Jumat, 28 Agustus 2026

Finda

 

“Sehat-sehat di sana bang” chat Dimas dari Papua

“Jaga diri baik-baik mas” tulis Obi dari Jakarta

“Abang juga jaga diri yak” bilang Ucen dari Balikpapan


Ini adalah kalimat-kalimat yang membuat getir membacanya, mendengarnya. Tak ada ikatan keluarga, tetapi pesan yang disampaikan terasa sekali kesungguhannya. Iya, akupun demikian. Semoga kalian bisa jaga diri di sana. Di aktivitas outdoor, di daily routine atau di mana saja. Selalu sertakan Tuhan untuk memulai dan membersamainya. Semoga keberkahan selalu ada di setiap langkah kita.

Finda. Maliya Finda. Aku memanggilnya “mbak Finda”, selainnya memanggil “Ummi”. Tinggi semampai, tubuhnya terlihat bugar dan ideal. Tak banyak yang menyangka usianya separuh abad. Pembawaannya sederhana meski tetap terlihat kemapanan di dirinya. Beliau ceria, bersahaja. Beliau terlihat tangguh, punya mental yang kuat dan bisa membawa suasana menjadi lebih hangat.

Aku dan Obi mendaki Gunung Latimojong, kali ini kami menggunakan private trip Bang Nardi, total empat orang. Di tim lain, ada rombongan dari berbagai daerah. Dua diantara banyak pendaki itu, ada Ucen dan Finda. Ucen dari Balikpapan dan Finda dari Surabaya. Kami berbeda tim sebenarnya, tetapi lebih sering seperjalanan. Ritme aku dan Obi, menjadi selaras dengan Ucen dan Finda. Seperjalanan, bahkan banyak cerita yang kami bagi di trip itu. Di saat-saat istirahat, makan siang, kami pun jadi seakan satu tim pendakian. Kami makan bersama, bercanda bersama.


Di hari pertama di base camp, tim pendakianku bertemu tim lainnya (Tim Ucen dan Finda cs). Di hari pertama pendakian (atau hari kedua) kami berbeda lokasi camping. Tetapi di siang hari pendakiannya, kami ketemu lagi. Seperjalanan lagi dan makan siang bersama lagi. Lokasi tenda di hari kedua pendakian juga kami berbeda. Bahkan ketika summit, kami tak bersama. Baru setelah turun dari puncak (lintas jalur), kami bertemu kembali. Bahkan kali ini sudah ada tambahan Dimas dan Elu. Kami bertemu di dekat sumber air. Saat itu hujan deras, kami break dan membangun flying sheet. Saat itu kami terasa menjadi satu tim kembali.

Dunia pendakian memang seseru itu. Kita bisa menjadi part di situasi apa saja. Dimas dan Elu aku lihat banyak membantu Ucen dan Finda. Untuk Ucen memang first pendakiannya. Sementara Finda sudah beberapa kali mendaki, meski terlihat baru aktif di usianya yang sudah tak muda lagi.

Cerita aku dengan Finda di pendakian (dan tentunya dengan teman lainnya) memang menjadi akrab. Hingga akhir pendakian, yang masing-masing melanjutkan perjalanannya masing-masing. After that, kami masih sesekali terhubung. Tidak intens karena punya kesibukan sendiri-sendiri.


Dari instagram, aku memang menjadikan sosial media itu hanya untuk melihat berita dan kejadian di berbagai daerah. Aku hanya gunakan untuk mengikuti portal akun yang khusus memberitakan informasi. Berita dengan pendaki yang kecelakaan juga salah satunya. Berita tentang pendaki Gunung Piramid di Bondowosopun sudah sampai di laman bacaku. Iya, berita serupa bukan hal yang aneh. Hampir tiap bulan ada saja insiden serupa. Pendaki terjatuh, tersesat, hipotermia, terkilir, terpisah rombongan. Ada banyak macam opini, aku memilih membaca saja. Tapi kali ini, aku tak menyangka salah satu berita kecelakaan di gunung itu, adalah orang aku aku kenal. Finda.

Obi mengabarkan lewat pesan wasap. Aku dan Obi teman di komunitas pendakian. Kami saling mengenal sejak 15 tahun silam. Beberapa pendakian bersama dengan Obi aku ikuti, seperti Semeru, Merapi dan Kerinci di Jambi. Obi itu komandan di komunitas. Beliau luar biasa dalam hal manajemen pendakian. Begitu detail, rinci, penuh perhitungan. Obi chatme. Aku kira ajakan pendakian. Tapi bukan. Kali ini izin mengabarkan bahwa teman pendakian kecelakaan di Gunung Piramid.

Aku segera menghubungi Obi, kami berbincang lama. Mencari kebenaran berita dan kronologinya. Aku juga menghubungi teman lainnya. Kami berduka. Diam. Mengenang.


Finda bisa dibilang baru di dunia pendakian. Tetapi intensitasnya di tiap pekan terbilang padat. Aku hanya bisa memantau dari akun instagramnya. Itupun setelah berita kecelakaan ini.

Aku memposting berita dan kenangan dengan beliau. Teman-teman pendakian dari berbagai daerah memberikan reaksi. Menanyakan kebenaran berita, hingga yang berucap bela sungkawa. Berita kecelakaan mungkin terasa biasa, mungkin juga itu bukan sesiapa. Tapi entah kenapa, kali ini buatku benar-benar berduka. Berita yang paling ditakutkan keluarga jika berpamitan untuk mendaki ke luar daerah, sudah berada di lingkungan orang dekat.

Kegiatan outdoor sebenarnya menyisakan kekuatiran orang-orang terdekat. Keluarga, kerabat dan handai taulan. Apalagi jika mereka tidak mengenal kegiatan ini lebih dekat. Sepertiku, tidak ada satupun dari keluarga dan teman yang ada di kegiatan ini. Semenjak sosial media menjadi lebih mudah diakses, informasi kecelakaan gunung bisa cepat sampai ke siapapun. Tak terkecuali di keluargaku. Dan wajar jika hal ini menajdi kekuatiran.

Lalu, POV dari pegiat alam itu sendiri seperti apa. Sulit menjelaskan. Latar belakang orang melakukan aktivitas ini pun jadi beragam. Aku tuliskan dari alasanku saja. Buatku, mendaki gunung itu akumulasi banyak hal. Kesehatan, daya tahan tubuh, olah raga, mental, psikologis, kebahagiaan, kesenangan, ibadah, alam yang indah, air sungai, pertemanan, manajemen, dan banyak lagi. Tapi tak lupa juga aktivitas ini satu paket dengan gerd, magh, sakit perut, terkilir, keseleo, pegel, salah urat, salah jalan, tersesat, kedinginan, hipotermia, muntah, lapar, mual, jatuh, meninggal. Dan semua. Iya harus aku tuliskan. Harus berimbang antara kemungkinan kebaikan dan sebaliknya.


Apa yang dialami pendaki, memang bukan keinginannya. Itu tragedi. Tapi bukan hal yang tak mungkin terjadi. Itu bisa saja. Tak ada niat untuk merepotkan orang lain, relawan, tim sar, kepolisian, aparat setempat dan warga sekitar. Minta maaf jika itu terjadi. Pendakipun ingin pergi dan kembali dengan selamat. Berkumpul bersama keluarga. Jika hal buruk itu harus terjadi. Itu adalah kejadian dari berbagai kemungkinan. Apa yang terjadi di Finda, bisa terjadi ke siapa saja. Aku pun bisa. Dan aku kembali menestekan air mata untuk kesekian kalinya, bahwa duka ini bukan duka untuk keluarga dan mereka saja, tetapi jauh di dari seberang lautan di sini, duka itu ada aku rasakan.

Selamat jalan sahabat perjalanan. Finda, semoga damai di sana. Semoga indah perjalananmu di sana.

Untuk teman perjalanan lainnya, tetap jaga diri kalian, semoga yang terbaik yang kita rencanakan bisa terwujud dengan keridhaan Tuhan.

 

ooOoo

 

 

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar