Sabtu, 11 Mei 2013

Rinjani : Tentang Keindahan Alam, Impian dan Pertemanan


Rinjani, sebutan untuk gunung yang dipredikatkan sebagai gunung tercantik di Indonesia, berada di pulau cantik Lombok, provinsi Nusa Tenggara Barat. Kesanalah aku, Edgar Handoko (20,malang) dan Faris (23,Banjarmasin) menujunya. Pendakian kali ini, tidak lagi bercerita tentang apa yang kami saksikan dan yang mereka sebut sebagai keindahan paripurna, tetapi pendakian ini kami maknai sebagai sebuah pertemanan lintas daerah yang harus kami bina sehingga perjalanan ini bisa kami lalui dengan kesepakatan bersama, dengan keceriaan bersama, dengan keselamatan hingga kembali ke daerah masing-masing. pendakian ini bukan tentang siapa yang lebih dulu menggapai puncak, bukan tentang siapa yang lebih kuat menahan berat, juga bukan tentang siapa yang lebih dewasa dalam mengambil keputusan, tetapi, pendakian ini tentang siapa yang lebih dulu menawarkan energi berlebih kepada yang membutuhkan, tentang siapa yang lebih ringan mengulurkan tangan, dan tentang siapa yang lebih mandiri untuk menjalankan kata sepakat dari sebuah keputusan.


19 April 2013, meeting point yang kami sepakati adalah bandara internasional Juanda, Surabaya. Kita akan satu penerbangan menggunakan pesawat udara Citilink jurusan Lombok Praya. Rencana, tinggal rencana, pesawat Lion Air yang mengantarkan aku rute Tarakan – Surabaya reschedule, sehingga jadwal kedatangan di Juanda bentrok dengan jadwal keberangkatan selanjutnya menuju Lombok Praya. Pihak maskapai bertanggungjawab dengan mengganti tiket citilink saya, dengan pesawat lain meski harus datang lebih akhir satu jam dari jadwal yang telah kami buat.

Bandara Internasional Lombok, atau lebih disebut BIL. Bandara baru yang megah, saya menemui dua sahabat pendaki yang telah lebih dulu tiba. Ada beberapa opsi untuk menuju desa Sembalun Lawang, sebagai desa terakhir untuk memulai pendakian menuju puncak Rinjani. Opsi regular adalah dengan menggunakan Bus Damri rute Bandara menuju terminal Mandalika, kemudian menggunakan minibus hingga sampai ke desa Sembalun. Atau langsung menggunakan rental kendaraan sejenis APV atau Xenia, yang banyak dijumpai di Bandara Internasional Lombok. Dengan kesepatakan bersama, kita memilih menggunakan rentcar dengan tariff IDR 400k.

20 April 2013, pukul 5.30, kami tiba di Rinjani Information Centre berada di desa Sembalun Lawang. Registrasi dan Donasi Kebersihan sejumlah IDR 10k, kami lanjutkan dengan sarapan pagi hingga memesan nasi bungkus untuk makan siang di perjalanan kelak. Dari desa Sembalun Lawang ke batas pendakian, kami menggunakan jasa Ojek seharga IDR 15k, dengan badan jalan yang tidak lebar dan kondisi jalan yang telah rusak berbatu, menggunakan jasa Ojek menuju batas pendakian, cukup menghemat waktu dan tenaga. Pukul 08.00 pagi, kami berdoa, memulai pendakian ini, bersama, bersama dan  harus terus bersama.

Pemandangan yang disajikan benar-benar membuat kami seperti petualang yang sedang mencari sesuatu, entah apakah itu. Pagi yang cerah, matahari menyinari savanna yang luas, terlihat desa Sembalun diantara bukit-bukit hijau tak rindang, hingga lautan di sisi barat, kami berjalan beriringan, dengan keril di bagian belakang, tak terlalu banyak cerita disela perjalanan kami, hanya sesekali aku menengok ke belakang memastikan kerapatan jarak diantara kami tak terlalu berjauhan. Hingga waktu makan siang tiba, kami beristirahat di Pos III. Pukul 01.00 siang, kami lanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun melalui apa yang mereka sebut sebagai Bukit Penderitaan.

Kepayahan melanda kami, stamina mulai menurun, jadwal tiba di Plawangan Sembalun mundur dari yang kami buat, dan baru tiba ketika hari telah gelap. Kami mendirikan tenda, mengambil air dan membuat makanan. Sumber air bisa ditemukan di Pos II, Pos III dan di Plawangan Sembalun. Saat penghuni tenda lain telah berisitrahat, kami bertiga masih menyibukan diri dengan membuat makan malam. Aku berusaha menikmati. Hari pertama team sudah dihadapkan dengan persoalan diluar perkiraan. Tenda yang dibawa meski bisa menampung kami bertiga, tetapi ukurannya sudah tidak ideal, sehingga ketika tidur, harus melipatkan kaki. Bahan bakar spirtus yang dibawa juga ternyata tidak mencukupi. Begitupun jadwan summit yang seharusnya dini hari esoknya harus kami lakoni, kami sepakati untuk ditunda dihari berikutnya untuk memulihkan stamina.

Plawangan Sembalun
21 April 2013, Plawangan Sembalun tempat kami mendirikan tenda tampak sepi. Memang banyak tenda yang berdiri di sisi tenda kami, tetapi, penghuninya sedang berada di puncak. Hanya ada beberapa porter yang menjaga logistic dan juga menyiapkan menu makan pagi. Aku berdiri melihat sekeliling, pagi yang cerah, terlihat danau Segara Anak dari Plawangan Sembalun tempatku berpijak, terlihat dinding puncak Anjani yang kokoh, tebing terjal diantara lautan awan, hingga punggung-punggung bukit dengan sedikit pepohonan. Aku menatap lama ke arah puncak. Seharusnya aku sudah berada di atas sana, tetapi sekali lagi kalimat itu menghampiri, untuk membuyarkan egoismeku. Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai ke puncak. Ini bukan tentang perlombaan seberapa cepat engkau bisa taklukan perjalananmu. Ini bukan tentang cita-citamu. Ini tentang kebersamaan. Ini tentang toleran. Ini tentang saling memahami, tentang saling berbagi kebahagian, tentang komitmen, bahwa ada yang lebih utama dari sebuah perjalanan, bahwa ada yang lebih berat dari sebuah target perjuangan, dan ada yang lebih indah dari sebuah impian, dan itu adalah kesetiakawanan. Kesetiakawan dalam sebuah pendakian adalah harga mati yang tak boleh kau tukar dengan cita-cita tunggalmu seorang.

Satu hari penuh, kami hanya mengisi hari dengan berbagi cerita satu sama lain. Duduk di atas bebetuan, membiarkan kaki menjuntai di sisi jurang, dan menatap gumpalan awan di bawah sana. Yah, awan-awan itu berada di bawah sana!.

21 April 2013, dini hari, pukul 02.30 kami bersiap untuk melakukan summit attack.  Suara angin terdengar begitu kerasnya. Menerbangkan benda-benda yang tak terpasak dengan erat. Kami, bertiga memulai pendakian ini. gelap, pekat dan angin yang bertiup demikian kencangnya. Tekstur trek menuju puncak sesungguhnya tak terlalu merepotkan. Tetapi angin yang menghantam dari sisi timur, membuatmu mencari perlindungan diantara bebatuan. Tubuh bergetak menggigil kedinginan. Kabut tebal membuat sinar lampu kepala tak berfungsi maksimal. Perlahan, sedikit demi sedikit kami bergerak maju. Saling menguatkan, saling memberikan motivasi. Kondisi seperti ini sebenarnya telah kuketahui dari beberapa referensi yang kubaca sebelum pendakian, namun apa yang kami alami sungguh diluar perkiraan. Pukul 07.00 pagi, kami bertiga sampai di puncak. Tak banyak yang kami lakukan selain mengabadikan setiap moment dan kesempatan.  Langit terlihat sangat indah. Biru cerah, dan kabutpun berlalu sementara. Sementara angina kencang, tetap saja bertiup seperti sedang berlomba menuju suatu tempat.

Kami beristirahat di balik batu, tak jauh dari puncak Anjani. Membiarkan tubuh yang kelelahan mengumpulkan kembali energinya. Tak beberapa lama kamipun beranjak meninggalkan puncak dan perlahan menuruni trek yang sama. perjalanan kali ini tentu dengan kondisi yang berbeda. Trek menurun, yang memang tak membutuhkan tenaga seperti saat mendaki. Dan juga kondisi psikis yang lebih enjoy karena telah mencapai puncak. Yang kami lakukan saat itu adalah memperbanyak pengambilan gambar. Ini berbeda dengan dua hari sebelumnya. Meski dari awal pendakian, gunung rinjani telah menawarkan begitu banyak spot mengagumkan, tetapi, baru saat setelah kami berada di trek turunan dari puncak ini, kami benar-benar menikmati keindahan yang sangat sayang untuk kami lewatkan. Dari sisi timur, gumpalan awan kinton perlahan bersusun seperti busa di dalam bak mandi. Sementara tebing di sisi barat seperti bukan tofografi khas daerah tropis. Ada cekungan besar dengan air hijau di dasarnya, ada punggungan hijau dengan sedikit warna warni tenda di sana, dan ada hamparan air membiru ketika kau melempar jauh pandangmu. Aahh, rinjani, sungguh indahnya.

Sesampainya di Plawangan Sembalun, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anak. Cerita selanjutnya akan saya tulis di lain kesempatan.

ooOoo

Thanks to mas Obi yang sudah banyak berikan panduan.

Edgar (kiri) Faris (kanan)
Tulisan ini, saya dedikasikan untuk travelmate saya kali ini : Mohon maaf yang sebesarnya, atas ketidaksempurnaan manajerial pendakian kita. Bahan bakar yang kurang, tenda yang tidak maksimal, ngga jadi camping di pantai, ngga sempat discuss ambil keputusan tentang sewa kendaraan saat di senaru, dan hal-hal lainnya. Semoga di lain pendakian bisa bertemu kembali dan memperbaiki segala kekurangannya. Salam.

Artikel Terkait
Comments
10 Comments

10 komentar:

  1. Wah,, keren mas,.. Pengen bgt naik ke Rinjani, tp blm kesampaian,.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. rinjani memang keren, silakan buat rencana perjalanannya dengan baik, dan buktikan bahwa gunung ini memang pantas dikunjungi.

      terimakasih.

      Hapus
  2. congrat mas iman...sicantik rinjani,mauuuu,tamboraaaaaaaaaa,mimpi.com

    BalasHapus
  3. pingin buanget ku samperin si Anjani,
    tp sampai saat ini masih sebatas pingin.

    but,kereenn banget mas iman...top markotop, congrat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe makasih, ajak mas machegonya dong ke sana...

      Hapus
  4. wahh udah duluan aja mas iman :o
    *pura2 gak tau*

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah udah keduluan aja mas fitra
      *pura2 di perahu

      Hapus