Jumat, 25 Desember 2020

Dua Ribu Dua Puluh

 

Sore cerah. Air sungai jernih. Angin laut seolah sampai hingga ke dedaunan. Lebih hening. Tak ada aktivitas manusia. Lelaki gemuk yang mulai menua itu duduk seperti biasa. Bersendiri dengan buku dan handphone yang ditaroh di sampingnya. Entah apakah ia punya masa depan yang cerah. Hati yang jernih. Atau pikirannya sedang hening. Tak taulah. Tak bisa menilai sesuatu dari luaran. Tak ada kewajiban pula tentang hal itu.

 

Dua puluh lima Desember. Tempat ini mulai sepi. Hingga awal Januari. Sementara di kampung sebelah. Baru akan ramai kalau di malam tahun baru. Seperti biasa. Tak ada yang istimewa, paling tidak untuk lelaki gemuk yang mulai menua itu.

 

Dua ribu dua puluh. Adalah angka untuk tahun. Sebentar lagi akan berganti. Apa yang harus dimaknai? Apa, tidak ada? Biasa saja?. Iya. Memang harusnya biasa saja. Tidak perlu lah disastra-sastrakan kehidupan ini. Janganlah dipujangga-pujanggakan perjalanan ini. Biasa saja. Toh aku tak pernah meningkat menjadi istimewa tahun ini. Apalagi untuk lelaki gemuk yang mulai menua itu.

 

Tahun ini, kita bahas seperlunya. Tentang ekonomi. Pendapatan. Gaji. Tahun pandemi, dimana banyak yang kehilangan pekerjaan. Seperti temanku yang menjadi tukang masak di hotel berbintang. Dari bulan Maret sudah harus dirumahkan. Single parent anak dua. Apa mau dikata, rice cooker ga mungkin hanya dipajang. Lain pula temanku yang satu lagi. Harus kebagian pengurangan karyawan karena perusahaan menurun omzet jualnya. Sementara aku, sempat beberapa kali gajian tertunda. Dicicil. Orang-orang ramai berdemo. Menuntut hak. Berteriak-teriak. Sementara waktu kukabarkan gajiku dicicil, temanku di Jakarta malah lebih menyedihkan. Terisolasi tidak bisa kemana-mana. Kantornya tutup, tak bisa pulang kampung di Solo. Tinggal di kontrakan dan menunggu dana bantuan. Tapi selama pandemi, tak semuanya merugi. Si penyanyi yang sekarang jualan barang online, malah meningkat hasilnya. Program jaga jarak menjadi berkah pebisnis berbasis daring.

 

Lalu kita bahas tentang karier. Tak jauh beda dengan ekonomi sepertinya. Tapi ini lebih ke jenjang jabatan atau level usaha. Bagaimana dengan tahun ini. Tentu saja ada retorika. Aku kebagian juga. Meski akhirnya aku lepaskan kembali. Tak tertarik aku dengan sebutan satu itu. Tak ada dalam kepalaku harus menjadi sesuatu. Ini mungkin yang membuat aku seperti berjalan di tempat. Tapi biarlah. Setiap manusia punya definisi sendiri-sendiri. Setidaknya tidak lebih menyedihkan dari lelaki gemuk yang mulai menua yang sedari tadi asyik dengan buku bersampul putih kebiruan. Yang belakangan aku tau buku itu bercerita tentang perjalanan ibadah haji di tahun 1900an. Jaman pakai kapal kayu milik perusahaan Belanda. Apa kah lelaki gemuk yang mulai menua itu akan napak tilas. Entahlah, kariernya pun tak ada yang perlu diteladani, menurutku.

 

Keluarga. Untuk urusan satu ini aku selalu lulus uji klinis dan laborat. Maksudnya, aku selalu baik-baik saja. Aku sudah mendapatkan stempel terpercaya, halal dan bermartabat dari keluarga. Jadi apa saja yang aku perbuat, rasanya tak akan menuai kritikan. Apalagi di tahun ini. Semua terasa berjalan harmonis. Bagaimana dengan lelaki gemuk yang mulai menua itu? Rasanya dia selalu menjadi bahan pembicaraan orang-orang. -termasuk aku-. Entah apakah ia memilki keluarga? Kerabat?. Apa ia seorang diri? Tak ada kah keinginannya untuk bekeluarga? Sudah lah hidupnya sendiri, iapun dikenal galak. Terlalu perfeksionis, atau juga posesif. Entahlah, ia seakan mengunci hidupnya dari kata keluarga. Tak taulah. Tak sanggup rasanya jika isi kepala ini di dengarnya. Lalu ia prustasi, melompat ke sungai air payau di depannya. Lalu dimangsa buaya. Dan orang-orang tak ada yang mau menolongnya. Karena tak ada gunanya.

 

Bagaimana kehidupan bersosialiasi. Tahun ini semakin mendekat saja kita dengan orang-orang yang jauh. Karena kampung ini sudah tersentuh sinyal internet. Sudah ada indihome juga di kampung. Meski listriknya belum 24 jam. Kata temanku yang kerja di PLN Banjarbaru, harus ada transmisi dulu kalau mau 24 jam. Tak tau aku apa itu transmisi. Katanya seperti tiang sutet. Kalau benda itu sudah ada barulah kampung bisa dialirkan listrik sehari penuh. Kalau tidak, jangan hanya menggerutu di sosial media. Akupun juga hadir di kehidupan dunia internet. Apa saja mudah ditemukan. Bagai pisau bermata dua, memiliki dua sisi yang berseberangan. Teknologi bisa bermanfaat bisa juga jadi malapetaka. Ada banyak kejahatan manusia terekam dan disebarluaskan di media. Aibnya ketahuan. Malunya sampai tujuh turunan. Bukan tetangga, bukan sodara, pokoknya komentar hujat seolah tak ada pintu taubat. Padahal, nanti….duh jadi ngeri nulisnya. Semua kejahatan kita pun akan tervisualisasikan di akhirat. Hari dimana kita akan berdebat dengan diri sendiri. Dengan diri sendiri.

 

Tuh kan aku jadi ngeri sendiri membayangkannya. Moga aja CCTV kejahatanku semuanya terformat. Jadi aku bisa selamat.

 

Bagaimana dengan lelaki gemuk yang mulai menua itu. Aku tau iapun aktif mencari sinyal. Tapi aku sudah tak temukan lagi akun sosial medianya. Padahal dulu sebelum orang-orang kenal apa itu istilah pansos, masih di jaman BBMan, bahkan di jaman orang chatting dengan flatform MIRC atau YM-an, lelaki gemuk yang mulai menua itu sudah lebih dulu eksis. Ya iyalah. Kan ia sudah menua. Akan tetapi, sekarang-sekarang ini aku memang tak pernah lagi melihat status, kicauan tweet atau komentar di insta story darinya. Dia sudah menghilang. Entah karena sudah tak lagi memiliki teman, atau memang bosan dengan kepalsuan. Entahlah, setauku dia adalah satu-satunya orang yang belum pernah menghadiri acara reunian. Barangkali dia malu, karena tak punya apa-apa selain gemuk dan mulai menua.

 

Tapi tunggu dulu. Dia punya satu aplikasi sosial media yang berwarna hijau itu. Duh, kenapa masih pakai mode lama begitu. Sementara orang-orang sudah menggunakan dark mode di hapenya. Dan satu lagi. Dari tadi aku perhatikan, tak ada satupun bunyi notifikasi dari wasapnya. Ia memang tak punya grup di wasap. Yang nge-p pun tak ada. Dia lelaki gemuk yang mulai menua. Hanya fokus pada orang tertentu saja. Hidupnya begitu sepi, kenapa ia tak memilih untuk menceburkan diri saja. Ah tetapi jangan dulu lah. Repot bikin berita acaranya. Kalau bisa, matipun tak perlu merepotkan orang yang masih ada.

 

Dua ribu dua puluh. Sebentar lagi akan berganti. Aku berdiri di sini. Senja mulai berubah jingga. Lelaki bertubuh gemuk yang mulai menua itu kulihat beranjak pergi. Tak ada yang masuk di wasapnya. Hatinya lara. Aku bisa menebaknya. Ia bergegas. Bersiap untuk menghadap Tuhannya. Tapi ia tak pergi berjamaah. Hanya menyendiri di kamarnya. Sudah begitu lama itu kuamati. Sampai kapan ia bertarung dengan egonya. Kenapa ia tak berdamai dengan dirinya sendiri. Apakah Tuhan di kala sendiri itu berbeda penerimaannya. Atau dia malu kalau bercerita dan dilihat orang-orang jamaah. Tak taulah. Sungguh aneh lelaki gemuk yang mulai menua itu. Kadang ia tertawa begitu renyah. Tapi garing kudengar. Ia sungguh pintar bersandiwara. Menyembunyikan semua lukanya dari tingkahnya.

 

 

Aku

Menulis saja

Memang paling enak menduga-duga

 

 

Menduga apa yang ada di pikiran lelaki gemuk yang mulai menua

 

 

 

Artikel Terkait
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. Tetaplah hidup kawan walaupun tidak berguna๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…✌️✌️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, mari bersatu walau tidak berguna :)

      Hapus
  2. Titip salam ya, Mas Iman.. untuk Lelaki Gemuk yg Mulai Menua ๐Ÿ˜€

    BalasHapus
  3. Baru ketemu lagi blognya

    BalasHapus