Rabu, 19 Agustus 2015

Agustusan Citarasa Kalimantan


Ada yang berbeda dari perayaan HUT Kemerdekaan RI kali ini. Masih di Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara, satu kecamatan yang didiami beberapa desa dengan beberapa suku asli kalimantan yang berbeda juga. Seperti biasa, setiap 17 Agustus warga dan elemen masyarakat setempat ikut serta berbaris menghadap mentari di tengah lapangan sepakbola untuk mengikuti detik-detik proklamasi dibacakan kembali. Yup, meski jauh dari kota kabupaten dan sentuhan modernitas lainnya, semangat nasionalisme selalu dikobarkan di kecamatan yang dialiri Sungai Sekatak ini.



Ini tahun ke delapan aku berada di desa ini, dan selalu ikut berbaris bersama teman-teman karyawan lainnya. Tentang upacara bendera ini pernah aku tuliskan juga beberapa tahun lalu, saat masih baru-barunya ngeblog. Dan, tema ini aku angkat kembali mengingat ada perubahan yang signifikan dari perayaan-perayaan sebelumnya. Apa saja itu? Berikut ulasannya.


Upacara kali ini dimeriahkan dengan tambahan barisan penggerek bendera merah putih. Biasanya hanya beberapa baris saja (seingat aku siy, nggak pernah ngitung soalnya), tapi kali ini lebih banyak, lebih panjang barisannya, udah kayak naga barongsai dibungkus kain kafan, panjang gitu putih terus geyal geyol goyang pinggulnya. Yak, barisannya lebih banyak karena mereka berasal dari dua sekolah yang berbeda. Yaitu, dari SMA N 1 Sekatak, dan SMP N 1 Sekatak. As you know guys, cuman ada satu SMA di mari, jadi ya dimanfaatkan semaksimal mungkin potensinya.


Perubahan lainnya dari upacara 17an kali ini, adanya pagelaran teatrikal dari adik-adik SMA yang dibantu mas-mas KKN Universitas Borneo Tarakan. Tema-nya siy masih klasik, kisah warga pribumi yang lagi jual beli di pasar tradisional, lalu datanglah sekawanan penjajah yang mengobrak-abrik pasar, lalu menindas warga, memukul petani, merampas hasil bumi, menyiksa mereka bahkan memperkosanya, hingga penduduk menjadi merana dan menderita.


Scene teater lapangan berlanjut dengan perlawanan penduduk kepada para kompeni yang maha jahat. Bermodal bambu runcing, penduduk melawan hingga akhirnya memenangkan peperangan.


Yup, sederhana tapi sangat menghibur kami yang menyaksikannya. Senang, sekaligus bangga mereka bisa bersandiwara di tengah ratusan orang yang menyaksikannya. Semoga mereka hanya bisa bersandiwara untuk kepentingan teater atau seni peran saja, tidak untuk bersandiwara ketika mereka dewasa kelak atau telah menjadi abdi Negara (seperti yang sedang terjadi di Negara kita).


Kejutan lain dari perayaan kali ini, adanya pertanyaan dadakan dari pak camat dan berhadiah uang tunai. Yuhuuu…semua pertanyaan sang camat dilalap habis para pelajar, mulai dari menghafal text pancasila, proklamasi, UUD 45 hingga pertanyaan-pertanyaan situasional lainnya, seperti Nama Camat, Nama Kapolsek, Nama Danramil hingga nama Kepala Adat Brusu dan Tidung. Hadiahnya ga tanggung-tanggung, mulai 300 ribu hingga satu juga rupiahhhh!!!! Huaaaahhh, tahun depan ane pake rok merah aja gan biar kayak anak SD trus ikutan kuis ituhhh….


Setelah upacara bendera, dilanjutkan perlombaan khas agustusan seperti panjat pinang dan masukkan mantan ke dalam botol, eh. Yang ini aku ga bahas detail gan, udah jamak soalnya.


Besoknya, ada karnaval gan. Pawai pengisi kemerdekaan gitu atau apalah namanya. Karena itu hari kerja jadi ane gan ikutan gan, nitip kamera aja buat bukti tulisan. Nah, pawai inipun baru pertama diadakan di kecamatan dengan mayoritas pemudanya berprofesi sebagai motoris speedboat, pencari nafkah serabutan (a.k.a PNS) seperti gesek kayu, nambang emas dan lain-lain itu. Pawai ini kesannya dadakan, gaung persiapannya minim, jadinya kurang maksimal. Meski begitu, ngeliat antuasias peserta dengan persiapan minim tersebut rasanya warga benar-benar menyambutnya dengan sukacita. Mereka berpakaian adat, pakaian profesi, hingga casual dengan sentuhan etnik. Menghibur dah nilainya. Two thumbs up.




Setelah itu ada perlombaan laju-lajuan bawa kapal cepat (speedboat) di sungai, juga pelan-pelanan ngendarai sepede motor. Ada juga lomba yang lainnya, tapi biasa aja ragamnya seperti lomba balap karung, balap kelereng hingga balapan nikung pacar temen. Wah!


Yang menarik menurut saya yaitu lomba desa. Tidak dijelaskan kriterianya seperti apa tapi lomba seperti ini yang memiliki impact paling besar, karena bisa memotivasi desa-desa ke depannya untuk menjadi yang terbaik. Kalo ane jadi jurinya nih gan, ane sensus dulu tuh penduduk desanya, yang paling banyak jomblonya ane kasi juara dah pokoknya. Hahaa.


Well selamat buat Desa Kelincauan sebagai desa terbaik.
# makan-makan


Segini dulu gan reportnya, hingga akhir bulan masih ada berbagai perlombaaan dan pertandingan digelar, seperti pertandingan olahraga sepakbola, badminton dan volleyball. Semoga acara seperti ini terus konsisten dan makin variatif. Tidak hanya itu tetapi gelaran beginian setidaknya bisa memberikan dampak luas bagi warga setempat, misalnya pertandingan olaharaga dayung, marathon dan lain-lain yang jika potensial akan bisa mewakili daerah ke tingkat yang lebih besar lagi. Semoga.

Salam dari blogger pedalaman.


***


Artikel Terkait
Comments
3 Comments

3 komentar:

  1. Wuih mas iman ini luar biasa, udah jadi bloger sejati atau apalah (apalah-apalah katanya iis dahlia)...kalo aku kangen kampung halaman obatnya cuman buka blog mas iman aj, sukses selalu mas..

    BalasHapus
  2. terima kasih. ayo! pulang kampung dulu....ada lomba ketinting nih. malam minggu kemarin saya juga nonton lomba nyanyi dangdut. dari beberapa kali gelaran acara di kampung, baru kali ini acaranya lebih rame. soundnya lebih gede, panggungnya juga bagus, jadi penontonnya juga tumpah ruah. dan untuk pertandingan olahraga baru mulai hari ini. cuma ga ada lomba ngetik FAKB, kalo ngga kita bisa ikutan. haha.

    Terima kasih


    iman rabinata

    BalasHapus
  3. Hehe..,lebaran udah pulang mas, disini juga diakan acara cuman per RT, maklum 1 RT seperti 1 kampung, terus terang aku lebih kangen dengan suasana acara dikampung lebih berasa,dikampung bisa jalan berombongan, kalo disini nonton sendiri jadi dirasakan bukan acaranya tapi panas cuacanya hehehe..

    BalasHapus