Senin, 07 Maret 2011

Bertemu Perompak Bersenjata Api


Bismillah….itulah kata yang terucap pertama melangkahkan kaki meninggalkan kampung tercinta di Desa Sekatak Kabupaten Bulungan menuju perjalanan selama 14 hari ke berbagai daerah. Hari pertama yang dilalui adalah Kota Tarakan. Kota central untuk daerah di Kalimantan Timur bagian Utara, sebuah kotamadya dengan sarana public lengkap mulai dari pelabuhan air hingga pelabuhan udara. Dari Kota Tarakanlah aku akan menemui Indonesia lain dengan pesonanya.


Menyusuri sungai Sekatak hingga ke kota Tarakan menghabiskan waktu kisaran 2 jam. Dengan menunpang sarana transport air berupa Speed Boat berkapasitas 6-8 orang, boat melaju dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan aku duduk menghadap ke belakang sambil menikmati sinar matahari pagi, pengen jeprat jepret landscape, meski akhirnya aku urungkan karena kondisi boat yang kecil rentan kemasukan air laut yang bergelombang. Akhirnya kududuk saja menunggu merapatnya boat yang membawa aku dan 3 penumpang lain.



Ketika di perairan Tarakan, boat berhenti dan tiba tiba muncul speed boat dengan kecepatan lebih dari arah timur, boat dengan empat orang bertopeng dan bersenjata api menghentikan laju boat kami. Dalam benakku aku berkata ‘oh…inikah yang disebut perompak..?.Mereka berteriak dan merapat. “tiarap…!” itulah kata yang ia ucapkan. Tanpa banyak komen sontak akupun nunut aja, maklum gan dari kecil terbiasa patuh….hehehe. aku tidak memperhatikan penumpang lain, aku hanya merunduk. Terasa seorang dari mereka masuk ke boat dan bergerak cepat memerintahkan untuk memindahkan 4 karung besar udang yang baru dipanen, yang dibawa oleh salah satu penumpang. Karena dirasa berat memindahkan empat karung (50 kg) udang dari boat kita ke boat perompak, aku dibangunkan dari posisi tiarap. “mas,mas…bangun mas…bantu pindahkan” itu kalimat yang diperintahkan ke aku. (mas….emang aku wong jowo…hehe…ngga apalah…terdengar sopan koq…) aku berdiri membantu penumpang yang juga pemilik udang tersebut memindahkan udang ke boat perompak. Sembari aku dan pak tani udang tadi memindahkan udang, 2 penumpang depan dan motoris boat digeledah barang barangnya. Aku sih tidak melihat, karena konsentrasi memindahkan udang ini. Terdengar bentakkan perompak untuk segera menyerahkan ponsel hingga cincin dari penumpang laen, entah apa saja yang diporotin aku tak tahu pasti.

Setelah selesai memindahkan udang, sempat terbersit untuk menyembunyikan ponsel yang ada dikantong celanaku, tetapi kupikir percuma karena ke tiga perompak laen pasti melihatnya, ya udahlah pasrah aja. Selesai mengambil barang barang penumpang bagian depan, tiba giliran barang bawaanku yang di jamah. Karena agenda aku saat itu adalah backpackeran barang yang aku bawa adalah backpack (ransel), notebook (akan dititipkan ke tarakan), sandal eiger (dalam tas sandal, karena aku memakai sepatu dan untuk traveling perlu juga sandal) dan tas raket berisi 2 pcs raket badminton.

Barang pertama yang dirampas perampok adalah tas berisi sandal. Wew, itu sandal baru mas…hiks. Kemudian ransel aku yang berisi baju, tiket dan juga berkas-berkas penting. Saat ransel itu dipegang aku tersentak, duh…..banyak berkas penting disitu, bakalan ribet ngurusnya…akhirnya aku beranikan memegang bagian bawah ransel yang udah ditangannya seraya berucap, “pak, jangan pak, ini Cuma tiket dan baju saja….” Mendengar ucap dan juga tingkah saya, si perompak mengangkat senjatanya kearah muka saya. Tatap matanya tajam. Namun, ia akhirnya melepaskan ransel itu.

setelah itu, si perompak menuju ke bagian belakang boat, berniat mengambil mesin boat. Karena biasanya rampok mengambil mesin, supaya kita tetap terombang ambing di lautan. Bahkan pernah ada korban perampokan yang diperkosa dan dibunuh.

Ketika mesin boat akan diambil, tiba tiba mulutku (yang manis ini) berucap lagi, “pak, jangan diambil pak, saya mau berangkat…”. Setelah itu pun kawanan rampok yang laen berteriak supaya kawannya yang masih di boat kami segera bergegas dan meninggalkan mesin tersebut, dengan alas an mesin itu sudah tidak bagus lagi.

Posisi boat kami dan boat rampok masih berdampingan hanya menunggu satu kawanan lagi untuk pindah ke boat rampok dan mereka beranjak pergi. Ketika mereka sudah berada di boatnya perlahan boat terpisah, sekitar 4-5 meter terpisah, aku melihat masih ada sandalku yang di dalam boatnya, akupun berteriak “pak…..sandalku…” entah apa yang ada dalam benakku, masih sudi-sudinya berdialog dengan rampok, haha. Si rampok berkata “mana..!!!”, “itu…” jawabku lagi.
Si rampok lalu mencari barang yang kumaksud diantara barang rampokkan laennya. Lalu ia temukan dan dilemparkanlah ke arahku. Sandal itu melayang di udara di atas laut berpindah dari boat rampok menuju arahku. Syuuuut….aku menyambut sandal hitam kesayanganku. (makasih yah mpokkk…)

Setelah itu rampok berbalik arah dan kembali melaju ke arah timur.wusss…..rampok pergi meninggalkan kita yang terbengong, membisu, traumatic dan tak tahulah apa yang kita rasa saat itu. Tidak ada signal, mau telepon siapa…..

Sampainya di Pelabuhan Tarakan, motoris segera melaporkan (menceritakan) ke teman2nya yang ada di pelabuhan tersebut. Aku, masih trauma. Aku diam. Seraya bersyukur, Tuhan yang Maha Baik itu, masih melindungiku, makhluk yang terlalu sering lalai dari PerintahNya. Nyawaku yang aku imani ada dalam genggamanNya, tetap kuimani ada dalam genggamanNya. Jika ia berkehendak, siapapun tak mampu menghalangi. Bersyukur, karena barang barang ku masih ada ditangan. Backpack yang akan menemani 14 hari perjalananku masih dipunggungku.

Yup, inilah hari pertama solo backpackerku yang diisi dengan insiden mencekam. Bismillah, kembali kuucap kalimat sakti, bahwa apa yang aku lakukan adalah semata mencari keridhoanNya. Backpacker bukan sedekar menghabiskan duit melanglang buana atau menambah album photo lalu dipajang dimana mana, namun backpacker yang lebih mengedepankan nilai nilai jejak seorang anak manusia, mencari kebenaran fiqh dunia. Backpacker yang merengkuh ilmu dari ragam karakter manusia yang akan ia temui, belajar langsung tentu lebih berkesan dari sebuah teori panjang berbab bab dalam sebuah kitab. Dan aku menemukan itu di dalam perjalananku. Bertemu kejujuran juga kebohongan. Bertemu keikhlasan juga keterpaksaan. Bertemu Ayat Ayat Tuhan dalam balutan Pesona berwujud keindahan.

Bismillah…..



Artikel Terkait
Comments
12 Comments

12 komentar:

  1. mas Iman,, inikah detail dr tragedi prampokan kmrn??!!!

    tragis,, tp mas Iman mengemasnya dgn gaya mas Iman punya,, jd akhirnya lucu hehehe,,,

    Subhanallah,, kekuasaan Allah tiada tandingannya,,

    BalasHapus
  2. hehe...benar mba itu kronologisnya. meski mencekam, dibawa enjoy aja...hehe

    BalasHapus
  3. tapi sekatak sudah banyak perubahan ko.lampu sudah 12 jam,dan perampok sudah enda ada.

    BalasHapus
  4. ekani kristian kidi18 Mei 2011 12.27

    sekatak menurut ku tempat yang baik.aku ingat ni ama teman ku di sekatak apalagi anak smpn 1 sekatak.dari teman lama mu
    he.................

    BalasHapus
  5. andi : sekatak memang telah mengalami perubahan, namun tetap saja masih terasa lamban (seperti umumnya daerah lain yang jauh dari pusat). perampokan masih terjadi koq mas, ada dua kali kejadian pasca kejadian yang saya alami.
    ekani kristian kidi : sekatak tempat yang indah dan aman, perairan jalur transportasi yang musti ditingkatkan penjagaannya. salam kenal, terimakasih telah berkunjung.

    BalasHapus
  6. ekani kristian kidi19 Mei 2011 14.44

    betul mas,sekatak itu tempat yang menurut ku indah
    walaupun saya sudah di tanjung selor saya ingat selalu ama sekatak.apalagi smpn 1 sekatak

    BalasHapus
  7. mas,bisa tau nga gambar foto tuhan yesus itu di sekatak kah????????????????????salam kenal

    BalasHapus
  8. andi tekeneng19 Mei 2011 14.49

    ya saya terima pendapat mas

    BalasHapus
  9. ekani : benar ekani, dulunya ekani di sekatak ya?, tanjung selor juga kota yang indah...tenang dan damai lebih tepatnya. suatu saat saya ingin menulis objek wisata kota kabupaten tersebut.
    toraja : lebih tepatnya di desa Pentian daerah Sekatak Bengara, lokasinya berada di tengah hutan di atas bukit nan curam. salam kenal juga untuk toraja....
    andi tekeneng : siip dah!

    BalasHapus
  10. mas perna ke toraja engga?kalau perna ceritain dong,

    BalasHapus
  11. endi : alhamdulillah pernah, lihat saja tulisannya di title Tana Toraja entry list Maret 2011. terimakasih.
    toraja : ralat, bukan desa Pentian, tetapi desa Mentadau. desa tersebut memang tidak berjauhan.

    BalasHapus