanan ini berdua menuju kota Garut. Perjalanan kami cukup tersita ketika mencari jalan menuju perkebunan teh desa Dayeuhmanggung. Sebelum adzan subuh berkumandang, kami telah sampai dan beristirahat sejenak di desa tersebut.

Oh ya Cikuray, waktu aku sholat subuh berjamaah di masjid Istiqomah desa Dayeuhmanggung tersebut, aku mendapat sambutan yang sangat hangat dari jamaah dan juga warga desa. Setelah sholat subuh berjamaah dengan mereka, aku mengikuti pengajian terjemah al quran dengan bahasa pengantar menggunakan bahasa lokal setempat. Ada Pak Nana, Pak Uwoh, Bu Dede, dan yang lainnya, mereka adalah warga yang sangat ramah. di Pengajian pagi, aku juga dijamu segelas teh manis dan kuliner khas setempat. Mereka juga menanyakan mas Rudy mengapa tidak ikutan untuk mengaji bersama, aku katakan kalau teman saya tidak seakidah denganku, dan beliau menunggu saya beribadah sembari berisitirahat di dalam kendaraan. Reaksi mereka sangat datar, tetapi disini aku meyakinkan bahwa pertemanan kami adalah pertemanan tanpa sekat apapun, apalagi tujuan kami adalah untuk menemuimu Cikuray, tentu kami harus mendahulukan toleransi dan juga kebersamaan diantara sedikit perbedaan terebut.

Perkebunan Teh Jalur Gunung Cikuray

Sekitar pukul delapan pagi, kami meninggalkan desa. Sesuai saran para penduduk setempat, kendaraan kami titipkan di depan rumah pak Uwoh, sementara untuk menuju gerbang pendakian di pemancar stasiun relay tv, kami menggunakan jasa ojek. Pagi itu sangat cerah, begitu banyak pendaki lain yang bersiap untuk mendaki. Kami memulai pendakian dengan melalui jalan menanjak diantara luasnya kebun teh yang hijau membentang. Di awal perjalanan kita sudah bikin sensasi diantara ramainya pendaki lain. Kita berdua melewati mereka dan berjalan seraya tebar pesona, sesekali menyapa ramah hingga di akhir pendaki, mas Rudy menyapa sambil bertanya, apakah benar jalur mendaki arah ini?, kemudian dengan tenangnya pendaki tersebut menjawab bukan, anda harus berbalik arah kembali ke jalan dimana anda berada sebelumnya. Jleebb, serasa ingin ditelan bumi, kita berbalik arah seratus delapan puluh derajat untuk melewati jalan yang mereka tunjukkan, dan kita kembali melalui pendaki-pendaki lainnya.

Pintu pendakian dimulai dari melalui tanjakan diantara kebun teh yang luas, perlahan kami melangkahkan kaki, suara napas terdengar dengan cepatnya, entahlah apakah karena factor usia yang membuat saya kelelahan, ataukah lingkar perut yang semakin membulat, atau karena memang belum istirahat sedari perjalanan atau memang tanjakannya yang aduhai, apapun itu aku tetap menikmati perjalanan ini, dengan satu tujuan, menemuimu wahai Cikuray dengan rasa aman.

Tiga puluh menit berlalu, trek memasuki kawasan hutan, jalur mendaki jelas dengan dibantu papan petunjuk hingga ke puncak. Meski hanya berdua dan belum pernah mendaki gunung ini, kami hanya mengandalkan referensi dan keyakinan akan banyaknya pendaki lain yang melakukan aktivitas pendakian di akhir pekan ini. dan benar saja, sepanjang pendakian, kami berganti rombongan yang bertemu selama pendakian. Saling bertegur sapa, saling memberi semangat, sehingga kebersamaan semakin terasa kental dan begitu bersahabat.

Cikuray, untuk menujumu ternyata butuh kekuatan ekstra, nyaris tak ada medan bonus untuk menuju puncakmu. Persediaan air juga harus diatur sedemikian rapi pemakaiannya, karena tak ada sumber air sepanjang jalur pendakian. Di beberapa pos, kami selalu merehatkan badan, sementara mas Rudy sempat tertidur beberapa menit. Aku membiarkan saja beliau hingga beliau terbangun sendiri, maklum saja, beliau memang belum tertidur dari semalam sejak menunggu kedatanganku, hingga menyetir kendaraan sampai pagi menjelang.

Tiba di pos empat, kami beristirahat sambil mengeluarkan nasi bungkus yang memang telah kami persiapkan. Sementara pendaki lain mengeluarkan peralatan memasaknya untuk menyantap makan siang juga. Kami kembali melanjutkan perjalanan, gerimis datang kami mengeluarkan jas hujan. Terus melangkah hingga ke pos enam atau yang disebut juga sebagai puncak bayangan. Dari puncak bayangan aku sempat kecewa, aku menyangka, dari situ puncak sesungguhnya akan terlihat jelas, tetapi sama sekali tidak, puncak Cikuray selalu terhalang lebatnya pepohonan. Hujan semakin deras, lelah semakin terasa, aku berjalan lambat, beban terasa berat, aku berbisik pekat, aku harus kuat, puncak tak pernah terlihat, aku membisu seperti sekarat, hanya seuntai kalimat menyemat, puncak itu akan aku dapat, menyambutku, memanggilku, seolah engkau datang memberiku semangat.

Pukul empat sore, aku sampai di puncak. Telah berdiri beberapa tenda disana, kami memilih mendirikan tenda ke bagian bawah sehingga terlindung dari kencangnya tiupan angin. Mendirikan tenda, lalu memasak air dan membuat makanan instant. Setelah itu, kami beristirahat, hingga fajar tenggelam.

Semburat jingga, pecahan nila hingga bias ungu violet berpendar dalam sebenar kanvas. Sungguh sebuah pertunjukan langit yang indah. Saat angin meniup wajah, menatap dedauan bergerak searah, perlahan hitam menggantikan seluruh warna. Seketika berganti. Lampu-lampu kota terlihat bagai bintang di permukaan bumi, sementara bintang terlihat seperti  menyusun sebuah nama yang indah.

Kita kembali ke tenda, bersama pendaki lain saling bercerita hingga menyalakan api unggun bersama. Lelah, kami memilih beristirahat sambil menunggu mentari pagi esoknya.

Pukul empat pagi, kami terbangun. Menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut fajar. Membawa matras, trangia, logistik dan tentu saja kamera. Di puncak sungguh ramai dengan pendaki lain, meski sebagian masih banyak yang tertidur pulas. Perlahan sinar kemerahan terlihat dari ufuk timur, tak terlalu jelas karena awan pekat menutupi sebagian. Lampu-lampu kota masih terlihat benderang, sementara Papandayan mulai terlihat perlahan. Aku mensucikan badan, menghampar pintalan benang sebagai tempat benamkan wajah. Berdiri, bersimpuh dan bersujud untuk bercerita dengan sang pencipta, Tuhanku dan Tuhanmu juga. Kubiarkan angin membelai lembut, kuucapkan lirih kagumku akan lukisNya, kupinta berikan aku paham atas niat sebuah pendakian, hingga penatku bukanlah sebuah kesombongan mengangkat sebuah beban.

Kabut berlalu, langit benderang, awan-awan putih beriringan, bertemu bagai lautan di ketinggian. Aku tepekur, berputar badan sebentuk lingkaran. Tak ada yang tak indah dipandang mata. Sungguh sebuah pesona tanpa kasta. aku tepekur, berdiam menatap biru yang tak retak, mencari tiang dari lebarnya atap, sungguh sebuah maha bagi seorang pecinta, membuat detak menahan ucap.

Terimakasih Cikuray, kau biarkan aku sanggup berlama-lama bersamamu, kau sambut aku dengan ramahmu, kau buat aku tuk jatuh cinta pada ketinggianmu. Engkau tahu Cikuray, saat itu adalah sarapan terindah dalam diaryku, menikmati secangkir cokelat panas dan selembar roti kacang, bersama seorang sahabat yang sarat pengalaman, kami duduk menggelar alas menatap awan, berdampingan dengan sedikit bunga-bunga pegunungan, lumut-lumut dahan menjadi bingkai, sementara puncak papandayan menggoda dari kejauhan.

Pukul sepuluh pagi, kami bergegas, merapikan tenda, meninggalkan puncak Cikuray. Perjalanan pulang memberikan satu lagi ragamnya sebuah pengalaman, hujan deras menemani lereng yang curam, kami berjalan perlahan dan selalu beriringan. Pukul empat sore, kami tiba di desa terdekat, pamit dengan warga yang telah memberikan kesan indah selama perjumpaan dengan mereka. Sungguh sebuah Indonesia yang sebenar, Indonesia yang dikenalkan berpenduduk ramah, sama sepertimu wahai Cikuray, yang ramah ketika aku datang menjamah.

Dari Kalimantan kutulis surat ini untukmu, sampaikan salamku buat teman-temanmu juga wahai Cikuray, semoga satu saat nanti akupun dapat menjumpai mereka.


Sahabatmu,

Iman Rabinata


*album photo dapat dilihat disini
Artikel Terkait
Comments
16 Comments

16 komentar:

  1. Jempolll dech mas,,,
    Ehhh,,,cm brDua tho mendakinya?! Kereeennn,,,ku pikir brame-rame,,,good job,,,
    Salutt dech,,
    Skrg mas iman dah pendaki ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ ,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba Novia atas kunjungannya.

      Hapus
    2. mas iman ...gk kbr kbri mau ke pulau jawa...apalagi cikuray....gk ajak ajak...sombongnya,but goodjob,hiking duet nih ma mas rudy jd inget ciremai...mau cikuraynya :( kl ke pulau jawa kbrilah...sapa tau ak bisa ikut tripnya ha..xx surat buat aku mana???? he..xx

      Hapus
    3. Hehe bukan sombong, ga enak aja ajak-ajak, lha saya sama mas rudy sama2 belum pernah ke cikuray, jadi modal referensi saja kesana. Lha kalau ajak2 ntar repot jelasinnya. Kemaren emang niat banget, di sela2 kerja, kontak via pesen singkat, kita deal, ya udah berangkat dah. kapan2 deh, saya kontak2 kalau ke tanah sunda lagi, atau daerah jawa tengah juga pengen banget ke sana *sumbing-sindoro dll.

      Makasih ya udah berkunjung ^ ^

      Hapus
  2. suratnya juga terbaca dari Jakarta :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. asiik...diedarkan saja suratnya, surat terbuka koq hehe.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. waaahhh keren mas :) , kangen cikuray . dulu sempat kesana upacara kemerdekaan di puncak hehhehe..
    kangen mendaki, tp udah gak bisa skrng hiiksss..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. Cikuray punya hamparan awan yang sangat indah. Saya beruntung bisa menikmati keramahan cikuray.

      Hapus
    2. wah coba mas, selusuri lagi gunung yang ada di jabar, g. ciremai, papandayan, salak sama gede pangrango tak kalah menariknya lho hehhe

      Hapus
  5. tulisan y bang iman emang bikin klepek-klepek...untung q masih normal...klo gak mungkin udah jatuh cinta ma si abang...hahahahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wuakakakakak, buka email pagi, dapat rayuan gombal *tahansenyumbosadadidepan

      Hapus
  6. wkkwkwkwkw keren bahasanya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkw keren komentarnya..hehe

      Hapus
  7. Hmmm... Suka deh sama tulisan bang iman yg ini, rasanya gurih gurih gimana gitu heheheheee.... ^o^

    BalasHapus