Senin, 15 Juni 2015

Semalam Dulu Di Bandung

Pendakian Gunung Slamet (Part I)



Desa Bambangan, Purbalingga. Sabtu, 06 Juni 2015 Jam 3 pagi.
“Benar, ini dia gerbang pendakiannya”
“Sudah sampai”
“Kita istirahat sejenak”
Suhu udara cukup membuat kupluk harus segera dipakai. Perjalanan hampir 8 jam berakhir dengan bertemunya kami dengan gerbang pendakian seperti yang kami lihat di blog-blog perjalanan. Kami berempat memang belum ada yang pernah ke tempat ini. Bermodal GPS di mobil, google map di handphone dan juga tanya orang di pinggir jalan, akhirnya menuntaskan perjalanan kami menuju Gunung Slamet.

Dalam gelap dan dingin kami meninggalkan mobil di halaman gedung basecamp, lalu mendekati gerbang Selamat Datang. Kami penasaran dengan banner yang tertulis di bawahnya.

“Maaf!!!, pendakian ditutup”
#deg


***


  
Aku baru saja traveling. Seperti biasa, naik gunung. Kali ini bareng Mas Rudy (Bandung), Togi Tambunan (Jkt) dan Vicky (Bandung). Pendakian kali ini adalah inisiatif aku. Beberapa pekerjaan sudah kelar dan bisa ditinggalkan, buntutnya, tentu saja liburan.
#naik gunung disebut liburan? Ayolah….


***


Hanya dengan pesan singkat, aku kirimkan niatanku ke Mas Rudy. Dan diiyakan Mas Rudy dengan bersepakat di waktu pelaksanaannya. Sepekan lagi, cukuplah buat hunting ticket dan urus ijin kantor. Untuk urusan logistic dan peralatan lenong lainnya, tak kami bahas karena sudah saling memahami apa saja yang harus kami bawa. Aku dan Mas Rudy memang pernah berduet menggapai Puncak Cikuray, Garut beberapa waktu lalu. Jadinya sudah cukup mengerti persiapan apa yang harus kami lengkapi masing-masing.

Dua hari sebelum hari H, aku baru dapat inpo kalau Bang Togi bakalan bergabung.
“Yowis, kita ketemu di Bandung bang…”, balesku via SMS
Aku mengenal Bang Togi saat pendakian Gunung Semeru, Trip Bromo dan Air Terjun Madakaripura. Sudah lama sekali tak bersua dengan Abang Batak satu ini.


Rabu, 03 Juni 2015.
Aku menuju Kota Tarakan. Kota kelahiranku.


Kamis, 04 Juni 2015.
Membatik Ke Halim.

Aku menggunakan Pesawat Udara Batik Air menuju Jakarta. Ini kali pertama aku menggunakan pesawat milik Lion Group ini. Kelasnya memang di atas dari pesawat Lion, harganyapun lebih mahal. Mirip-mirip Garuda lah, cuman di Batik Air headset ga available, kudu rogoh kocek 25k.
#tetep…dagang

Pilihan dengan menggunakan Batik Air sesungguhnya sudah dikejutkan dari awal. Biasanya saat di counter Check In hanya dilayani seadanya, kali ini dengan Batik Air mbak-mbak cantik senantiasa menangkupkan kedua telapak tangannya mengucapkan terima kasih kepada penunmpang. Begitulah, kesantunan ternyata memiliki tarif di negeri ini.

Sekitar 3 jam penerbangan, sampailah daku di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta. Inipun kali pertama aku menjejakkan kaki di bandara ini. Lebih kecil dari Bandara Soeta, atau hampir sama saja dengan bandara di kota-kota kecil di Indonesia, tapi lebih mudah karena tak terlalu capek berjalan menuju pintu keluar.

Aku nyampe di Jakarta jam 3 sore. Nungguin bagasi, trus ke loket taxi. Tujuan aku selanjutnya adalah Kota Bandung.

Setelah maju mundur maju mundur cantik ala princess sukabumi ternyata jadwal travel atau bus ke Bandung tak sebanyak di Soekarno Hatta. Adanya paling cepat Travel Cipaganti di Jam 6 sore.
#What! 3 jam lagi? What can I do beib… nongki2 geje in the airport? Ayolah…

Yup!, pendaki gunung tak boleh mengeluh, saya menikmati 3 jam(an) di Bandara sambil membiarkan diri digodain cewek-cewek cakep Jakarta
#xixixi


***


Bandung Lautan Apa?


“sudah di kilometer berapa pak?”
Aku membaca pesan singkat dari hape putih Samsung citut milikku. Pak Hendra, menanyakan dimana posisiku saat itu.
“ga tau pak, liat dimana kilometernya?”
“ada di sisi kanan jalan pak”
Sambil celingak celinguk, akhirnya.
“pak 3 kilometer lagi pintu tol pasteurnya”
Pak hendra tak menjawab kali ini, sepertinya segera melajukan si hitam menuju point cipaganti di Pasteur.

Oya dear, aku kenalin kalian dulu yak Pak Hendra siapa. Kalau biasanya aku dihost temen-temen pendaki atau dari BPI, kali ini aku merepotkan diri di kediaman Pak Hendra Herawadi, konsultan tempat aku kerja. Pak Hendra sungguh antusias dan sangat welcome menjamu gembel gendut dari Kalimantan ini. Nuhun ya kang
#ala-ala sunda

Tak beberapa lama menunggu, bertemulah aku dengan Pak Hendra. Senengnyaaaa, status nomedenku berakhir. Aku akan bertemu atap buatan. Bukan lagi langit yang menjadi atap.
#apasih

Jam baru nunjukin di angka 9 malam, masih sore siy buat mangkal
#ehh.
#mumpung di Bandung om, banyak taman…
#hush! Emang taman di Bandung bisa buat mangkal gitu? Udah nggak kali cyiin, sekarang mah udah sistem online mangkalnya wkwkwk.
#wakakaka…udah lebih nyante yak nek, emberan. Tinggal pantengin akun aja, nungguin yang reservasi
#istighfar
#udahan. Lanjut ke cerita aja.
#gagal paham

Di Bandung Pak Hendra nawarin buat menikmati kota terlebih dahulu. Aku berasa sedang bersama pemandu wisata kelas private saja karena detailnya penjelasan Pak Hendra mengenalkan perubahan kotanya lewat sentuhan Walikota Ridwan Kamil. Ada banyak taman yang bersih dengan title beraneka ragam, ada juga taman buat nonton gratis hingga taman dengan air mancur. Pengen parkirin mobil sejenak siy buat poto-poto di atas jembatan yang ada kabel-kabel besar berwarna warni sebagai pancangnya. Keren banget viewnya, biasa jadi landmark Kota Bandung saat malam, hanya saja katanya ga boleh poto di situ, melanggar tata tertib lalu lintas. Karena kami pengendaraa yang taat, jadinya ya ga jadi poto. Hehe.

Pak Hendra memarkirkan kendaraannya di Kawasan Asia Afrika. Lokasi ini memang masih terekam karena peringatan 60th KAA beberapa pekan lalu. Selain memang menjadi historical walk, lokasi ini menjadi akrab di mata karena beberapa spotnya menjadi latar sinetron Preman Pensiun yang lagi hits sekarang ini.
#sinetron? Ahaa…iya! Sinetron yang ini beda gan, asik koq ceritanya, latarnya juga natural ga dibuat-buat. Bukannya promo tapi memang bagus koq, ini udah season 2 sesudah Didi Petet meninggal dunia. Nontonnya di RCTI yak. Sore!

Kami makan malam di salah satu tempat makan outdoor. Suasana nyantai, makan prasmanan, view gedung-gedung bersejarah, hingga pengamen bencis ala-ala Kim Kardashian sedang nenteng hermes kawe2an. Bencisnya oke punya gan, tinggi semampai pake dress merah t’rus highheels tinggi setinggi tower telkomsel di kecamatan, sambil nyanyi lagu yang lagi wara wiri di radio-radio fm gan. Gini nih lagunya
#aku mah apa atuh, cuma selingkuhan kamu…aku mah apa atuh…

Nah! Pertanyaannya adalah ini mahluk selingkuhannya siapa coba?
#huff…

Abis makan, kami berjalan kaki menuju Gedung Merdeka dan beberapa gedung bersejarah lainnya. Ada banyak tiang bendera yang tadinya tentu saja ada benderanya. Karena sudah malam benderanya diturunin biar ga dibikin lap mulut kali sama binatang-binatang malam yang habis dinner.
#ngaco

Space jalan sangat luas. Nyaman banget buat ngajakin isteri, mertua di mari. Ada banyak bangku-bangku di sisi jalan. Dan juga bola-bola besi sebagai penghiasnya. Keren loh gan, bola-bola ini, unik aja ada kelereng jumbo ga ada yang mainin.
#Xixixi

T’rus ada juga gambar pemimpin-pemimpin negera berdiri. Bukan gambar, kayak patung yang di toko-toko gitu, tapi ini maksudnya bahwa tempat ini pernah disambangin orang-orang hebat dunia ini. Bandung gan, tempo dulu aja udah bisa bikin perhelatan besar begini, kebayang kan ribetnya.

Kemudian ada juga hotel besar yang dijadikan tempat menginap tamu-tamu Negara. T’rus, jalan raya yang lebar tempat dimana para tamu Negara kemarin melakukan napak tilas dengan berjalan kaki.
#jadi keingat ibu mega dah kalo yang ini.

Di sisi sebelah barat ada Alun-Alun Kota dan Masjid Raya Bandung. Dulu aku pernah ke tempat ini lima taon silam. Di halaman masjidnya dulu banyak pedagang dan pelukis jalanan. Tapi kali ini udah asri dan dilengkapi dengan rumput sintetis. Rumput sintetis gan, di lapangan yang luas, ijo, indah…
#aisshh pengen main bolaaaa
#hayyahh koyok iso ae bal-balan

Hampir jam 12 malam saat itu. Kami kembali ke mobil lalu menuju ke kediamanan Pak Hendra di Griya Prima Asri di Baleendah, Bandung. Tau Baleendah kan, ini lokasi paling tenar sejagat gan kalo urusan banjir, paling mudah didatengin air ujan karena lokasinya yang rendah. Tapi perlu dicatet gan, ini daerah bukan wilayahnya Pak Ridwan Kamil, udah masuk di Kabupatennya.

Oya dear, hampir lupa. Ini penting juga nih diceritain. Gini, waktu mo pulang ke kediamannya Pak Hendra, aku lewat jalan kawasan Stasiun Kereta. Katanya siy di lokasi ini ada etalase cewek-cewek cakep gan. Hohoho….jadi inget masa silam nan suram #ehh

Jadi di sepanjang jalan itu ada beberapa wanita cantik yang konon katanya bisa diajak kencan.
#ini Cuma nulis aja ya gan, ga ikutan partisipasi nunjukin lokasinya, nggak. Ane berlepas diri dah pokoknya kalo ente semua nyicipin lokasi ini gegara baca tulisan ane.

Miris juga siy, nyari nafkah segitunya. Kalo komentar Pak Hendra itu mah udah seperti TPS, maap bukan begitu, tapi ini maksudnya baik koq, supaya kita-kita jangan jajan dengan yang begituan, kan kita ga tau siapa-siapa aja yang make jasanya, jadinya ga jelas gitu status sehat nggaknya. Saran aku siy, nikah! Nikah gan!!! Jangan traveling mulu! Aneh yak, napa traveller en backpacker itu banyakkan yang jomblo senior yak. Kenapaahh???

By the way, waktu aku liatin satu persatu wanita-wanita itu dari kaca mobil, terlintas di benak ane gan saat itu. Dandanan mereka koq mirip penyanyi dangdut yang lagi mo konser yak. Sebetulnya fashion mereka itu apa terinspirasi dari penyanyi dangdut atau sebaliknya?
#jawabdalamhati


Dan selanjutnya kami sampai di rumah Pak Hendra. Isteri Pak Hendra menyambut dan malah masih menyuguhi segelas kopi item buat kami. Sementara dua anak Pak Hendra, Adit dan Ryan udah tidur.
#Ah, nuhun….sekali lagi.

Karena sudah larut, aku pamit berbersih diri lalu beristirahat. Aku disediakan satu kamar buat beristirahat. Sebelum tidur, aku tunaikan dulu shalat maghrib dan isya karena masih di perjalanan saat kedua waktu shalat tersebut dikumandangkan.

***

-Sepertiga Malam di Baleendah-

Wahai Pemilik Malam
Enam puluh menit berlalu
Sama seperti mereka
Tapi enam puluh menitku tentu berbeda
Semua karena aku mengangkat ransel ini
Lalu meninggalkan rumah dan kertas kerja

Enam puluh menitku
Tentu saja akan tetap sama
Bertemu meja kerja, lapangan olahraga
Deretan shaft pertama
Ataupun kantin bersama
Enam puluh menit yang itu-itu saja

Tapi hari ini
Di enam puluh menitku kali ini
Engkau pertemukan aku pengalaman
Pengetahuan
Kasih sayang
Dan juga kebesaran-Mu

Aku tau
Hobby ini menuai cibiran
Tapi mereka tidak tau
Hobby ini memanen pengalaman

Wahai Pemilik Malam
Jagalah kami, dan seisi rumah ini
Dari kesempitan hati
Dari kehimpitan rezeki

Gantikan kasih sayang yang mereka berikan
Dengan cara-Mu yang Maha Sempurna
Membalas Kasih Sayang yang telah aku terima



#bori
#bobo syari

#lanjut di tulisan berikutnya



Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar