Kalau lagi napsu nulis, maka nulislah selebay-lebaynya. Nah, kalo lagi males, ya, gini, seadanya saja. Kalo ngga diposting, sayang photo-photonya ga ada yang liat, kali aja bermanfaat. Keraton Gunung Tabur, Berau, berada tak jauh dari pusat keramaian, saran saya, jangan berjalan kaki, kenapa? capek soalnya. Udah gitu, jalanan di Berau penuh debu dari kendaraan besar perusahaan batubara yang sering hilir mudik. Jadi, sebaiknya gunakan kendaraan. *halah
Ini dia gan, photo-photonya :
ooOoo
Artikel Terkait
Wisata Kota
- Bersedekap Di Al Irsyad
- Semalam Dulu Di Bandung
- Jakarta
- Keraton Sambaliung Berau
- Nongkrong di Taman Ismail Marzuki
- Gedung Sate dan Cerita Keberagaman
- Tideng Pale, si Bukit Hambar
- Menjumpai Bekantan di Kota Tarakan
- Tanjung Selor - Bulungan
- Pulau Siau, Sitaro Sulawesi Utara
- Sentuhan Banci Jombang
- Sepenggal Kisah di Surabaya
- Talaud Archipelago – North Sulawesi
- Potret Negeri di Tagulandang
- Bersama Ami Dar di Kota Palu
- Pesona Kota Manado
- Menuju Nusa Utara Indonesia
- Bali
- Jogjakarta
- Bogor - Jawa Barat
- Semalam di Malang
- Pulau Lombok
- Makassar - Sulawesi Selatan
- Parepare - Sulawesi Selatan
Kalimantan
- Seputaran Mess PT. Intracawood Mfg – Sekatak
- Brugia Malayi
- Aaasin
- Pesan Moral Sebungkus Sate Ayam
- Episode Kematian
- JATUH
- Pulang
- Jangan Datang Januari
- Agustusan Citarasa Kalimantan
- 7 Alasan Untuk Terios 7 Wonders
- Hampir (Mati) Tenggelam
- Bocah Penyusun Sendal
- Surat Untuk Kalet
- Namaku Kalet
- Keraton Sambaliung Berau
- Kuburan Unik khas Desa Bambang - Kalimantan
- Upacara Kematian di Desa Tangap - Kalimantan
- Melacak Jejak Gajah Borneo (?)
- Labuan Cermin, Borneo Timur
- Biduk-Biduk, Pesisir Timur Borneo
- Catatan Perjalanan Seorang Pecundang
- Tideng Pale, si Bukit Hambar
- Pernak Pernik Backpacker
- Menuju Nusa Utara Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar