Rabu, 02 November 2016

Episode Kematian


Entah wajar atau tidak, banyak yang tak mengenalnya. Ada yang mengenalnya tapi tak tau siapa namanya. Aku tak yakin mereka tak melihat rumahnya, melihat tapi enggan mencari tau siapa penghuninya. Kabar kepergiannnya, berita duka meninggalnya, barulah sebagian mereka mulai mengerti, ternyata mereka punyai tetangga yang terbaring tak berdaya bertahun-tahun lamanya.


Rumahnya begitu sederhana. Terlihat dari jalan, tapi tak begitu menarik perhatian. Rumah dari papan, tanpa pewarna rumah pada umumnya. Rumah kecil tanpa teras. Halaman yang lebih serupa dengan kebun ilalang. Ada beberapa pohon buah yang dibiarkan di pekarangan membuat rumah itu seakan berada di tengah hutan.


Jika orang-orang tak pernah melihat penghuni rumahnya ada di luaran, itu karena karena sepasang suami isteri yang berusia lanjut tersebut sama-sama tak bisa berjalan. Ia hanya terbaring dan berbicara, sementara isterinya masih bisa duduk tegak sambil menemani suaminya. Untuk keperluan sehari-hari, anak perempuannya seorang yang menemani.


Lelaki tua itu baru saja berpulang. Wafat. Meninggal dunia.


Aku masih ingat benar saat-saat ia bercerita jika aku sempatkan waktu ke rumahnya. Masa mudanya, masa sehatnya, masa tuanya, hingga masa sakitnya. Aku hanya bergeming mencari kesimpulan, jemputan ajallah yang menjadi penantian.


***


Ini bisa saja prosesi kematian paling sederhana yang pernah aku hadiri. Sesederhana cara mereka yang ditinggalkan menerima takdir yang diberikan. Tanpa isak tangis berlebihan, tanpa raung ratap menyesakkan, bahkan tanpa kesibukan panitia menyiapkan menu makanan. Semua terlihat sederhana, atau lebih tepatnya bersahaja. Mereka memang tak punya apa-apa untuk disuguhkan, tapi justeru hal itulah yang membuat sebuah kematian menjadi lebih mudah ditemukan nilai pelajaran. Bahwa semewah apapun kita menyelenggarakan prosesi kematian, seunik apapun budaya lokal menyertakan, atau sederas apa airmata menjadi tontonan, tetap saja sang jenazah hanya berpulang dengan lembaran kain kafan.


***


Kabar meninggalnya aku terima jam Sembilan malam. Aku dan beberapa teman mushola bergegas ke rumah duka. Di tengah jalan menuju rumahnya, hujan menyerta. Tanpa penerang jalan, kami berlari kecil. Rumahnya memang tak jauh. Terpisah anak sungai dan halaman luas yang ditumbuhi rerumputan. Sesaat, kami sudah tiba di kediamannya. Tanpa banyak sanak kerabat, terbujur diam kulihat ia yang telah diselimuti kain batik panjang di tengah rumah.


Aku dan teman-teman mushola membacakan ayat-ayat suci Al-Quran. Suara Keriang dan serangga-serangga bersayap menjadi teman. Sesekali kudengar sang isteri tercinta bercerita. Saat-saat terakhir sang suami pergi untuk selamanya.


Beberapa teman mulai membicarakan prosesi pemakamannya. Dengan kesepakatan pihak keluarga, teman-teman mushola dan masjid desa setempat akan mulai mengurusnya keesokan paginya.


***


Keesokan pagi, warga dari desa sudah berdatangan. Jenazah akan dimakamkan di dekat rumah. Sebagian menyiapkan lubang kubur, sebagian membersihkan pekarangan yang begitu rimbun tertutup rerumputan. Sebagian menyiapkan prosesi memandikan dan mengafani jenazah. Sementara pelayat perempuan terlihat duduk berdampingan di halaman rumah. Rumah yang mungil itu hanya bisa ditempati beberapa pengurus jenazah saja, sementara pelayat berada di sekitaran rumah di pekarangannya.


Tak ada kesibukan berlebihan. Lubang kubur telah siap. Jenazah dimandikan, dikafani lalu dishalatkan. Hanya bisa dibuat dua shaft menghadap mayat. Rumah yang kecil itu kami berkhidmat untuk terakhir kalinya ia shalat. Shalat atau dishalatkan. Sebuah ritual identitas yang memang wajib ditunaikan. Kemanapun engkau melangkah, tetap haribaan Tuhan yang akan jadi tujuan.


Jarak rumah dengan liang lahat memang begitu dekat. Membuat prosesi pemakaman berlangsung singkat. Tanpa isak, tanpa kamera. Tanpa tenda, tanda payung terbuka. Keranda diletakkan di sisi lubang. Tiga pria bersiap menyambut di dalamnya. Sebujur bangkai kalau kata bang rhoma, secepatnya jasad dipendam.


Kulihat kelopak matanya. Tak begitu rapat tutupnya.
Kuperhatikan putih rambutnya. Sebungkus kain putih menjadi penutupnya.
Kusambut ia dengan kedua lengan. Kuantar ia dengan lantunan adzan.


Jenazah di dalam tanah. Lalu beratapkan lembaran papan. Tanah lempung dicetak kotak. Kami sematkan sebagai penyangga atau bantal. Tali kafan yang terikat kami lepaskan. Kami miringkan menghadap arah kiblat. Sesekali aku rapikan kain yang bersamanya. Semoga damai menyertainya.


Satu persatu tanah dikembalikan. Kami memunggung agar tanah tak jatuh berdentuman. Sebuah cara lokal yang baru saja aku temukan. Bukan tentang Sunnah apalagi bid’ah. Bukan kapasitasku jika semua engkau tanyakan.


Tanah merah menutupinya. Aku memadatkan sambil mengijak-injaknya. Hingga tiang nisan terpasang. Kamipun keluar dari lubang. Tanah merah terus dirapikan. Hingga bergunduk lalu dibentuk.


Doa dipanjatkan. Pidato keluarga sekadar diucapkan. Terima kasih atas waktu, tenaga dan materi yang diberikan. Mohon keikhlasan atas semua kekhilafan. Yang telah pergi akan lanjutkan perjalanan. Bersama amal dan doa anak-anak shalih tersayang. Yang belum pergi jadikan ini pelajaran. Tak ada siapapun yang bisa menghalang. Apabila ajal sudah datang menagih perjanjian.


Semua berlalu. Ia hanya mendengar bunyi terompah pengantarnya. Datang tiga kembali dua. Begitulah filosopi kematian. Kematian diantar oleh tiga hal, keluarga (kerabat)nya, hartanya, amalnya. Dua dari pengantar akan kembali, kecuali amalnya.


Satu persatu pelayat berlalu. Tinggallah pusara di tengah rindang pepohonan. Aku menghampiri pusara seraya berdoa.



                             Allahummaghfirlahuu, AllahummaTsabbithuu
                             Allahummaghfirlahuu, AllahummaTsabbithuu
                             Allahummaghfirlahuu, AllahummaTsabbithuu

(Ya Allah, ampunilah dia)
(Ya Allah, berilah keteguhan padanya)




***


“Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain dari apa yang diusahakannya” QS. An Najm 39



ooOoo
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar