Senin, 05 Desember 2016

Pesan Untuk Secangkir Kopi




2016 segera berlalu. Di tahun ini tak ada agenda mendaki gunung, tepatnya lebih satu setengah tahun. Tapi tahun ini menjadi ‘pendakian’ yang melelahkan sepanjang karirku sebagai seorang pendaki. Mendaki takdir Tuhan yang entah apakah aku mampu meraih puncaknya atau hanya terkapar di lereng hukuman kelemahanku.



Tahun ini segera berakhir. Di tahun ini tak ada awan yang kulihat di sela-sela jari kakiku. Tak ada tetes embun di orange tendaku. Dan tak ada kabut di samar penglihatanku. Tapi tahukah engkau wahai diri. Tahun ini hanya ada kesalahan masa lalu yang terlihat jelas di sela jejak kakiku. Hanya ada tetes airmata menangisi rasa rendah hatiku yang begitu angkuh, rasa kesederhanaanku yang ternyata hina, dan rasa menjadi baikku yang hanya fatamorgana. Dan taukah engkau wahai diri, hanya ada kabut pekat masa depanku yang selalu menghantui kediamanku berikutnya tanpa lentera. Hanya sepetak liat dan lembaran papan tak bercat. Kesanalah aku menuju kelak.


Pernahkah kau mengambil pelajaran wahai Keril. Bukankah engkau berusaha menampung semua peralatan selengkap dan seefisien mungkin. Bahan makanan, tempat berteduh, tempat tidur mahal dan hangat, hingga pakaian khusus untuk mengusir rasa dingin menusuk. Tapi pernahkah terpikir olehmu ya Keril, apa semua itu sudah kau persiapkan untuk perjalanan yang lebih panjang dan pasti waktunya. Perjalanan dimana kau tak mungkin menyalakan spirtus untuk merebus air, tak mungkin menggelar matras untuk merebahkan diri, dan tak mungkin lagi memanjangkan tongsis untuk mengabadikan pencapaianmu. Cobalah untuk sedikit lelah. Lelah untuk sebuah lelah yang tak berfaedah.


Aku tak menyuruhmu berhenti berpijak wahai Kaki. Meski betismu membatu, teruslah mendaki hingga kau temui aroma belerang yang kau dambakan. Tapi sesekali cobalah kau tanyakan pada ibumu, iakah yang membuat kakimu menjadi kokoh dan tersusun lengkap dengan tungkai dan kulit arinya. Bukan, bukan ibumu dan juga bukan ayahmu. Atau kau tanya juga pada treadmill dan sepatu running beserta joggingtrackmu, merekakah yang membuat betismu menjadi tangguh?.  Berpikirlah dengan melihat daun-daun kecil itu berjatuhan, karena Dia yang menghitung berapa helai daun jatuh ke bumi maka Dia pulalah yang memberimu kaki yang sempurna yang selalu lupa kau syukuri dan hanya engkau keluhkan. Kapan terakhir kali kau gunakan kuatnya kakimu untuk menghadiri majelis-majelis ilmu. Kapan kedua kakimu hadir di pemakaman saudara seimanmu. Atau pernahkah kedua kakimu engkau saksikan di sebuah ruang rawat inap sekadar memberi kekuatan buat mereka yang sedang tak berdaya.

Pernahkah?
Kakimu memang kuat, tapi jiwamu lemah!


Bukankah setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk engkau wahai Tulisan. Entah dimana rasa ujub itu merangkai kata demi kata agar kau terlihat saleh dan berilmu agama. Nistanya engkau wahai penulis cerita perjalanan. Lebih nista dari yang mereka hujatkan karena memelintir sebaris firman Tuhan. Namun jika kau memilih berhenti menulis, itupun tak membuatmu lebih baik dari kenistaan. Engkau tetaplah seorang nista, karena tulisanmu hanya gambaran kehebatanmu yang kau ramu sendiri lalu kau nikmati sendiri. Tulisanmu hanyalah umpan agar menghasilkan kata-kata sanjungan.


Akhir-akhir ini kau begitu suka dengan kalimat-kalimat bijak. Mengutipnya lalu menyebarkannya. Seakan-akan engkaulah yang dimaksud oleh para bijak bestari. Seolah-olah apa yang kau hadapi memang bentuk ujian menaikkan derajat diri.  Sesumbarmu engkau menjadi seorang sabar yang pantas diapresiasi. Menyedihkan sekali sangkaanmu wahai hati. Miskin sekali pengetahuanmu. Jangan ke-GR-an sedang diuji Tuhan, jangan salah sangka bahwa engkau sudah dekat denganNya, jangan sok manis dalam berdoa. Engkau tak pernah pantas untuk mendapat perhatianNya.


Jangan menatapku penuh kecurigaan Kawan. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang belajar bagaimana caramu bisa begitu disukai banyak orang. Tak sepertiku. Meski aku hanya menyukaimu saat tersaji panas dan tanpa mocca, tapi kau tetap membuat semua kepenatan hidup menjadi lebih santai. Meski hitam tapi kau tak suram. Meski pahit kau selipkan kesan manis. Panas, kau kunikmati perlahan. Saat dingin, kau bisa cairkan kebuntuan. Apa kau juga berdoa wahai Secangkir Kopi? Apa kau juga mahklukNya sepertiku? Apa kau bisa marah dan membenci dirimu sendiri?

Sudahlah.
Kau tak bisa bicara kawan, tapi menjawab tanpa berkata sepertinya meredakan sedikit kegundahan.


Bolehkah aku berpesan padamu wahai Secangkir Kopi?, jika kelak di surga engkau tak menemukanku, tolong katakan pada Tuhanmu, bahwa aku begitu menyukaimu. Kalau kau tak risih, bilang saja aku kekasihmu. Ini bentuk kamuflase kita untuk bisa berada di surga. Tak apalah kita begitu, karena kalau hanya mengandalkan shalat atau infaq sepuluh ribuan, rasanya tak cukup harga buat punya tiket ke surga. Bukan aku tak percaya ibadah itu, tapi kau taulah kesalahanku saatku bersendiri dengan hapeku. Dosa itu saja sudah bak banjir bandang menyapu rakaat sembahyang.


Tahun ini segera berlalu. Di tahun ini tak ada agenda mendaki gunung, tepatnya lebih satu setengah tahun. Tapi tahun ini menjadi ‘pendakian’ yang melelahkan sepanjang karirku sebagai seorang pendaki. Mendaki tanpa tanjakan, tapi lelahnya menyesakkan. Memikul beban tanpa keril di belakang, tapi sakitnya seakan aku tak punya lagi kekuatan. ‘Pendakian’ tahun ini, sangat melelahkan. Membuatku hanya ingin terus sendiri. Sendiri yang ditemani.


ooOoo

 
Artikel Terkait
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Tanpa negtrip pun bang iman masih bisa menuang pena, pengewejantahkan dalam rangkaian kata-kata, Ketidakberdayaan wisata diangkat menjadi tema. ungkapan rindu melanglang buana diibaratkan dalam secangkir kopi tanpa makna, kembali hadir dalam susunan konotasi kaya aksara, bias arti menjadi daya tariknya, selamat membaca dengan bahasa penuh rasa # fakh

    BalasHapus
  2. Akhirnya nulis lagi. Kemaren blog nya di nonaktifkan yaa bang iman. Saya salah satu penggemar catatan ilalangmu

    BalasHapus