Senin, 13 Juli 2015

7 Alasan Untuk Terios 7 Wonders


Menjejalah bumi kalimantan dengan Terios? Melintasi tiga propinsi?Gretong???
Ini kesempatan yang harus direbut! Harus berjuang keras agar bisa ikut duduk di kursi empuk Terios dan membuktikan ketangguhannya di jalanan Pulau Kalimantan.Mengapa? Ini dia ulasan alasan-alasannya….


#Satu
Alasan pertama mengapa aku harus bisa ikut ekspedisi ini adalah karena aku putera asli pulau besar ini. Haha, bukan sara gan, tapi ini motivasiuntuk ane sendiri agar bisa berbicara banyak nantinya mengenalkan budaya dan keindahan alam pulau yang lebih dikenal ekploitasi alamnnya ini. Jadi, meskipun ane asli putera daerah, tapi ane belom pernah ke tempat-tempat yang akan dilalui Terios nantinya (kecuali Pulau Maratua)

Jadi ini kesempatan besar untuk bisa bertualang di kampung sendiri.Seenggaknya ane ga dibilang kualat lah karena ga mengenal daerahnya sendiri. Ya kan?
Lah mungkin kalian nanya, kenapa ga bertualang di daerah sendiri? Malah mondar-mandir di pulau-pulau lain?
Jawabannya ada di ulasan berikutnya.

#dua
Jadi kenapa ane malah ke luar Pulau Kalimantan kalo lagi backpacking? Jawabannya adalah karena untuk bertualang di Pulau Kalimantan itu butuh dana yang lebih gede ketimbang daerah lain. Bayangin aja, ongkos transport dari satu kabupaten ke kabupaten lain itu bisa seharga transport dari satu propinsi ke propinsi lain di daerah lain. Misal, jarak tempuh 100km dari desa ane gan (Desa Sekatak) ke kota kabupaten (Tanjung Selor – Kalimantan Utara) itu di harga 130ribu memakan waktu 3-4 jam. Itu kalo ga nganter-nganter penumpungnya ke desa-desa pelosok lagi, jadinya bisa lebih lama. Bandingkan aja duit 130ribu dari Jakarta bisa sampai daerah mana gan? Ke Singapore aja nyampe kan harga segitu. Nah, itulah borneo gan, mahal ditransport, itu belum lagi jadwal keberangkatannya nunggu penumpang penuh, jadi kalo ga penuh-penuh, walaupun dari subuh udah dandan rapih karena mau ke kota, jatuhnya bisa ntar dzuhur baru berangkat mobilnya. Fiuhh, lunturlah sudah bedak viva nomer 5 ane gan.

#tiga
Kalimantan itu luassss gan. Terakhir baru dimekarin lagi satu propinsi. Propinsi tempat ane tinggal nih gan, Kalimantan Utara namanya, pemekaran dari Propinsi Kalimantan Timur. Ada empat kabupaten di dalamnya dan satu kotamadya. Salah satu kabupatennya yaitu Malinau, itu luasnya lebih besar dari Propinsi Jawa Timur. Kebayangkan berapa lama yang harus kita butuhin buat eksplorasi keindahan kabupaten ini. Dari kota kabupatennya aja ke desa terpencilnya pake pesawat udara gan, harganya mahallll. Ga berani nanya ane gan, padahal pengen banget bisa meliput budaya dan keindahan-keindahannya. Ane hanya bisa liat dari brosur kalo lagi pas pameran ulangtahun kabupaten aja gan, kalo di daerah-daerah terpencil sono itu, ada kebun tehnya. Kebun teh gan! Artinya dataran tinggi di sana. Dan itu belom termasuk Taman Nasional Kayan Mentarangnya gan, ada air panasnya (padahal ga ada gunung api) dan ribuan jenis tanaman yang menjadi endemic asli pulau ini.


#empat
Alasan ke empat adalah untuk bisa mengenal lebih banyak budaya dan perbedaannya dari daerah ane. Jadi, suku asli kalimantan yang dikenal dengan nama Dayak itu masing-masing daerah berbeda bahasa, budaya dan yang lainnya juga gan. Di dalam satu daerah ane aja gan, ada namanya Dayak Kenyah, Punan, Brusu dan lain-lain. Beda sub suku aja beda loh bahasa dan budayanya. Belum lagi suku-suku lain yang biasanya tidak disebut suku Dayak tapi juga suku asli kalimantan, misalkan yang di tempat ane gan ada Suku Bululungan dan Suku Tidung. Jadi ekspedisi kali ini adalah kesempatan buat ane mengenal lebih banyak kebudayaan-kebudayaan yang berada di tanah kelahiran emak bapak ane gan.

#lima
Alasan ke lima adalah potensi wisata. Jadi gini, ane pernah ke Goa Pindul Gunung Kidul - Yogjakarta. Satu paket dengan itu, ada juga menyusuri Kali Oyo dengan menggunakan ban. Sekali lagi ban!. Jadi ada sungai beriak, ga dalem, dengan view desa-desa khas Pulau Jawa. Kami duduk kayak anak TK di atas ban trus didorong-dorong sama petugas wisatanya. Teriak sana, teriak sini seakan-akan melepas tekanan atau beban selama hidup di kota. Iyak, itu mereka gan, (atau kalian) yang memang kebanyakan stress karena hidup di kota, jadinya pas naik ban trus main-main di sungai aja senengnya minta ampun. Kalo ane? Ane malah merasa berdosa gan saat itu. Berdosa.

Kenapa ane rasa berdosa gan. Jadi gini, ane merasa ngapain jauh-jauh ane main-mainan air sungai begini, sementara di depan rumah ane juga sungai tipe begini lebih lebar dan lebih natural pemandangannya karena masih hutan.

Jadi di depan hunian ane gan ada Sungai Sekatak. Trus di hulu sungai itu ada satu kampung paling ujung. Namanya Desa Semeriot dan juga DAS Mesiu. Ada beberapa penduduk desa yang tinggal di sana gan, di tengah hutan belantara dan di tepi sungai yang indah. Kenapa ane bilang indah, karena kemarin ada temen ane yang lakukan penelitian ke daerah itu gan, ongkosnya dari perusahaannya doi. Nah untuk ke desa itu butuh moda transportasi perahu mesin (biasa disebut ketinting). Perahu ini paling bisa nampung dua orang aja gan, karena memang ga boleh yang gede perahunya ntar malah ga bisa nyampe ke desa dengan selamat. Tipe sungainya yak makin ke hulu makin sedikit airnya, trus katanya temen ane gan, ada 109 Giram yang dilalui untuk menuju desa itu. Apa itu giram? Giram itu semacam jeram lah, atau batu-batu di tengah sungai dengan arus deras dan air dangkal yang membuat sang motoris perahu harus mendorong perahunya untuk bisa sampai di tempat tujuan. Sekali lagi ada 109 giram gan. Dan mereka harus nyiapkan banyak kipas cadangan karena biasanya kipas mesinnya rusak karena patah terkena batu atau malah hilang karena tercabut dari mesinnya itu sendiri.

Salah satu hasil penelitian temen ane yang beliau presentasikan juga hasilnya adalah masih ditemukannya ikan air tawar jenis klowor. Ikan ini hanya mau hidup di sungai yang benar-benar bersih. Jadi keberadaan habitat ikan ini menandakan kalau daerah itu masih terjaga kelestariannya. Ikan kelowor ini endemic gan, adanya cuma di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Serawak saja. Kabarnya ikan jenis ini sudah diakui sebagai spesies ASLI daerah Serawak, Malaysia. Iyak. Malaysia.
Trus biayanya? Untuk ke desa itu butuh dana sekitar 700-900 ribu (rental/nego). Perjalanan sekitar 4 jam, pake acara turun dari perahu buat bantu dorong-dorong sambil teriak “semangkaaa…semangat kaka!!!”
#abis itu ente dilemparin dayung sama motorisnya

#enam
Alasan ke enam adalah medannya. Medan kalimantan yang berbeda dengan lainnya. Kalo antar desa antar kabupaten di propinsi ane aja gan, kondisi jalan lintasnya masih terbilang buruk (kalo dibandingkan dengan jalanan di pulau jawa, sulawesi atau sumatera). Sudah diaspal siy gan, cuman ancur-ancuran. Soalnya yang pake jalan aspal begitu nyampur gan, truk-truk muatan kayu, muatan kelapa sawit sampe muat batu akik lewat situ juga dan ga tau berapa batas maksimal berat bebannya.

Oya, bulan Juni kemarin, ane berempat start dari Bandung menuju Jawa Tengah buat ndaki gunung gan. Pake Terios putih. Wusshhhh…enyak. Ane siy maunya bisa review detail mobil ini, tapi karena ane ga paham dunia permobilan (xixixi) jadinya yak menurut ane mobil keren itu ya mobil yang ngga bikin penumpangnya ga ngeluarin kresek selama di perjalanan. Yang jelas siy waktu kami kemarin ke Jawa Tengah, kami berempat itu ga ada yang pernah ke sana. Hanya bermodal GPS yang ada di mobil trus ada suara mbak-mbaknya dari alat itu yang ngasih inpo kalo misal 100 meter lagi ada pertigaan atau dan lainnya, maka dari itu kami sampai juga di gerbang pendakian. Trus nya lagi, keril dan segala perlengkapan pendakian kami masuk semua di bagian belakang, meski sudah di bagian atas mobil sudah ditambah kayak besi tempat naroh barang-barang kayak mobil travel begitu.

Asik dah pokoknya mobil ini, meliuk-liuk di dataran tinggi saat mulai memasuki pedesaan kaki gunung ga bikin mual. Dan ane juga pengen bedain gimana mobil ini kalo di medan liar seperti kalimantan.


#tujuh
Alasan ke tujuh dari ulasan alasan ini adalah menuntaskan eksplorasi ane akan pulau indah Maratua. Jadi, waktu ane ke pulau ini lewat travel agent sebetulnya spotnya adalah snorkeling di area pantainya yang panjang dan landai. Tapi ane waktu itu malah kabur dari rombongan. Berdua dengan travelmate ane gan, kami nyewa motor penduduk setempat buat eksplorasi isi pulau tersebut. Dan, hasilnya meski terbatas waktu kami sudah menjejakkan kaki lebih banyak untuk melihat sisi-sisi lain pulau tersebut dari peserta lainnya. Well, ane tau, masih ada lagi spot-spot keren lainnya yang belum ane datengin. Jadi, edisi Borneo Wild Adventure kali ini bisa jadi media ane untuk menuntaskan alam Maratua untuk ke dua kalinya. Semoga!.

***
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar