Senin, 13 Februari 2012

Kisah Petualanganku

Petualangan Menuju Nusa Utara Indonesia

“Bismillah”. Itulah kata yang selalu aku patrikan di setiap memulai petualangan ini. Dengan kata itulah aku menyerahkan segala daya upaya, segenap cipta karsa dan seluruh rasa menghujam di sudut relung terdalam. Bahwasanya, aku hanya seorang pelaku dari sebuah skenario, dimana hanya menujuNya saja aku berada di akhir petualangan.

Bekerja di areal konsesi pengusahaan hutan alam di pedalaman Kalimantan tak menyurutkan agendaku menelusuri detail setiap pelosok negeri indah ini. Indonesia, tak bosan-bosannya aku memuji indahmu, tak kenal letih aku menyulam langkah menemuimu. Hingga kisah ini aku tuangkan semoga dapat menginspirasi generasi berjiwa tangguh untuk dapat merengkuh ibrahnya, sehingga semakin mempertebal rasa nasionalisme tanpa sekat teori semata.


Dimulai dari kediamanku di kabupaten Bulungan provinsi Kalimantan Timur, untuk memulai petualangan kali ini (Juli 2011) aku menuju kota Tarakan sebagai kota dengan sarana publik yang memadai. Akses menuju kota Tarakan melalui transportasi air menyusuri sungai Sekatak yang dikenal sebagai habitat Buaya Air Tawar (Crocodylus siamlisus) lalu perairan laut Tarakan yang dikenal sebagai habitat Perompak Petani Tambak. Perairan Tarakan bukanlah perairan dengan lalu lintas angkutan air yang aman. Hasil perbincanganku dengan seorang aparat kepolisian beberapa pekan silam yang khusus menangani kasus kejahatan di perairan laut Tarakan terbilang fantastis. Rata-rata kasus kejahatan hampir selalu dijumpai di setiap bulannya. Korban dari kejahatan tersebut tidak tanggung-tanggung. Tidak hanya harta benda yang menjadi sasaran, namun jiwa dapat melayang. Kasus seperti ini memang tak masyhur di media nasional kita, maklum saja daerah perbatasan, jauh dari kota yang lebih concern dengan informasi seputar bundaran HI atau gedung parlement. Waduh, malah jadi cerita politik. Bukan begitu sobat, informasi tersebut adalah prembule tentang pengalaman saya sendiri ketika dalam perjalanan di perairan tersebut. Saya bersama tiga penumpang lain harus menghentikan detak jantung beberapa saat ketika para perompak laut tersebut menyapa kami. Ya! Kejadian tersebut saya alami di bulan Februari 2011 silam. Saat saya memulai solo backpacker saya menuju beberapa kota wisata diantaranya Toraja, Lombok dan Bali. Detail kronologi kejadian tersebut sama persis seperti di film-film action. Perompak bertopeng hitam yang menutup seluruh kepalanya, menyisakan lubang di bagian matanya, berjumlah empat orang tersebut melengkapi aksinya dengan bersenjata api rakitan. Mereka berteriak. Mereka membentak. Mereka menggeledah. Sedang kami, penumpang yang baik hati, penurut dan tidak sombong ini hanya menuruti saja apa maunya. Ya, daripada bonyok atau dibuang ke laut, lebih baik duduk manis dan pasang wajah melas saja. Kita juga sudah sangat maklum bahwa dari beberapa kasus biasanya korban dibuang ke pulau terdekat, karena boat dan mesinnya ikut diborong oleh perompak.

Well, mungkin ada yang bertanya. “ngga ada polisinya ya?”. Ya ada bu…, tapi tidak di laut. Polisinya di darat. Hehe. Ya sudahlah. Ini kan lagi sharing cerita keindahan alam. Jadi cerita mencekam tersebut dicut sampai disini saja. Hanya sekadar berbagi, bahwasanya di setiap perjalanan, yang namanya kendala, masalah atau apapun itu biasanya ada saja. Namun buat saya itu bukan halangan untuk meneruskan petualangan saya. Malah semakin memperkaya pengalaman yang nantinya akan saya ceritakan kepada ke sebelas anak-anak saya. (Kalau yang ini hanya hayalan saya saja, lha wong isteri saja belum ada..hehe).

Kita lanjut, dari desa pedalaman saya di Sekatak Buji, menuju kota Tarakan diperlukan waktu 2 jam perjalanan dengan menggunakan speed boat bermesin 40 PK. Dari kota paguntaka (julukan kota Tarakan), saya mencari tiket kapal PT. Pelni (Pelayaran Nasional Indonesia) untuk menuju pelabuhan Pantoloan provinsi Sulawesi Tengah. Kapal penumpang yang mengantarkan saya tersebut bernama KM. Tidar, kapal penumpang jalur tetap tersebut merapat di pelabuhan laut Malundung Tarakan pukul 18.00 wita. Dan mengantarkan saya ke tujuan 31 jam kemudian. Kapal merapat pukul 02.00 dini hari. Apakah yang saya perbuat di pelabuhan yang baru saya sambangi tersebut di jam-jam orang sedang tertidur lelap?. Jangan bingung dulu, meskipun saya selalu melakukan aktivitas ini seorang diri, bukanlah hal yang sulit buat saya untuk mencari kawan baru. Ya, selama di perjalanan di dalam kapal saya mencari teman baru, sahabat baru, saudara baru. Inilah sebenarnya esensi dunia backpacker. Menjaring sebanyak mungkin orang-orang yang bisa dimanfaatkan. Hehe, jangan negative dulu. Maksudnya orang-orang yang bermanfaat.

Di kapal saya bertemu dengan Koko Aming, seorang pengusaha yang sedang berlibur ke kota Palu. Aneh kan? Dimana-mana kita mendengar orang-orang berlibur ke Bali atau Pulau Tidung (T.T), namun Bapak muda ini malah menuju kota Palu. Penasaran? Googling deh, kalau sekarang belum ada modal untuk ke sana, hehe. Kota Palu indah loh…..

Di kapal saya juga belajar banyak dengan Safa, seorang pemuda berusia kelas XII yang sangat bersahaja. Ia ke Pantoloan untuk selanjutnya menuju kota Palu dalam rangka mengantar ibunda tercintanya untuk berobat. Sahabat saya ini sangat dewasa, meski seorang pria, ia dengan sangat telaten merawat ibunya yang di rawat inapkan di rumah sakit kapal selama di pelayaran. Saudara sulungnya, telah menikah dan berada di luar kota hingga tak bisa maksimal membantu perawatan sang ibu. Saudara yang ke dua menderita depresi saat masih kuliah di Jogjakarta sementara adiknya menderita autis sejak masih balita. Huah….. salut dengan perjuangan seorang Safa. Pemuda tampan, yang selalu saya temukan di lantai mushola kapal di deck 7 bersimpuh menghadap TuhanNya.

Terakhir, saya bertemu Ami Dar (Ami = Paman, bahasa arab), seorang pria berusia kepala empat yang akhirnya ‘memaksa’ saya untuk mampir ke kediamannya di kota Palu. Disinilah petualang pertama saya dimulai. Yuk, ikuti…. Seru loh, buat yang ingin buang air kecil, tinggal saja dahulu artikel ini sejenak. Saya tunggu loh….hehe.

Pukul 02.00 dini hari waktu setempat, saya dan Ami Dar telah disambut tiga wanita muslimah berkerudung hijau nan santun. Telah siap mini bus Avanza di areal parkir di sana. Saya dikenalkan Ami Dar kepada keluarganya. Saya dikenalkan karena beliau merasa kasihan (Jiaah… kasihan ^_^) melihat saya sendiri melanglang buana tak jelas arah tujuannya. Akhirnya saya ‘digelandang’ ke kediaman beliau di kota Palu provinsi Sulawesi Tengah. Dari pelabuhan Pantoloan menuju rumah Ami Dar menghabisan waktu perjalanan sekitar 30 menit. Tiba di rumah beliau, langsung disuguhi makanan dengan menu khas daerah setempat. Alhamdulillah, dapat santunan makan. Setelah makan malam (makan sahur lebih tepatnya), beranjaklah saya ke peristirahatan. Gelar kasur di ruang TV.

Asholatu Khoirum Minan Nauum
Sayup terdengar suara memanggilku. Aku segera bangkit, meski baru tertidur dua jam saja. Tak terlalu penting seberapa lama kita tertidur, tetapi seberapa berkualitas tidur yang kita lalui. Yang penting saat terbangun badan tetap sehat. Bersegeralah saya mengusir setan yang menempel dengan membasuh seluruh bagian tubuh yang wajib saya sucikan untuk menghadapNya. Saatnya buat laporan kepada sang Khaliq, kalau saya sekarang berada di rumah orang yang baru saya temukan. “Tolong, kirimkan rezeki berlebih wahai Tuhan untuk mengganti menu makan malam yang telah mereka berikan ke saya”. Itulah sepenggal doa buat keluarga ini.

Setelah tunai ibadah ini. Saya keluar rumah, yang ternyata berada di dalam sebuah komplek perumahan. Dan tradaaaaaaaaa…….. sebuah view indah ada di depan mata. Tampak gunung Gawalise yang terkenal sebagai gunung olahraga paralayang. Gunung berselimut rerumputan dengan pemandangan desa di bawahnya. Pagi itu sangat cerah, sehingga pemandangan menjadi sangat indah.

Saya menelusuri pemandangan tersebut hingga mentari mulai berada di waktu duha. Saya kembali ke rumah, dan menikmati sarapan pagi. Lagi-lagi ini bonus buat petualang baik seperti saya. Hehe. Setelah sarapan, saya diajak Ami Dar untuk bersilatuhmi ke keluarganya dan tentu saja melihat kota Palu yang berada di tepi pantai Talise berpagarkan pegunungan nan indah permai. Pantas saja Koko Aming memilih liburan ke kota ini.

Karena Ami Dar telah mengetahui, bahwa agenda saya adalah berpetualang dan salah satu kota yang saya tuju adalah kota Manado, Ami mengajak saya untuk berkunjung ke desa lahirnya. Karena yang berada di kota Palu sebenarnya adalah kediaman saudaranya. Bersiaplah saya siang itu menuju desa Ami Dar di kecamatan Parigi Tengah kabupaten Parigi Moutong. Jarak kota Palu menuju kabupaten Parigi Moutong sejauh 66 km. Rute Palu – Parigi melalui jalan berliku nan curam dengan ketingginan 600 mdpl. Jalur yang dikenal sebagai jalur Kebun Kopi ini adalah jalur menanjak dengan hamparan hutan yang masih rindang. Di jalur inilah bus antar provinsi Harvest (27 Nopember 2011) tergelincir ke jurang dengan merenggut korban jiwa sejumlah empat orang.

Tiba di kediaman Ami Dar, lagi-lagi saya disuguhi suasana pedesaan yang khas. Memang tidak terlihat hamparan sawah yang luas seperti halnya sawah-sawah di kabupaten Jember – Jawa Timur, desa ini ternyata lebih memusatkan aktivitasnya pada sector perkebunan kelapa dan cokelat. Namun bukan itu yang menjadi entry point desa ini. Melainkan, tepat di belakang rumah Ami Dar adalah hamparan pantai Bamba Uwentaipa! Amazing. Huah……. Inilah nikmatnya berpetualang. Kalau menuju Pantai Parangteritis atau Losari yang terkenal itu, kita sudah biasa melihat visualnya. Jadinya, ketika kita menyaksikan langsung, reaksinya tak terlalu mengejutkan. Namun, sangat berbeda ketika kita melihat sehamparan pantai nan indah, namun kita belum mengenalnya. Ya, ini salah satunya. Terimakasih Ami Dar…… (berdoa lagi ah, buat Ami Dar. Semoga Amal baiknya diterima di sisi Alloh…amiin)

Keesokan harinya saya pamit kepada Ami Dar dengan melanjutkan perjalanan darat menggunakan Bus Harvest menuju kota Manado. Jarak kota Palu – Manado sendiri sejauh 1.024 Km, kalau saya berada di kabupaten Parigi saat ini berarti jarak yang saya tempuh adalah …. (berapa coba?. Tepat 958 Km, berasal dari 1.024 Km dikurang 66 Km. Backpacker juga musti pintar berhitung loh hehe)

Perjalanan menggunakan Bus selama 24 jam tak membuatku berdiam diri. Pemandangan di provinsi yang dilintasi, yakni Sulawesi Tengah, Gorontalo hingga Sulawesi Utara membuat hati ingin meneriaki sang supir Bus. Ingin bilang “Pir, berhenti sejenak. Ingin photo-photo pemandangan indah ini”. Bagaimana tidak, sepanjang jalan mata dimanjakan dengan hamparan pantai di satu sisi dan sisi lainnya bukit-bukit menghijau. Persis seperti bukit-bukit yang berada di Ranu Kumbolo-Semeru yang pernah saya kunjungi bersama tim ekspedisi eLKaPe Indonesia Adventure.

Tiba di terminal Malalayang pukul 12.00 siang. Saya bersegera mencari angkutan menuju pelabuhan Manado. Di Terminal saya menggunakan jasa ojek untuk menuju lokasi tujuan. Bertemulah saya dengan pak Haji Ojek yang ramah dan baik hati. Ini dia kontak beliau, barangkali ada yang ingin berkunjung ke Manado, bisa minta jemput beliau (+6285298638588). 

Meskipun seorang diri bukan berarti saya berpergian tanpa itinerary yang matang. Kontak teman-teman dunia maya, cukup membantu. Begitu juga blog dan artikel tentang daerah yang dituju. Salah satunya adalah saudari Lia yang membantu saya via sms tentang moda transportasi kota Manado. Di pelabuhan Manado saya mencari tiket untuk perjalanan laut menuju kota Melonguane, kabupaten kepulauan Talaud Sulawesi Utara. Didapatlah sebuah tiket kelas ekonomi (no room, no bed) seharga Rp. 160.000,-
Proses penumpang naik dan juga mengatur bagasi kapal sungguh menyita waktu dari jadwal yang tertera di buku tiket. Lantunan lagu-lagu pujian mengiringi waktu menanti dilepasnya tali jangkar kapal. Karena daerah yang akan saya tuju mayoritas penduduknya kaum kristiani, di dalam kapal selalu berkumandang lagu rohani. Yang akhirnya sayapun menghafalnya. Ini dia petikkan syairnya.

Walau Seribu Rebah Di Sisiku
Kau Tetaplah Allah Penolongku
Walau Sepuluh Ribu Rebah Di Kananku
Tak Kan Ku Goyah Sebab Yesus Sertaku

Penumpang kapal motor Vallerine, yang saya tumpangi, terlihat sangat religious dan toleran. Terbukti, ketika saya meminjam kamar penumpang VIP yang beragama nasrani untuk saya gunakan menunaikan ibadaha shalat Djuhur – Ashar yang saya qashar (dapat teman lagi, akhirnya. Hehe). Ketika menjelang waktu senja, kapal berlayar. Tampak kemerlap lampu kota Manado yang berada di tepi pantai sepanjang 17,8 Kilometer ini membuat kota ini pantas dicanangkan sebagai kota tujuan pariwisata di tahun 2010 silam. Reklamasi pantai secara besar-besaran menyulap jalan Piere Tandean ini menjadi kawasan elite yang lebih dikenal dengan sebutan Manado Boulevard. Di sisi utara, tampak gugusan kepulauan Bunaken yang jaraknya hanya 8 Km saja dari pelabuhan kota Manado. Yang terlihat jelas saat di perjalanan laut saat itu adalah pulau Manado Tua, sebuah pulau gunung dengan ketinggian 750 mdpl.

Saya memang tidak menyempatkan diri menikmati bioversitas kelautan Bunaken ini. Bukan kenapa-kenapa, biota laut saya pikir tak terlalu berbeda jauh dengan kepulauan Derawan yang telah saya kunjungi tahun 2009 silam. Edisi kali ini memang untuk menelusuri, lokasi-lokasi yang tidak masuk jajaran teratas Inbox (eh Inbox, abisnya keingetan Ivan Gunawan sih.hehe). Salah satunya adalah kota Melonguane. Seperti apakah indahnya si Melong? …. Setelah jeda iklan berikut ini. Hehe.

Laut utara pulau Sulawesi ini yang juga merupakan jalur sirkum pasifik, menjadikan laut ini maha dahsyat gelombangnya. Ditambah lagi hujan deras menghantam. Membuat semua penumpang pria bahu membahu memperbaiki tirai yang berfungsi sebagai dinding geladak kapal. Semua barang-barang penumpang yang diletakkan begitu saja karena telah penuh sesak, basah tak terkecuali. Sementara backpack merahku segera aku bungkus dengan rain cover sehingga aman sentosa, meskipun tubuhku basah kuyup bak Amir Khan dalam film Three Idiot. Satu jam kemudian alam mulai bersahabat. Hujan reda. Meski gelombang laut masih menggila. Kapal terombang ambing maha dahsyat. Saya hanya berkirim pesan singkat kepada keluarga di rumah tentang kondisi yang saya alami. Khawatir terjadi apa-apa, setidaknya saya telah memberi kabar. Kabar tentang kedahsyatan lautan pasifik ini sebenarnya telah saya ketahui sebelumnya dari beberapa teman yang berasal dari kepualaun ini. Tentu saja mencari informasinya mengandalkan bantuan tante google. Namun, mengapa saya tetap menjalaninya. Inilah petualang namanya. Tidak asyik kan kalau hanya di depan monitor saja. Sekali-kali bermainlah dengan nyali. Asyik loh … masalah maut sih, mau di kasur empuk juga kalau sudah saatnya tetap akan kesana, ya kan? Hehe.

Bagaimana dengan tidur? Saya hanya tidur di geladak kapal. Di tempat terbuka, bersama penumpang pria yang lain. Hanya area seluas tubuh saya. Tanpa alas. Tanpa jaket. Karena jaket telah basah terkena hujan tadi. Saya tidur tepat di depan pintu kamar penumpang kelas VIP. Entah berapa kali dan berapa orang yang melangkahi kepala saya. What ever lah. Yang penting saya bisa tertidur dan mimpi indah. Gelombang? Masih . . . serasa tidur dalam kereta roller coaster hehe.

Esoknya. Pagi yang cerah di perairan kepulauan Talaud, membuat saya kembali mengeluarkan kamera saku sony DSC-W190 dari daypack imutku. Hamparan pasir putih dan laut nan membiru membuat segala penat dan lelah seolah terlupakan sejenak. Pukul 09.00 pagi kapal merapat di kota pelabuhan Lirung. Proses turun penumpang dan barang selama sembilan puluh menit, saya manfaatkan berkeliling memanjakan mata saya. Semua barang bawaan saya, saya angkut, agar kalau-kalau tertinggal kapal saya masih bisa berpetualang di kota ini. Dari kota Lirung, saya meneruskan perjalanan menuju kota Melonguane.

Melonguane merupakan ibukota kabupaten Talaud. Sebuah kabupaten dengan pulau terdepannya Miangas, adalah batas teritori negara yang bersebelahan langsung dengan pulau Davao del sur, Philipina. Memasukan kota pesisir ini dalam agenda menjelajah negeri memang bukan pilihan yang keliru. Betapa tidak, pantai putih tanpa noda, terumbu karang yang masih terjaga serta air laut yang sangat menggoda saya untuk bermain bersamanya. Mengelilingi kota ini cukup dengan menyewa jasa becak motor saja. Selebihnya saya masih menggunakan kedua kaki saya untuk mencicipi setiap mili negeri ini. Beruntungnya saya, karena malam itu tepat di jantung kota kecil ini, tengah digelar pameran pembangunan. Al hasil dari stand Dinas Pariwisata, didapatlah informasi tambahan tentang potensi wisata di kabupaten ini. Diantaranya Danau Sarro, Goa Totombatu, Air Terjun Ampapitu hingga Pantai Mangaran. Buat saya, berada di pantai ini sudah cukup mewakili itu semua.

Keesokan harinya, perjalanan masih saya lanjutkan kembali ke kota Manado. Kali ini menggunakan jasa angkutan pesawat udara Wings Air di harga Rp. 600.000,- dengan ketinggian jelajah 1.000 kaki di atas permukaan laut. Gradasi laut dan hamparan gugusan pulau berbingkai pasir putih terlihat indah dari balik kaca pesaawat. Selamat tinggal Melonguane, semoga kau tetap menjadi Indonesia. Amiin.

Landing dengan baik di bandara Internasional dengan empat buah gardabarata, Sam Ratulangi Manado, saya kembali menghubungi pak Haji Ojek untuk mencarikan saya penginapan. Saya memilih penginapan Mini Mulia yang berada di kawasan wisata religi “Kampung Arab”. Sebuah lokasi yang tepat untuk berwisata belanja di kota Manado. Karena lokasi penginapan berada di tengah keramaian. Dekat dengan pelabuhan laut Manado, dan tak jauh dari airport Sam Ratulangi Manado.

Sesampai di penginapan, saya hanya meletakkan backpack dan membersihkan badan. Setelah itu, ngeluyur lagi. Menuju keramaian kota Manado dengan warga kota yang sangat fashionable. Mengunjungi pasar tradisional Sehati, Klenteng Ban Hin Kiong, sebuah klenteng yang dibangun di awal abad ke 19. Mega Mall Manado, mall pertama berskala internasional dengan gerai diantaranya Bellagio Shoes, Giordano, HiQ Billiard dan tak ketinggalan Matahari Dept. Store.

Dengan fasilitas yang kurang nyaman, saya tinggalkan penginapan Mini Mulia diharga Rp. 60.000,- per malam (fan, kasur busa, teh manis di pagi hari, kamar mandi luar), keesokannya, saya memboyong backpack saya untuk meniduri Emerald Hotel di lokasi yang sama, harta yang dirogoh sejumlah Rp. 200.000,- per malam dengan layanan memuaskan.

Dari Manado, saya melanjutkan perjalanan menuju pulau Siau, kabupaten Sitaro. Sesampainya di Siau, kembali saya membelalakkan mata saya selebar-lebarnya. Pulau yang sangat indah.dah.dah.dah!

Untuk mengelilingi kota ini saya menggunakan jasa ojek dengan tarif Rp. 80.000,- tentu saja setelah saya meletakkan semua perlengkapan saya di Hotel Jakarta bertarif Rp. 350.000,- per malam. Mahal? Ya, karena hotel yang saya tempati sudah sangat mewah. Bukan masalah mewahnya yang ingin saya tonjolkan, tetapi sebab apa yang membuat kota yang mungin baru anda dengar ini, terdapat sebuah hotel mewah. Alasannya, karena hotel ini biasa dikunjungi turis-turis mancanegara yang hendak mendaki gunung Karangetang di pulau Siau. Yup! Gunung aktif yang meletus dan ‘menghilangkan’ empat korban jiwa ini menjadi objek penelitian beberapa peneliti dari Germany dan Franch karena intensitas aktivitas gunung terbilang tinggi. Letusan yang menghanguskan beberapa desa di pulau ini yang terjadi Agustus 2010 silam menyisakan lubang parit yang sangat dalam dan mengerikan. Ini bukan dongeng hadirin sekalian, karena saya menyaksikan sendiri desa-desa yang masih terisolir tersebut akibat parit yang memutus jalan akibat letusan gunung api Karangetang.

Pulau Siau merupakan pulau gunung, dimana dilerengnya dipenuhi perkebunan tanaman pala (Myristica fragrans). Masih ingat kan, alasan VOC datang ke Hindia Belanda dari pelajaran sejarah dulu. Nah, di kepulauan Siau lah salah satu magnet pedagang asing saat itu untuk mengeruk hasil bumi nusantara ini. Di kabupaten ini juga terdapat diving point yang jelas masih virgin, seperti di perairan pulau Biaro, pulau Ruang dan Mahoro. Terdapat danau Makalehi, pantai Kalihiang dan pantai sumber air panas bernama Lehi. Saat saya mengunjungi pantai Lehi, tampak beberapa warga pengunjung tengah menikmati sumber air panas ini yang telah dibangun semacam bendungan berbentuk lingkaran. Buat yang berkudis, kurap dan panu bagus loh katanya berendam di tempat ini, hehe.


Tepi kota Siau sangat rapi. Jumlah kendaraan yang melintas masih bisa dihitung dengan jari membuat kota ini sejuk dan damai. Seperti tempat saya bersantai di sore hari, di halaman Gereja jemaat Ebenhaezer - Tatahadeng, saya menyaksikan keindahan pantai dan kegagahan gunung berkolaborasi dengan romantika penduduk dengan aktivitasnya. “Ah kau pulau Siau…. menuliskan cerita ini membuatku ingin mengunjungimu kembali.”

Ada yang berpendapat, berjalan sendiri itu seperti Autis. Buat saya, tidak seluruhnya benar. Hal yang membuat saya memilih Solo Backpacker ini karena saya merasa bahwa saya sangat bandel dengan keinginan saya. Saya seolah tak memerlukan waktu untuk tidur saat saya berpetualang. Berjalan terus berjalan. Saya tak mau lelah. Saya tak mau capek. Nanti, kalau sudah kembali ke kampung halaman, barulah saya beristirahat. Kalau masih dalam petualangan seperti ini, saya sanggup jalan bermil-mil jaraknya untuk memanjakan hati saya.Total waktu yang saya habiskan untuk agenda ini adalah empat belas hari. Masih kalah dengan gembel-gembel lain. Yup, buat saya cukuplah karena jatah cuti memang hanya segitu saja.

Masih banyak sebenarnya kejadian dan lokasi yang ingin saya ceritakan disini, tetapi sampai disini saja dulu. Ini saja sudah seperti novel panjangnya.hehe. Yang jelas, akhir perjalanan saya bukan sampai pulau Siau saja, tetapi saya lanjutkan ke pulau Tagulandang lalu kembali ke Manado. Dari Manado saya terbang ke Balikpapan kemudian menuju kota Tarakan dengan penerbangan yang sama.

@ Emerald Hotel Manado

Semoga cerita ini dapat bermanfaat buat pembaca sekalian dan kalau boleh anda mengabulkan permintaan saya, saya ingin anda mendoakan saya, agar saya selalu diberikan kesehatan dan juga rezeki agar dapat melanjutkan rangkaian mengunjungi pelosok nusantara ini. Terutama, danau Paniai di Papua, sebagai danau terindah di dunia versi konferensi 157 negara pemilik danau se-dunia tahun 2007 silam. Buat yang mendoakan saya, saya doakan pula anda juga diberi kemudahan dalam segala urusan, dimurahkan rezeki dan nikmat sehat hingga akhir hayat, amiin. Inilah indahnya hidup, saling mendoakan, meski tak saling kenal.

“Alhamdulillah”

Notes : Artikel ini adalah artikel yang saya buat khusus untuk laman Djarum Super Adventure
Artikel Terkait
Comments
10 Comments

10 komentar:

  1. Haha... terus menggendong ransel.

    BalasHapus
  2. emmm,, jd ini rangkuman dr perjalanan thn kmrn nich?? semangat mas,, ak do'akan semoga bisa jln2 k Papua,, tp ak jg mau k Sna heheheeeee,,,,

    BalasHapus
  3. keren..
    pengen liat deh foto2 serunya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Photo perjalanannya bisa dilihat di postingan sebelumnya yang saya buat per daerah tujuannya. Terimakasih.

      Hapus
  4. mudah2an terrealisasi kunjungan ke paniai nya mas.. amiin.. hehehe... di tunggu catper berikutnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Pengelana Edan.....hehe

      Hapus
  5. perjalanannya sangat memukau mas, padahal dilihat dr starting point nya yang di pedalaman kaltim, perjalanannya terasa penuh perjuangan (jadi ngiri) saya sendiri yang sekarang tinggal di jakarta malah belum pernah mengexplore indonesia tengan & timur.

    BalasHapus
  6. KISAH NYATA..............
    Ass.Saya ir Sutrisno.Dari Kota Jaya Pura Ingin Berbagi Cerita
    dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
    saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
    saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
    internet dan menemukan nomor Ki Kanjeng saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya di kasih solusi,
    awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Kanjeng alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
    sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki
    Kanjeng di nmr 085320279333 Kiyai Kanjeng,ini nyata demi Allah kalau saya tidak bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.

    KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA HUBUNGI TERNYATA BETUL,
    BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!

    ((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))

    Pesugihan Instant 10 MILYAR
    Mulai bulan ini (juli 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :

    Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
    Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
    dll

    Syarat :

    Usia Minimal 21 Tahun
    Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
    Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
    Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
    Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda

    Proses :

    Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
    Harus siap mental lahir dan batin
    Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
    Pada malam hari tidak boleh tidur

    Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :

    Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
    Ayam cemani : 2jt
    Minyak Songolangit : 2jt
    bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt

    Prosedur Daftar Ritual ini :

    Kirim Foto anda
    Kirim Data sesuai KTP

    Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR

    Kirim ke nomor ini : 085320279333
    SMS Anda akan Kami balas secepatnya

    Maaf Program ini TERBATAS .

    BalasHapus