Senin, 13 Mei 2013

Gedung Sate dan Cerita Keberagaman

Hari masih sore, masih ada waktu untuk menikmati kota kembang terlebih dahulu sebelum menuju bandar udara internasional Soekarno Hatta di Tangerang. Kisah ini adalah salah satu episode perjalanan setelah mendaki gunung Cikuray yang berada di kabupaten Garut, Jawa Barat, bulan maret 2013 silam. Aku dan rekan mendaki saat itu, mas Rudy (Bandung), meninggalkan desa Dayeuhmanggung, Cilawu yang menjadi desa awal pendakian kami. Perjalanan menuju kota Bandung ternyata harus berjibaku dengan kemacetan. Maklum saja, saat itu adalah libur akhir pekan dan juga berada di jam-jam non produktif sehingga arus lalu lintas menjadi padat.

Gedung Sate, Bandung - Jawa Barat


Kami hanya berdua. Sepanjang perjalanan kami lewatkan dengan beberapa obrolan ringan. Tentang pekerjaan, kegemaran, sosial budaya, hingga masalah keyakinan. Baiknya, aku dan mas Rudy menurut saya memiliki tipikal yang tak jauh berbeda dalam hal keberagaman keyakinan. Obrolan kami tentang masalah tersebut menjadi perbincangan yang searah, meski kami berbeda keyakinan. Di dalam kendaraan mas Rudy, terdapat lagu-lagu religi yang biasa dikoleksi kaum muslim, tetapi beliau mengungkapkan bahwa mas Rudy senang mendengar lagu Tombo Ati karya Opick yang memang cukup populer tersebut. Senada dengan beliau, akupun mengklaim memiliki beberapa koleksi suara Nikita, Joy Tobing hingga Maria Shandy. Ada beberapa alasan yang tidak perlu saya tuliskan di media ini. Dan bukti toleran dalam pertemanan lintas keyakinan seperti ini memang tak mengharuskan memiliki koleksi yang seharusnya dimiliki oleh penganut yang bersangkutan. Sekali lagi, ini hanya sesuatu yang memang secara tak sengaja memiliki kesamaan persepsi diantara kami berdua. Dan kami tak mau menghabiskan banyak energy untuk hal-hal yang hanya akan merugikan. Buatku, (dan juga mungkin buat rekan pendaki saya saat itu), keimanan ini telah menghujam demikian hebatnya, sehingga apapun yang menghampiri hanya akan menjadi khazanah pengetahuan, serta sumber kekayaan dalam kedewasaan berinteraksi antar sesama anak manusia.

Nagrek
Diantara padatnya jalan menuju kota Garut, aku menyaksikan beberapa ruas jalan yang terisi berbagai jenis kendaraan. Kami melaju pelan. Rantai salib khas kaum nashara, bergoyang pelan mengikuti irama kendaraan yang bergerak maju perlahan. Sesaat, suara kumandang adzan maghrib terdengar saling bersahutan. Mas Rudy membuka kembali percakapan. Beliau menawarkan untuk memarkir kendaraan sejenak untuk mengantarkan aku ke tempat ibadah. Tetapi saat itu aku tolak, dengan pertimbangan kondisi jalan yang sedang macet, dan masih bisa aku tangguhkan untuk melaksanakan kewajibanku di waktu shalat berikutnya. Akupun sedikit memberikan penjelasan tentang mudahnya agama yang saya anut tentang pelaksanaan ibadah wajib. Ada tata cara yang tidak sama jika penganutnya berada di dalam kondisi yang tak mukim (safar / dalam perjalanan). Mas rudy mengangguk, dan kami kembali lanjutkan perjalanan. Di cerita sebelumnya, saya juga menceritakan bahwa sikap toleran tersebut sudah terjadi ketika saya mengikuti shalat subuh berjamaah di kampung Cilawu, dan dilanjutkan mengikuti pengajian dan tafsir alquran di masjid tersebut, sementara mas Rudy, menunggu di dalam kendaraan.

Ini kali ke dua saya berada di kota Bandung, kali ini, mas Rudy menawarkan kemana saya ingin berkunjung. Dan pilihan saya adalah menuju Gedung Sate, Bandung. Sebelumnya saya pastikan terlebih dahulu, apakah di dekat Gedung Sate ada kulineran atau pusat jajanan, karena selain ingin melihat langsung bangunan bersejarah tersebut, ritual isi ‘kampung tengah’ juga menjadi acara wajib. Dan mas Rudy mengiyakan, bahwa di sekitaran Gedung Sate terdapat taman atau area yang luas dan terdapat beberapa rumah makan hingga jajanan pinggir jalan dengan sajian kuliner yang menjadi ciri khas kota ini.

Kami tiba di area parkir tepat di depan Gedung Sate. waktu tiba sangat tepat dengan waktunya makan malam. Tempat ini sangat nyaman. Banyak sekali warga dan juga wisatawan yang menghabiskan malam dengan berduduk santai bersama keluarga dan atau teman di sekitar Gedung yang dibangun tahun 1920 tersebut. Gedung ini difungsikan sebagai kantor Gubernur Jawa Barat. Tampak di bagian depan, halaman yang luas lengkap dengan kolam air mancur yang membuat bangunan ini semakin tampak indah. Hanya saja sayang, saya hanya bisa menyaksikan kemegahan arsitektur bangunan ini dari luar saja, mengintip di balik pagar besi yang tinggi dan terkunci, khas sekali layaknya seorang rakyat jelata yang ingin melihat tempat peristirahatan penguasanya dari kejauhan.

Selanjutnya, kami berjalan kaki mencari tempat untuk berisitirahat dan juga makan malam. Ada banyak kuliner yang tawarkan, tetapi sekali lagi, lidahku kategori lelet dalam mencicipi begitu beragamnya kekekayaan kuliner negeri ini. pilihan tetap saja nasi dan lalapan. Biasanya saya memilih tempe penyet, tapi setelah berputar-putar, saya tak melihat ada menu tersebut, dan pilihan akhirnya saya jatuhkan ke menu pecel lele, masih kategori makanan favorite saya.

Tempat makan ini berada di pinggir jalan. Tetapi, bukan jalan dengan volume kendaraan yang banyak yang melintas, sehingga polusi yang dihasilkan dari kendaraan bermotor tak terasa ketika berada di beberapa warung pinggir jalan ini.

Setelah menikmat makan malam, masih ada waktu dan kami memilih duduk-duduk tepat di depan Gedung yang berdiri di areal seluas 28 ribu meter persegi ini. udara malam, jajanan tradisional, konvoi klub kendaraan roda dua, hingga beberapa pasang makhluk bumi yang sedang memadu kebohongan terilihat mengisi area sekitar Gedung indah ini.

Hari semakin larut, aku kembali bergegas. Mas Rudy mengantarkan aku ke Perumahan Batununggal untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Jakarta. Kami berpisah. Ada begitu banyak kisah dalam setiap perjalanan. Ada begitu banyak pelajaran dari setiap pertemuan. Dan ada begitu banyak hikmah ketika kita mau membuka hati dan pikiran kemudian membiarkan Tuhan yang memilah mana yang terbaik untuk kita serap dan amalkan. Dan semua hanya bisa kau temukan ketika kau melepaskan rantai ketakutanmu, lalu meninggalkan halaman rumah untuk menjumpai keindahan negeri ini beserta sejuta pesona perbedaan keyakinan yang melengkapinya.

ooOoo



Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar