Kamis, 23 Oktober 2014

Berburu Pemburu


Papan Himbauan di Camp PT. Intracawood Mfg, Kalimantan Utara


Papan informasi berisi himbauan untuk tidak berburu satwa terlihat di beberapa tempat di Camp Pangkalan PT.Intracawood Manufacturing Provinsi Kalimantan Utara tempat saya bekerja. Papan himbauan seperti itu bukan saja ditujukan kepada seluruh karyawan tetapi juga kepada khalayak luas. Beberapa papan himbauan seperti itu juga ada yang dipasang di batas areal perusahaan. Tujuannya tidak lain untuk mencegah terjadinya perburuan satwa liar dan juga satwa dilindungi.


Perburuan satwa di hutan kalimantan masih sangat memungkinkan dilakukan. Beberapa jenis satwa yang saya ketahui dilakukan perburuan adalah babi hutan, rusa, kijang, teringgiling hingga beberapa jenis burung. Untuk areal konsesi sendiri telah dilakukan regulasi yang mencegah tindakan tersebut, tetapi luasnya areal masih bisa memungkinkan dilakukan juga perburuan dari berbagai arah dan dilakukan oleh masyarakat luas.

Papan Himbauan di Camp PT. Intracawood Mfg, Kalimantan Utara


Papan Himbauan di Camp PT. Intracawood Mfg, Kalimantan Utara


Ada beberapa alasan mengapa orang melakukan aktivitas perburuan. Pertama adalah hobby. Untuk alasan ini aktivitas perburuan tidak dilakukan secara rutin atau berkala. Hanya sekadar mengisi waktu luang dan menyalurkan kegemaran. Mereka yang melakukan aktivitas ini biasanya dilengkapi dengan kendaraan roda empat jenis 4wd, lampu sorot dan senjata rakitan. Hasil buruan yang mereka dapatkan biasanya dikomsumsi sendiri lalu dibagi-bagikan ke kerabat dan teman dekat. Hewan yang biasa diburu untuk kategori hobby ini antara lain babi hutan dan rusa.


Kedua alasan kebutuhan. Mereka yang melakukan aktivitas ini biasanya dilakukan warga setempat yang memang mendiami hutan belantara ataupun berada di sebuah kampung yang tak jauh dari hutan. Motif perburuan inipun hanya untuk kebutuhan lauk semata. Peralatan perburuan yang digunakan masih tradisional seperti sumpit dan anjing pemburu, meski sudah ada beberapa penduduk yang menggunakan senjata rakitan. Hewan buruan jenis ini tidak terbatas pada hewan babi hutan dan rusa saja, tetapi bisa ke semua hewan baik itu hewan melata atau mamalia. Tujuan perburuan ini sebagai pemenuhan kebutuhan pangan dan telah berlangsung secara turun temurun. Salah satu hewan buruan yang pernah penulis saksikan dikomsumsi masyarakat lokal adalah jenis biawak dan ular.


Ketiga alasan materi (baca perdagangan). Alasan ketiga inilah yang mungkin perlu dicermati lebih serius. Awalnya bisa saja karena alasan hobby, akan tetapi ketika mengetahui hasil yang diperoleh bisa berganti materi, maka aktivitas ini bisa saja menjadi aktivitas rutin dengan motif mencari materi. Untuk jenis babi hutan dan rusa, tentu saja karena adanya permintaan pasar akan konsumen yang memerlukan daging tersebut. Sementara untuk jenis teringgiling dikarenakan adanya mitos sebagai bahan untuk pengobatan alternative. Begitu juga dengan jenis buaya yang diburu untuk diambil kulitnya.

Bentuk Kepedulian Pemerintah Daerah


Mereka yang melakukan perburuan dengan alasan materi tersebut masih dilakukan secara perorangan atau kelompok kecil. Fasilitas yang digunakan hanya menggunakan kendaraan roda dua, meski ada juga yang menggunakan roda empat jenis L-300 atau Colt. Untuk jenis hewan babi hutan perburuan biasa dilakukan pada sore hari, sementara untuk teringgiling dan rusa dilakukan pada malam hari. Untuk rusa sendiri, hanya dilakukan pada malam saat bulan baru muncul atau bulan muda, artinya waktu perburuan hanya dilakukan sekitar lima hari setiap bulannya. Dua hewan mamalia tersebut biasanya diburu di areal hutan alam. Sementara untuk jenis teringgiling, biasanya diburu pada hutan bekas tanaman industri atau pun kebun kelapa sawit.


Sementara untuk perburuan buaya, untuk saat ini penulis sudah tidak menemukan aktivtias tersebut, dulunya memang menjadi pemandangan rutin setiap pagi melihat buaya-buaya yang berhasil ditangkap setiap harinya. Peralatan yang digunakan terbilang sederhana, hanya menggunakan perahu, tali dan tombak atau parang. Untuk bisa menekuni profesi ini, memang dibutuhkan keahlian khusus dan biasanya dilakukan secara turun temurun.


***

Harus menarik dalam napas untuk melanjutkan tulisan ini. Tulisan ini bukan untuk mempromosikan aktivitas perburuan. Terjadinya aktivitas perburuan menurut saya hanya karena kurangnya sosialisasi akan pentingnya keberadaan satwa bagi kelangsung hidup semua makhluk di bumi. Dulu, saya juga merasa biasa saja melihat perburuan tersebut. Belakangan, setelah saya semakin pintar mengerti akan keberadaan satwa tersebut, maka tulisan ini adalah sebagai bentuk komitmen saya untuk mengambil peran untuk perlindungan satwa di bumi kalimantan.


Terlalu kecil mungkin dampaknya, tetapi biarlah ini sebagai bentuk pertanggungjawaban saya bahwa apapun alasannya, jangan berburu binatang, please!.Apakah itu binatang yang sudah dilindungi ataupun yang belum dilindungi. Kalaupun untuk kebutuhan hidup masyarakat yang memang benar-benar tinggal di tengah hutan, saya kira populasi hewan buruan masih lebih banyak dari pada populasi masyarakat tersebut (mungkin, karena saya tidak pernah nyensus masalahnya). Sementara untuk alasan hobby apalagi materi, sebaiknya mencari alternative lain saja.


Suatu saat saya pernah melihat rekan WWF di Pulau Derawan ketika mengamati dan menjaga seekor penyu ketika hendak bertelur. Sang penjaga penyu tersebut bahkan merayap seperti penyu juga untuk memastikan bahwa si penyu memang sudah lakukan aktivitas peneluran. Saat itu saya dan beberapa rekan lain yang menyaksikan memang dipastikan untuk berada dalam radius yang cukup jauh dari posisi sang penyu dan harus tanpa suara. Karena kalau tidak, si penyu akan mengurungkan aktivitas menelurnya.

Penyu Pulau Derawan (Dok Pribadi)

Begitu juga ketika saya berada di sebuah hamparan savannah luas di Gunung Argopuro Jawa Timur. Saat pagi yang cerah, dari kejauhan kami melihat sekelompok kecil burung merak bermain di seberang sungai. Saya dan beberapa teman pendaki lainnya, hanya mengamati dari kejauhan dengan menggunakan kamera. Kami duduk tenang sambil menikmati keindahan alam yang berpadu dengan satwanya.

Burung Merak di Argopuro Jawa Timur (dok pribadi)

Dan pengalaman lainnya adalah ketika saya diundang oleh organisasi nirlaba Greenpeace Indonesia, melakukan perjalanan ke Suaka Margasatwa Krumutan di Provinsi Riau. Disana saya dan beberapa teman-teman dari komunitas konservasi menikmati keindahan alam lengkap denga satwa-satwa di setiap sisinya. Kami tak hanya mengambil gambar, tetapi juga mewawancarai para penduduk yang berada di sekitar hutan suaka tersebut. Dan tulisan ini salah satu bentuk pertanggungjawaban saya atas undangan tersebut bahwa pengrusakan alam apapun alasannya hanya akan memberikan dampak buruk bagi manusia itu sendiri.

Bearing Witness with Greenpeace Id, Riau (dok pribadi)

Tiga pengalaman diatas yang pernah saya dapatkan seakan menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi seorang putera asli kalimantan yang selama separuh hidupnya tinggal di lingkungan hutan alam kalimantan sebagai seorang pekerja perusahaan kayu. Dulunya saya mengganggap hal yang biasa dengan perburuan. Mungkin karena saya mengganggap bahwa habitat mereka sangat banyak dan tidak mengerti akan dampaknya. Akan tetapi setelah melihat teman-teman konservasi, teman-teman pendaki yang begitu antusiasnya, begitu mendalamnya rasa cinta mereka akan keberadaan satwa membuat saya semakin terpuruk malu bahwa apa yang bisa saya perbuat demi menjaga kalangsungan hidup satwa-satwa titipan generasi berikutnya itu. Mereka teman-teman konservasi dan pendaki yang sebagian besar tinggal di perkotaan begitu awarenya terhadap kelangsungan satwa, sementara saya yang kesehariannya berada di lingkungan tersebut seakan tak memiliki kesadaran akan keberadaan satwa-satwa tersebut.


Suatu saat saya pernah berada di hutan alam dengan menggunakan kendaraan roda empat. Sesekali terlihat binatang beruk di beberapa lokasi. Saya memberikan analogi sederhana saat itu kepada teman-teman di dalam mobil strada 4wd tersebut. Ada beberapa imajinasi yang akan muncul di beda kepala setiap orang yang ketika kita melintas di areal hutan alam seperti ini kemudian bertemu binatang rusa. Ada yang melihat itu lalu menikmatinya sebagai sebuah keindahan alam, tetapi ada juga yang melihatnya sebagai kuliner yang melezatkan. Semua tergantung kepada seperti apa mindset yang terbentuk di kepala anda.


Dualisme tindakan ketika melintas seekor hewan liar di hutan alam menjadi imajinasi saya saat itu. Jika misalkan saya saat itu bersama teman-teman pecinta alam, tindakan yang kami lakukan tentu saja menghentikan kendaraan sejenak, mengambil gambar dan mengamati pergerakan satwa tersebut hingga tak tampak lagi di pandangan mata. Berbeda misalkan saya saat itu bersama teman-teman pemburu, tindakan yang dilakukan mungkin saja segera mempercepat laju kendaraan, mendekati sang hewan, mendesaknya hingga rapat ke tepi dinding tebing pinggir jalan, sang hewan terdesak, segera saja ditabrak. Rusa tergeletak sebilah golok kemudian menyayat. Basmalah, sang rusa halal untuk seisi rumah.


#hening

Camp Pangkalan PT. Intracawood Mfg (dok pribadi)

***

Sahabat pembaca, saya tahu sate daging rusa itu nikmat.
Akan tetapi saya akan lebih senang membiarkan binatang tersebut tetap eksis di alamnya.
“Lantas, bagaimana jika sudah tersaji di depan anda?”, tanya seorang teman.
“Kalau sudah tersaji lengkap dengan bumbu kacangnya, ya harus dimakan, mubazir kalau harus dibuang”, jawabku santai.

***

Pesan ProFauna : Satwa Liar Lebih Indah di Alam



Artikel Terkait
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. salam, sepertinya baru kali ini saya membaca style persuasi di tulisan sampean (CMIIW) :D . tidak seperti biasanya yang berpola narasi ataupun semi deskripsi, tulisan ini tidak banyak menggunakan majas yang mendayu2 dan bahasa kiasan yang berat, ulasannya lugas, sedikit ilmiah, mengajak pembaca ke pokok bahasan (dalam hal ini tidak berburu) dan gampang dicerna. Selamat bang, ternyata dengan sedikit pola yg agak nyleneh dari pola yang biasanya, memperkaya pola pikir sang pembaca bahwa sebenarnya sampean pun bisa untuk menulis pola yang berbeda #fakh

    BalasHapus
  2. Tema ini didasarkan adanya silent readers yang menyampaikan bahwa mereka menyukai blog ini untuk mengenal lebih dekat kehidupan bumi kalimantan, bukan dari sisi aktivitas traveling saya.

    Atas dasar itulah, seminggu terakhir saya sudah mendokumentasikan lingkungan sekitar untuk saya jadikan sebuah tulisan.

    Agak ragu juga untuk menuliskan nama perusahaan di blog ini, tetapi menurut saya tulisan-tulisan ini hanya dibuat berdasarkan pengamatan saya sebagai seorang forester kantoran dengan pengetahuan di bidang kehutanan yang sangat minim.

    Ke depannya, akan saya coba untuk menuliskan hal serupa berkaitan tentang aktivitas saya sebagai pekerja camp hutan alam, dan tentunya dengan gaya menulis yang mengalir apa adanya.

    Terima kasih banyak Mas Fakh, komentarnya sangat membantu semangat untuk terus ngeblog dengan keterbatasan sarana koneksi di pedalaman.

    Salam

    BalasHapus
  3. terimakasih sob buat infonya dan semoga bermanfaat

    BalasHapus
  4. ok mantap bos artikelnya dan sangat menarik

    BalasHapus
  5. makasih gan infonya dan salam sukses selalu

    BalasHapus