Jumat, 18 Maret 2011

Tana Toraja

Terus terang, masih badmood mau ngeBlog, tapi karena takut photo-photo abis traveling kemaren apkir ya udah dipaksain dah nulis, ngeBlog tentang perjalanan wisata kali ini sungguh dalam keadaan yang sangat-sangat sibuk….(sibuk menata hati maksudnya). Gila!! udah sebulan sejak  agenda backpackeran kemarin masih saja belum bisa menjalani kehidupan aku dengan sebenarnya, masih ada ‘sesuatu’ yang tertinggal di sana ! Weeeekk……..abis mo gimana lagi, sekarang lagi terkena dampak radiasi hati dah, bawaannya maleeessss mulu !!! males mandi, males makan, males nyuci baju, males kerja, males olahraga, sekarang lagi doyan-doyannya ngumbe kopi kental, lagi girang-girangnya dengerin Linkin Park,/Rif,Eminem, lagi susah tidur, lagi pengen marahin orang, pengen mukul orang, wuahaaahahhaaaa……….jangan deket deket gue saat ini….lagi pengen rebus orang!!!!!!
Terus terang gan, aku nggak betah jaim, nulis dengan bahasa santun, sementara hati bergolak, finally, kutulislah kisah ini beserta suasana hati yang sedang melanglangbuana.... (menuju tepian hatinya)

Orang yang paling aku benci saat ini adalah
Kekasihmu………………………..

Stop it ! wake up ma men.....
Ok. Back to the topic….about megalitikum culture from south of Celebes…..that’s Tana Toraja…we start now…….1.2.3…….go…!

Tana Toraja


Tana Toraja……. nama ini jelas tidak asing, sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan yang menjadi model pariwisata Indonesia. Tana Toraja tidak hanya menawarkan pesona alam yang indah dan sejuk berlatar perbukitan, tetapi juga rancang bentuk bangunan tradisional yang bergaya khas. Upacara adat Tana Toraja juga menarik wisatawan hingga ke manca negara. Kalau orang Tana Toraja (biasa dipanggil Tator) udah tersebar di seluruh nusantara. Karakter Tator sebagai pekerja ulet menjadikannya mudah dikenal. Tator kukenal sebagai penggarap ladang sayur-sayuran yang handal. Beberapa sahabat aku yang asil Tator semua kukenal ulet, nggak pemalas dan pandai mengolah lahan menjadi hijau.

 Kete Ketsu - Rantepao

Perjalanan dari kota Makassar ke Tana Toraja menghabiskan waktu kurang lebih 8 jam. Aku, memulainya dari kota Parepare, pukul 12 malam bersama seorang teman yang stay di Parepare. Hujan deras, pertanda rahmat menyertai perjalananku (batinku). Perjalanan Parepare – Toraja tidak terasa melelahkan, karena sepanjang jalan bus Toraja Ria yang kami tumpangi memperdengarkan lagu lagu apik, variatif dan easy listening. Pukul 5 pagi sampailah di ibukota kabupaten Toraja, yaitu Makalle. Kota Makalle sepiiiiii, durung tangi wong wong iki, nggak terdengar suara adzan subuh, ditambah lagi iklim toraja yang suejuk tenan, so quiet.

Selesai menunaikan shalat subuh di dalam bus, perjalanan dilanjutkan ke kota Rantepao, teng di jam 6 a.m. nyampe dah. Suasananya juga sama, sepi gan, .ya iyalah kepagian buuu. Lokasi wisata belum buka! hahahaha, opsi yang diambil saat itu adalah……… nyari Kakus! Hahahaha… maklum gan,ritual wajib tiap pagi adalah BeABe…….ayo buruan cari masjid (nah koq masjid..?…….ya lah numpang ngeKakus sejenak…hehe). Akhirnya ditemukanlah sebuah masjid megah di pusat kota Rantepao yang sedang renovasi, tetapi apa yang terjadi saudara saudara….!! masjid terkunci dari luar………pretttt!!

 Masjid Besar Rantepao
Take it the Plan B now. Kita searching second mosque, dengan menumpang becak motor kita menyusuri kota Rantepao yang belum seluruhnya terbangun dari mimpi, nyari masjid sambil telusuri kota. Masjid berikutnya pun ditemukan…..dan kondisi yang sama terulang kembali, masjid yang anda tuju sedang sibuk….cobalah beberapa saat lagi, begitulah narasi yang terngiang di benakku. Be a backpacker memang kudu punya jurus jurus andalan dan juga daya tahan yang prima, tahan nggak mandi, tahan nggak gosok gigi, tahan nggak tidur dan saat ini kudu punya kekuatan untuk menahan BeAbE, wkwkwkwkwkw, duh Gusti, kepriben iki, wis merinding kabeh iki awakku, nang endi iki kakus e………..

Karena tidak berhasil nemuin masjid (kakus yang dituju maksudnya), kita putuskan langsung ke target wisata pertama, yaitu Kete Ketsu, berada di kota Rantepao Tana Toraja. Si Daeng becak motor, mengantarkan kita di persimpangan jalan. Jalan menuju Kete Ketsu tidaklah lebar, seperti masuk ke sebuah gang aaja, dengan modal tanya dan tanya, jarak dari simpang itu ke Kete Ketsu hanya 1 Kilometer katanya, wah, ‘ketimbang naek angkot mending jalan aja pren’, begitulah usulku ke teman travelingku kali ini, mumpung pagi, sekalian nikmatin alamnya Toraja, lagian kan cuman 1 kilometer, dan ternyata, jarak itu bukan 1 Kilometer, tapi 5 alias LIMA kilometer!!!!!! Jauuuh. Yang ada menggurutu aja, hahaha , tetapi mau gimana lagi udah terlanjur…………. gemp00r tuh kaki gan!!!

Kete Ketsu - Rantepao

And than, tibalah di Kete Ketsu, tampak bangunan tongkonan yang berpasangan tersusun indah lengkap dengan taman di sekitarnya. Bukannya jeprat jepret, yang kita lakukan adalah mencari , tetap… Kakus..!!! hahahahaha (ini mah temanya kakus…hihihihi). Dan lagi-lagi kita dirundung duka. Lokasi wisata yang terkenal hingga ke negeri Ratu Elisabeth II ini ternyata tidak difasilitasi dengan layanan public yang baik, ada kakusnya sih gan, tapi lagi terkena musim kemarau, ngga ada airnya, kondisinya mengerikan, ha…!!!!mirip kakus di jaman ogut SD dulu, akhirnya kita terus berjuang demi kesehatan perut kita, cari air, cari ember, cari timba, angkat air, duh…duh….baru dah, ambless, puas……..leganyaa!!!

Selain menampilkan beberapa rumah tinggal dan lumbung padi, Kete Ketsu juga menawarkan wisata lokasi Pemakaman mayat di tebing tebing curam. Tampak beberapa tulang belulang lengkap dengan tengkorak manusia terlihat dimana mana tak tertata dibiarkan berada pada posisi semula. Juga tampak kayu-kayu yang telah lapuk sebagai peti mayat. Dan beberapa peti mayat baru yang menandakan masih ada mayat yang disemayamkan di lokasi ini. Menurut sumber rangka manusia tersebut tidak boleh dipindahkan kecuali melalui upacara adat.


@ Londa
Lokasi berikut yang menarik untuk dikunjungi adalah Londa. Berupa tempat pemakaman berlokasi di dalam goa. Mayat mayat yang bersemayam di dalam peti diletakkan ‘begitu’ saja di sisi sisi dalam goa. Untuk mengunjungi lokasi ini diperlukan penerangan berupa lampu petromak dari guide setempat. Anda akan melihat beberapa rangka manusia di setiap sudut goa ini.

Lemo - Tana Toraja

Next, Lemo. Lemo juga merupakan tempat pemakaman. Hanya saja di lokasi ini mayat di letakkan di tebing tebing curam. Rada bingung juga mikirnya, koq ribet bener ya?, ngeliat tuh tebing dengan kelerengan yang curam. Ya udah liat aja di gambar.

Idham Jufri (sahabat traveling). Pose bersama kerbau Tator
Selain keunikan tempat pemakaman, toraja juga terkenal dengan upacara kematian yang ‘meriah’ atau unik. Cerita tentang upacara ini udah sampai di telinga pecinta budaya-budaya Indonesia. Upacara terkadang menghabiskan total waktu hingga 7 hari lamanya. Dengan mengorbankan Kerbau sebagai bagian dari ritual. Harga binatang yang satu ini pun bisa melejit hingga ratusan juta rupiah…..wew! 

Salah satu rumah makan di Makalle - Tana Toraja

Kelar mengunjungi ke tiga lokasi tersbut, target selanjutnya adalah kota Makalle. Ada kolam di tengah kota, sering digunakan sebagai latar video klip lagu-lagu daerah setempat. Kolam yang dilengkapi tempat bersantai. Di kota ini, yang kita buru selanjutnya adalah warung makan. Toraja merupakan kota dengan masyarakat mayoritas non muslim, jadi bakalan susah nemuin warung untuk muslim. Restaurant cepat saji juga tak terlihat di sini. Jika anda sampai disini bisa berkunjung ke rumah makan Haji Idaman di Jalan Merdeka 46, Makalle. Persis disebelah masjid raya Makalle.

Tepat pukul 3 sore, mobil jemputan datang. Saatnya meninggalkan panorama Toraja, baru nyadar ternyata perjalanan lintas Sulawesi dari atau ke arah Toraja sungguh berliku liku, karena waktu perginya malam jadi nggak kerasa kelok keloknya. Nah pulangnya baru dah, yang mabok darat, siap-siap, untung aja ogut selalu menjaga makanan kalo selama traveling jadinya tetap fit. Alhamdulillah.

Ditengah perjalanan kita singgah sejenak di tepi bukit Nona, ada legenda tentang asal usul bukit ini. Indonesia gan, apa aja selalu beserta legenda, lumayanlah sebagai bahan cerita selama diperjalanan. Kenapa disebut bukit nona ?? perhatikan gambar berikut, kalau lu mikirnya mesum lu bakalan nemu dah jawabannya.

Bukit Nona

Toraja kelar…..prepare to Parepare……

Artikel Terkait
Comments
11 Comments

11 komentar:

  1. Toraja dalam tulisan yang santai dan segar.....

    BalasHapus
  2. terimakasih......juga yang udah centang di Reaksi Lucu...hahaha

    BalasHapus
  3. penasaran dengan bukit nona karena tidak berfikiran mesum jadi saia tidak menemukan jawabannya kwkwkwkkwkwkwk......

    BalasHapus
  4. membacanya tidak perlu dengan tafsir sastra yang berat kayak kemarin2, agak ringan dan luwes...

    iya tu ya, pagi2 mesti hunting kakus, bener2 sempat bikin BT d pagi itu, tp karena hawa sejuk jg sehingga qta bisa sedikit terhibur, d banding iklim d Kota Parepare, uuhhh...

    Makasih lo ya dah muatin fotoq dgn kerbau gemuk nan bersih dan mahal tu, Tedong Bunga, tenar dah q ni...

    BalasHapus
  5. @ wita : hahaha kalau penasaran....aku melayani penjelasan tambahan koq...wkwkwk
    @ Jufri : hahaha....sastra..?duh...bukan sastra ji....so sastra kale...btw...udah ada yang order kerbau nggak.....? hahaha

    BalasHapus
  6. Huaaa... sebenarnya saya berencana hari ini ada main di Tana Toraja dan jalan2 di sulsel. Sayang masih belum bisa cuti lama sampai dua bulan mendatang

    BalasHapus
  7. @kotakpermen : sepertinya untuk bepergian di awal tahun ini kurang baik, karena cuaca kurang mendukung...sampe sekarang curah hujan masih tinggi merata di seluruh indonesia...buat photo2 juga kurang asyik hasilnya....btw,makasih udah nengok.

    BalasHapus
  8. Dear Mas Iman, Toraja memang sangat menarik dan salah satu tempat yang harus dikunjungi sebelum meninggalkan dunia ini hehehehe. saya sudah berkunjung kemaren pada tahun 2010 walaupun belum sempat update di blog.

    tapi sayang, saya belum sempat melihat Bukit Nona disebabkan keberangkatan dan kepulangan pada malam hari, semoga suatu saat nanti punya kesempatan melihat bukit ini, salam jejak backpacker buat anda

    BalasHapus
  9. mas Ruben Sukatendel ; betapa girangnya saya dapat kunjungan dari Backpacker dan Blogger sarat pengalaman seperti anda, saat ini saya tengah pelajarin rute ke sumatera dari tulisan anda....salam hormat saya buat mas Ruben. Jejak Backpacker anda.....tertinggal disini....

    BalasHapus
  10. halo, mohon infonya bagi teman2 yang sudah ke tator. saya rencana mau ke tana toraja tanggal 31 maret ini tapi belum nemu hotel dan guide yang murah. misalnya ada paket liburan di harga tertentu dan yang pasti murah all include makan, hotel, touring dsb. mohon infonya plus nomer telp agar memudahkan saya untuk contact langsung.
    mohon bantuan teman2, bisa email ke saya: frez.cika@yahoo.com
    thank you so much for your help.
    -Cika-

    BalasHapus