Jumat, 10 Agustus 2018

Saatnya Pulang


Saatnya Pulang
-Pendakian Gunung Ceremai V Habis-



Beberapa saat di puncak Gunung Ceremai. Angin bertiup kencang. Beberapa pendaki mulai berdatangan. Matahari bersinar tanpa terhalang. Kami masih berjalan santai mengitari bibir kawah. Puncak ini luas, jadi meskipun banyak pendaki yang berdatangan tidak terlalu merepotkan. Kami beberapa saat kembali bersiap untuk kembali turun dan menuju tenda. Puji syukur kehadirat Tuhan, kami bisa di tanah tertinggi dengan selamat. Selanjutnya, kami masih harus tetap berkonsentrasi agar tetap selamat hingga di gerbang pendakian.




Cerita saat turun disingkat. Tak ada yang berbeda seperti halnya turun naik gunung biasanya. Dari puncak menuju tenda, tak begitu menyita tenaga. Satu hal yang berbeda buatku kali ini. Aku masih belum BAB. Aku juga lebih hemat air minum. Bahkan saat akan turun gunung dari Pos V, kami memberikan beberapa botol air minum ke pendaki lainnya.




Seingatku, jalur pendakian gunung ini terasa nyaman. Jalur yang bersih, lebar dan dilengkapi dengan papan informasi yang lengkap. Saat penurunan, kami juga bertemu dengan rombongan dari Dinas Kehutanan atau dari Taman Nasional yang akan membuat film dokumenter. Bapak-bapak berseragam dinas, yang mendaki terpisah-pisah sesuai dengan kemampuan dan stamina.


Sekitar jam 4 sore, kami sudah sampai kembali di gerbang pendakian. Dengan selamat, dan membawa beberapa kantong sampah. Berphoto lagi, dan berucap puji dan syukur kehadirat Illahi.


Dari gerbang pendakian, kami kembali dijemput Kang Didik. Lalu beristirahat sejenak di rumahnya. Regu Bandung langsung melanjutkan perjalanan, sementara aku dan Bang Togi masih harus menunggu jemputan dari Sumber-Cirebon. Selama menunggu, kami beristirahat di kediaman Kang Didik.


Di rumah Kang Didiklah segala hasrat tersalurkan. Saya ke bagian belakang rumah, untuk buang hajat dan mandi. Tak berbeda dengan suasana kamar mandi di daerah pegunungan seperti ini, air di kamar mandi melimpah ruah dan sangat dingin. Kamar mandinya semi terbuka. Bahkan saat buang air pun kalau tidak ada yang jaga pintu dapur, bisa saja terjadi hal memilukan. Akan tetapi buatku, tak masalah. Aku tetap saja bisa dengan lega melakukannya. Buang air dan mandi. Perut lega. Badanku kembali bersih dan wangi. Mandi di kamar mandi dengan air gunung yang sangat dingin, di sisi kanan ada kebun kentang, di bagian belakang pegunungan dengan kebun bawang daun, dan juga beberapa sayuran.




Kelar mandi, bergantian dengan Bang Togi. Sudah disiapkan makanan dengan menu kacang merah, telur goreng, tempe dan tahu. Juga lebih dahulu disiapkan teh panas. Si ibu rumah sepertinya sangat paham dengan kondisi kami, saya lebih tepatnya. Jadi buatkan minuman tidak hanya satu gelas, tapi disuguhkan juga lengkap dengan termos air panas, teh sachetan dan gula. Jadinya, habis satu gelas, aku seduh lagi segelas. Habis lagi segelas, aku tuang lagi segelas. Begitu seterusnya hingga termos air panas terasa ringan. Benar-benar lega.


Aku juga teringat kejadian begini juga pernah saat turun dari pendakian Gunung Raung dan sampai di sebuah desa. Disitu ada pondok ibu tua. Kami mampir di situ dan minta dibuatkan segelas (besar) teh panas. Memang ada benarnya, ada kalanya uang jadi tak ada gunanya. Kalau saat di pendakian, kamu kehabisan bekal, kehausan, tak ada sumber air. Bawa uang tapi tak ada yang jual.


Balik lagi ke cerita saat di rumah Kang Didik. Dijamu, terus disuguhi makanan. Si ibu dan Kang Didik sangat ramah. Senang rasanya. Mereka menikah saat usia belum genap duapuluh. Dan sekarang puteri pertamanya sudah lulus SMA. Salut, mereka keluarga yang bahagia. Pantas untuk dicontoh, bersegeralah menikah karena pintu rezeki akan terbuka setelah menikah. Meski di usia yang terbilang muda, menikah tetap pilihan terbaik daripada pacaran apalagi hidup membujang. Kalau kata orang menikah di usia muda akan rentan terhadap masalah, sepertinya tak harus dijadikan alasan. Karena masalah akan menimpa siapa saja. Baik yang menikah di usia mapan, atau di usia belia. Apalagi yang belum menikah, masalah datang dari berbagai arah.


Tak beberapa lama, jemputan kami tiba. Kami pamit dan mengucapkan banyak terima kasih. Kami perlahan meninggalkan kediamanan Kang Didik yang tepatnya di Kabupaten Majalengka lalu kami meneruskan perjalanan menuju ke kediamanan Budi di Cirebon.


Hari sudah mulai senja, menikmati perjalanan saat itu sungguh sebuah keasyikan tersendiri. Melewati turunan dengan pemandangan perkebunan yang hijau. Satu cerita ingin aku tuliskan lagi di sini. Jadi pada saat di perjalanan, si driver sudah menduga saya akan mencari masjid untuk shalat. Saat itu memang sudah masuk waktu maghrib. Hanya saja kami masih di daerah pedesaan, masih tak mudah menemukan masjid di pinggir jalan. Si driver berjanji akan mengantarkan saya ke masjid sebelum isya. Aku katakan, “santai saja, aku bisa menjama’nya saat di rumahm nanti”.


Satu hal tentang si driver ini. Orang kelahiran Jakarta. Yang kalau bicara logat Jakartanya kental sekali. Beda dengan Bang Togi yang memang berdarah Sumatera Utara. Kalau aku, kata Bang Togi terdengar berlogat melayu. Benar saja, negeri ini punya ragam dialek yang unik. Tak ada yang superior dalam hal ini –harusnya-.


Seperti halnya dialek orang Jakarta lainnya, si driver kudengar fasih jika bercerita. Tak jarang ada makian dan gerutuan. Mungkin khas orang-orang sekarang, yang membubuhkan sebutan-sebutan tak pantas menjadi kebiasaan. Aku yang memang sudah bisa maklum dengan umumnya karakter seorang driver, -meski tidak bisa digeneralisir-, hanya sesekali tersenyum mendengar kisah dan cerita-ceritanya. Cerita tentang akamsi, klakson mobil, macet di Jakarta, perempuan Indramayu, sabung ayam di Cirebon ataupun harga burung di Kalimantan. Si driver memang terlihat punya banyak pengalaman. Akan tetapi satu hal sahabat pembaca, meski demikian si driver tetap memikirkan dimana aku akan diantarnya untuk sembahyang.


Begitu juga saat pulang ke esokannya, si driver juga yang mempersilakan aku shalat dulu di satu masjid dan mereka menunggu di pom bensin pertamina.


Keren. Salut. Orang seperti begini terasa jauh lebih menghargai dari mereka yang fasih berbicara tentang ‘kebenaran’ setiap saat.


Balik lagi ke cerita saat perjalanan pulang menuju kediaman Budi di Sumber. Hari sudah gelap, kami mampir mencari makan malam. Cari yang spresial dan asli lokal tetapi tak ketemu. Dapatnya yang dekat rumah Budi saja. Itupun menu yang kami pilih, yang tak biasa. Saya lupa namanya, tapi yang jelas itu adalah nasi goreng yang dimasak bersamaan dengan mie goreng. Dicampur dalam satu tempat. Enak.


Sampai di rumah Budi, malam dan istirahat lagi sejenak.


Pagi. Bangun pagi. Kami yang tidur di kamar lantai dua melihat ke luar jendela. Apa yang tampak. Ada hamparan sawah yang hijau luas dengan latar Gunung Ceremai yang gagah. Sungguh indah.


Aku mengajak Bang Togi untuk jalan-jalan sekitaran rumah. Rumah Budi seperti komplek perumahan, yang katanya tetangga-tetangganya adalah keluarga juga. Di ujung perumahan sudah terbentang persawahan dan ada  juga kolam ikan. Aku dan Bang Togi berjalan lebih jauh. Tak lupa photo-photo lagi di tengah sawah dengan latar gunung yang barusan kami daki. Berjalan terus hingga mampir di satu warung. Kami menghabiskan dua gelas besar teh panas, segelas kopi, dua bungkus nasi kuning, tempe goreng, pisang goreng, bakwan total tiga belas ribu rupiah.


Sudah kenyang, kami kembali ke rumah. Di rumah sudah disediakan juga sarapan pagi. Di desa itu yang berbeda di tempatku saat sarapan adalah menu lontong. Lontong yang ukurannya tak terlalu besar itu dibuat dengan daun pisang, dan biasa dijadikan menu sarapan pagi.


Pagi, bersih-bersih dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Saat akan pulang, bibinya Budi datang mengantarkan makanan untuk kami santap lagi sebelum jalan. Rezeki, jangan sampai diacuhkan. Kami tak buang waktu, segera cuci tangan dan menuntaskan semuanya tanpa halangan. Alhamdulillah.


Perjalanan menuju Jakarta terbilang lancar. Masih lewat tol yang sama. Yang jalannya panjang dan luas. Di beberapa kilometer ada terlihat kecelakaan. Semoga pengemudi dan penumpangnya selamat. Sampai di Jakarta, kami mampir makan lagi. Di rumah makan Ayam Geprek Bensu yang ngartis itu. Setelah itu aku menunggu Damri untuk ke Soeta. Penerbangan baru akan besok paginya. Jadinya seperti biasa, ngemper dulu di Soeta. Tapi kali ini aku ada di terminal yang baru, mewah dan banyak fasilitas. Bisa ngemper di kursi yang memang tak banyak penumpangnya. Di bawah kursi ada colokan buat charge hape. Perjalanan selesai. Tak sempat beli oleh-oleh karena perjalanan lewat tol. Aku sempatkan beli makanan ala-ala kota. Beli di airport. Bentuknya kayak pasta dan keju-keju mahal begitu. Ditaruh di oven, di tempat yang ada kertas aluminiumnya. Harganya berkali lipat dari kue terang bulan yang mangkal di gang rumah. Tapi kata orang rumah, enak. Aku pun coba, rasanya aneh, tapi enak. Aku tak percaya, kucoba secuil lagi. Masih enak. Kuulangi dengan potongan yang lebih besar lagi. Aku rasakan, dan kali ini rasanya memang benar-benar enak.


Sekian dulu yak.
Terima kasih.


Artikel Terkait
Comments
3 Comments

3 komentar:

  1. Terus lah menulis sahabat ...

    BalasHapus
  2. Penasaran ama makanan trakhir yg di cicip di bandara hehehe

    BalasHapus
  3. Makasih sahabat....

    Ngga tau apa itu nama makanannya, hehe

    BalasHapus