![]() |
Anak-Anak Bermain di Desa Bambang |
Ketika begitu banyak sahabat-sahabat saya yang memilih tinggal di
perkotaan, saya hingga saat ini masih menikmati hidup dari jauhnya
gemerlap lampu kota dan juga kebisingan. Bekerja pada areal konsesi
kehutanan, membuat saya bisa berinteraksi langsung dengan alam.
Mengawali aktivitas rutin dengan berlari pagi dapat memanjakan paru-paru
saya untuk menikmati oksigen yang melimpah ruah. Menikmati embun pagi
diantara rindang pepohonan dan juga suara gemericik air sungai yang
berlomba menuju muara. Sesekali saya membawa peralatan teropong dan juga
kamera untuk mengamati tingkah lucu binatang-binatang hutan dari
kejauhan. Canda ria satwa Owa hingga mengamati sepasang burung Enggan
yang hendak kembali ke sarang. Tak jauh dari hunian saya, adalah sebuah
desa tepi hutan, yang memiliki keunikan dalam hal perlakuan terhadap
mayat yang disemayamkan. Desa itu, bernama Bambang.


Buat sebagian orang, akan terasa angker atau menyeramkan. Sebuah tempat
pemakaman yang unik, berada di sebuah kebun tak terawat, hingga bentuk
kuburan yang dibuat lubang tetapi tak ditimbun kembali dengan tanah.
Saya mengamati satu persatu kuburan tersebut. Memang tak semua kuburan
memiliki rancang bentuk yang sama. Ada juga bentuk kuburan yang telah
disemen dan diberi nisan.
Cukup lama saya berada di areal pemakaman tersebut, berputar-putar
mengamati satu persatu bentuk pemakaman, hingga dirasa cukup, sayapun
keluar areal dan kembali menuju jembatan panjang tempat saya bermula. Di
atas jembatan, saya bertemu dengan banyak warga desa dengan aktivitas
persawahannya. Saya menyapa, dan akhirnya bercengkerama dengan seorang
pria dewasa warga desa setempat.
Kuburan unik desa Bambang menjadi tema perbincangan saya. Bersama
seorang bapak yang memiliki empat orang anak ini, banyak membantu saya
untuk menjelasan tentang bentuk kuburan suku Dayak desa Bambang. Seperti
alasan beberapa tindakan adat lainnya, model kuburan seperti inipun
tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, jawabannya hanyalah alasan
kebiasaan atau adat isiadat yang merupakan warisan pendahulunya. Kuburan
suku Dayak desa Bambang dibuat lubang yang cukup dalam, hal tersebut
dimaksudkan untuk diisi oleh beberapa jenazah. Satu lubang kubur, akan
diisi oleh beberapa kerabat dekat, jika memiliki kerabat yang cukup
banyak, maka akan dalamlah lubang kubur tersebut. Bentuk kuburan yang
dibiarkan berlubang, tidak ditimbun tanah kembali, agar ketika ada
kerabat yang meninggal dunia, maka jenazahnya akan diletakkan di atas
jenazah sebelumnya, dengan diberi batas papan. Di bagian atas kuburan
juga terdapat beberapa benda yang merupakan benda-benda kesayangan si
mendiang semasa hidupnya. Meski kuburan tersebut tidak ditimbun dengan
tanah, bagian atas dibangun semacam pagar yang membentuk menyerupai
pondok agar binatang tidak mengganggu jenazah yang semayamkan di
dalamnya.

Saya mengulur tangan untuk berjabat tangan dan berpamitan. Atas
pertemanan ini, biarkan saya tulis untuk berbagi cerita untuk semua.
Semoga kearifan lokal akan menjadi budaya yang terus dipertahankan.
ooOoo
Artikel Terkait
Kalimantan
- Seputaran Mess PT. Intracawood Mfg – Sekatak
- Brugia Malayi
- Aaasin
- Pesan Moral Sebungkus Sate Ayam
- Episode Kematian
- JATUH
- Pulang
- Jangan Datang Januari
- Agustusan Citarasa Kalimantan
- 7 Alasan Untuk Terios 7 Wonders
- Hampir (Mati) Tenggelam
- Bocah Penyusun Sendal
- Surat Untuk Kalet
- Namaku Kalet
- Keraton Gunung Tabur, Berau
- Keraton Sambaliung Berau
- Upacara Kematian di Desa Tangap - Kalimantan
- Melacak Jejak Gajah Borneo (?)
- Labuan Cermin, Borneo Timur
- Biduk-Biduk, Pesisir Timur Borneo
- Catatan Perjalanan Seorang Pecundang
- Tideng Pale, si Bukit Hambar
- Pernak Pernik Backpacker
- Menuju Nusa Utara Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar