Minggu, 02 Juni 2013

Kuburan Unik khas Desa Bambang - Kalimantan


Anak-Anak Bermain di Desa Bambang
Ketika begitu banyak sahabat-sahabat saya yang memilih tinggal di perkotaan, saya hingga saat ini masih menikmati hidup dari jauhnya gemerlap lampu kota dan juga kebisingan. Bekerja pada areal konsesi kehutanan, membuat saya bisa berinteraksi langsung dengan alam. Mengawali aktivitas rutin dengan berlari pagi dapat memanjakan paru-paru saya untuk menikmati oksigen yang melimpah ruah. Menikmati embun pagi diantara rindang pepohonan dan juga suara gemericik air sungai yang berlomba menuju muara. Sesekali saya membawa peralatan teropong dan juga kamera untuk mengamati tingkah lucu binatang-binatang hutan dari kejauhan. Canda ria satwa Owa hingga mengamati sepasang burung Enggan yang hendak kembali ke sarang. Tak jauh dari hunian saya, adalah sebuah desa tepi hutan, yang memiliki keunikan dalam hal perlakuan terhadap mayat yang disemayamkan. Desa itu, bernama Bambang.


Desa Bambang berada di kecamatan Sekatak, kabupaten Bulungan propinsi Kalimantan Timur. Sore itu saya berkesempatan untuk berkeliling desa sambil melihat petani yang duduk di pondok-pondok sawah untuk mengusir burung-burung yang hendak memakan bunga padi. Sawah yang tak luas ini,  terlihat padinya mulai menguning. Sore seperti ini banyak sekali burung pemakan bunga padi yang hendak mencuri hasil sawah mereka. Saya bersama seorang kawan tertarik untuk mendatangi sebuah jembatan panjang yang terbuat dari kayu. Jembatan yang sempat membuat dahi saya berkerut karena mencari jawab untuk menghubungkan tempat apakah jembatan ini. Jembatan panjang tersebut membentang di atas persawahan. Satu sisinya berada di tepi sawah atau di belakang pemukiman desa Bambang, sementara satu sisi atau  ujung jembatannya terlihat menuju sebuah kebun yang telah tertutup oleh semak belukar.  Tak terlihat badan jalan ataupun juga bangunan. Entah apa maksud dibuatnya jembatan ini.

Jembatan desa Bambang, di sore hari juga digunakan anak-anak desa untuk bermain. Permainan tradisional tentunya. Permainan-permainan yang tak pernah dimainkan lagi oleh anak-anak perkotaan. Permainan yang dapat mengajarkan anak-anak akan pentingnya kerjasama, ketangkasan ataupun kecerdasan. Di tempat seperti inilah nuansa tersebut masih mudah saya temukan. Saya menyusuri setapak demi setapak langkah seolah berjalan menghitung lembar papan jembatan. Bunga padi yang telah berisi, mentari cerah menyinari, anak-anak desa bercanda menari, hingga wanita dewasa duduk mengusir sang 'pencuri'. Saya terus menuju ujung jembatan, hingga sampai. Terlihat jalan setapak yang sedikit menanjak. Semak rerumputan hampir menutupi badan jalan, terlihat pohon-pohon buah yang belum berbuah, hingga satu areal lapang yang tetap dirimbuni banyak pepohonan terlihat di depan saya. Pemakaman. Benar, yang ada di depan saya adalah areal pemakaman. Meski tak luas, areal ini memang digunakan untuk menyemayamkan jenazah atau tempat pemakaman umum desa. Sepintas, bentuk kuburan hampir sama dengan kuburan lainnya. Bagian atas terlihat seperti pondok atau atap setinggi satu hingga dua meter. Tetapi yang berbeda, tak ada gundukan atau bangunan bersemen tempat batu nisan diletakkan seperti umumnya pemakaman. Kuburan ini, hanya lubang persegi panjang yang dibiarkan tetap berlubang. Tidak ditimbun tanah kembali. Dalam lubang tersebut terlihat susunan papan sepertinya berfungsi sebagai penutup jenazah yang disemayamkan, meskipun jenazah tersebut berada di dalam sebuah peti mati. Ada lubang persegi panjang seukuran satu orang jenazah, ada juga (lubang) kuburan yang berukuran besar, sepertinya, jenis seperti ini diisi oleh lebih dari satu jenazah.
   

Buat sebagian orang, akan terasa angker atau menyeramkan. Sebuah tempat pemakaman yang unik, berada di sebuah kebun tak terawat, hingga bentuk kuburan yang dibuat lubang tetapi tak ditimbun kembali dengan tanah. Saya mengamati satu persatu kuburan tersebut. Memang tak semua kuburan memiliki rancang bentuk yang sama. Ada juga bentuk kuburan yang telah disemen dan diberi nisan.

Cukup lama saya berada di areal pemakaman tersebut, berputar-putar mengamati satu persatu bentuk pemakaman, hingga dirasa cukup, sayapun keluar areal dan kembali menuju jembatan panjang tempat saya bermula. Di atas jembatan, saya bertemu dengan banyak warga desa dengan aktivitas persawahannya. Saya menyapa, dan akhirnya bercengkerama dengan seorang pria dewasa warga desa setempat.

Kuburan unik desa Bambang menjadi tema perbincangan saya. Bersama seorang bapak yang memiliki empat orang anak ini, banyak membantu saya untuk menjelasan tentang bentuk kuburan suku Dayak desa Bambang. Seperti alasan beberapa tindakan adat lainnya, model kuburan seperti inipun tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, jawabannya hanyalah alasan kebiasaan atau adat isiadat yang merupakan warisan pendahulunya. Kuburan suku Dayak desa Bambang dibuat lubang yang cukup dalam, hal tersebut dimaksudkan untuk diisi oleh beberapa jenazah. Satu lubang kubur, akan diisi oleh beberapa kerabat dekat, jika memiliki kerabat yang cukup banyak, maka akan dalamlah lubang kubur tersebut. Bentuk kuburan yang dibiarkan berlubang, tidak ditimbun tanah kembali, agar ketika ada kerabat yang meninggal dunia, maka jenazahnya akan diletakkan di atas jenazah sebelumnya, dengan diberi batas papan. Di bagian atas kuburan juga terdapat beberapa benda yang merupakan benda-benda kesayangan si mendiang semasa hidupnya. Meski kuburan tersebut tidak ditimbun dengan tanah, bagian atas dibangun semacam pagar yang membentuk menyerupai pondok agar binatang tidak mengganggu jenazah yang semayamkan di dalamnya.

Hari semakin sore, langit senja menyapa, para petani beranjak pulang ke desa, bersama saya, seorang bapak yang dengan baiknya memberikan banyak cerita tentang kehidupannya yang tentu saja bersahaja. Cerita tentang pemakaman desa, tentang anaknya yang semakin dewasa, tentang hasil sawahnya yang tak seberapa, juga tentang hewan buruan yang tak lagi mudah mereka jumpa. Saya menikmati tuturnya dalam sebuah kemasan budaya apa adaya. Sebuah perbincangan jujur dengan latar yang memperkaya jiwa, sungguh sebuah perbincangan tanpa kepalsuan, bukan perbincangan tentang materi yang diperlombakan, dan juga bukan perbincangan tentang manusia hedonis yang semakin membingungkan.

Saya mengulur tangan untuk berjabat tangan dan berpamitan. Atas pertemanan ini, biarkan saya tulis untuk berbagi cerita untuk semua. Semoga kearifan lokal akan menjadi budaya yang terus dipertahankan.

ooOoo

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar