Selasa, 25 Agustus 2026

Balikpapan

 


Kali ini aku dapat tugas ke Balikpapan. Setahun ini udah 3 kali aku on duty keluar kota. Untuk karyawan yang udah masuk kategori vintage, tugas begini memecut diri untuk terus mengupgrade pengetahuan agar bisa mengikuti perkembangan. Dan aku menulis lagi. Itupun karena masih ada yang ingin membaca tulisanku di era sosial media audio visual sekarang ini. Iya, era menulis itu sudah berlalu. Aku menulis, menjadi blogger atau travelblogger memang predikat yang sedang in saat itu. Jaman berkembang, orang lebih mudah mencerna visual daripada teks. Akan tetapi, seni membaca bukan berarti telah punah sepenuhnya. Masih ada. Aku pun, sesekali masih membuka blog following-ku untuk membaca tulisan mereka.

 

Sebenarnya kegemaran menulis atau journaling-ku tidak pernah surut. Aku menulisnya di notebook-ku. Aku save dan beri password. Semua aku tulis, tetapi tidak dipublikasikan. Menulis itu sama seperti bercerita, atau berdoa ke Tuhan. Aku kadang lebih lancar mengetik daripada berbisik saat di atas sajadah. Mungkin karena kemampuan mengetikku juga terbilang bagus, secara kan aku anak Smea, memang skillnya mengetik 10 jari, a-s-d-f spasi j-k-l-;.


Baik, lanjut ke cerita. Aku ke Balikpapan menghadiri acara di Platinum Hotel and Convention Hall. Hotelnya besar, tapi acaranya bukan di hotelnya, melainkan bangunan sebelahnya, hall-nya yang memang tempat acara. Besar juga ini gedungnya. Pesertanya hingga 270-an orang. Memang banyak. Se Kaltim Kalut. Kalau udah ada acara begini, yang paling ditunggu adalah coffe break dan lunch breaknya. Wkwk. Iyalah. Menunya perbaikan gizi semua. But, di aku kalau udah menu buffet begini biasanya lebih kalem. Bukan kenapa-napa, aku ingin lebih menikmati menu dengan kondisi tidak kekenyangan. Di coffe break yang biasanya ada pastry dan gorengan dengan mayonnise, kadang aku skip. Aku lebih senang menikmati secangkir kopi hitam tanpa cream dan sugar. Original dan itu nikmat. Jangan berlebihan saat di paruh acara, karena nanti makan siangnya jadi kurang nikmat. Semua akan menjadi nikmat jika dijalani sewajarnya saja. (tapi kalau sedang kalap sesekali bisa diberi maaf)

 

Kalau acara tugas kantor begini, aku paling senang kalau belum dicarikan hotel menginap. Jadi aku bisa cari hotel sendiri. Sesuaikan budget, pilih yang mudah kulineran dan akses ke bandara. Pilihan itu jatuh ke City Hotel di Jalan Jenderal Soedirman. Ini di tengah kota, deket dengan laut dan kuliner pinggir laut. Agak jauh dengan tempat acara, tetapi aku udah ukur dengan maps, sejarak 10 Km atau 26 minutes jika dengan grabcar. Jalan raya Kota Balikpapan terbilang ramai lancar, tetapi tidak macet. Jadi aku pikir jarak segitu, aman.

 


City Hotel itu hotel budget. Ada di pusat kota, ga susah dicari. Fasad hotelnya memanjang dengan halaman parkir simpel tanpa tanaman hias. Jadi keliatan elegan dari pinggir jalan. Harga untuk 2 malam tanpa breakfastnya 623 ribu. By aplikasi Traveloka. Kalau pake sarapan, over 700K, over budget. Lagian, kalau sedang traveling aku juga exclude sarapan, supaya bisa menikmati menu lokal. Nasi kuning kalau di Balikpapan-Samarinda, Bubur ayam kalau di Jakarta, Kupat tahu kalau di Bandung. Begitulah.

 

Nah, di City Hotel itu bagusnya sebelahnya ada minimarket, Alfamart atau indomaret (lupa). Ada kursi besi di depannya (Indomaret kayaknya). Ada gerai Momoyo juga (Momoyo apa Mixue) pengen beli tapi malu. Ga tau pesannya gimana. Dari luar tampak yang antre the nuruls semua. Aku duduk di kursi minimarket aja, nikmati sekaleng Lasegar Jeruk dan donut UMKM. Ya udah, menikmati istirahat malam aku di kursi itu, dan udara laut menambah kesejukan kota.

 

Di seberang jalan City Hotel, itu ada pasar Kelandasan. Jalan kaki aja. Di situ kalau sore ada deretan kuliner pinggir laut. Coto Makassar yang hits di sosial media ada di situ. Harganya 30 ribuan, suasanya asik karena di pinggir laut. Atau ke arah timur hotel di situ ada Taman Bekapai. Tempat kuliner juga. Aku ke situ untuk secangkir kopi (sachet) dan Pempek. Asik lah.

 


Udah gitu aja. Eh ada lagi nih, sederet City Hotel ada Masjid Agung. Mampir ke situ. Ada satu kejadian, aku sholat ke masjid. Masbuk. Yaudah ke tempat wudhu dan langsung menuju dalam masjid di lantai dasar. Udah baris dua shaft di situ. Aku masih celingak celinguk. Ini jamaah ga ada imamnya?. Ah entar lah. Sholat aja dulu. Masuk barisan. Kelar sholat. Aku ke lantai 2. Eh ternyata di sini lebih rame. Karpetnya lebih mewah. Ada Imamnya. Oh. Jadi di lantai dasar itu basement, dan imam ada di lantai 2. Hanya saja memang antara lantai dasar dan lantai 2 itu tidak terlihat celah yang bisa melihat imamnya. (sesuai keyakinan masing-masing aja). Yaudah aku di lantai 2. Beribadah (lagi). Indah nian masjid ini. Tangganya juga lebar, terlihat jalanan kota dengan aktivitas penduduknya yang sedang menuju tujuan. Dari jingga sunset menuju hitamnya langit.

 

Mau bahas bagaimana sholat dengan imam terpisah. Nah. Sesuai ilmu masing-masing yak. Yang aku tau sholat menjadi tidak sah jika terhalang tembok besar antara jamaah dengan imamnya. Jika masjidnya bertingkat, biasanya jamaah di lantai atas bisa melihat atau mengakses imam di bawahnya. Atau antara lantai imam dan lainnya ada akses yang mudah seperti tangga. Jika mengandalkan suara mikropon yang terdengar dari tempat jamaah tidak termasuk. Correct me if I wrong yak.

 

Lanjut. Itu ceritanya malam sebelum kembali ke Tarakan, aku mau cari toko pakaian sekitaran hotel. Paling tidak ada yang bisa dibawa pulang. Lihat sebelah kiri hotel dan kanan. Sama aja. Ini kawasan perkantoran. Kalau pun ada itu toko eletronik. Aku pikir lagi, iya di jaman sekarang toko pakaian udah yang berkurang. Di mall iya banyak. Dan sekarang lebih ke jamannya onlineshop yang penjualnya bisa jualan dari rumah di gang-gang masing-masing. Yasudah aku beli oleh-oleh roti aja di bandara.

 

Tiga hari di Balikpapan. Selesai.


Tapi biar tulisan ini ada maknanya, aku ceritakan juga aku acara apa di Balikpapan. Jadi, acara itu adalah acara dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Diinisiasi oleh Balai Pengelolaan Hutan Lestari wilayah XIII. Aku perwakilan dari Perusahaan Berusaha Pemanfaatan Hutan di wilayah Kalimantan Utara. Pesertanya adalah Ganis (tenaga teknis) pengeloaan hutan di masing-masing wilayah tugas. Acara ini adalah Bimbingan Teknis untuk Ganis dan Sosialisai PUHH dan PNBP.

 

Sosialisasi PUHH oleh Bapak Komarudin dari Jakarta. Poinnya, Ganis harus bisa lebih berperan di dalam siklus Penataausahaan Hasil Hutan. Tidak hanya “diserahkan” begitu saja ke Operator Sipuhh, tetapi ikut bertanggungjawab atas dokumen yang diterbitkan. Sipuhh juga tidak hanya menjadi instrumen pada hasil hutan kayu, tetapi lebih dari itu seperti HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) Jasa Lingkungan dan Pemanfaatan Kawasan. Sipuhh generasi 3 juga akan diluncurkan dengan layanan komprehensif dengan jargon Legality, Sustainability dan Tracebility.

 

Materi kedua adalah PNBP atau Penerimaan Negara Bukan Pajak. Intinya, mari maksimalkan lalu catat dengan benar kemudian laporkan. Ini akan jadi penerimaan negara dan akan membantu negara membangun daerah. (udah kayak campaign aja ini tulisan. Intinya gitu dah)

 

Ketiga Bimbingan Teknis untuk Ganisnya. Nah ini nih. Rame. Jadi hasil evaluasi ganisph tahun lalu itu, ganis dengan kelulusan layak itu ada di angka 54,7% kecil kan? Ini lebih baik dari tahun lalu secara persentase tapi masih kecil secara angka. Jadi, bimtek ini memberikan evaluasi, agar tahun ini angka kelulusannya bisa lebih besar. 60%, atau 65%. Menurutku (beh, ini aku nulis di blog pribadi yak, sungkan sebenarnya mau bilang ini), menurutku (bicara dengan soft spoken dan duduk bersimpuh), syarat kelulusan di angka 2.700 dari 3.000 itu kebesarannn…ketinggiaan. Itu setara dengan 9/10 atau 90/100. Di nilai pelajaran sekolah dapat nilai segitu udah kategori ideal. Jadi kalau mau angka kelulusannya lebih baik, maka standar kelulusannya diturunkan.

 

Ujung tombak di Penilaian Kinerja itu “hanya” ada di CBT. Ini coba disimulasikan. 1. Ganis patuh (nilai sempurna 1.050} 2. Ganis implentasikan peraturan (nilai sempurna 1.050) 3. Ganis aktif seminar (nilai sempurna 0.300) nah dari ini saja nilai baru di angka 2.400. Masih kurang 0.600 yang diambil dari CBT. CBT itu ujiannya, nilainya yang harus diperoleh adalah 50% plus 1. Jadi jika soal CBT 40, maka harus bisa benar 21 supaya lulus (tanpa pembinaan). Masalahnya di sini.

 

Jadi, semoga ada formula lain sehingga angka kelulusan tidak kecil tanpa mengurangi nilai atau kualitas ganis itu sendiri. Menurut aku ya pak. Mohon maaf jika keliru.

 

Sesi selanjutnya adalah motivasi. Nyanyi!. Iya acaranya nyanyi kor. Berasa padus.  “aku pasti bisa”. :Aku pasti bisa”. Ya Allah udah lama ga nyanyi di tempat rame aku. Akhirnya aku nyanyi. Bagus juga ini acara wkwk.

 


Yaudah. Aku pulang. Terima kasih untuk semuanya. Untuk perusahaan yang beri kepercayaan untuk hadir di acara itu. Eh aku ketemu teman seangkatan tahun lalu juga waktu di Semesta Samarinda, wkwk si Adnan. Cie. Udah ganis aja ya kita. Padahal udah berasa tipes saat akan di-uji kompetensi ditanya lubang gerek besar sama gubal busuk. Wkwk.

 

Udah, wassalamualaikum warrahmatullah wabarakatuh.

 

 

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar